Bab 7 : Seseorang dalam Kegelapan

2161 Kata
Tre menggigil. Seseorang berkata bahwa besok adalah persidangannya dan ia tak bisa berhenti memikirkan Vanessa sedetik pun. Terbaring di lantai penjara sama sekali bukan pilihan hidupnya. Ia sudah lama meninggalkannya. Pengalaman masa lalu saat masih bergabung di Angkatan Laut cukup membuat batinnya meremang apabila melakukan satu kesalahan lagi yang akan membuat orang lain menderita. Tetapi kali ini … ia tidak bersalah! Satu-satunya kesalahan adalah membiarkan Vanessa takut dan sendirian tanpa tahu apa-apa. Apa yang akan terjadi jika polisi memberitahu tindak kejahatan yang tidak dilakukannya kepada wanita yang dicintainya itu? Bila Vanessa sampai memercayai kebohongan tersebut, hidupnya sudah pasti hancur. “Trevor Jordan?” Yang dipanggil tidak segera menjawab. Pada akhirnya, ia akan diperlakukan semena-mena dan terpuruk di tempat yang sama. Sepertinya, mereka bersemangat mencuci otaknya, meyakinkan dirinya bahwa ia memang pantas dihukum. “Jika tidak segera bangun, kau akan kehilangan kesempatan menelepon istrimu.” Telinga Tre tajam menangkap maksud kalimat itu. Sebuah kesempatan emas yang mustahil ia lepaskan, setelah beberapa hari bernasib nahas tanpa akhir yang jelas. Secepat mungkin ia bangkit dan mengikuti langkah petugas yang memanggilnya. “Sekarang, telepon dia.” Polisi itu menyodorkan sebuah gagang telepon meja berkabel. Tre meraihnya. Nomor handphone Vanessa segera dihubunginya. “Sayang, ini aku.” ucapnya, setelah mendengar suara yang dikenalnya di seberang sana. “Aku cemas, Ben tidak bisa menemukanmu. Ke mana kau pergi?” tanya Vanessa. “Aku … dengarkan aku, Vanessa, apapun yang kau dengar, semua berita itu adalah bohong! Aku sama sekali tidak melakukannya! Kau harus percaya padaku.” pinta Tre, berusaha menjaga perasaan istrinya supaya tidak lekas panik. “Saat ini, aku berada di kantor polisi. Mereka menahanku atas suatu perbuatan yang tidak kulakukan.” Diusapnya peluh yang mengalir dari salah satu sudut keningnya. “Sayang, apa yang harus kulakukan? Mengapa jadi begini?” Vanessa tersedu. Isakannya mengiris batin Tre yang paling dalam. Tre mengusap dahi, sedikit denyut mengganggu konsentrasinya dalam berpikir. Ia sungguh-sungguh tak berdaya. Ia harus tetap mengutamakan keselamatan istrinya. “Kau akan baik-baik saja. Aku janji. Sementara menungguku, gunakan saja uang tabungan kita, kau mengerti? Minta tolonglah pada Ben jika ada apa-apa. Aku … .” “Sudah cukup, Koboi! Kembali ke selmu!” Dengan kasar, gagang telepon tersebut dirampasnya dari tangan Tre. Tre pun didorongnya sehingga terpaksa menuruti kata-katanya. Sementara itu, Vanessa mendatangi kediaman Ben. Sangat kikuk, laki-laki itu menerima kehadiran istri Tre tersebut. “Maaf, rumahku tidak rapi. Silakan duduk.” “Terima kasih.” Usai meletakkan tas kecilnya di atas pangkuan, Vanessa menatap sedih. “Ben, kau sengaja menghindariku. Katakan, ada apa? Aku berhak tahu.” bujuknya kemudian, menekan sekuat mungkin perasaan duka karena kehilangan suaminya. Ben menghela napas. “Bila kuberitahu, akankah kau tetap duduk tenang, atau malah histeris? Terus terang, aku takut membuatmu sedih. Kau sedang mengandung, jadi kalau sudah siap mendengarnya, maka tegarlah.” Vanessa mengangguk. Kulit aprikot wanita itu terlihat memucat seiring pudarnya kebahagiaannya. Kondisi tersebut sungguh membuat Ben tak tega mengatakannya. “Vanessa … Tre terlibat kasus organisasi kejahatan pimpinan Andrei Valdo. Dia menjadi tahanan polisi sekarang.” Ben semakin terkoyak melihat reaksi wanita yang duduk tak jauh darinya itu. Vanessa terpana. “A-aku juga tak tahu, ketika datang untuk melapor dan kusebutkan namanya, mereka mengungkap kejadian itu.” “Ben … .” “Maaf, seharusnya kuberitahu sejak semalam tapi … aku sangat bingung! Bingung harus menjelaskannya kepadamu. Jadi, aku sengaja tidak menjawab teleponmu. Ma-maafkan aku.” “Ben, teganya kau!” “Vanessa, tolong pahami keadaanku! Aku tidak ingin menyakitimu.” Vanessa bangkit dari sofa lama milik Ben. Ia bersiap pergi ketika laki-laki itu mencegahnya. “Kumohon!” Ditatapnya pria yang memelas memohon maaf darinya, dengan pandangan tak percaya. “Kalian sudah lama berteman. Katakan, Ben. Seandainya suamiku tewas karena kecelakaan, akankah kau rahasiakan kematiannya supaya aku tidak bersedih?” Lanjutnya, “Aku berhak tahu karena aku istrinya, meskipun kabar terburuk membunuhku sekalipun, aku tetap berhak tahu. Selamat tinggal, Ben. Terima kasih atas segalanya.” Ben terdiam saat Vanessa pamit, namun mendadak ia teringat, “Ke mana kau akan pergi? Vanessa!” panggilnya, namun wanita itu tak peduli. Dia terus melintasi halaman rumahnya menuju ke sebuah taksi yang telah disewanya untuk mengunjungi Ben. “Ke mana lagi? Tentu saja ke kantor polisi! Bila perlu, aku dan bayi kami akan menemani suamiku di sana.” Pintu taksi yang dibuka Vanessa lantas tertutup kembali oleh tangan Ben. “Kau kurang waras? Ben!” seru Vanessa kesal, lebih kesal karena Ben menyuruh sopir taksi untuk pergi setelah membayarkan ongkosnya. “Aku begini karena peduli padamu, pada Tre dan juga bayimu yang kau kandung. Jangan sampai kejadian ini mengurangi akal sehatmu!” “Oh, ya? Aku sudah hilang akal setelah tahu kau menyembunyikan keadaan yang sebenarnya! Ben, tahukah kau, dapatkah kau bayangkan betapa Tre sendirian di sana? Mengharapkan bantuan kita? Kau pikir, kita bisa memercayai orang-orang di sana? Sekarang, minggir!” Ben tetap menghalangi Vanessa, menangkapnya yang berteriak histeris kemudian memeluknya. Tubuh wanita itu gemetar, saat itu juga dapat dirasakannya sebuah beban ketakutan atas kehilangan seseorang yang sangat dikasihi. “Menangislah! Aku ada untukmu.” Getar perasaan itu turut menyesakkan hati, seharusnya wanita ini bahagia, begitu tutur batinnya. Setelah tangis Vanessa mereda, Ben mengajaknya untuk ke garasi mengambil mobil. “Aku akan menemanimu ke sana sekarang. Kau harus bertemu dengannya.” Tekad Ben sudah bulat. “Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu?” “Aku bisa izin hari ini, tidak apa-apa, jangan pikirkan itu.” Selanjutnya, mereka bergegas. Masing-masing mengharapkan satu hal yang sama, yaitu kesempatan bertemu Tre. Di tempat lain, seorang wanita berjalan mantap menuju ke sebuah kedai kopi pagi. Bibirnya yang penuh, tersenyum saat mendapati rekan kerja yang telah selesai berbisnis dengannya, tengah duduk di salah satu kafe sambil melambaikan tangan ke arahnya. Ia pun segera masuk ke dalam kafe yang sama dan ikut duduk di dekatnya. “Semua lancar?” tanya Si Pria, setelah wanita itu memesan jenis kopi yang disukainya. “Aku lebih suka membereskannya langsung daripada bermain petak umpet begini. Melelahkan!” keluhnya. “Tapi kujamin menyenangkan, jangan khawatir.” Menyeruput kembali kopi panasnya, seraya mengamati penampilan wanita tersebut. “Kau tidak bicara langsung dengannya. Buat apa berdandan?” “Apakah dia tampan?” Pria itu tersenyum, tahu ke mana arah pembicaraan ini. “Menurutku, iya. Trevor Jordan juga memiliki banyak kepribadian menarik. Dia kuat, tapi kekuatan itu sudah lama hilang sejak bertobat, menikah, dan sebentar lagi, akan menjadi seorang ayah.” Ia sengaja memanasi suasana. “Benarkah? Akan ada Trevor Kecil nantinya?” Kopi yang dinikmatinya semakin kurang nikmat dibanding percakapan ini. Ia harus hati-hati menghadapi lawan bicara yang selevel dengannya. Jangan sampai wanita itu merebut permainannya. Jawabnya, “Bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana kau menyelesaikannya. Tapi sesungguhnya, itu tidak penting.” Setelah kopi pesanan berada di tangan, Si Wanita meneruskan kata-katanya, “Penting bagiku. Kau tidak bisa membangunkan singa tidur hanya dengan menepuk belakangnya atau menarik ekornya saja. Sesuatu yang dramatis akan membuatnya kacau secara psikologis, kemudian berubah menjadi sosok yang kau inginkan. Sebuah tragedi.” Berpikir sejenak, pria tersebut menanggapi usul rekannya. “Memang benar, aku setuju denganmu. Tapi ingat! Jangan terlibat terlalu dalam! Permainan ini milikku dan aku ingin agar Trevor menjadi boneka taliku, bukan monster yang menyimpan dendam lantas berbalik menyerangku. Apakah kau bisa melakukannya? Gunakan akal profesional, orang-orang seperti kita tidak pernah menganggap serius hasil permainan kita.” “Jadi, kau ingin supaya Trevor tetap hidup?” Lagi-lagi tersenyum, meletakkan cangkir kopi dengan sisa sedikit, lalu membungkuk ke sisi wanita berbusana jaket hitam dengan kerah tinggi tersebut. Mengecup lembut pipinya yang hanya merona bila sedang bersama lelaki yang disukainya. “Tentu. Bukankah dia hadiah dariku untukmu, Vanessa?” Usai mengucapkan itu, ia menepuk sedikit ujung bahu wanita itu dan pergi meninggalkannya. Membuka pintu kaca kafe, membayangkan bagaimana wanita itu berhasil memperdaya Tre dengan suara samarannya. Permainan ini semakin bagus, batinnya, namun ia belum puas. Ini bahkan belum awalnya. Ia ingin agar Tre tahu posisinya bahwa pria pekerja itu sejatinya memegang peranan penting dalam setiap babak berikutnya. Setidaknya ia tahu, bahwa semua anak buahnya sudah bekerja dengan sangat baik hingga saat ini. Masuk ke mobilnya, dihubunginya nomor Andrei yang seharusnya masih berada di kota ini, mengurus beberapa hal. “Apa yang kau inginkan?” tanya laki-laki Rusia itu melalui handphone-nya. “Kau tidak butuh tiga pengawal pribadi, apalagi membawa mereka ke kantor polisi. Kesalahan kecil yang memancing kecurigaan dapat membuatmu tidak dibayar, ingat itu!” “Tapi itu bukan kesalahan,” Andrei membela diri sendiri sambil mengunyah beberapa kacang. Ia baru selesai mandi ketika Bos-nya itu menghubunginya. “Menghadapi para polisi itu butuh sedikit citra. Bila sendirian, mereka akan menganggapku lemah.” “Sudah kau tekan dia?” “Tre? Yah, secara resmi, dia sudah bilang mau bergabung.” “Jadi laporan itu benar?” “Bisa kujamin. Kau tak usah cemas, aku menjaminnya.” “Bagus!” Dahi Andrei berkerut, gilirannya bertanya, “Bagaimana Vanessa? Kau bilang mau mengurusnya? Anak buahku siap kapan saja.” “Tidak perlu. Ini butuh pekerjaan profesional. Polisi akan menganggapnya wajar dan tidak melibatkan kita. Kerjakan saja bagianmu. Sejauh ini, semuanya lancar.” “Baik, kau tak perlu menjelaskannya dua kali.” Komunikasi berhenti dan pria ini, seseorang bertangan dingin yang dipanggil ‘Bos’ oleh Andrei, tak membuang waktu lagi. Ia meninggalkan lokasi tersebut untuk kembali ke hotelnya. Ia ingin berendam sambil mendinginkan kepalanya. Memikirkan detail rencana selanjutnya yang sudah berputar di otaknya dan hal itu membutuhkan uang yang banyak. Sangat banyak. Di kantor polisi, Vanessa tak mau berjalan lebih lambat. Ben harus setengah berlari untuk mengimbangi langkah cepat wanita ini. Sampai di bagian Layanan Masyarakat, ia langsung berkata, “Aku ingin bertemu dengannya. Trevor Jordan. Aku istrinya.” Petugas tersebut hanya mengangkat alis dan menjawab, “Trevor sudah dipindahkan. Kami tidak tahu, ia dipindahkan ke mana. Maaf, tapi kau harus menjadi istri presiden supaya tahu keberadaannya.” Kalimat tidak jelas ini sangat dibenci Vanessa sebab hampir semua orang menganggapnya lemah. “Ta-tapi … itu mustahil! Aku istrinya dan aku berhak tahu! Jika kalian tidak membantuku, aku akan melapor ke lembaga yang menangani ini.” kecam wanita itu. Yang terjadi justru sebaliknya. Polisi tersebut malah menganggapnya lucu dengan mentertawakan ketegasannya. “Suamimu ditahan karena melakukan kejahatan serius, jadi wajar apabila mereka memindahkannya ke manapun mereka suka.” “Sudah kukatakan padamu, mereka tidak akan mengizinkan kita menemui Tre.” ujar Ben lirih, setengah berbisik ke telinga Vanessa, mengajaknya duduk di ruang tunggu yang sepi. “Vanessa, kita harus menerimanya meskipun kita tahu bahwa Tre tidak bersalah. Jika kata-kata polisi tadi benar, maka sebentar lagi, kau akan diundang untuk menghadiri persidangan. Pada saat itu, kita akan tahu apa yang sedang terjadi.” Cukup lama bagi Vanessa untuk mengikuti anjuran Ben. Ia masih belum menerima kenyataan yang sengaja dibuat-buat. Ia tahu persis siapakah Trevor Jordan, sifat dan kebiasaannya. Mana mungkin tiba-tiba dituduh berkomplot dengan penjahat seperti Andrei Valdo? Melangkah sedih dan hampir menangis, akhirnya ia bersedia meninggalkan tempat itu. “Jadi, aku harus menunggu?” tanyanya. Ben mengangguk. Di dalam mobilnya, mereka kembali berdiskusi kecil tentang masalah ini. “Mereka akan memutuskan yang terbaik, percayalah. Pengacara terbaik untuk membebaskannya dari kasus pelik ini.” “Ben?” “Ya?” “Apakah ini bisa berakhir? Kami hidup secara baik-baik dengan tidak mengganggu orang lain. Mengapa ada orang jahat yang begitu tega memanfaatkan dirinya? Tre bukan pria seperti yang mereka katakan.” Bulir air mata mulai muncul di pelupuk mata. Tak pernah sekalipun membayangkan peristiwa ini akan menimpa keluarga kecilnya. “Tentu, aku setuju denganmu. Kau tidak usah khawatir, aku tetap percaya bahwa Tre tidak bersalah. Dia hanya kurang beruntung. Teman-teman di lokasi proyek juga sama. Kami tidak akan mengurangi rasa hormat kami kepada suamimu.” Vanessa menatap Ben dengan air mata bahagia. Untuk saat ini, kepercayaan tersebut lebih dari cukup. “Terima kasih, Ben. Hanya Tuhan yang mampu membalas kebaikanmu.” “Sudahlah, tidak perlu sungkan. Semua akan baik-baik saja.” Dari belakang kemudi, Ben menarik mobilnya dari halaman parkir kantor polisi. Sepanjang jalan, Ben hanya mampu pasrah, pikirannya sedang jenuh mengungkap penyebab kasus yang menimpa Tre. Sedangkan Vanessa, wanita ini memang di dekatnya, tetapi air matanya membuat hatinya tersiksa. “Keberatan jika kita makan dulu? Segigit pai akan membuat suasana hati dan pikiranmu menjadi lebih baik.” “Kau makanlah. Aku akan menunggu di mobil.” “Tidak bisa begitu.” “Mengapa tidak? Aku tidak lapar.” “Bayimu yang kelaparan. Ayolah, aku ingin memastikan kau makan untuk sekadar mengisi perut. Aku janji, tidak akan lama.” “Baiklah, tapi sesudah itu, antarkan aku pulang. Kepalaku pusing dan aku mau istirahat.” “Perlukah kita ke rumah sakit?” “Tidak, tidak, kita sarapan saja.” “Baik, Nyonya Jordan.” Untuk pertama kali, Ben menganggap ini adalah ‘kencan’ dengan wanita yang mengisi tempat khusus di hatinya. Waalaupun ia tahu, ia akan hancur setiap kali Vanessa menyebut nama suaminya. Trevor Jordan, kau beruntung. Memiliki seseorang yang selalu setia, percaya dan mencintai tanpa syarat khusus, ia berkata dalam hati. Sekilas iri, namun cepat ditepisnya perasaan itu dan menegaskan kembali, bahwa Vanessa bukan miliknya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN