BAB IV Kerja Rodi di Hari Pertama

1284 Kata
Sesampainya di kantor, Yunda dan Deny langsung disambut hangat oleh jajaran para petinggi Erlangga yang sudah mendapatkan kabar bahwa hari ini Putri tunggal Erlangga akan bekerja sebagai sekretaris sementara. Tentu saja hanya para petinggi saja yang mengetahui hal tersebut, sementara para pegawai biasa tidak mengetahuinya. Yuna yang terbilang jarang berkunjung ke perusahaan Erlangga, membuat banyak orang tidak menganal dirinya. Yuna mengayunkan langkah kakinya tanpa menghiraukan tatapan mata yang sinis dan tidak suka dari sebagian besar karyawan. Bagi Yuna itu bukan hal yang baru, toh selama bekerja di kantor lama juga seringkali ia temui tatapan julid. Ya, Walaupun tidak sebanyak di Erlangga Group. “Pukul 10.00 nanti kita akan rapat penting bersama Maheswara Group. Mohon untuk datang tepat waktu.” “Semua berkas-berkas penting yang dibutuhkan sudah kamu siapkan bukan? Soalnya kalau pihak Maheswara Group mau bekerjasama dengan kita, maka akan langsung tanda tangan kontrak. Karena mengingat pemilik perusahaan tersebut tidak memiliki banyak waktu,” kata Deny memberikan saran. Walaupun sepupuan, tetapi Yuna dan Deny tetap profesional jika berada dalam lingkungan kantor. Bahkan dalam berkata-kata saja menggunakan bahasa formal sebagaimana karyawan dan atasan lainnya. Hal ini dilakukan karena Yuna dan Deny tidak ingin mengecewakan para petinggi perusahaan sekaligus Erlangga, selaku pemilik perusahaan. “Kami rasa juga demikian Pak Deny. Lebih baik kontrak kerja samanya langsung dipersiapkan. Kami sangat yakin 100% kalau Ibu Yuna bisa membuat kontrak kerja samanya secara langsung. Secara beliau sudah punya pengalaman di bidang sekretaris,” ucap salah satu petinggi perusahaan yang mewakili para petinggi lain. Terdengar sedikit gila. Bukan gila, tapi sangat gila. Secara Yuna baru hari pertama masuk kerja dan harus ngebut membuat kontrak kerja sama dalam waktu kurang dari 30 menit. Walaupun sudah memiliki pengalaman, tetap saja Yuna merasa tidak tenang. Berbeda sekali dengan perusahan lama. Mau tidak mau Yuna hari segera beradaptasi di kantor baru. Ia mengeluarkan semua tenaga dan pikirannya untuk membuat kontrak kerjasama antara Erlangga Group dan Maheswara Group. “Baiklah kalau begitu saya akan berusaha untuk membuat kontraknya secepat mungkin dan mempersiapkan semuanya sebelum perwakilan dari Maheswara Group tiba di kantor,” kata Yuna percaya diri. Demi menunjukkan profesionalitasnya dan tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah memberikan kepercayaan padanya, Yuna langsung menyanggupi perkataan para petinggi perusahaan tersebut.Yuna ingin membuktikan ia memang layak. Deny yang mendengar hal tersebut merasa sangat bangga sekaligus bahagia. Ia merasa bersyukur Yuna bisa menyesuaikan diri dengan cepat. Deny yakin bahwa adik sepupunya tersebut bisa membuat kontrak kerjasa manya dalam waktu singkat. Apalagi template untuk membuat kontraknya sudah tersedia. Yuna cukup mengganti beberapa item sesuai dengan kebutuhan. “Kalau begitu kamu mulai melakukan tugas pertama! Masalah ruangan saya akan meminta tolong karyawan lain untuk menyiapkannya. Sebelum di print berkasnya kirimkan dulu ke saya untuk dikoreksi terlebih dahulu!” Perintah Deny kepada Yuna. *** Yuna mengangguk dan bergegas menuju ruang sekretaris. Yuna meregangkan otot-otot jarinya sebelum mengetik. “Bu, ini adalah template untuk membuat surat kontrak kerja samanya,” ucap Yoga menunjuk salah satu folder di layar komputer. Yoga memang sudah mengenal Yuna sebelumnya.Tapi berhubung mereka sedang dalam lingkungan kantor jadi harus tetap menggunakan bahasa formal dan bersikap hormat, meskipun bersama keluarga sendiri ataupun teman. “Pak Yoga tidak berniat untuk membantu saya membuat surat kontrak kerja samanya? Saya ini sekretaris baru loh. Kalau ada yang salah bagaimana?” Tanya Yuna menatap Yoga dengan intens. Membuat wajah Yoga memerah seperti kepiting rebus. “Baik, Bu. Nanti saya akan membantu ibu untuk membuat kontrak kerja samanya,” jawab Yoga. “Lebih baik kamu memanggil aku dengan panggilan nenek sekalian. Biar terlihat jelas jika aku memang lebih tua dari umurku. Menyebalkan sekali,” sarkas Yuna. Ya, Yuna dan Yoga mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Lagi pula mereka hanya berdua, seharusnya Yoga tidak menggunakan bahasa terlalu formal. Apalagi memanggil Yuna dengan sebutan Ibu, membuat Yuna merasa sudah menikah dan memiliki anak. “ Maaf Yuna,” lirih Yoga. “Kak Deny memang senang banget menyusahkan adik sepupunya. Masa baru masuk disuruh buat surat kontrak dalam waktu kurang dari 30 menit? Memang dikira aku punya Jin kaya Bandung Bondowoso yang bisa bikin ribuan candi dalam waktu semalam demi cintanya pada Roro Jonggrang. Tapi masih mending semalam, sementara ini cuma setengah jam doang. Lebih sakti dari si Bandung Bondowoso. Tapi ini bukan Bandung Bondowoso, tapi lebih kaya kerja rodi. Lepas dari penjajah asing, malah dijajah sepupu sendiri. Sungguh tidak adil,” gerutu Yuna membuat Yoga menarik sudut bibirnya. “Tapi bahannya sudah tersedia, tinggal masukin data doang. Memang cepat kok kalau sudah ada templatenya,” ujar Yoga yang mulai membantu Yuna memasukkan datanya. “Iya aku juga tahu Yoga. Andaikan aku Bandung Bondowoso sudah aku kutuk Kak Deny jadi candi Deny,” balas Yuna yang masih tampak kesal. *** Yuna yang sibuk berceloteh ria tidak menyadari jika semua pekerjaannya sudah selesai. Bahkan lebih cepat dari yang dipikirkan. Ternyata ucapan Yoga terbukti, jika sudah ada bahan tidak butuh waktu lama untuk membuat surat kontraknya. “Terima kasih Bapak Yoga yang tampan rupaman seperti Kim Taehyung. Kamu memang yang terbaik,” kata Yuna menunjukkan jempol seperti kartun Boy boy. Yoga hanya menganggukkan kepalanya saja. Senyum pun sangat tipis, setipis tisu yang dibagi 7. Memang asisten pribadi Deny itu sangat enggan tersenyum lebar. Bahkan bicara pun seperlunya saja. Itu juga hanya kepada orang-orang tertentu. Yuna bergegas menemui Deny untuk menyerahkan surat kontrak yang sudah ia buatkan bersama Yoga, untuk dikoreksi sebelum di print. Tok ! Tok! Tok ! Yuna mengetuk pintu ruang meeting. Beberapa pasang mata mengalihkan pandangan mereka ke arah Yuna yang terlihat sedikit kikuk. “Maaf kalau saya lancang. Saya mau memberikan surat yang Pak Deny butuhkan,” ucap Yuna sedikit membungkuk memberikan salam hormat. Yuna tidak nyaman karena pandangan intens dari rekan kerja Deny yang terus menatapnya tanpa kedip. “Oh iya, maaf Tuan Alex Maheswara, ini sekretaris saya. Dia membawa berkas penting yang ketinggalan,” ucap Deny pada rekan bisnisnya. Deny menerima berkas yang dibawakan oleh Yuna, lalu membacanya sebentar. “Oh. Seingat saya sekretaris Anda bukan seperti ini bentukannya,” balas Alex membuat Yuna membulatkan matanya. “Anda benar Tuan. Sekretaris lama saya sedang cuti melahirkan, jadi ini hanya sekretaris sementara,” sahut Deny yang tidak ingin memperpanjang pembahasan mereka. “Baiklah, saya rasa kita bisa mulai melakukan tanda tangan kontrak kerja,” kata Alex selaku CEO dari Maheswara Group. “Tunggu sebentar, biar sekretaris saya menyiapkan berkas-berkas yang perlu ditanda tangani. Sementara kita akan break sebentar sambil minum kopi.” CEO Maheswara group itu masih terus menatap Yuna membuat sang empu merasa sedikit risih. Semenjak hubungan asmaranya bersama Rangga gagal, Yuna sudah tidak merasa tertarik dengan laki-laki manapun, kecuali keluarga dan sahabatnya. *** “ Maaf Tuna Deny, saya seperti pernah mengenal sekretaris Anda ini?” Tanya Alex saat di berada di ruang coffee break. “Ah jangan terlalu formal begitu dong. Sekarang kan lagi luar ruang meeting.” “Baiklah kalau begitu. Ngomong-ngomong sekretaris kamu orang mana?” Tanya Alex yang masih tampak penasaran dengan sosok Yuna. “ Kenapa sih? Kamu naksir ya sama dia?” Goda Deny. “ Seperti itulah,” jawab Alex membuat Deny melongo. “Demi apa kamu bisa naksir sama dia?” “ Memang kenapa? Dia istri orang?” “ No.” “ Lalu ?” “ Kamu pernah ketemu sama dia sebelumnya,” kata Deny. Alex memang mengenal keluarga Erlangga, bahkan ia pernah bertemu Yuna. Alex mulai berusaha menggali ingatannya. Tapi sepertinya Alex sudah lupa tentang pertemuan itu. “Dia Yuna adik sepupuku, Yuna. Putri tunggal Om Erlangga.” “Dia cantik sekali sekarang. Bahkan aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.” Ternyata Alex yang dingin dan disebut kulkas dua pintu tersebut bisa merasa tertarik juga terhadap perempuan. Lebih mengejutkan lagi jatuh cinta pada pandangan pertama. Sangat sulit untuk dipercaya. Sementara Deny tertawa terbahak-bahak sampai mengundang banyak perhatian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN