BAB V Kunjungan Alex

1161 Kata
Percaya atau tidak dengan istilah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebuah perasaan cinta yang tumbuh ketika terjadi pada jumpa pertama. Seperti yang dirasakan oleh Alex saat ini. Bukan sekedar menarik tertarik, tetapi bahkan Alex mengutarakan niat kepada Deny untuk melamar Yuna. Deny langsung berteriak kaget saat mendengar ucapan rekan bisnis sekaligus sahabatnya yang terdengar tenang. Suara keras yang diiringi dengan keterkejutan dari Deny, membuat Yuna dan beberapa karyawan lainnya merasa penasaran apa yang sebenarnya dibicarakan oleh Deny dan juga CEO yang digadang-gadang menjadi Sultan Muda tersebut. Karena terlanjur penasaran Yuna menghampiri dua sejoli yang ada di ruang break tersebut. Yuna yang merasa memiliki kewajiban dan tanggung jawab untuk bertanya kepada Deny yang berteriak kencang. “ Maaf Pak, apa ada hal yang tidak beres terkait dengan berkas yang saya berikan?” tanya Yuna panik. Walaupun tadi teriakan Deny terdengar nyaring, tetapi ada beberapa kata yang tidak terlalu jelas di dengar oleh Yuna. “Oh, tidak ada apa-apa Yuna. Semuanya baik-baik saja, kamu boleh keluar sekarang!” Perintah Deny sedikit gugup. Hal yang serupa pun dirasakan oleh Alex. Ia terlihat sangat gugup karena posisi tubuh Yuna yang tidak terlalu jauh darinya. Bahkan CEO tampan tersebut bisa menghirup aroma parfum yang dipakai Yuna dan membuatnya semakin gugup. Sebuah reaksi tidak biasa yang Alex alami saat berhadapan dengan perempuan. Karena Alex yang sudah terbiasa dingin dan datar tidak pernah peduli dengan perempuan-perempuan cantik di sekitarnya. Bahkan ada yang nekat berpenampilan semi polos atau polos tanpa sehelai benang pun. Tapi ada yang beda ketika berdekatan dengan perempuan cantik, bertubuh ramping dan mungil ini, Alex merasa berbeda. Alex bisa merasakan jikalau seluruh aliran darah di tubuhnya semakin deras dan membuat dirinya merasa gugup sekaligus panas dalam waktu yang bersamaan. Bahkan Alex sampai berkeringat di ruang yang terdapat AC. Deny yang melihat reaksi wajah gugup di hadapannya kini membuat Deny tersenyum. Ia merasa jika Alex adalah sosok laki-laki yang bisa mengobati luka Yuna. Alex mapan, dewasa, berwibawa, punya masa depan yang cerah dan pastinya kehidupan Yuna akan terpenuhi. “Yuna, kenalkan ini adalah CEO sekaligus pemilik Maheswara Group yang akan menjadi rekan kerja sama kita. Mungkin kamu sudah tahu tentang beliau. Tuan Alex Maheswara pernah mengadakan jamuan makan malam saat Om Erlangga belum ke luar negri,” ucap Deny memperkenal sosok Alex. Karena para petinggi perusahaan dan anak buah yang dibawa oleh Alex berada cukup jauh, Deny menggunakan bahasa non formal. Ya, seperti itulah aturannya. Para petinggi perusahaan maupun anak buah Alex memberikan ruang privasi kepada Deny dan Alex untuk membahas masalah pribadi. “ Oh,” jawab Yuna singkat. Sejujurnya Yuna bahkan tidak mengingat masa-masa itu, karena mungkin waktu itu isi kepalanya hanya dipenuhi oleh Rangga. Mengingat momen ini, membuat Yuna merasa sedikit kesal karena ia benar-benar mendedikasikan seluruh hidup dan waktunya hanya untuk Rangga malah berselingkuh dan mencampakkan dirinya. “Saya Yuna, Tuan Alex,” Yuna bersuara kembali sambil memperkenalkan diri. Perempuan bersurai panjang itu mengulurkan tangan mulusnya untuk menjabat Alex. Melihat hal itu Alex bukannya membalas tetapi malah bengong menatap Yuna karena terpesona dengan sikap santun Yuna. Alex merasa semakin tertarik dengan Yuna. Selama ini, Alex tidak pernah mengalami reaksi yang terbilang impulsif seperti saat ini. Dengan konyol Alex menerima uluran tangan Yuna dengan kaku seperti robot mainan yang dipasangi batrei. Wajah yang biasanya dingin itu pun menunjukkan kalau ia gugup.Sehingga ketika tangannya menyentuh tangan Yuna, tubuhnya terasa seperti terkena sengatan listrik dengan tegangan tinggi. Kegugupan yang mendera membuat Alex tidak bisa melepaskan tangan Yuna. Perempuan berdarah Korea- Indo itu mulai tidak nyaman dengan perlakukan Alex yang dinilai aneh. "Andaikan dia bukan calon investor, sudah aku tonjok muka m***m ini," geram Yuna. Deny melihat wajah Yuna tampak menahan kesal dan marah. Mungkin karena tangannya yang tidak kunjung dilepas. “Alex, ”Panggil Deny menepuk bahu Alex. “Oh maaf, Nona Yuna. Atau boleh saya panggil Yuna saja biar tidak terlalu formal?” Alex langsung tersadar dan melepaskan tangan Yuna. Wajah Alex memerah seperti udang rebus. Yuna yang tahu bahwa saat ini posisi Alex selaku CEO perusahaan sangat dibutuhkan oleh Papanya. Maka dari itu, Yuna harus berusaha untuk menahan egonya agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Tidak apa-apa, Tuna. Maaf, saya harus kembali bekerja dan mempersiapkan semuanya,” ujar Yuna datar. Setelah berpamitan Yuna meninggalkan Alex dan Deny dengan raut wajah yang datar tanpa senyum sedikit pun. Tapi siapa sangka, Alex malah semakin tergila-gila dengan ekspresi yang ditunjukkan Yuna. Alex belum pernah menemukan reaksi perempuan seperti ini. Biasanya perempuan akan klepek-klepek di hadapannya, bahkan rela menjadi jalang gratis untungnya. “Den, apa dia memang biasa bersikap sedingin ini dengan laki-laki?” Tanya Alex saat Yuna sudah menghilang di balik pintu. Deny hanya mendesah kasar mengingat bahwa sang sepupu baru saja pengkhianatan yang mungkin saja membuatnya trauma dan tidak akan mempercayai laki-laki mana pun. “Dia baru saja diselingkuhi oleh kekasihnya yang sudah bersamanya selama 5 tahun. Laki-laki b******k itu membuang Yuna hanya demi perempuan lain,” ucap Deny mengepalkan tangannya. Deny mulai menceritakan semuanya dengan nada yang menahan amarah ketika mengingat semua hal yang dilakukan Rangga kepala Yuna. Rasanya Deny ingin menghajar wajah pengkhianat itu. *** Sore menjemput malam, Yuna pulang dengan wajah kusut. Bagaimana tidak, Deny dengan kejam menyuruhnya mengerjakan ini dan itu tanpa perasaan. Bahkan tindakan ini melanggar hak asasi Yuna sebagai seorang manusia. Yuna bagaikan rakyat pribumi yang hanya bisa menurut dengan apa yang diperintahkan oleh penjajah. Dengan dalih sebuah profesionalitas, membuat Yuna patuh saja pada perintah pimpinannya. “Melelahkan sekali. Sekarang aku tahu bagaimana lelahnya sekretarismu dulu. Bosnya sangat tidak berperikemanusiaan, melanggar hak asasi manusia. Malang sekali dia,” sindir Yuna dengan wajah kesal. “Halah, baru kerja begitu doang sudah ngeluh kecapean. Bagaimana nanti kalau disuruh menggantikan Om Erlangga menjadi CEO,” balas Deny. Seandainya Yuna tahu kalau Deny memang sengaja memberikan pekerjaan yang banyak untuk dirinya, agar tidak berkesempatan memikirkan Rangga ataupun Kim Taehyung. Padahal Yuna sudah mengatakan jika ia sudah move on dari biang keladi itu. *** Dengan langkah gontai Yuna melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum makan. Tubuhnya terasa remuk redam sehingga untuk jalan saja rasanya tidak bertenaga. Yuna memakai piyama tidur yang mirip dengan Kim Taehyung. Piyama itu merupakan pakaian kebesaran yang wajib dipakai. Sampai di bawah Yuna kembali dikejutkan dengan kenyataan kalau seluruh keluarganya sudah menunggu di meja makan untuk makan malam bersama. Bahkan ada tamu yang tak diundang. “Apa dia tidak punya rumah sampai harus makan di rumah orang?” Yuna bermolog sambil menatap malas ke arah meja. "Sungguh laki-laki menyebalkan. Kalau tahu begini, lebih baik aku langsung tidur saja. Muak sekali melihat wajah sok tampan itu." "Kau akan terus berdiri disitu sepanjang malam," ujar Deny yang jengah dengan kelakuan Yuna. Dengan perasaan dongkol Yuna menghampiri meja makan dan mulai menikmati makan malam yang terasa hambar. Sedangkan di sisi lain, Alex terus mencuri pandang pada Yuna yang terlihat cantik dengan balutan piyama. Rambut panjangnya diikat, sehingga memperlihatkan leher mulus Yuna. Yuna yang sadar akan tatapan itu semakin risih. Buru-buru Yuna menghabiskan makan malamnya dan meninggalkan Deny, Alex dan Nina dengan perasaan bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN