Bagian 03

1113 Kata
Ada kalanya takdir sengaja mengajak bermain-main. Saat hati dan memori begitu meyakini bahwa perbuatan keji itu bukanlah hasil karyanya, bukti terus memojokkan Arsya. Bahkan sebagai seorang kriminolog ia juga tidak bisa memikirkan jalan keluar dari permasalahan ini. DNA. Bukti itu sangat kuat mengikat Arsya. Siapa pun tahu bahwa DNA setiap individu berbeda. Tak ada yang memiliki struktur yang sama meski kembar sekali pun, selalu ada pembeda yang membuat individu tersebut unik. Sayangnya, struktur unik itu sama sekali tidak berpihak pada Arsya. “Habiskan makanannya jangan ada sisa. Jelekk kamu kurus gitu,” perintah seorang wanita paruh baya yang duduk diseberang meja. “Gak selera, Bu,” sahut Arsya tak bersemangat. Dua hari sudah Arsya mendekam di balik jeruji setelah surat penahanannya disahkan oleh Jaksa. Ini adalah kali pertama kedua orang tuanya yang bernama Rini dan Yudhis datang menjenguk. Arsya yang sedang terpuruk tak mampu mengartikan sorot mata kedua orang tua itu, bahkan ia tak sekali pun mengangkat kepalanya karena menahan malu. “Udang asam manis loh itu. Ibu sengaja masak buat kamu,” ujar Rini sambil menyendokkan udang lebih banyak ke piring putra sulungnya. Arsya memakan masakan ibunya dengan segera. Namun, kunyahannya sesekali terhenti saat ia kesulitan untuk menelan. Dadanya terasa sesak. “Maafkan aku, Bu, Pak,” lirih Arsya terus menunduk. Rini mengusap rambut hitam putranya dengan lembut. Bibirnya memang menyunggingkan senyum, tetapi siapa pun akan tahu jika wanita tua itu tengah menahan segala emosinya. Hal serupa juga dilakukan oleh Yudhis. Pensiunan guru itu memalingkan wajahnya, tak tega melihat sang putra sulung berada di tempat ini. Bibirnya masih terkatup rapat, sulit mengungkapkan apa yang otaknya pikirkan. “Maaf kenapa, Le? Memangnya kamu benar-benar salah? Enggak ‘kan?” tanya wanita keturunan Jawa itu lembut. “Tetap saja aku membuat Ibu dan Bapak malu. Orang-orang pasti udah ngomongin aku dan ditujukan pada keluarga,” jelas ayah satu anak tersebut. “Omongan orang gak penting, Le. Yang penting buat kami adalah kamu gak bersalah dan tetap kuat menjalani ujian ini. Makanya itu, kamu makan yang banyak biar punya tenaga,” ujar Rini melapangkan hati Arsya. Pria itu hanya mengangguk yang membuat kepalanya semakin menunduk kedalam. Ia bahkan belum berani menatap wajah kedua orang tuanya. “Astaghfirullahaladzim.” Entah ini bacaan istighfar keberapa yang Yudhis ucapkan sepanjang hari ini. Diujung ucapannya, ia menghela napasnya kasar, mengisyaratkan betapa berat hari yang ia lalui. Pria tua itu juga beberapa kali mengusap wajahnya kasar untuk mendapatkan kembali kesadarannya. Sama seperti sang istri, ia juga tidak menyalahkan ataupun malu pada Arsya, ia hanya menyayangkan kejadian ini. “Bagaimana tidurmu disini, Sya? Gak ada yang gangguin kamu ‘kan? Ibadahmu gimana?” tanya Yudhis bertubi-tubi pada akhirnya. Ia tak bisa memilih salah satu yang harus ditanyakan terlebih dahulu. Tampak sekali betapa khawatirnya ia. “Alhamdulillah masih bisa tepat waktu, Pak. Gak ada yang berani sama aku, orang ada Deva yang tiap hari nengokin, nemenin,” jawab Arsya meyakinkan. “Syukurlah,” ucap kedua orang tua itu bersamaan. “Citra sama Tiara apa kabarnya, Bu, Pak?” Arsya menanyakan keadaan istri dan putrinya yang pastinya masih sangat terkejut. “Citra cuma sekali ke rumah, waktu ngabarin sama bantu cari pengacara buat kamu aja. Setelah itu udah gak pernah datang lagi. Ibu telefon juga susah banget,” keluh Rini. “Mungkin gak dibolehin sama Kak Barrack,” balas Arsya seraya tersenyum getir. Saat ia masih dalam kondisi terbaik saja kakak iparnya itu sudah tidak bersahabat, apalagi sekarang saat terpuruk seperti ini? Belum lagi tuduhan yang Arsya terima juga bukan jenis kejahatan ringan. Meskipun tidak tahu pasti, tetapi Arsya yakin Barrack tidak akan membelanya. Sementara kedua mertua Arsya, ia tidak yakin. Mereka memang baik, tapi tidak menutup kemungkinan untuk ikut membenci Arsya atas tindak kejahatan ini. “Jangan suuzan dulu! Siapa tahu ada hal lain yang menghalangi Citra kasih kabar,” sahut Yudhis menengahi. “Semoga mereka baik-baik saja dan gak kenapa-kenapa,” gumam Arsya yang diaminkan kedua orang tuanya. Waktu kunjungan yang sangat singkat itu cepat sekali berakhir. Makanan yang belum sempat Arsya habiskan boleh ditinggalkan dan dibawa masuk ke rutan. Saat berpamitan, Rini tak kuasa menahan laju air matanya. Ia memeluk Arsya dengan sangat erat. Sesekali wanita tua itu mendaratkan bibirnya di wajah Arsya. Yudhis sendiri hanya mengusap pundak Arsya dan menatap mata putra sulungnya itu penuh isyarat. Isyarat yang menginginkan Arsya untuk terus kuat, bertahan, dan berjuang mendapatkan keadilan. ===== Sementara itu di kediaman mertua Arsya, seluruh keluarga besar sedang berkumpul. Sepertinya mereka bahkan belum pulang ke rumah masing-masing sejak makan malam yang dihiasi penangkapan Arsya kala itu. Anak-anak sibuk bermain di halaman belakang yang aman dan dalam pengawasan suster yang Barrack pekerjakan. Para orang dewasa terlihat duduk-duduk di ruang keluarga. Tak ada pembicaraan lembut di ruangan luas tersebut. Sesekali terdengar sentakan serta rengekan yang membuat para asisten rumah tangga menyingkir pergi. Tidak etis mendengar majikan berbicara masalah pribadi. “Apa lagi yang mau kamu perjuangkan dari dia, Tra? Penjahat seperti itu sudah sepatutnya kamu tinggalkan,” hardik Barrack yang wajahnya telah memerah. “Belum ada putusan, Kak! Mas Arsya masih tersangka, belum terdakwa. Tahu artinya tersangka? Tersangka adalah orang yang disangka atau dituduh, sedangkan tuduhan belum tentu benar,” racau Citra membela suaminya. “Kamu gak denger polisi itu bilang apa? DNA, Tra! Buktinya DNA! Memangnya siapa yang bisa memanipulasi DNA? Siapa yang mau menjebak orang serapi ini?” cecar Barrack. “Belum lagi fakta kalau si tengik Arsya itu juga terhubung dengan para korban. Cuma tinggal nunggu ketuk palu saja dia jadi terdakwa!” “Gak! Pokoknya aku percaya sama Mas Arsya, Kak!” tegas Citra seraya melipat kedua lengannya diatas perut dan bersandar pada punggung sofa. Ia juga memalingkan wajahnya dari sang kakak. “Jangan dibutakan cintra, Tra! Dia itu penjahat!” seru Barrack penuh penekanan. “BUKAN!” Barrack mendengus kasar dan menyisir rambutnya dengan jari. Ia frustrasi tidak bisa mengingatkan adiknya. “Dari awal Kakak gak suka sama dia dan terbukti sekarang! Dia gak selevel sama keluarga kita.” “Kak Barrack keterlaluan!” “Sudah-sudah, jangan pada ribut! Malu kedengeran orang luar,” sela Jani menenangkan kedua anaknya. “Kak Barrack tuh, Ma,” adu Citra kesal. “Aku cuma mau yang terbaik buat kamu, Tra. Kamunya aja yang terlalu bucin sama Arsya,” dengus Barrack. Jani dan Hastanto berdecak. Terkadang memang sesulit itu memisahkan pertengkaran kedua bersaudara ini. Terlebih kali ini yang dibahas adalah tentang rumah tangga Citra. “Mama sama Papa dukung siapa?” tanya Citra. Kedua orang tua itu tak langsung menjawab dan saling berpandangan, seolah sedang berkomunikasi dengan caranya sendiri dan tak ingin orang tahu pembicaraan mereka. Beberapa saat kemudian, tatapan mereka terputus dan perhatian kembali pada Citra serta Barrack yang menunggu jawaban tersebut. “Gugat cerai Arsya!” =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN