Bab 5 : Keanehan Terjadi

2115 Kata
Di kantor polisi, Tre dimasukkan ke dalam sel, tak ubahnya tersangka tindak kejahatan yang baru beraksi di jalanan. Borgolnya dilepas, tetapi ia melihat pria yang diselamatkannya justru berjalan di lorong sambil dikawal beberapa orang menuju pintu keluar. Melewati Tre, pria tersebut tersenyum dan sedikit melambaikan tangan, memamerkan kebebasan. “Apa yang kalian lakukan?! Dialah orang yang kalian cari! HEI, KEMARI KAU! APA MAKSUDMU MENJEBAKKU?!” Seketika ruangan itu gempar. Tre sibuk meminta keadilan sementara orang-orang di sekitarnya tidak ada yang peduli. Polisi buru-buru mendorong tubuh kekarnya ke penjara, lantas mengunci sel saat itu juga, meninggalkannya bersama tiga orang tahanan yang berbadan lebih besar. Salah seorang dari mereka bangkit, menepuk pundak Tre dari belakang, dan ketika Tre berbalik, sebuah kepalan tangan keras mendarat di rahang kirinya. Menyebabkan pria pekerja tersebut ambruk menyentuh lantai bui yang dingin. Ia kehilangan kesadaran. Dua jam kemudian, kesadarannya pulih secara perlahan. Telinganya menangkap suara-suara samar namun kian jelas seiring pandangannya yang tak lagi kabur. “Dia orangnya?” “Ya, sudah pasti dia. Pastikan dia mendekam di penjara dalam waktu lama.” “Kita lihat saja, apa yang bisa dilakukan jaksa. Sementara itu, kita harus menunggu.” “Tentu saja.” Antara percaya dan tidak, mimpi atau kenyataan, Tre berusaha membangun pertahanannya sebagai laki-laki sekaligus warga kota yang memiliki hak untuk dibela dan mengecap kembali kebebasannya. “Mana pengacaraku?” ucapnya lemah, kedua lututnya masih bersimpuh, lekat dengan lantai yang penuh dengan goresan kuku bekas penghuninya. Setelah pandangannya benar-benar pulih, ia melihat ketiga tahanan tadi mengejek dirinya. “Mana pengacaraku?” Salah satu dari mereka mengulang ucapannya. “Dengar, Manis, selamat bergabung! Mereka tidak akan melepasmu biarpun kau sanggup menyewa semua pengacara hebat di kota ini. Kau tidak tahu terlibat dengan siapa!” “Kau akan dipenjara dalam waktu yang sangat lama, bahkan lebih lama daripada kami bertiga. Kejahatan seperti itu … sukar dimaafkan semua orang!” Tahanan yang tadi memukulnya, ikut bicara. “Selamat membusuk … di penjara, Trevor Jordan. Begitu tadi mereka menyebut namamu.” Lalu terkekeh, diikuti dua temannya yang lain. Mulut bau mereka paling pantang mengucap kebenaran, namun saat ini, haruskah Tre mengira kata-kata mereka sekadar gurauan basi yang tak enak didengar? Yang jelas, mereka mengucap namanya dengan benar. Masihkah ada harapan bahwa kejadian ini hanyalah kesalahan penangkapan? Vanessa, bagaimana dia di luar sana? Wanita itu tak pernah tidur tanpa dirinya kala tengah malam. Bahkan Tre jarang mengambil kerja lembur, hanya demi menemani Vanessa, salah satu tanggung jawabnya sebagai pria. Seperti dugaannya, tak seorang pun pegawai pemerintah yang datang membelanya atau sekadar menanyakan urutan peristiwa dalam proses interogasi. Tre memutuskan akan sabar menunggu meskipun kasus ini makan waktu berhari-hari. Namun nyatanya, tiap detik yang dilewatkannya tak satupun kesempatan baginya untuk bisa menuntut hak, apalagi menelepon Ben atau Vanesa. Aneh! Kejahatan macam apa yang mereka siapkan untuk menjebak pria berkeluarga seperti dirinya? Dengan siapa dia berurusan? Tre sadar, tengah dijadikan kambing hitam, tetapi … oleh siapa? Dan yang lebih buruk, semua orang percaya pada kebohongan yang sengaja disiapkan untuknya! Bayangan ketakutan terus merambat melewati batas logika pikirannya. Ia duduk merapat ke dinding sel, diam dan berdoa. Menyeimbangkan antara kewarasan dan kegilaan yang semakin sulit dilakukan. Dirongrong oleh bayangan rusaknya masa depan. Susah payah ia meniti jalan menuju ke sana bersama Vanessa, kini berubah gelap begitu saja. Jalan yang semula terbentang, lenyap seketika. Kedua matanya sulit mengatup. Apalagi yang akan terjadi setelah ini? Pukul empat pagi, seseorang berdiri di belakang petugas polisi yang membuka pintu penjara. “Trevor Jordan?” tanyanya. “Dengan siapa aku bicara?” Tre sudah jenuh dengan basa-basi bila ternyata percakapan mereka tidak berguna baginya. “Aku pengacaramu.” jawab orang itu singkat. “Kau tak punya nama?” Sebelum mendapatkan jawabannya, polisi membangunkannya secara paksa untuk dibawa ke ruang interogasi dan mendudukkannya di sana. Suara kursi diseret dan pria yang mengaku pengacara tadi duduk di seberang Tre, mulai membuka berkas dan berkata, “Kasusmu sulit. Bila tetap kukuh pada pendirianmu bahwa kau tak bersalah, jaksa akan menambah masa tuntutannya. Itukah yang kau inginkan? Ingat, semua bukti mengarah padamu,” Tre mengamati laki-laki yang seharusnya merupakan senior dalam bidang pekerjaannya. Penampilannya mendukung, mulai dari kepala hingga ujung kaki, ditambah wajahnya yang tampak cerdas, pastilah memudahkannya memancing relasi. Namun setelah mendengar saran yang diberikan, sulit bagi Tre memercayai siapapun lagi. “Seingatku, tugas pengacara bukan untuk menjerumuskan terdakwa.” Kalimat Tre terkesan membosankan bagi pria yang mengaku pengacara tersebut, seolah pembelaan itu hanya membuang-buang waktunya saja. “Kasus ini tidak penting bagimu, ya? Berapa mereka membayarmu? Aku juga tidak tahu sedang terlibat apa! Jadi jangan permainkan aku!” Tre membentak sambil menggebrak meja. Dua petugas polisi memelintir tangannya, kemudian menyodok belakang lututnya supaya cepat berlutut. Di bawah ancaman sebilah tongkat, ia beranikan bicara, “Aku bahkan bukan terdakwa. Kalian menangkap dan menuduh orang yang salah. Sampai kapan kalian akan tetap memperlakukan orang secara sewenang-wenang?!” Pengacara itu mendekati Tre, jongkok di depannya seraya berkata, “Kau ingin ini cepat berakhir dan kembali ke pelukan Vanessa?” Tre menatap balik ular berbisa di depannya. “Jangan libatkan dia.” Pengacara itu merasa puas karena telah berhasil mengintimidasi dengan menyebut nama seseorang yang menjadi kelemahan Tre. Kemudian, dia berbisik di telinga Tre, “Ikuti permainan ini, kau tahu harus bagaimana, maka istrimu akan selamat.” “Bila kalian menyentuhnya sedikit saja … .” “Menurutku kau tidak dalam keadaan menguntungkan, Tre! Tidak ada kesepakatan lain denganmu kecuali menerima putusan hakim. Jangan membuat ini semakin berbelit-belit, oke?” kecam Si Pengacara supaya Tre lekas paham dengan situasi yang sedang membelitnya, kemudian mengambil sapu tangan dari saku di balik jasnya, menyeka keringat di sekujur wajah, dan secara sembarangan melemparnya ke wajah Tre. “Pastikan kau tetap mulut, atau kami terpaksa mendatangi istrimu.” Sesudah itu, Tre pasrah. Di dunia ini, tiada yang terpenting baginya selain Vanessa. Bila istrinya celaka, maka hidupnya takkan berarti lagi. Sadar bahwa ia terperosok dalam lingkaran kejahatan, ia tak banyak berontak. Terus menuruti apapun yang dikatakan orang-orang tentang dirinya, baik oknum polisi maupun jaksa. Semua demi Vanessa. Sementara itu, berjam-jam lalu, saat terlalu lama bagi Tre untuk sekadar belanja kebutuhan saja, Vanessa mulai gelisah. Tanpa kabar apapun melalui telepon genggam, ia dibuat kebingungan dan panik. Jarum jam menunjuk angka tiga pagi ketika diputuskannya untuk menelepon Ben. “Ya, halo?” “Ben!” “Ada apa, Vanessa? Hm, jam tiga pagi? Masih ada empat jam lagi sebelum aku ke rumah kalian.” “Tidak, tidak, kumohon, jangan tutup teleponnya. Aku … ingin tahu, apakah Tre bersamamu?” Vanessa menggigit lembut bibir bawah, menandakan bahwa ia sangat khawatir ketika Ben berkata demikian. “Tidak. Ke mana dia? Bukankah sejak aku pulang, dia terus bersamamu?” Vanessa mulai terisak. “Ini salahku. Dia akan tetap di sini jika aku tidak memintanya belanja.” “Tenanglah,” Ben mengusahakan matanya yang semula mengantuk tetap terjaga. “Belanja?” “Ya, aku kehabisan roti dan bahan lainnya untuk sarapan besok, dan dia bilang mau langsung membelinya. Seharusnya tidak lama.” “Sudah kau hubungi dia?” Ben mulai berganti pakaian sambil mendengarkan suara Vanessa melalui mode pengeras suara di handphone-nya. “Berkali-kali! Tidak ada suara apapun, aku benar-benar bingung! Dia tidak pernah begini sebelumnya.” Ben menyambar kunci mobil setelah siap pergi. “Ke mana dia belanja? Mini market yang biasa?” “Benar, dia pasti pergi ke sana. Semua bahan yang kuminta biasa tersedia di sana, mustahil dia sampai membelinya di tengah kota.” Sampai di dalam mobil hendak mulai menyetir, Ben berkata, “Aku berangkat. Kucoba mencarinya. Tenangkan dirimu.” “Terima kasih, kutunggu kabar darimu.” “Jangan menangis. Semoga cepat kutemukan kabar baik.” Hanya dalam waktu kurang dari enam menit, Ben sampai di mini market yang dimaksud Vanessa. Ia pun segera masuk dan bertanya-tanya kepada karyawan di sana. “Maaf, aku mencari seorang teman. Hm, ini fotonya.” Diperlihatkannya foto Tre lewat layar handphone, namun orang yang dihadapinya cuma menggelengkan kepala. “Aku tidak tahu. Mungkin, kau bisa bertanya pada kasir. Dia tidak ke mana-mana semalaman ini.” Setidaknya, masih ada harapan. “Selamat malam, aku mencari pria ini, tadi sekitar jam sembilan belanja di sini.” Ben kembali memperlihatkan foto yang sama kepada karyawan yang berbeda. Kali ini, bagian kasir. “Cukup banyak orang yang berbelanja di sini meskipun tidak dalam waktu yang sama.” Kasir mengamati baik-baik foto Tre. “Hm, maaf. Aku tidak ingat.” Mana mungkin Ben menghadapi Vanessa dengan tangan hampa, maka ia berpikir cepat. “CCTV! Kalian punya benda itu ‘kan? Tolong, izinkan aku melihat rekamannya.” Kasir berkacamata tebal itu menatap datar ke arahnya, lalu berkata. “Baiklah, mumpung belum ada pembeli. Setelah ini, kau jangan mengganggu kami lagi.” “Tentu, aku janji.” Kasir itu tinggal membuka rekaman CCTV pada pukul sembilan tadi, dan memang, tampak Tre sedang mengantre. “Dia?” tanyanya setelah Ben menunjuk pasti. “Ya! Itu dia! Bagaimana dengan CCTV di depan? Kalian memilikinya ‘kan?” Hanya tampak mobil hitam dan mobil Tre meninggalkan halaman parkir secara bersamaan. Semua terlihat baik-baik saja. “Tapi, ke mana dia?” gumam Tre. “Dari arahnya, dia pasti menuju tengah kota.” “Buat apa dia ke sana? Aneh!” “Mana kutahu, Pak? Sesuai kesepakatan, Anda harus pergi.” Kasir pun leluasa ‘mengusir’ Ben setelah melakukan apa yang dimintanya. Di halaman parkir, Ben mengamati lingkungan sekitar. Tidak ada sesuatu pun yang aneh. Ia pun memutuskan mengunjungi beberapa rekan di kota, ketimbang hanya menelepon mereka. “Ben Hadley? Apa kau sudah tidak waras? Mana mungkin Tre ke sini malam-malam begini.” Begitu respon salah seorang di antara mereka kala membuka pintu untuknya. Atau komentar lain, “Paling cuma mencari hiburan lain selain istrinya? HAHAHA!!” Tidak lucu. Akhirnya, pencariannya hingga pagi tak membuahkan hasil. Kepalanya tertunduk ketika menghadapi Vanessa. Ia berkata di depan pintu, “Aku sungguh minta maaf, aku tidak bisa menemukannya di manapun.” “Mini market? Bagaimana dengan karyawan di sana? Bukankah mereka melihatnya?” “Kasir mau menunjukkan rekamannya dan terlihat bahwa Tre menuju tengah kota. Aku sudah menemui semua rekan dalam tim kerja kami, dan mereka tidak tahu di mana Tre berada.” jelasnya, sangat berharap wanita itu akan tetap tenang. “Kalau kau mau, kita bisa ke kantor polisi untuk melapor.” “Entahlah, Ben. Mereka pasti akan mengesampingkan masalah ini sebab Tre adalah pria dewasa yang mampu berpikir dengan baik sehingga bebas melakukan apapun. Meskipun ini tidak biasa bagiku tetapi bagi orang lain, sikap Tre masih terbilang normal. Justru mereka akan menganggapku terlalu posesif.” kata Vanessa ragu. Ben memasukkan ibu jari ke dalam masing-masing saku celana denimnya. Tidak enak juga kalau begini. Melihat wanita itu dirundung duka, tentu mengiris batinnya. Meskipun perasaan itu bukan untuknya. “Dengar, Vanessa, tunggulah aku. Sepulang kerja, aku akan melanjutkan pencarian dan bila gagal, aku akan langsung melapor. Bagaimana?” “Aku tidak ingin merepotkanmu.” “Justru aku senang kau meneleponku. Sementara menunggu, istirahatlah. Jangan sampai tidak makan dan terlalu lelah. Jaga dirimu dan bayi kalian. Bila Tre pulang, jangan sampai kau sakit.” Ben menatap teduh wanita sederhana yang hingga sekarang masih memikat hatinya. Ingin rasanya mengecup sepasang mata sembap akibat terlalu lama menangis sepanjang malam. Sayang, semua kecantikan yang dimiliki Vanessa, bukanlah miliknya. Ben menahan diri agar tidak menyentuh istri Tre tersebut. “Akan kucoba, Ben.” ucap Vanessa lirih. “Bagus. Kalau begitu, aku pulang dulu. Sampai nanti.” “Sampai nanti. Terima kasih atas bantuanmu.” “Sudahlah, jangan sungkan.” Absennya Tre di lokasi proyek jelas membuat Mandor menggerutu. Meskipun Ben sudah menjelaskan penyebabnya, tidak terlalu berpengaruh. Tre terancam dipecat. “Kusarankan jangan terlalu dekat dengannya, Ben. Tahukah kau? Dia memanfaatkanmu. Transportasi gratis, pekerjaan tidak beres dan selalu tergantung padamu. Kau pikir siapa dirimu? Malaikat pelindung? Yang benar saja!” Mandor berusaha memprovokasi Ben, namun tidak berhasil. Ia sedikit mendekat dan membalas tuduhan Mandor. “Jangan berkomentar bila tidak tahu masalahnya. Sebaiknya tutup mulutmu dan pikirkan kenapa kenaikan gaji kami lambat sekali. Dasar Mulut Besar!” Gantian Ben yang memaki, tidak terima sahabat satu-satunya dicela begitu saja. Selama bekerja, tentu saja Ben tidak merasa tenang. Ketiadaan Tre tentu sangat berpengaruh bagi kinerja seluruh divisi. Seharian itu, mereka kerepotan menangani pekerjaan Tre. “Ini tidak boleh terjadi,” kata salah seorang rekan. “Ben, melaporlah ke polisi sepulang kerja nanti. Jika ada unsur pidana, mereka pasti mengurusnya.” “Benar, sudah lewat waktunya. Kasihan Tre, jangan sampai terjadi sesuatu padanya.” Terjadi sesuatu. Dua kata itu sangat menakutkan sehingga Ben harus menepisnya jauh-jauh. Berharap ketika tiba di rumah Tre, sahabatnya itu sudah berada di rumah. Tetapi, apa yang dialami Tre harus mengubur dalam-dalam harapan itu. Hingga malam tiba, awan mendung masih menyelimuti langit penjara di mana Tre terjebak di dalamnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN