Bab 11 : Api Dendam

2041 Kata
“Tidak, aku baik-baik saja. Hanya tidak sedang berselera untuk mengobrol dengan orang baru. Namaku Sam.” Tre duduk di atas kasur berangka besi yang ditanam di tembok. Memperhatikan pria setengah baya yang berbaring membelakanginya. Berpenampilan lusuh, rambut berantakan dan aroma yang tidak sedap sesungguhnya bukan alasan. Low Beaumont bukanlah penjara neraka seperti Alcatraz, seharusnya gaya hidup bersih dan rapi masih bisa dijaga jika punya niat, ketimbang tertular penyakit kulit yang justru merepotkan diri sendiri dan orang lain. Tapi, sangat aneh jika mengharapkan kedisiplinan seperti itu di tempat seperti ini. Lupakan soal higienis, ia bertekad. Namun tetap saja, Tre merasa jijik. Tre menghela napas. Sekian menit bergulat dengan keyakinan untuk menjalani penyiksaan batin ini, ingatannya selalu membayang, mengingat Vanessa. Beginikah rasanya ketika seseorang dihadapkan pada pilihan untuk mempertahankan kehidupan orang yang dikasihi dengan membiarkan harga diri diinjak-injak dan dipermainkan seenak perut para pelakunya. Akankah tersisa harapan baginya untuk kembali menghirup udara kebebasan? Enam tahun begitu lama. Ia pun akan menua, kehilangan saat-saat penting untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan anaknya, juga menikmati kebersamaan bersama Vanessa. Kekejaman itulah yang tidak mungkin maafkan dan lupakan begitu saja. Tiba-tiba saja … kedua matanya pedih. Ia nyaris tidak sanggup membendung kerinduan yang begitu mendalam. Seakan-akan melepas Vanessa dalam gelap tanpa genggaman tangannya. Hingga kini, tiap kali mengingat itu, keberaniannya pupus. Digantikan oleh kecemasan yang tak berujung, yang sesungguhnya membahayakan akal sehatnya. “Kalau kau lelah, tidurlah.” ucap teman satu selnya yang ternyata masih peka mendengar suara. Dia seperti bisa merasakan kegelisahan hati Tre meskipun tidak melihat wajahnya secara langsung. Lanjutnya, “Pria baik-baik sepertimu akan lebih cepat terkena stres. Jadi habiskan waktumu dengan mengistirahatkan mata. Siapa tahu, waktu akan berlalu lebih cepat, dan seorang petugas akan mengumumkan kebebasanmu.” “Itukah yang kau lakukan sekarang? Tidur?” tanya Tre sambil tersenyum. Dari cara bicara orang ini, cukup terbaca bahwa dia bukan kriminal tulen. Bisa jadi seperti dirinya. Orang biasa yang dipaksa membuka mulut, mengakui kejahatan yang tidak dilakukannya. Akan tetapi, terlalu dini untuk menanyakan hal itu. “Sekalian berkhayal. Dengan begitu, aku akan lebih cepat terlelap.” jawabnya. “Sekarang kau bicara dengan orang baru? Berubah pikiran sekarang?” “Hm, yah … kuperhatikan kau terdiam cukup lama. Duduk dan berpikir ribuan kali untuk berbaring di tempat tidur kecil yang sudah terkena bekas air seniku. Itukah yang kau pikirkan, Nak?” Tre tergelak. Orang itu pandai membaca pikirannya. “Omong-omong, aku cuma bercanda tentang itu.” “Soal apa?” “Kasurmu. Kasurmu bersih dan steril seperti yang dipakai bayi. Nikmatilah!” ungkap Sam sambil tertawa geli. Baru dilihatnya seorang narapidana yang mementingkan kebersihan. “Benarkah? Sebab, jika kau justru mempermainkanku, maka aku tidak mau mengenalmu. Aku benci penipu.” Tawa Sam kian meledak. Mungkin hampir satu gang berisi terali besi sedang mendengar tawa lepasnya. “Kau lucu, Tre! Mungkin aku akan menyukaimu. Selamat datang di Low Beaumont, kau akan suka tinggal di sini.” Masih belum berhenti terkekeh. Beberapa saat kemudian, ia berkata, “Tinggal di sini delapan tahun, aku mampu membedakan orang baik dan jahat hanya dari nada suara mereka, dan kau … bukan termasuk keduanya. Kuralat kata-kataku tadi, Tre. Kau tidak sepenuhnya pria baik-baik.” “Oh, itu pendapatmu. Terserah kau bagaimana menilaiku. Aku tak peduli.” “Itulah sebabnya kau dimanfaatkan orang. Apapun kesalahanmu, aku yakin, tidak sepenuhnya keinginanmu. Bukankah begitu?” Sam yang mulai membahas sesuatu yang sedikit bersifat pribadi, tentu membuat Tre gerah. “Kau suka meramal rupanya. Siapapun dirimu, urus saja masalahmu sendiri. Aku sedang tidak ingin mengadu pada orang asing.” Tre mulai berbaring. Sempat tidak yakin apakah mampu tidur barang sejenak. Berhari-hari otot matanya menegang sehingga kepalanya sering berdenyut. “Tentu. Tak seorang pun yang suka yang kehidupan pribadinya diganggu. Bila kau menyangkal, berarti tebakanku benar. Aku tidak pernah meramal.” Tre tidak menyahut. Bila dilanjutkan, pembicaraan ini akan semakin meluas hingga ke masalahnya yang mengakibatkan berpisah dengan Vanessa. Membicarakan masalah pribadi tanpa solusi hanya akan menunjukkan kelemahan diri sendiri. Ketika jam makan tiba, semua napi berkumpul di sebuah ruangan mirip kantin yang tertutup dan dijaga ketat para sipir. Dari pemandangan yang dilihatnya, tidak seorang pun yang menyisakan tempat kosong untuknya, atau sengaja menutupinya, hingga seseorang mengangkat tangannya, memberi isyarat Tre agar duduk di sebelahnya. “Hai, aku Bryan. K-k-kau … bi-bisa duduk di sini.” Bicaranya gagap. Beberapa kata terakhir mengharuskannya untuk sedikit ngebut, walau cukup melelahkan. Ia tampak senang ketika Tre bersedia duduk di sebelahnya dan tampak nyaman dengan makanannya. “D-di-di sini, ma-makanannya lumayan. A-andai a-aku bisa tambah.” Tre menatap makanannya sesaat, lalu merelakannya separuh. “Mau? Ambil separuhnya, tapi kali ini saja.” “Be-benarkah? T-te-terima kasih. K-kau baik sekali.” Bergegas menyendok jatah tambahan dari seorang kawan yang baru dikenalnya. “Semua orang menjaga tempat duduknya masing-masing. Mengapa kau tidak?” Tre memasukkan suapan pertamanya. Bryan sibuk merangkai kata-kata. Saking kesusahan, Tre yang iba langsung menepuk bahunya. “Makan saja. Maaf, aku terlalu banyak bertanya.” “P-penjahat ti-tidak me-meminta ma-maaf. S-si-siapa k-kau?” Bryan terus makan sambil sedikit melirik ke arah Tre. “Trevor Jordan. Mereka bilang aku jahat. Jadi mau bagaimana lagi? Dunia ini terlalu aneh, bahkan bagi warga yang tidak bersalah.” Bryan meneruskan makan hingga selesai. Ia tahu bahwa membicarakan hal sensitif seperti itu dilarang karena dapat memicu provokasi dan kecurigaan petugas penjara yang mengawasi baik secara langsung maupun melalui kamera CCTV. Setelah jam makan selesai, semua napi diharuskan kembali ke sel masing-masing dan pada saat itulah, Bryan kembali mendekatinya. “Si-siapa te-teman s-sa-satu selmu? A-apakah Sam?” tanyanya terbata. “Ya, benar. Mengapa tiba-tiba bertanya begitu?” Bryan mengangkat bahu, namun bukannya tidak tahu. “Ti-tidak ma-ma-masalah. D-dia orang baik. Se-semua o-orang hormat padanya.” jelasnya. “Oh.” “Sa-sampai berte-temu lagi. Te-terima kasih tra-traktirannya.” Dia harus berbelok di persimpangan, sedangkan Tre terus berjalan lurus. Tanpa disadari Tre, beberapa orang nanar mengamati punggungnya. Mereka merencanakan sesuatu. Sampai di depan sel, lorong mendadak sepi. Para napi telah diam mendekam dalam sel mereka sendiri yang tertutup otomatis, kecuali tiga pria berbadan kekar yang kini memojokkan dirinya, menghalanginya masuk ke dalam sel. Aneh, tidak ada seorang sipirpun yang terlihat. Kamera CCTV juga tampaknya mati. Apa yang terjadi? Namun Tre cepat menepis kebingungannya. Jika kekerasan seperti ini dianggap lumrah dalam fasilitas pesakitan ini … . “Apa mau kalian?” Tre tak punya pilihan selain menempel pada jeruji. “Trevor Jordan, asal kau tahu, kami punya aturan yang juga berlaku untukmu.” kata salah satu di antara mereka. “Jika tidak kau lakukan, kau akan bernasib sama seperti napi lainnya yang sudah kubuat cacat.” “Ini ancaman? Kupikir aku tak perlu menuruti kalian karena hidupku sendiri sudah susah karena terjebak dengan orang-orang macam kalian!” balas Tre tak kalah sengit. Pria tadi tertawa, diikuti dua temannya, kemudian kepalan tangannya langsung menyasar ke ulu hati Tre hingga membuatnya membungkuk kesakitan. “Saranku, tak usah berteriak! Juga … jangan dianggap serius!” Kejadian itu begitu brutal sehingga hanya dalam waktu singkat, Tre sudah bersimbah darah. “Rasakan, dasar sok jago! Lain kali, tundukkan kepalamu di depan kami!” Puas menghajar Tre, mereka bertiga segera berlalu, dan tangan-tangan napi lainnya mulai bermunculan dari balik jeruji. Ternyata mereka sudah tahu ‘tradisi’ penyambutan yang biadab ini. Seseorang berteriak dari selnya, “Kau beruntung! Lain kali mereka akan memotong salah satu anggota tubuhmu!” Tre perlahan bangkit, Sam muncul dari dalam sel mencoba untuk membantunya dengan penuh rasa iba, namun Tre menepis tangan pria itu dan berkata, “Singkirkan tanganmu, Pengecut! Biarkan aku sendiri!” Di depan wastafel dan cermin kecil, seiring suara pintu sel yang menutup, Tre merobek selimut dan menggunakannya untuk membalut luka terbuka di tangannya setelah membersihkan darah dengan air mengalir tanpa memedulikan kebersihan air itu sendiri. Beberapa kali meludah untuk menghilangkan cairan kental merah yang keluar di sekitar mulut. Pelipis dan kulit tulang pipi juga tidak selamat dari perundungan tiga narapidana keji tersebut. Belum terbilang bagian lain yang langsung terasa nyeri. “Kau bisa ke klinik dan minta dijahit.” saran Sam dan bagi Tre, itu tak banyak membantu. “Begini saja aku tidak akan mati.” Lantas duduk bersandar, menahan darah segar di beberapa tempat yang masih mengucur. “Tapi kau akan lemas! Tre! Tre! Sadarlah, Nak!” Suara Sam semakin tak terdengar, pandangannya kian kabur. Tre tak merasakan apa-apa sesudahnya, hingga telinganya menangkap percakapan dua orang yang membicarakannya. “Aku tidak tahu jika jadwalnya sekarang. Kalau tahu, aku mau pulang cepat. Membereskan luka-luka orang ini hanya membuang waktuku.” “Enam tahun itu jika dia beruntung. Kudengar, hukumannya tidak sesingkat itu.” “Benarkah?” “Kau pikir? Siapapun yang terlibat dengan Andrei Valdo, pantas mendapatkan hukuman berat di dunia.” “Benar sekali. Hm, untungnya sudah selesai. Tinggal kubereskan sedikit.” Dokter ini akan menyentuh luka Tre ketika tiba-tiba Tre bangun dan mencekal tangannya. “Minggir! Atau kugunakan alat medismu untuk memberimu luka yang sama denganku!” Kemudian dilepasnya tangan dokter yang gemetaran tersebut. Hati Tre yang mulai tersayat, menimbulkan suatu emosi yang membuatnya sukar untuk mengendalikan diri. “Dimana sipir? Aku mau kembali ke selku. Kalian … ,” tunjuknya kepada dua dokter lapas tersebut, “Seharusnya keberadaan kalian seperti malaikat di tempat busuk ini, tetapi … kalian sangat menyedihkan! Tidak jauh beda dari mereka yang berotot besar tapi berotak bebal yang menghajarku tadi.” Tertatih, Tre berjalan mendahului sipir. Kembali tiba di dalam sel, Sam dengan pandangan bersalah tak berani angkat bicara. Tre membaringkan tubuhnya yang masih lemah. Api dendam itu mulai menyala walaupun masih tak seberapa. Ia tak lagi mengingat siapa dirinya. Trevor Jordan, bukan lagi pekerja proyek biasa. Bila ingin bertahan hidup dan keluar dari belenggu untuk berkumpul kembali dengan Vanessa, maka ia tak punya pilihan lain selain menghidupkan makhluk buas dalam dirinya. Penyebab ia kehilangan karier di Angkatan Laut. Semua orang takkan mengira, bahwa Tre mampu melakukan itu dan mulai menunggu untuk melakukan pembalasan. *** Sementara itu di rumahnya, Ben menghubungi Vanessa. Ia tahu bahwa istri Tre itu tengah berpikir sebelum memutuskan mengangkat teleponnya. “Maaf, bukan maksudku mengganggumu. Aku hanya ingin memberitahumu sesuatu.” “Tentang?” “Tre. Dia berhasil menghubungiku.” Tak lama, terdengar isakan. Wanita itu sudah pasti sedang menangis. “Katakan. Bagaimana dia?” “Cara bicaranya normal, hanya … seperti di bawah ancaman seseorang. Yang jelas, dia merasa tak nyaman.” “Ya, Tuhan!” Vanessa menekan emosinya supaya Ben tidak mendengar jeritan lirihnya. Ben memahami itu dan memberi waktu Vanessa untuk menenangkan diri. Setelah cukup lama, akhirnya dia mampu menguasai diri. “Ma-maafkan aku, Ben. Seharusnya aku tidak seperti ini.” “Tidak mengapa jika kau mau menangis dulu, Vanessa. Aku bisa menunggu.” “Katakan saja, Ben. Ada kabar apa?” Pilu yang dirasa wanita itu belum juga pulih, namun demikian, ia harus tahu pesan Tre. “Tre berpesan soal tabungannya di perusahaan. Aku akan mengusahakan supaya cepat cair dan mengirimnya ke rekeningmu.” “T-Tre masih sempat memikirkan kami padahal keadaannya sendiri tidak lebih baik.” gumam Vanessa dengan bibir gemetar. Air matanya terus membasahi pipi dan karenanya, sulit mengering, walaupun ia seka berkali-kali. “Aku akan mulai bekerja untuk menutupi kebutuhan yang lain. Katakan padanya agar jangan khawatir. Sekarang aku tahu mengapa dia memilih untuk meneleponmu, sebab aku takkan kuat mendengar suaranya. Aku akan terus menangis. Ben, aku sangat rindu padanya.” Ben mematikan telepon genggamannya. Ia tak kuasa mendengar isakan kesedihan Vanessa yang kian dalam. Wanita yang seharusnya tetap hangat dalam pelukan pria yang sangat dicintainya, kini tak henti menitikkan air mata di tengah kehamilannya. Ben yang merasa tak mampu mengurangi beban itu, merasakan sesal yang tak berkesudahan. Hilang sudah segala cemas atas nasib kariernya yang pernah ia bahas bersama Tre, satu-satunya rekan kerja yang sudah ia anggap seperti saudara. Berganti dengan duka yang menyelimuti keluarga kecil Tre. Terlebih, seorang wanita milik sahabatnya itu yang terus menderita di depan matanya. Memang, tanpa sepengetahuan Vanessa, Ben masih rutin mengunjunginya. Jarak yang cukup jauh menyembunyikan keberadaannya, namun tak menghalanginya untuk mengetahui keadaan wanita tersebut. Vanessa memang sedikit berubah. Kesedihannya mengubah kepribadiannya yang semula ramah kepada siapa saja, menjadi sangat tertutup. Keluar rumah hanya untuk membeli sesuatu atau sekadar membuang sampah. Kasus Tre memang tidak dipublikasi, tetapi beban psikologis tetap harus ditanggung Vanessa yang sebentar lagi menjadi calon ibu. “Maafkan aku, Vanessa.” bisiknya, seolah wanita itu mampu mendengarnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN