“Lalu apa maumu?” Harland menatap tajam, memberikan ancaman. “Bertanggung jawablah pada korban!” pinta Arsya tanpa basa-basi. Harland mencebik. “Mereka sudah mendapatkan ganti rugi yang sepadan,” kilahnya tanpa beban. “Jadi menurutmu nyawa bisa dibeli dengan uang?” Asya menahan kegeramannya. “Buktinya mereka langsung diam setelah mulutnya dibayar ayahku,” Harland mengedikkan bahunya. “Ini adalah skenario sama-sama untung. Aku mendapatkan kepuasan, mereka mendapatkan uang melimpah. Kalau kamu rasa seratus ribu masih kurang, aku bisa menambahnya! Sebutkan berapa yang kamu mau!” Arsya mendengus seraya membuang pandangannya ke arah lain. “Hentikan kegilaanmu dan bertanggung jawablah dengan menyerahkan dirimu ke polisi! Dosamu sudah terlalu menggunung,” ujar Arsya kemudian. Kalimatnya terd

