“Ba-ba-bangun, T-Tre! T-Tre!” Karena yang dipanggil tak kunjung bangun, Bryan menyeru lebih keras, “T-TRE!!” Gugup ketika napi baru itu membuka mata, khawatir jika dia kaget lalu langsung menyerangnya. Namun yang dicemaskannya tidak terjadi.
“Bagaimana kau bisa masuk?” Mata Tre tertuju pada pintu sel yang telah bergeser, dan tampaknya suasana benar-benar sepi. Sam juga tidak ada.
“Ti-tidurmu, ny-nyenyak sekali, ya? Mm-me-mereka sengaja mem-membiarkanmu ti-tidur sa-sampai k-kau terbangun.”
“Sepi sekali, ada acara apa?”
“K-kun-kunjungan. Bi-biasanya ke-keluarga atau te-teman d-de-dekat.” jawab Bryan susah payah.
“Ini hari Sabtu?”
“Y-ya.”
“Akan kucoba menelepon temanku, memberitahu jadwal kunjungan. Dia bisa ke sini nanti. Setidaknya, supaya dia tahu bahwa aku baik-baik saja.”
“A-aku i-ikut!”
“Kau sendiri? Keluargamu?”
“A-a-aku se-se-sebatang kara, sejak lama.”
“Maaf, aku tak bermaksud … .”
“T-tak apa. Biasa saja.”
“Kalau begitu, tunjukkan padaku, di mana aku bisa menelepon. Kuharap bukan di ruangan sipir, apalagi telepon genggam milik Kepala Penjara.” canda Tre, meskipun tak berniat melucu. Kejadian pemukulan atas dirinya sangat membuatnya sakit hati sehingga ia tidak tertarik untuk akrab dengan siapapun. Apapun yang akan ia ucapkan hanya untuk mengetahui siapa kawan dan siapa lawan.
“Ti-tidak, a-aku ta-tahu tempatnya.”
Bersama, Tre dan Bryan melangkah menuju telepon dinding yang bisa digunakan secara bebas saat waktu khusus seperti ini. Sementara yang lain ditemui keluarga atau teman dekat, Tre masih harus berkutat dengan seseorang yang bisa dihubunginya. Ben. Sementara Bryan masih menunggu di belakangnya.
“Hei, ini aku.”
“Kau baik-baik saja?” tanya Ben sedikit merasa ganjil karena Tre bisa menghubunginya.
“Ini hari kunjungan. Jika kau tidak keberatan, kapan-kapan mampirlah kemari, dan ya, aku baik-baik saja.” Tre tidak berharap banyak. Mengurus tabungannya di perusahaan saja sudah merepotkan.
“Perlukah aku mengajak Vanessa? Aku akan ke sana untuk mengurus tanda tangan pencairan tabunganmu.”
“Jangan! Maksudku, tidak usah. Situasinya terlalu berbahaya di sini. Ini antara kita berdua saja. Kau tidak perlu mengajaknya,” cegah Tre cepat.
“Berbahaya? Apa maksudmu?”
“Bukan masalah besar. Sudah, ya? Sampai nanti.” Tre buru-buru menutup teleponnya. Setelah berkas tabungannya beres, Tre tidak akan menuntut kesediaan Ben untuk rutin menjenguknya.
“Ke-kenapa?” Bryan tak mengerti padahal Tre masih punya banyak waktu.
“Semua percakapan melalui benda itu sudah pasti disadap. Aku benci hal-hal yang melanggar privasi,” ungkap Tre, kembali melangkah menuju sel.
“De-dengar, Tre. Te-tentang pe-pemukulanmu, se-sebenarnya, ti-tidak sepenuhnya ke-kesalahan penjaga.”
Pernyataan Bryan jelas menghentikan langkah Tre. Kedua matanya menyipit. “Apa kau bilang tadi?”
“Bu-bukan ke-kesalahan penjaga, hm … ma-ma-maksudku sipir!”
“Maksudmu, pintu jeruji, kamera CCTV, dan ketiadaan para sipir?”
“Te-tepat sekali!”
“Seseorang mengatur ini semua?”
“Me-menurutmu? Se-secara logika, me-mengapa ‘tradisi’ i-itu bi-bisa terjadi?” Ben balik bertanya. Pertanyaan yang tentu mustahil bisa dijawab maupun disangkalnya. Bila dipikirkan sangat dalam, semuanya mulai masuk akal.
“Aku pun curiga. Namun bukan itu saja masalahnya. Apakah kau tahu, siapa saja ketiga napi yang menghajarku habis-habisan itu?”
Bryan tersenyum. “Na-nanti, k-kau pasti tahu. Me-mereka be-belum melepasmu.”
Menarik.
Perundungan yang dialaminya pasti ada kaitannya dengan kasus yang menjeratnya. Orang itu, siapapun dia, ternyata belum sepenuhnya melepasnya begitu saja. “Bryan?”
“Y-ya?”
“Biasanya, bagaimana ‘tradisi’ itu dilakukan? Sebab aku tak percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar. Katakan.”
“A … .” Bryan mendadak seperti orang hilang ingatan.
“Bryan?” ulang Tre dingin. “Kalau kau tahu sesuatu, sebaiknya jangan tutupi apapun.” Nada suaranya datar, tapi tekanannya tegas.
“A-akan ku-kupertimbangkan. Selamat tinggal, Tre!” Bryan kabur.
Jelas sudah.
Tradisi pemukulan itu dibuat istimewa untuknya. Semua direncanakan sedemikian detail agar tampak seperti perundungan biasa, dan dipastikan tidak seorang pun yang akan membelanya, mempertahankan hak-haknya. Trevor Jordan memang sengaja disiapkan untuk tumbal kejahatan seseorang, dan orang yang sama menginginkan dirinya berubah menjadi pribadi yang berbeda. Sayangnya, Tre tidak menyadari tujuan akhirnya.
Usai jam kunjungan berakhir dan para napi kembali ke sel masing-masing termasuk Sam, Tre tidak banyak bicara, meskipun Sam menatapnya dengan pandangan bersalah.
“Putraku hampir seusiamu.” Sam berharap dapat sedikit menebus kesalahannya, dengan memancing Tre ke dalam percakapan yang mendalam. Namun tampaknya, Tre tidak tertarik. Meskipun demikian, Sam tidak putus asa. Ia melanjutkan kembali kata-katanya, “Aku melakukan ini untuk melindunginya.”
Dari kalimat itu, Tre memahami situasi pelik yang dialami Sam. “Lantas? Kau ingin supaya aku peduli pada kisahmu? Kau berbohong pun, aku tak peduli. Kian hari semakin terlihat jelas, mana lawan, mana kawan. Itu sudah cukup bagiku.”
“Kau anggap aku apa?”
Tre mengangkat bahu. “Tanyakan pada dirimu sendiri, kau pantas dianggap apa. Jika kebisuanmu layak untuk menggantikan putramu yang seharusnya dipenjara, maka jangan salahkan aku jika melakukan hal yang sama. Aku tidak akan menolongmu, atau siapapun di lingkungan ini.”
Sam tidak mendebat lagi. Untuk saat ini, ia memilih diam.
Seminggu kemudian, Tre tak lagi mengacuhkannya. Muncul rasa iba yang terselip ketimbang kesal terus-terusan. Lebih dari itu, mereka teman satu sel yang akan bertahan selama bertahun-tahun, jadi apa gunanya menutup diri?
“Akhir-akhir ini aku banyak berpikir,” jelas Tre sambil merenung, “Apa yang kulalui adalah masalahku sendiri. Kau dan napi lain juga punya masalah sendiri-sendiri yang tak kalah ruwet. Jadi aku tidak ingin terlalu mengharapkan apapun. Ada batas-batas yang tak boleh dilanggar.”
“Kau percaya batas itu? Bahkan menurutku, jikalau terpaksa melanggarnya akan menyelamatkan nyawa seseorang, maka seharusnya tak masalah bagiku untuk menyelamatkanmu waktu itu, tapi aku terlalu pengecut. Dari sini, kusaksikan dirimu dipukuli dan mengerang kesakitan seorang diri. Aku yang salah. Kuharap, kau mau memaafkanku.” Sam mengulurkan tangannya lebih dahulu.
Tre menyambutnya dan masalah di antara mereka pun berakhir. Setidaknya, sampai Tre menyatakan bahwa Sam memang cukup baik untuknya. Walau tak ada masalah, bukan berarti ia seratus persen memercayainya. “Sekarang, apa rencanamu? Besok hari kunjungan, apakah putramu akan datang? Apa kesalahannya sehingga kau mengakui perbuatannya?”
“Dia … ,” Sam yang terluka seolah ingin menepi, namun jika ia ingin dipercaya, maka sedikit mengungkap kisahnya mungkin tidak apa-apa. “Dia tidak sengaja melukai temannya sendiri memakai senjata milikku. Sebuah senjata laras panjang untuk berburu.”
Tre bukannya iba, tapi justru mentertawakannya. “Itu cerita yang hebat, mirip di film, tapi akhirnya aneh. Maaf sekali, aku tidak percaya drama yang barusan kau katakan.” Ia terus terkekeh.
“Apa maksudmu?”
“Pertama, otot kedua lengan dan bahumu lemah. Mana mungkin menarik pelatuk senjata laras panjang dengan benar? Kedua, mata. Masa hukumanmu tidak sebanding dengan berkurangnya ketajaman mata yang kau alami sekarang. Seharusnya, bila kau sering berburu, saat ini kau belum payah dalam membedakan mana kursi, mana toilet. Itu sebabnya kau lebih bau daripada napi lainnya. Intinya, Sam. Kau menyembunyikan sesuatu agar aku memercayaimu. Hidupmu kau buat dramatis supaya keberadaanmu mendapatkan simpati banyak orang. Bukankah begitu?”
Sam tertegun. Ia pun mengakui bakat lain Tre yang tersembunyi.
“Jadi, kau tidak percaya?”
Tre menggeleng. Kemudian berbaring membelakanginya seraya berkata, “Kau pria yang lelah, Sam. Pekerja kantoran yang stres karena berada di ambang perceraian sekaligus karier yang nyaris ambruk. Buram di matamu itu penyebabnya. Kau tidak bisa membedakan data atau laporan tertentu sehingga dimanfaatkan seorang rekan yang tahu kelemahanmu. Entah bagaimana, kau berakhir di sini. Mungkinkah … kau menghabisinya?”
Sam berubah gugup. Detail yang diungkap Tre memang kurang tepat, tapi perihal kebohongan kasusnya sangatlah benar. Dia bukan pemburu, apabila mendekam di penjara karena menggantikan hukuman putranya. Belum sempat melanjutkan kata-katanya, Tre sudah larut dalam bunga tidurnya.
Diam-diam, Sam memperhatikan punggung laki-laki yang kira-kira seminggu dikenalnya itu. Terselip rasa sesal berurusan dengannya, tapi tak ada gunanya. Penyesalan selalu datang terlambat. Mau tidak mau, ia harus terus bertahan sesuai kesepakatan.
Tiba-tiba, pintu jeruji yang semula tertutup, kini bergeser dengaan sendirinya. Hanya sel itu yang terbuka. Sam bangkit. Memastikan tubuh Tre tak bergerak kecuali gerakan naik turun karena irama napas, ia pun segera bangkit. Keluar sel perlahan dan melewati deretan sel lain pada setiap sisinya. Suara langkahnya teredam bahan karet sepatunya. Tak terlalu memusingkan rekaman kamera CCTV karena seseorang telah mengatur hal itu untuknya.
Malam semakin larut, bayangannya bergerak mengikuti dirinya menuju ke suatu tempat. Ketika ada seseorang, ia berhenti. Lalu terlibat pembicaraan serius sehingga melupakan dinginnya hawa di sekeliling mereka.
***