Bab 14 : Mengambil Alih

1223 Kata
Ada sesuatu di mata lawannya yang mengisyaratkan balasan tanpa ampun. Tre belum tahu sejauh mana kemampuan serang seorang pria, sebab semua orang bisa memukul, apalagi bila dilakukan secara keroyokan seperti beberapa hari yang lalu. Membalas tatapan itu, tiba-tiba saja luka yang mulai membaik malah terasa nyeri. Tre tahu, hal itu disebabkan sebuah tuntutan untuk menang, tak peduli seberapa hebat musuhnya. Seluruh saraf menegang dan siaga, mengakibatkan darahnya mendidih, mempertahankan prinsip bahwa seorang pria sejati berhak mempertahankan harga diri dengan menunjukkan siapa dia sesungguhnya. Tre, berharap menemukan celah, dan itu tertangkap dalam waktu sekian detik awal serangan pemimpin napi dari Blok D. Kelemahan itu ia manfaatkan dengan menyerang titik tersebut secara bertubi-tubi. Hasilnya sangat efektif, pertahanan lawannya langsung lumpuh, setelah Tre menuntaskan bagian fatal tersebut. Tendangan itu berakibat fatal pada jantung pertahanan musuh. Pria terakhir yang jatuh tersungkur ke lantai melengkapi kemenangan Tre yang sulit dibendung, bahkan oleh lawan terkuat. Membuktikan bahwa seorang pekerja proyek biasa mampu menjadi siapapun dan apapun, apabila telah dilukai harga dirinya, sisi kemanusiaannya. Menyeka darah di pinggir rahangnya, Tre mendekati pria yang sudah tak berdaya itu. “Kalian hidup. Bersyukurlah! Akan ada suatu masa ketika kalian harus belajar bahwa menjadi korban tidaklah menyenangkan. Sangat tidak menyenangkan!” Tre meninggalkan jejak kemenangannya di antara para lawan yang sudah bergelimpang. Tulisan menggunakan spidol permanen ‘JANGAN LUPAKAN TRE!’ sengaja ia goreskan di baju, kulit lengan, dan bagian lain yang gampang terlihat. Sedangkan nama panggilannya, Tre, ia tuliskan pada dahi mereka masing-masing. Bagi yang masih memiliki sisa tenaga dan menolak perbuatannya, mereka harus menerima kenang-kenangan lain, dan itu membuat mereka kehilangan kesadaran. Peristiwa itu jelas membuat Tre tenar. Namanya diperhitungkan oleh siapapun yang sok jago hendak menyakiti dirinya. Tidak seorang pun yang berani macam-macam, apalagi menyakitinya. Sebagai pria yang hanya mencoba mempertahankan harga diri, Tre telah menunjukan ‘taring’-nya. Peristiwa itu kembali diungkit Bryan saat mereka berada di ruang makan. “Me-mereka menjadi hor-mat ke-kepadamu. Ti-tidak ada se-seorang pun da-dari Blok D ya-yang ber-bertingkah se-seperti i-itu lagi. U-untuk se-se-sementara, ki-kita aman,” kata Bryan dengan penuh rasa senang. Tampak sekali bahwa perasaannya sangat lega. “Aman, bukan berarti mereka jera. Setiap kesempatan dapat memunculkan siapapun untuk merasa lebih menonjol daripada yang lainnya. Bila pada akhirnya hanya menyakiti sesama, maka tunggu saja. Akan tiba suatu saat, seseorang seperti diriku akan membuat perhitungan.” komentar Tre dengan air muka tanpa kesombongan. Apa yang diucapkannya tentu masuk akal, bila orang-orang yang dianiaya mulai memberontak. Siapapun, bukan hanya dirinya. Hanya dengan mengalahkan napi jahat itu, Tre dianggap telah mengambil alih kekuasaan dan menyebabkan Blok C tempatnya tinggal kembali menemui perdamaian dan ketenangan. Situasi kondusif ini melegakan hati semua orang. Mengakui kalimat Tre, Bryan mengangguk. “K-kau be-benar. Si-siapapun da-dapat berontak, ji-jika diperlakukan ja-jahat dan kejam. La-lalu, a-apa rencanamu?” “Rencana apa?” Tre menoleh kaget setelah jari Bryan menunjuk para napi Blok C yang berkumpul mengitari mereka, dan sipir tidak terlalu memedulikan aksi ini. “Apa mau kalian?” tanya Tre, masih duduk tenang. “Kami ingin, kau memimpin seluruh blok. Jika tidak ada sosok pemimpin, maka blok lain akan memperlakukan kami dengan sewenang-wenang setelah menyogok sipir, baik yang mengawasi di sini maupun yang bertanggung jawab dengan kamera pengawas. Kami tak punya apa-apa untuk membayarmu, Trevor Jordan. Kami cuma punya harapan untuk bebas dan memiliki kehidupan baru.” terang Sam, mengungkapkan keinginan mereka semua. Sam berpikir. Ia sadar, bahwa aksinya melawan para narapidana dari blok sebelah tentu akan menimbulkan kesalahpahaman. Mereka akan menyangkanya hebat, padahal sebagian besar niatnya adalah untuk mendapatkan harga dirinya sebagai pria. Mengenai memberi mereka pelajaran demi napi lain, hanya sisanya saja. Mungkin ia takkan peduli seumpama napi lain di Blok C mengalami peristiwa serupa. “Aku tidak melakukan ini demi kalian. Aku hanya melampiaskan sakit hati yang kutahan selama beberapa hari. Jika kalian menginginkan seorang pemimpin, Sam adalah pilihan bagus. Riwayatnya bersih selama di penjara, kalian bisa memercayainya. Tapi aku? Yang kalian dapat sesudah ini adalah masalah. Para napi di Blok D mungkin akan melakukan serangan balasan. Sudahlah, bersikaplah biasa saja. Anggap aku tidak ada, seperti biasanya. Dengan begitu, kalian tidak perlu merasa sungkan.” Jawaban ini tidak melegakan orang-orang yang berkumpul di depannya. “Baiklah, tetapi bila kekerasan semacam ini tidak segera diakhiri, maka kau yang bertanggung jawab atas kesalahan itu. Walaupun berusaha menyangkalnya, dalam lubuk hatimu, kau tidak ingin nasib yang sama menimpa kami semua.” “Oh ya? Sekarang kutanya. Seandainya seluruh jeruji dibuka, dan kalian menyaksikan seseorang dihajar, akankah kalian keluar dari sel dan menolong pria itu? Kita bicara kenyataan bahwa pada dasarnya, setiap orang memikirkan diri sendiri. Itu pasti.” Sam menghela napas. Bingung untuk mengelak dari tudingan Tre sebab ia juga telanjur merasa bersalah. “Kurasa, aku tidak bisa membujuk Tre. Dia menggunakan kesalahanku untuk menolak keinginan kalian, meskipun sesungguhnya kami sudah berbaikan. Maaf.” Ia mundur, dan sesama napi lainnya memberi jalan. “Aku tidak lagi menyalahkanmu. Menyalahkan adalah watak anak kecil.” Tre diam sesaat, mengingat hari itu bahwa sudah tidak ada masalah lagi di antara mereka. Setelah merenung, ia berkata, “Baiklah, tapi hanya untuk sementara, dan aku menjamin rencana ini akan berhasil. Sesungguhnya, kalian sendirilah yang mampu menyelamatkan diri dari keadaan semacam ini. Jangan berharap terlalu banyak!” Tre bangkit, diikuti Bryan, ia masuk kembali ke selnya seiring jam makan yang telah usai. Pintu jeruji telah tertutup otomatis. Sam yang baru datang masih belum mampu bicara. Rasa bersalah menguasainya ketimbang harga dirinya, setiap kali menatap Tre. Maka ia memutuskan, selama Tre belum ingin bicara, maka hal yang sama juga akan dilakukannya. Diam. Mengungkit masalah yang sama tidak akan menyembuhkan luka hati siapapun. Atau, ini hanya salah paham? Sam khawatir, ia salah mengartikan kata-kata Tre tadi. “Sudah kubilang, terus-terusan menyalahkanmu hanya akan membuatku seperti anak kecil. Sam, sebaiknya kita lupakan saja. Setidaknya, hatiku sudah sedikit lebih lega.” tutur Tre kemudian, sesuai dengan apa yang dirasakannya. "Lagi pula, itu hanya contoh. Aku kesal karena kau menunjukku sebagai pemimpin kalian secara sepihak." Tre menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara mereka untuk kedua kali. Sam mengangkat wajah. Sambil duduk, ia pun berkata, “Mulai detik ini, aku akan belajar untuk lebih peduli serta tidak mementingkan diri sendiri, dan … tidak ada lagi bau air seni yang akan membuatmu tidak betah. Maafkan aku.” sesalnya sungguh-sungguh. "Akan kucoba untuk sedikit berubah." janjinya. “Tentu, bukan masalah lagi sekarang. Maksudku, benar-benar tidak masalah. Aku bukan orang yang suka mengungkit masalah, kecuali jika terpaksa.” “Terima kasih.” “Besok adalah hari kunjungan. Kuharap ada kejutan.” ujar Tre membayang, mengalihkan pembicaraan, bosan membahas tentang tugasnya sebagai pemimpin Blok C yang tidak penting baginya. “Kau mengharapkan kehadiran seseorang? Istrimu?” Tre menggeleng. “Vanessa sengaja tidak kuundang, sebab aku tidak yakin ada berapa pasang mata yang mengawasi percakapan kami berdua. Aku tidak suka bicara dengannya dihalangi pembatas kaca. Hanya ada seorang teman. Aku berharap dia berhasil menyelesaikan beberapa urusanku di perusahaan.” “Baguslah! Kita tunggu saja besok. Semoga kawanmu itu benar-benar datang. Nah, sekarang, ceritakan soal dirimu. Bila kita sama-sama bebas, aku akan mentraktirmu. Ingatkan aku bila suatu ketika aku lupa.” Tre tertawa. “Ya, pasti kutagih nanti. Hm, aku? Tidak ada yang istimewa soal diriku. Aku pria biasa dengan kehidupan wajar seperti yang lainnya. Seperti kau juga, sebelum meringkuk di penjara.” Mendadak Sam menatapnya tajam. “Kau tidak tahu siapa aku, Tre. Sebenarnya, aku bukanlah pria biasa.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN