Berbekal harapan, Arsya pun segera berangkat menuju lokasi yang Cakra arahkan. Hanya saja, ia yang tidak familiar dengan kota ini masih cukup kesulitan mencari kafe itu. Niatnya ingin datang lebih awal harus pupus. Arsya tiba di lokasi itu sepuluh menit lebih lambat daripada yang dijanjikan. Atensinya segera mengitari seluruh bangunan yang tak terlalu ramai tersebut, mencari-cari sosok yang ia harap bisa membantunya. Dapat! Arsya menyunggingkan senyum lebarnya saat menangkap sosok Cakra yang tengah melambaikan tangan memanggilnya dari sudut ruangan. Arsya melangkah cepat dan penuh antusias. “Maaf aku terlambat. Masih terlalu asing disini,” ujar dosen itu sambil menyalami Cakra. “Tidak masalah, aku juga belum lama menunggu,” balas Cakra yang juga menyunggingkan senyumnya. “Mau minum apa?

