Pria nyentrik bersepatu kulit buaya warna gading itu menyedot cerutunya. Perawakannya tinggi besar, hampir bisa dipastikan bahwa dia rutin melatih otot-ototnya dengan badan sekekar itu. Meskipun terbalut setelan jas putih senada dengan warna sepatunya, setiap orang yang lewat pasti dapat menebak lekuk tubuhnya, terutama para gadis. Ditambah mobil mewah yang mengular seperti itu, juga gayanya yang kelewat parlente, tentu menarik perhatian siapapun yang kebetulan melihatnya.
Dialah Andrei Valdo.
Pria berkebangsaan Rusia, umurnya tepat empat puluh dua hari ini, namun belum sempat merayakan ulang tahunnya dikarenakan seseorang bernama Trevor Jordan dikabarkan berani macam-macam dengannya. Ia sangat membenci orang yang sok jago! Sedikit menunjukkan tajinya pasti bisa membungkam pekerja proyek itu. Meyakinkan Bos-nya bahwa Trevor bukan lagi masalah.
Melangkah dengan sedikit pongah, ia mulai menginjakkan kaki di kantor polisi dikawal tiga pengawal pribadi. Menyembunyikan penerbangannya yang buruk dengan mengingat calon korbannya ini, cukup untuk melampiaskan rasa kesalnya akibat kejadian sore tadi. Seharusnya pramugari tadi tidak keberatan saat ia mengelus pinggulnya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Tamparan keras dan tumpahan air jeruk membasahi seluruh wajah dan mantel bulunya. Ia benar-benar membenci penerbangan komersial! Apa boleh buat, ia diharuskan menuju Texas guna membereskan persoalan ini, dan kedatangannya harus terlihat normal. Setidaknya itulah yang akan dikatakan kamera CCTV di semua penjuru kota sebagai penguat alibinya.
Polisi yang menyambutnya bersikap tak jauh beda. Cepat membuka pintu ruangannya lalu menutup pintu dan jendela untuk menghindari para tukang intip yang ingin tahu urusannya. “Kau terlambat! Aku sampai melewatkan jam makan malam dengan istriku.” keluh polisi tersebut ketika tamunya itu duduk di kursinya dengan seenaknya sambil menyilangkan kaki, seolah dia adalah raja di kantor polisi ini.
“Cih! Kau bilang apa tadi? Istri? Kau pikir aku percaya, Chuck?” Mulut Andrei menyeringai. “Saat ini juga aku bisa meludahimu jika aku mau, tapi demi lencanamu itu, aku tidak keberatan mengizinkan mulut besarmu bicara sesuka hatimu. Tapi ingat … kau masih punya utang yang mesti kau bayar, atau … .” Andrei menirukan gaya orang menembak dengan jari-jari tangannya.
“Kau takkan berani melakukan itu.”
“Oh, ya? Lalu di mana aku sekarang? Aku duduk di singgasanamu, Chuck! Buka pintu dan jendela itu, biar anak buahmu melihat. Ayo, buka!” gertak Andrei semena-mena.
Polisi bernama Chuck itu hanya menggeleng cemas. “Ti-tidak bisa! Aku sedang melakukan bagianku saat ini. Kita berdua harus terlihat bersih.” ucapnya dengan bibir gemetar.
“Nah, kau sudah tahu. Bagus! Jadi jangan pernah mendikteku, seolah kedudukan kita sama. Di sini, aku adalah penguasa, mengerti?!”
“Ba-baik!’
“Sekarang, ceritakan soal Tuan Trevor yang kau bilang sukar ditundukkan itu. Apa masalahnya?” Dalam sekejap, ruangan itu telah dipenuhi asap cerutu dari mulut Andrei. Walau terkesan menang gaya, pria itu tidak pernah gagal menyelesaikan tugasnya. Ia menyimak baik-baik penjelasan Chuck.
“Persiapan sudah sangat detail, termasuk stok roti dan mentega di dapurnya, tapi aku baru tahu bahwa … .” Wajah Chuck mulai terlihat pucat pasi.
“Apa? Jangan bilang kau membuat kesalahan kali ini.”
“Bacalah profil aslinya. Apakah kau yakin, dia pria yang diinginkan Bos?”
“Dasar lambat! Apa yang … .” Reaksi yang sama ditunjukkan Andrei. “Mantan US Navy?”
“Memang sudah lama sekali, tapi … apakah menurutmu, dia seratus persen cuma pekerja proyek?”
“Diberhentikan secara tidak terhormat … kurasa ini alasannya.”
“Apa maksudmu?”
Andrei mulai kesal. “Berpikirlah dengan otakmu! Bukan dengan lututmu! Sekarang, di mana dia?”
“Jangan menekannya terlalu keras, kita sudah berhasil mengendalikannya.” Tetapi saran itu tentu tak berlaku bagi Andrei.
“Memangnya kau siapa? Babysitter-nya?” Andrei tak peduli. Segera keluar dari ruang kerja Chuck dan mengikuti pejabat polisi tersebut ke sel di mana Tre mendekam di dalamnya.
Di dalam sel, Tre menatap balik pria berpakaian serba putih itu, yang sayangnya, bukanlah malaikat penyelamatnya.
Melihat reaksi Tre, Andrei justru menyukainya. Pekerjaan besar berasal dari para pecundang yang dinyatakan kalah perang, batin Andrei. Salah satu kalimat motivasi favoritnya. “Aku ingin bicara dengannya. Pastikan tidak ada anak buahmu yang mengintip, atau dia akan tinggal nama sepulang kerja.”
Chuck langsung menyiapkan pertemuan Andrei dengan Tre di ruang interogasi. Pria berusia tiga puluh enam tersebut tak memberontak. Tre berjalan biasa dengan tangan diborgol, menghindari potensi ekstremnya terakhir kali.
Di ruangan tersebut, Andrei yang sudah tiba lebih dulu dan duduk ‘santun’, memandang remeh sosok lelaki tangkapannya itu sambil berkata, “Namaku Andrei Valdo. Aku yakin, kau sudah menerima pesan yang kutitipkan pada pengacara payah itu. Dia bilang, kau nyaris tak mau bekerja sama jika dia tak menyebut soal istrimu, benarkah itu?”
Tatapan nanar Tre lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan Andrei.
“Jadi begitu. Kau sangat mencintai istrimu. Bertolak belakang dengan masa lalumu yang gelap. Seharusnya, orang-orang seperti kita saling akrab. Katakan, Tre, apa yang harus kami lakukan untuk meminjam jasamu, tanpa harus melukai istrimu? Aku benci sekali menyakiti wanita, sebab itu menurunkan harga diri. Tapi, jika terpaksa … .”
“Sudah kukatakan, jangan ganggu dia. Aku akan lakukan apapun.”
Entah mengapa, pernyataan Tre tidak cukup menyenangkan perasaan Andrei. Kilat di mata penjahat berdasi itu kental sekali dengan taktik licik yang sedang disiapkannya. “Kau pikir aku percaya? ‘Apapun’ berarti segalanya. Kau lihat? Bagaimana aku bisa bebas keluar masuk kantor polisi yang megah ini? Karena beberapa dari mereka mau terlibat dalam permainan yang sama. Bedanya, kau beruntung. Seseorang tertarik merekrutmu.”
Tre sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari orang-orang yang berniat menghancurkan hidupnya. Ia bertekad mengingat setiap detail wajah mereka bahkan hingga ke tahi lalat, jerawat, bekas luka, atau bahkan gurat khas pada kulit mereka yang menua. Ia harus ingat!
“Siapapun dia, katakan padanya, aku tidak tertarik. Silakan bawa aku, siksa aku, habisi aku, tapi jauhi Vanessa. Sebab bila tidak, kalian akan menyesal! Aku tidak akan melepas kalian sampai kapanpun!” Tre tidak asal mengancam. Berjam-jam dalam kungkungan sel tanpa kepastian kebebasannya, tentu membuat lelaki manapun mulai dikuasai emosi.
Pria yang sejak tadi berusaha mengendalikan dirinya itu kemudian bangkit, berdiri di depan Tre, lalu menampar pipinya sekuat tenaga. Andrei tidak menyadari, bahwa ia sesuangguhnya tengah membangunkan singa tidur di dalam diri Tre secara perlahan. Hanya sekarang, belum waktunya. Tre harus tahu dengan siapa dia berhadapan dan memastikan Vanessa selamat. Dengan demikian, ia memiliki kesempatan untuk bebas.
“Kalau kau belum paham, biar kutegaskan sekali lagi, Trevor! Kau … sudah kehilangan harga dirimu. Mulai sekarang, ikuti saja permainan yang kami siapkan untukmu. Atau kau akan benar-benar kehilangan istri dan … anakmu!”
“DASAR PENGECUT! KUHABISI KALIAN SEMUA!!” teriak Tre kalap. Tentu saja, tak seorang pun yang mendengarnya. Ruangan itu memiliki CCTV dan mikrofon untuk mendengarkan pengakuan terdakwa, namun semuanya tidak difungsikan saat itu. Tentu saja, alasannya sangat jelas, untuk menutupi skandal besar yang melibatkan orang-orang tertentu dengan mengorbankan pria biasa seperti Tre.
Tre mengamuk! Melupakan semua konsepnya dan ingin melarikan diri. Akan tetapi belenggu dan hantaman seseorang di belakang lehernya berhasil membungkamnya untuk sementara waktu.
“Sial! Dia berhasil merobek ujung bibirku.” Andrei meringis kesakitan. Goresan borgol yang sempat membekap dirinya tadi memberinya sedikit ‘kenang-kenangan’. Terselip penyesalan, mengapa repot-repot datang ke Texas hanya demi membereskan pekerjaan oknum polisi kenalannya. Kini, darah segar justru mengalir dari ujung bibirnya yang terluka tadi, bahkan mungkin, butuh dijahit sedikit. Bercak darah menghiasi bagian bahu. Detik itu juga, ia memutuskan pulang ke hotel setelah menendang tubuh Tre yang tidak sadarkan diri.
“Hei, mau ke mana kau?!” seru Chuck ketika Andrei memilih pergi.
“Jaksa akan mulai mengambil alih kasus besok pagi. Pastikan pria itu tidak bergerak dari kursinya di pengadilan. Paham?”
Tanpa menunggu Chuck mengangguk, Andrei sudah melangkah menuju pintu keluar.
Sementara itu, anak buah Chuck yang berkomplot dengannya kembali menampar Tre untuk mendapatkan kesadarannya, sehingga tidak terlalu berat mengangkat tubuh Tre. Sedangkan Tre, menyimpan satu persatu kepingan luka itu di hatinya.
Di luar sana, Ben tidak tinggal diam. Ia segera melaporkan kehilangan sahabatnya kepada polisi. Namun tanggapan mereka tidak mengenakkan.
“Jadi kau teman penjahat itu ya? Dengar, siapapun kau, jangan pernah percaya siapapun lagi. Trevor Jordan ditangkap atas tuduhan berkomplot dengan Andrei Valdo. Dia menyelamatkan anggotanya dari kejaran polisi. Kau tahu siapa dia? Andrei Valdo? Jangan tanya-tanya lagi. Sebaiknya kau cepat pulang dan tidur. Anggaplah pertemananmu dengan Trevor tak lebih dari sekadar mimpi buruk!”
Mendengar itu, Ben menekuk dahi. Mengapa ini terjadi? Haruskah ia memercayai kata-kata polisi? Bagaimana ia dapat menjelaskan kepada Vanessa, kejadian yang menimpa suaminya? Semua pertanyaan itu jelas tidak akan terjawab dalam waktu dekat.
Di dalam sel, Tre berusaha merunut benang merah kusut di dalam pikirannya. Meskipun tahu harus tenang, namun batin siapa yang bisa tenang jika nama baik telah tercoreng? Juga apa yang akan menimpa istri dan calon bayinya? Tre berdoa dan terus berdoa. Andai ia dapat menelepon Vanessa tetapi di sini, mereka mencabut hak-haknya. Ia seperti manusia terasing yang tidak berhak meminta bantuan siapapun.
Andrei Valdo, nama pria berperawakan Eropa Timur itu.
Setelah pengacara gadungan dan penjahat kelas kakap yang menemuinya, siapa lagi? Andai peristiwa ini terjadi ketika ia muda dulu, mungkin akan menyenangkan. Tetapi sekarang bukan lagi masanya. Bila ia tidak mau menurut atau mengkhinati mereka, maka mereka akan menggenggam masa depan keluarganya habis-habisan.
Terbaring miring di sisi tembok penjara, ia menahan semua siksaan kecil yang mulai terasa pedih. Menyingkirkan jauh-jauh bayangan kejadian buruk yang akan menimpa Vanessa, adalah hal terbaik yang dapat ia lakukan saat ini. Tiadakah yang menjawab doanya?
Ben! Semestinya Vanessa meminta bantuan Ben untuk mencarinya. Apakah sudah ada hasil? Apakah mereka akan menyakiti Ben juga?
Tengah malam, kiriman makanan datang tapi Tre bahkan tidak menyentuhnya. Ia tahu, semangkuk sup itu adalah satu-satunya penopang tenaganya, namun tidak ada salahnya berhati-hati. Ia memang tidak akan mempercayai siapapun lagi.
“Besok adalah persidanganmu. Cepat makan atau besok kau akan meracau sehingga membuat kami semua celaka!” ancam Chuck setelah mendapat laporan tentang Tre.
Tre mencoba bangkit, mendekati mangkuk berisi sup tersebut, lantas ditendangnya beberapa makanan dalam baki tersebut. “Aku tidak butuh makanan kalian! Silakan ambil kembali! Dengar, katakan pada Bosmu untuk melepaskan Vanessa. Aku janji, akan melakukan apapun. Tapi ingat, suatu saat, orang-orang seperti kalian akan merasakan akibatnya!”
“Berkicaulah sesukamu, Tre! Akan kulaporkan pada Andrei. Tapi jika kau sampai ingkar janji … .”
“Aku tahu risikonya.”
Sebuah kesepakatan dengan ular-ular berbisa itu akhirnya dibuat. Setidaknya, Vanessa dan calon bayi mereka akan selamat. Itu sudah cukup. Semoga mereka benar-benar menepati janji. Pada saat seperti ini, Tre akan melupakan harga diri.
Di rumahnya, jauh dari tengah kota, Ben berkali-kali mengacuhkan telepon dari Vanessa. Ia tidak tahu harus berkata apa. Menutupi fakta justru akan semakin memperparah keadaan. Malam ini, ia hanya akan meratapi diri sendiri karena telah gagal menenangkan hati wanita yang pernah dicintainya itu.
***