Tre hanya menurut ketika tiba-tiba dipindahkan. Fisik dan mentalnya lebih baik sekarang. Ia memegang janji Andrei bahwa istrinya akan baik-baik saja. Jadi bukan masalah mengikuti permainan mereka untuk sementara. Akan tetapi, benarkah demikian?
Dalam pikiran Tre, memercayai orang-orang itu sama saja dengan menelan janji-janji kosong. Namun saat ini, ia tak punya pilihan lain. Vanessa dan janin mereka harus selamat!
“Trevor! Siapkan dirimu! Tiga jam lagi persidanganmu dimulai.” seru Chuck, polisi korup yang ikut bermain dalam bisnis haram Andrei Valdo. Tugasnya mempersiapkan persidangan palsu yang akan mendukung permainan ini. Tentu saja, dari bisnis melegalkan yang ilegal, ia mendapatkan keuntungan yang banyak. Keuntungan yang menyesatkan.
Tre bangkit. Walaupun ia tidak tahu berada di mana sekarang, ia berusaha lebih tegar daripada sebelumnya. “Apa yang harus kukatakan kepada para juri dan hakim?” tanyanya lugas, tanpa basa-basi, mengingat suka atau tidak, permainan ini memang sengaja dibuat untuknya.
Chuck menyeringai. “Tak usah mempersulit keadaan. Begitu memasuki ruang sidang, anggaplah bahwa kau memang bersalah, calon pesakitan. Bila berani macam-macam, kita sudah tahu ke mana ujung percakapan ini. Semua tahu bahwa Hakim Cody tidak bisa disuap, tetapi itu bukan masalah apabila kau mengikuti arus. Separuh juri adalah milik kami, jadi seharusnya tidak ada masalah. Oh ya, satu lagi, berapapun masa hukuman yang ditetapkan hakim, kau tidak boleh mengajukan banding. Dengan demikian, kau sudah menjadi pahlawan bagi keluargamu.” Sebelum meninggalkan Tre, Chuck berkata lagi, “Senang bertemu denganmu, Tre. Kupastikan bahwa kita tidak akan bertemu lagi selepas ini.” Menganggukkan kepala, pergi berlalu setelah menutup pintu.
Tidak akan bertemu, bukan berarti tidak bisa membalas suatu saat nanti, dan Tre telah mengingat wajah mereka satu persatu, termasuk laki-laki yang baru saja menemuinya. Sesuai rencana, pukul sebelas tepat, pintu sel dibuka. Ia digiring menuju mobil tahanan dengan pengamanan ketat. Siapa sangka bahwa tahanan yang mereka bawa sesungguhnya adalah warga biasa? Pekerja proyek yang sibuk mengganti pekerjaan demi sesuap nasi? Seorang suami yang sedang menantikan bayinya lahir ke dunia ini?
Namun siapapun yang melihat mobil itu di jalan, pasti akan mengutuk Tre, mencela dan merendahkannya sebagai sampah masyarakat yang harus disingkirkan dari lingkungan. Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan ketika didengarnya suara dari luar berteriak, “Matilah kau, Pendosa!”
Dalam sekejap, semua orang membencinya. Mereka yang tidak tahu apa-apa.
“Selamat, Bung! Kau baru saja memiliki penggemar.” ejek salah seorang polisi yang bertugas mengawalnya. Polisi yang lain ikut mentertawakannya.
Tre tak peduli.
Dalam pikirannya hanya ada Vanessa dan persidangannya. Lantas teringat sesuatu, tentang nama hakim yang disebutkan Chuck. Hakim Cody. Benarkah ia tidak termasuk dalam permainan? Bila benar demikian, bisakah dia membantunya? Untuk membuktikan hal itu, maka tak ada salahnya untuk mengikuti setiap sesi hingga putusan dijatuhkan.
Sayang sekali, untuk kesekian kali, dugaan Tre meleset. Bukan Hakim Cody yang duduk di sana. Dia memperkenalkan diri dengan nama berbeda. Berikutnya, Tre sudah dapat langsung menebak nasibnya. Jaksa penuntut menang dengan berbekal saksi dan bukti yang memberatkan, pengacara yang sengaja dibuat tak berkutik dan berpura-pura kalah, serta separuh juri yang bertugas memengaruhi juri lainnya.
“Dengan demikian, terdakwa dinyatakan … bersalah!”
Suara ketukan palu cukup untuk menjelaskan segalanya. Tinggal masa hukuman. Berapa lama mereka berencana merusak hidupnya?
Enam tahun!
Enam tahun tanpa banding untuk sebuah penantian panjang. Enam tahun yang tidak berdasar demi memuaskan kegilaan seseorang. Tetapi, menolaknya pun percuma. Sidang ini cuma akal-akalan. Mereka akan tetap menjebloskannya ke penjara dan bertepuk tangan melihat penderitaannya.
Persidangan yang singkat nyaris membuat Tre gila. Orang-orang ini seolah mengikrarkan bahwa dirinya pantas dihukum. Tetapi, Vanessa … . Sekali berulah, maka istri dan calon bayinya akan celaka!
Tidak! Berpikir panjanglah, Tre! Bersabarlah! Begitu ia memotivasi diri sendiri.
Usai ‘diadili’, ia kembali digiring keluar oleh para petugas, namun kali ini, masuk ke dalam mobil yang berbeda. Di dalam, seseorang di kursi depan mengajaknya bicara. Sementara ia tetap berada di bagian belakang di bawah todongan senjata.
“Bagus, Tre! Perkembanganmu bagus sekali. Aku senang bahwa akhirnya kau mengerti.” sapa orang asing itu, jelas bukan suara Andrei Valdo, Chuck, atau Si Pengacara yang aktingnya buruk!
“Sekarang, apa maumu? Kau mencuci tanganmu yang kotor menggunakan namaku! Hukuman enam tahun tanpa banding?! Kau menciptakan sistemmu sendiri, orang macam apa kau ini?!”
Pria asing tersebut terkekeh. Yakin bahwa Tre tidak bisa melihatnya kecuali belakang lehernya. “Tre, aku sudah lama menginginkanmu masuk ke dalam plot permainanku. Setelah sekian lama mengamati dirimu, akhirnya hari ini tiba! Masalahnya, kau belum mau menerima maksud baikku memisahkanmu dari masyarakat. Kau seharusnya berterima kasih! Tidak ada ada lagi pekerjaan membosankan, rutinitas tanpa tantangan dan istri yang manja. Siapa namanya? Vanessa?”
“Kau sudah janji untuk tidak menyentuhnya!” Tre menyeruak galak tetapi para petugas di semua sisi menghentikannya.
Dia mentertawakan ketidakberdayaan Tre. “Vanessa-mu aman, Tuan. Seperti yang kau inginkan. Meskipun bukan berarti kami berhenti mengawasinya. Enam tahun itu akan terasa cepat jika kau mengerti tugasmu selanjutnya. Demi anak dan istrimu.”
“Aku tidak akan melepasmu!”
“Tentu, karena kita sudah ‘bersaudara’ sekarang. Kita saling berkaitan. Saranku, lain kali, jangan sekali-kali membiarkan dirimu memiliki kelemahan. Menikah dan mempunyai anak hanya akan membuat mereka yang tak bersalah turut menanggung beban derita!” Batas jendela kecil itu ditutupnya. Percakapan kecilnya telah memberitahu Tre tentang masa depan yang sudah ia siapkan untuk pion-pion permainannya. Tre, salah satunya.
Mobil bergerak ke gedung semula Tre ditahan dan ia kembali mendekam di sana, sebelum dipindahkan ke penjara yang sesungguhnya, tempatnya menghabiskan enam tahun demi obsesi keji seseorang.
***
“Adakah yang ingin kau katakan?” Ben mengangkat telepon seorang teman. Mendengarkan sejenak, lantas membeliak tak percaya. “Apa?! Baiklah, aku ke sana.”
Sedang berada di lokasi proyek, Ben memutuskan turun untuk menemui rekannya tersebut di ruang kerja Mandor. Mandornya kini ganti melotot padanya.
“Duduk, Ben!” perintahnya.
“Mengapa kasar sekali?” tanya Ben, berlagak seolah tidak ada apa-apa, padahal ia tahu, masalah apa yang akan membelitnya. Pastilah tentang Tre.
“Dengar, kalau kau pintar, kau akan mendengarkan kata-kataku.” Mandor beralih kepada pekerja lain yang disuruhnya menelepon Ben. “Kau, kembalilah bekerja.”
Pekerja itu pun meninggalkan mereka berdua.
“Tentang apa?” Ben pura-pura tak mengerti.
“Tre. Dia sudah dipecat! Orang perusahaan bilang, polisi menghubungi mereka.”
Dahi Ben berkerut. Bukankah aneh sekali jika polisi sangat peduli pada perusahaan tempat Tre bekerja, sehingga menghubungi mereka terlebih dahulu? Tapi itu belum memuaskan keingintahuan Ben, hanyalah satu dari sekian banyak pertanyaannya yang bisa dijadikan petunjuk. “Benarkah? Apa kata polisi?”
“Tre terlibat organisasi terlarang pimpinan Andrei Valdo. Pengadilan sudah menetapkan masa hukumannya. Enam tahun penjara!” kata Mandor berapi-api, mengingat kekesalannya kepada Tre yang membuat kesalahan saat visitasi.
“Dan kau percaya begitu saja? Perusahaan juga?”
“A-aku … apa?”
“Bila polisi bilang bahwa aku menyelundupkan senjata, kau juga akan percaya? Ini menggelikan! Mana janji perusahaan untuk melindungi setiap karyawannya?”
“Kejahatan tidak termasuk, Ben! Asal kau tahu, polisi sudah menyodorkan saksi dan bukti yang memberatkan. Tidak ada yang bisa dilakukan Tre selain menerima putusan itu. Tentu saja, aku memahami dan mendukung sikap perusahaan yang langsung memecatnya.”
Ben terdiam. Ia menatap tajam mandornya yang dinilai terlalu arogan itu. “Sekarang, kau yang mendengarkanku. Ben tidak bersalah! Entah kau bakal percaya atau tidak, itu hakmu, tapi nasib seseorang bisa berubah kapanpun. Jika kejadian buruk yang sama menimpamu, apa yang akan kau lakukan?” Ben menghela napas. “Enam tahun penjara sangatlah tidak pantas untuk seorang Trevor Jordan. Jika hukuman itu pantas untuknya, maka kau juga pantas menerimanya, bahkan jauh lebih lama!” Kesal oleh tudingan tersebut, Ben memutuskan keluar ruangan dan menghindari perdebatan.
Sekarang, bagaimana lagi? Bagaimana caranya memberitahu Vanessa?
Seharian, ia dibuat tertekan oleh perasaan. Wanita itu dalam kondisi labil. Ben tidak ingin memperparah dengan memberitahunya tentang kabar Tre yang terakhir ia dengar.
Enam tahun. Persidangan sama sekali tidak mengundang Vanessa, memperlakukan Tre tak ubahnya teroris yang tidak berhak dipenuhi hak-haknya. Dalam hati, Ben menangis, Ia takkan kuat menahan derita seperti itu bila kemalangan yang sama menimpa dirinya. Mengapa dunia ini tidak adil terhadap orang-orang seperti mereka? Pada dasarnya, warga yang baik hanya ingin menjalani hidup apa adanya.
Sepulang kerja, ia memberanikan diri melangkah ke halaman rumah Tre. Rumah kayu di depannya tampak sepi walau lampu-lampu sudah menyala. Semoga Vanessa kuat mendengarnya, batinnya, lantas mulai melangkah dan mengetuk pintu.
***