Para napi berbaris, mereka diizinkan berolah raga di salah satu fasilitas tertutup di mana terdapat peralatan lengkap dan halaman sekadarnya untuk mereka bermain bola basket atau voli. Spot kecil di sudut terdapat fasilitas gym yang sebenarnya lumayan bagi mereka untuk sekadar meregangkan otot. Bagi yang malas, duduk-duduk sambil mengobrol bisa menjadi alternatif daripada tidak melakukan apapun juga. Tre, termasuk salah satu di antaranya.
Ia mengamati sekeliling. Selama hampir dua minggu berada di sini, belum dijumpainya tiga pelaku kekerasan terhadap dirinya, sebab ia mulai menghapal dan mengingat nama-nama, juga sifat mereka semua. Menurut informasi yang ia dapatkan dari Bryan, ada satu lagi blok penjara yang dikhususkan bagi napi-napi dengan masa hukuman yang sangat berat. Blok D.
Masuk akal, apabila hingga detik ini, ia belum menemui wajah mereka di blok tempatnya dipenjara. Rata-rata penghuninya bersikap biasa-biasa saja, atau tepatnya, tunduk di bawah kekuasaan peraturan. Lamunannya buyar ketika seorang sesama napi mengajaknya bermain bola basket, setelah selesai dipakai beberapa napi lainnya.
“Ayolah, Bro! Tunjukkan kemampuanmu!” tantang mereka.
“Tidak, terima kasih. Kalian saja.” Tre menolak halus. Dengan ikut bermain, tentu akan mengurangi fokus mencari rivalnya. Ia tidak ingin hal itu terjadi dan mengangkat bahu ketika wajah mereka sedikit kecewa.
Selama hampir satu jam, mata Tre sibuk mengamati sekitar. Belum ada tanda-tanda bahwa orang-orang yang dicarinya akan muncul. Ia sudah hilang harapan ketika … .
“Minggir, Bocah! Beri jalan!”
Suara itu masih dikenal telinganya. Milik seorang lelaki bertubuh kekar yang bertampang bengis. Tipe orang berkuasa, dan sepertinya sangat menyukai kekerasan untuk menyakiti orang lain. Tre, menjadi salah satu korbannya. Bukan hanya pria tadi, masuk pula lima belas orang yang lain. Para napi kelas kakap dari Blok D.
Otomatis, Tre menoleh, namun ia tidak terpancing emosi. Ia masih duduk-duduk saja bersama Bryan yang masih mengoceh soal cita-citanya bila suatu saat keluar dari penjara. Tentu saja, ia tidak sungguh-sungguh mendengarkan. Sesekali berkomentar tetapi hanya untuk mengurangi kecurigaan semua orang dengan tingkah laku Tre yang cenderung diam.
“Kau tidak lihat, Bocah Besar? Kami sedang ingin olah raga!” seru napi lain yang juga berbadan nyaris sama. Bedanya, dia tipikal penggembira. Anak buah penakut yang bersembunyi di balik punggung pemimpinnya. Tidak punya pendirian dan selalu memihak siapapun yang mampu melindungi dirinya. Berpotensi besar untuk menjadi pengkhianat.
Yang diancam tentu menghindari masalah, atau karena terlalu takut akan mendapat musibah. Contohnya, luka lebam, luka tusuk, dan lain sebagainya. Daripada berakibat buruk, para penghuni Blok C menyerahkan semua fasilitas kepada preman-preman yang datang, yang langsung menikmati hasil jarahannya.
“PERGILAH KALIAN SEMUA! Kami mau berpesta di sini.” teriak pria pertama, mengusir para penghuni Blok C, keluar dari fasilitas olah taga. Semua orang menurutinya, kecuali satu orang … Tre.
Kenekatannya membuat kelima belas napi Blok D ditambah pemimpinnya menatap nanar dirinya. Mereka menghampiri Tre sambil berusaha mengingatnya. Kemudian tertawa terbahak-bahak setelah mengamati luka-luka memar di wajah dan beberapa tempat di tubuh Tre yang masih terlihat.
“Tampaknya, kau ingin dibuat lebih parah?” tanya seorang anak buahnya.
Muncul segaris senyum di bibir Tre yang masih tersemat bekas luka di sana. Bekas luka yang tidak lagi terasa perih. Jawabnya, “Saat itu kalian mengeroyok dan mendesakku ke pojok. Sama sekali tidak ada ruang untuk menyerang atau bertahan. Kalian sengaja memerangkapku. Tapi sekarang, fasilitas olah raga ini cukup luas bagiku untuk membalas. Bagaimana?”
Sejenak, Tre dan orang itu saling pandang.
“Kalau begitu, turunlah dari panggung penonton! Kita selesaikan di sini.” tantang orang lain lagi.
“Kenapa? Tubuh kalian terlalu berat untuk naik ke sini?”
Pemimpin para napi itu sudah tak sabar ingin segera melumatkan tubuh Tre, memperingatkan supaya jangan sekali-kali menantang gerombolan itu. Dia mengamati Tre dan berkata, “Turun, supaya kita bisa saling bicara. Apapun yang menyebabkanmu menyimpan dendam padaku, lampiaskan saja. Sekarang kesempatanmu.”
Tre tahu, itu hanya kalimat siasat untuk memancingnya turun dari barisan kursi penonton yang sengaja diletakkan di sekitar fasilitas sebagai pemanis saja, atau untuk menonton pertandingan kecil bola basket antar kelompok napi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
“Oh, baiklah. Tidak masalah. Lagi pula, sudah tidak ada bedanya lagi sekarang. Entah bagaimana, sipir tidak ada di sini dan kamera pengawas mati.” Tre bangkit, mulai menuruni tangga sambil terus bicara, “Sementara, sakit hatiku belum sembuh. Kalian seenaknya saja main keroyokan tanpa berpikir ribuan kali bahwa aku bisa membalas yang kalian lakukan padaku.”
Ketika berhadapan, pemimpin geng napi Blok D memberi isyarat anak buahnya untuk menepi. Mereka menurutinya tanpa bertanya apalagi membantah. Maka tinggallah kedua pria tersebut di tengah lapangan basket yang sengaja disiapkan untuk mereka.
“Lihat, aku menghormatimu. Tidak ada penghalang, tinggal kau dan aku. Kejadian waktu itu memang menunjukkan bahwa kami pengecut, tapi jangan harapkan permintaan maaf dari mulut kami karena mereka berjanji memberi segalanya. Di sini, kehidupan lebih baik daripada di luar sana. Kami bebas melakukan apa saja.” terang pria berperawakan tegap dengan rambut gondrong itu. Cambang dan kumisnya sengaja dibiarkan tidak terawat agar menambah kekar penampilannya.
“Oh ya? Baguslah, karena orang-orang seperti kalian butuh sedikit pelajaran.”
“Tre, itu namamu ‘kan? Mereka bilang, kau bukan orang sembarangan. Aku tahu, kau sengaja terpojok waktu itu. Satu hal yang mereka lewatkan dari sorot matamu, bahwa kau sengaja mengalah untuk mengukur kemampuan kami dan membuat kami berutang padamu. Perlu kau tahu, aku tidak pernah berutang seumur hidupku, jadi kita tuntaskan saja hari ini. Tak perlu khawatir, ini bukan masalah pribadi.”
“Ucapanmu tidak membuktikan apapun. Tunggu apalagi?”
Di luar dugaan, mereka kembali mengulang kecurangan yang sama, main keroyok. Pemimpin mereka? Tertawa terbahak-bahak sambil duduk, menonton aksi anak buahnya untuk kedua kalinya.
Lima orang maju lebih dulu. Satu hal kelebihan Tre adalah gerakan bertahan yang efektif untuk mencegah serangan bertubi dalam satu waktu sekaligus. Ia sadar tidak akan menang jika terlalu lama meladeni mereka. Ia akan kehabisan stamina. Disebabkan alasan itu, Tre memutuskan untuk menyumbat mulut besar mereka dengan menghantam langsung ke bagian tubuh yang penting untuk menghilangkan kesadaran. Taktiknya berhasil. Satu persatu lawannya tumbang. Begitu pula sepuluh orang yang lain.
Berat, namun api dendam yang membara mengalahkan akal sehatnya. Pukulan Tre selalu tepat menyasar ke organ vital. Setelah cukup lama berjibaku dengan kekuatan teknik serangan dan bertahan, ia pun menemukan posisi terbaiknya untuk menang. Keringatnya bercucuran, melintasi setiap inci kulitnya yang memanas oleh emosi yang sudah saatnya terlampiaskan.
Dan inilah akhirnya. Tre berhadapan satu lawan satu dengan pemimpin geng Blok D yang telah kehilangan anak buahnya, mereka semua bertebaran di lantai. Hidup, namun sebagian hanya terluka, sebagian lagi akan menderita cacat pada bagian tertentu. Itu sesuai dengan yang ia harapkan, setelah menunggu kesempatan ini datang.
Pria ini menghampirinya dengan pongah. Saking bangganya, ia berkata, “Giliranku, Tre. Ayo kita bersenang-senang!”
***