Bab 9 : Menghubungi Ben

1471 Kata
“Vanessa, kau ada di rumah?” Jemari Ben mengetuk lapisan kayu pada pintu rumah itu. Empat kali ketuk, terdengar langkah kaki wanita mendekat ke arahnya. Tak lama, pintu pun terbuka. “Oh, Ben, ayo masuk!” Vanessa mempersilakan. “Ada kabar apa?” Ben diperlakukan seperti seorang raja karena wanita itu memastikannya duduk nyaman dan tak lupa menawari minuman. “Tidak, terima kasih. Sebaiknya, kita langsung saja.” tolaknya halus, khawatir apabila otaknya menjadi kurang stabil karena keramahan Vanessa. “Kau yakin? Ini tidak akan lama … .” “Tidak, aku ingin langsung membicarakannya karena ini sangat serius. Lebih serius daripada perkiraan kita sebelumnya.” “Tentang Tre?” “Ya.” “Ada apa, Ben?” Wajah Vanessa memucat. Ben menunggu beberapa detik berjalan sebelum sanggup meneruskan kata-katanya. “Vanessa, surat panggilan itu tidak akan pernah datang.” “A-apa maksudmu?” Jelas sekali bahwa Vanessa tidak sabar. “Benjamin Hadley, kau tahu bahwa aku percaya padamu dan aku tidak akan menyalahkanmu. Kumohon, katakan saja, supaya hatiku lega, ada apa sebenarnya?” “Mereka sudah memulai persidangannya tanpa kita. Kasus Tre begitu berat sehingga hanya diadakan sidang terbatas. Dia kena hukuman enam tahun penjara di Low Beaumont. Mandor mengatakannya tadi siang. Perusahaan dihubungi polisi dan merekomendasikan supaya dilakukan pemutusan hubungan kerja.” Ben menangkap detik-detik kegusaran wanita yang duduk agak jauh darinya itu, merasakan getaran hebat yang sudah pasti akan membuatnya sangat merana. “Mulai hari ini, Tre sudah tidak terhitung karyawan proyek.” lanjutnya. Merasa tidak enak, Ben menawarkan bantuannya, “Dengar, akan kucoba menghubungi perusahaan untuk … .” “Tidak perlu, Ben. Kau tahu, itu sia-sia belaka. Tidak akan membuat Tre terbebas dari hukumannya. Aku … bingung, ini terjadi begitu cepat, dan seolah tidak nyata. Aku harus bagaimana? Ke mana harus mengadu?” Pandangannya kosong, membayangkan Tre yang kesepian meringkuk di dalam penjara yang gelap dan lembab. “Tidak adakah harapan untuk menolong suamiku? Ben, aku akan membayar berapapun yang mereka mau. Ben … .” “Kau tidak bisa melakukannya. Orang-orang seperti mereka mampu mempermainkan hukum seolah hukum itu buta. Andai tiba-tiba muncul seseorang yang ingin membantu, aku pun tidak bisa percaya begitu saja. Dunia ini terlalu rumit untuk dikendalikan.” Bersandar pada punggung sofa sambil mengelus perut, Vanessa menerawang begitu jauh. Masa-masa indahnya dengan Tre sedang diuji. Ucapnya lirih, “Enam tahun, mungkin lebih lama dari itu. Mereka tidak mengatakan yang sebenarnya. Ya, Tuhan … .” Ia mulai menangis. “Pulanglah, Ben. Aku tidak ingin kau mengasihaniku. Akan kupikirkan segalanya sendiri, mulai detik ini. Untuk selanjutnya, kau tidak usah datang lagi. Terima kasih atas segalanya.” “Va-Vanessa? Apa yang kau pikirkan? Aku mengkhawatirkanmu dan bayimu.” Vanessa tak menjawab lagi. Ia sudah tak kuasa membendung air matanya. Menangisi petaka rumah tangganya di tengah bahagia menyambut kehadiran anak pertama. Tangis Vanessa yang diambang stress tentu meruntuhkan perasaan Ben. “Baik, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik.” pesan Ben sebelum pamit. Langkahnya terdengar berat di atas lantai kayu rumah itu, lambat laun semakin mengecil dan menghilang, digantikan deru mobil miliknya. Ia sungguh tak tega, namun pikirannya benar-benar buntu. Buat apa terus menemui wanita itu selama Tre tidak ada di sana? Banyak fitnah dan godaan yang akan terjadi sehingga Ben memilih diam. Kepergiannya sekaligus merupakan salam selamat tinggal. Di dalam sel, Tre mencoba untuk tidur. Sudah beberapa hari sejak penangkapannya, ia tidak pernah sungguh-sungguh mengatupkan mata. Beruntung, ia berada di dalam sel itu sendiri. Sel yang memang disiapkan untuknya. Ia yakin itu. Pintu kembali dibuka, seorang petugas mengantarkan makan malam yang seharusnya cukup membangkitkan selera, mengingat ia jarang mengisi perutnya. Pria itu berkata, “Makanlah, Tre. Bos mengirimnya secara khusus untukmu. Makan malam istimewa sebelum memulai hari-hari panjang penuh penantian di penjara. Percayalah, makanan mereka membosankan! Kuletakkan di sini. Bila kau tak makan, rugi sendiri.” Setelah mengunci kembali pintu sel, petugas pun meninggalkan Tre yang menatap lama makanan yang merana di lantai. Semula, ia memang tidak sudi memasukkan makanan atau minuman pemberian pria misterius itu ke mulutnya. Namun prinsip itu kalah juga oleh rasa lapar. Maka pilihannya jatuh pada taco. Sambil mengunyah, ia kembali teringat sosok pria itu. Satu-satunya orang dalam rekaman ingatannya yang sengaja menyembunyikan wajahnya. Siapa dia? Tre membatin. Diakah yang dijuluki ‘Bos’, ataukah Andrei Valdo, Si Pria Rusia yang pernah mengunjunginya? Tre tidak ingin menebak. Suatu saat, ia pasti akan mengetahui motif mereka melakukan ini. Ia harus tahu persis siapa saja musuh-musuhnya yang terlibat dalam permainan berbahaya ini. Meskipun itu berarti akan membutuhkan lebih banyak waktu. Satu hal yang pasti, pria misterius tersebut ingin merekrutnya untuk suatu pekerjaan, seperti yang pernah dikatakan Andrei. Dan mereka berdua sama-sama penjahat! Mereka yang ingin mengendalikan dirinya, menghadapkannya kepada masa lalu, serta menghancurkan masa depannya. Tre harus mampu berpikir cepat. Ia butuh bantuan seseorang. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk Vanessa. Siapa lagi kalau bukan Ben? Ben harus memastikan Vanessa baik-baik saja. Bila perlu, hingga istrinya berhasil melalui proses kelahiran bayi mereka. Ia juga akan meminta tolong Ben untuk menyimpan dan mengelola tabungan selama bekerja di proyek. Tabungan itu seharusnya masih utuh. Vanessa sangat membutuhkan uang, dan tanpa dirinya, pastilah ia sangat kesulitan. “Ya, Tuhan. Jagalah mereka berdua.” pinta Tre, setiap kali teringat bahwa Vanessa akan berjuang sendirian sebagai seorang ibu, tanpa dirinya, sebagai sosok suami dan ayah bagi anaknya. Sekarang, tinggal bagaimana caranya menghubungi Ben? “Aku ingin menelepon seseorang, tapi bukan istriku. Kumohon.” Tre terpaksa memohon demi Vanessa. Demi keluarganya, ia takkan malu melakukan apapun. Juga tidak ada cara lain, mungkin mereka akan mengizinkannya. Kesempatan itu datang ketika jadwal sarapan, sepuluh menit sebelum berangkat. Petugas polisi yang datang sendirian tersebut memberikan telepon genggamnya, setelah meletakkan baki kecil berisi sarapan untuk Tre. “Cepat! Dan jangan minta bantuan seseorang untuk menolongmu. Percuma! Kau sudah milik Penjara Federal sekarang.” kecamnya, sebelum orang lain melihat perbuatannya. “Baik, terima kasih.” Cepat-cepat ia tekan nomor Ben, ia tunggu sampai benda itu menghubungkannya dengan teman yang sudah dianggap saudara itu. Kemudian bernapas lega ketika mereka terhubung. Suara Ben dengan jelas terdengar di telinganya. “Ben? Ini aku, Tre.” Yang ditelepon bersuara girang. “Tre? Di mana kau sekarang?” “Sebentar lagi menuju Low Beaumont. Tapi itu tidak penting, waktuku sangat sempit. Dengarkan aku, Ben. Aku janji ini yang terakhir kali, maukah kau ajukan pengambilan tabunganku di proyek? Lalu berikan pada Vanessa. Dia butuh biaya melahirkan.” “Hm, kurasa aku tidak bisa. Maaf.” Ben menjeda kalimatnya sebentar. “Apa?” “Bukankah kau tahu, bahwa untuk mengambilnya, memerlukan tanda tangan aslimu?” lanjut Ben. “Akan kutandatangani selama jam besuk di penjara. Setelah cair, berikan semuanya kepada Vanessa.” “Sesungguhnya, Vanessa sudah telanjur putus asa, dia … melarangku menemuinya lagi. Tapi akan kucoba semampuku tentang uang tabunganmu.” “Transfer saja tiga perempatnya. Sisanya simpanlah dulu.” Tre mendiktekan sederet nomor rekening milik Vanessa. “Sampai jumpa, Ben. Mampirlah kapan-kapan,” ucapnya getir. Pada saat yang sama, telepon genggam tersebut diambil oleh pemiliknya, “Mereka datang. Duduklah di pojok sana!” Tre menurut. Pertolongan Tuhan datang kapan saja. Salah satu di antara mereka menolongnya. Memberinya kesempatan bicara dengan Ben untuk menjamin keuangan Vanessa. Untuk sementara, itu saja sudah cukup baginya. Selanjutnya, lebih banyak petugas datang menjemputnya, memastikan Tre tidak kabur dengan cara apapun. Keluar dari gedung, menggunakan mobil tahanan milik Penjara Federal. Mengamati pemandangan itu, Pria Misterius tersenyum meskipun bukan berarti telah sepenuhnya puas. Tre dianggapnya baru masuk ke dalam permainannya. Sebuah boneka yang sedang dipasangkan tali-tali di tubuhnya supaya siap dimainkan. Senang rasanya berhasil mengendalikan hidup seseorang. Semua itu berkat rencana yang matang, korban yang tepat, kru yang sigap, ditambah uang yang ‘cukup’ banyak. Lumayan juga jumlah uang yang ia keluarkan untuk dapat menyuap separuh mulut juri yang diundang untuk memberikan penilaian. Namun demi mendapatkan Tre, jumlah sebesar itu terasa kecil baginya. Kini, ia sudah mendapatkan penanggung dosa kejahatannya. Skema kejahatan kriminal itu sudah ada dalam kepalanya sejak lama. Pembunuhan oleh Andrei Valdo menuntaskan riwayat hidup seseorang yang dianggapnya sebagai rival, berakhir mulus. Polisi mencurahkan perhatian kepada sosok Trevor Jordan yang ia jadikan tumbal. Sementara Andrei Valdo yang sesungguhnya masih hidup sangat nyaman di vila-nya dan ia bermaksud mengunjunginya. Saat ia tiba, Andrei tengah menikmati berenang di kolam pribadinya. Pengawal ditempatkan di pintu masuk, sehingga di kolam itu, Andrei seorang diri. “Dalam kondisi begini, kau mudah dijadikan target!” tegur Pria Misterius kepada anak buahnya itu. Baik kolam renang tertutup maupun terbuka, tidak semestinya Andrei berenang seorang diri. “Aku tidak suka diawasi saat berenang. Mengganggu privasi. Adakah yang ingin kau bicarakan?” tanya Andrei, sungkan basa-basi. “Banyak, tapi kupersingkat saja, mengingat kau terbilang payah untuk urusan seperti ini dan aku masih belum memaafkan kemunculanmu di kantor polisi! Bagaimana mungkin orang yang sedang dituduh melakukan kejahatan, malah muncul di sana tanpa dosa?” “Bisa, dan nama orang itu adalah Andrei Valdo!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN