“Gugat cerai Arsya!”
“PA!” Citra memekikkan protesnya, sementara Barrack tersenyum puas. “Papa gak bisa gitu, dong!”
“Dengerin Papa!” tegas Hastanto dengan tatapan tajam. “Gak ada namanya kriminal dalam silsilah keluarga kita. Baik keturunan langsung ataupun menantu. Dan kejahatan yang Arsya lakukan sangat tidak bisa ditolerir. Gak hanya merugikan korban, tapi juga mempermalukan keluarga kita.”
Senyum Barrack semakin lebar dan kepalanya pun mengangguk setuju. Sangat berbeda dengan adiknya yang begitu frustrasi saat ini. Citra bahkan sampai mencengkeram rambut hitamnya yang hanya sebatas bahu tersebut.
“Mas Arsya gak salah,” gumam Citra mensugesti dirinya sendiri.
“Papa kasih waktu kamu ngurus surat-suratnya sampai palu hakim yang menangani masalah Arsya diketuk. Semakin lama keluarga kita terikat sama kriminal itu, semakin jatuh martabat keluarga ini,” lanjut Hastanto tegas.
“Dua hari ditahan saja si tengik itu bisa menjatuhkan harga saham perusahaan,” tambah Barrack dengan senyum mengejeknya.
Citra menggelengkan kepala, menolak keputusan keluarganya tersebut.
“Kenapa kalian seperti ini? Harusnya disaat Mas Arsya terpuruk kita bisa jadi support sistem untuknya, bukan malah meninggalkannya,” protes Citra lagi.
“Support sistem itu kalau dia baik, lha kalau jahat ya namanya bunuh diri,” cibir Jani dengan bersedekap.
“Lagian dari awal aku udah bilang gak suka sama Arsya masih ngeyel aja,” gerutu Barrack.
Bungsu dari dua bersaudara ini terus berusaha menyangkal dan membela sang suami. Sayangnya, satu lawan tiga pasti akan sangat sulit. Masih untung Jelita, istri Barrack tidak ikut memojokkannya. Kalau iya, Citra bisa semakin mati kutu.
“Memangnya apa bagusnya si tengik Arsya itu?” Barrack merendahkan. “Oke, dia memang dosen. Tapi berapa sih gaji dosen? Gak bisa bikin kalian nyaman, rumah aja masih ngontrak. Bapaknya cuma guru, ibunya cuma ibu rumah tangga, gak sepadan, Tra, sama keluarga kita! Masa’ kamu gak sadar kalau kita malu sama keluarga lakimu yang kampungan itu? Dan kebetulan sekarang belangnya kelihatan, pengadilan agama pasti langsung setuju kalau kamu ngajuin gugatan cerai.”
“Kalian pikir nikah itu main-main? Yang bener aja, Kak, Pa!” sungut Citra. “Lagian apa salahnya kalau bapak guru? Pekerjaannya halal dan mulia, kok!”
“Iya, tapi gak selevel sama kita!” kukuh Barrack.
“Sungguh, Kak! Kalau kepala sekolah Kakak dulu denger, bakalan dicabut ijazah Kakak. Gak guna banget sekolah tinggi-tinggi tapi gak bisa hargai profesi guru,” murka wanita cantik itu. “Setelah denger semua ini, justru aku yang malu sama kalian. Kepala kok isinya cuman duit dan martabat!”
Citra beranjak dari duduknya dengan kesal. Ia melangkah ke belakang rumah sambil menghentakkan kakinya, tak peduli saat keluarganya memanggil. Tak sampai lima menit, wanita itu telah kembali masuk kedalam rumah bersama Tiara, putrinya dalam gendongan. Tampak kepayahan, karena Tiara sudah berusia lima tahun.
“Mau kemana kamu?” tanya Jani tajam.
“Pulang ke gubuk kami, Ma. Istana ini gak pantes buat kami yang cuma bikin kalian malu,” tegas Citra terus melangkahkan kakinya menjauh.
“Berhenti disana atau Papa gak akan peduli lagi sama kamu!” Hastanto yang telah ikut berdiri mulai mengancam.
Citra menghentikan langkahnya seketika yang membuat keluarganya bernapas lega. Tubuhnya berbalik sambil menyunggingkan senyum yang juga langsung membuat orang was-was.
“Sejak ijab kabul diucapkan dengan lantang hingga mengguncang arsy, aku sudah menjadi tanggung jawab Mas Arsya, bukan lagi Papa. Saat ini, surgaku ada pada Mas Arsya. Bukan bermaksud durhaka, tapi aku hanya ingin patuh pada suamiku,” ungkap Citra yang membungkam mulut semua orang. “Maaf, Pa, Ma, Kak Barrack, aku gak bisa nurutin keinginan kalian saat ini. Permisi! Assalamualaikum.”
Kaki kecil wanita itu kembali melangkah dengan tegap dan mantap. Ia tak ingin berlama-lama berada di rumah masa kecilnya dan mendengar semua bujukan yang memojokkan sang suami. Lebih dari siapa pun di keluarganya, Citralah yang paling tahu kepribadian Arsya. Tiga tahun berpacaran dan enam tahun berumah tangga sudah mampu membuat Citra mengenal luar dalam sifat sang suami.
Arsya dimatanya adalah seorang pria yang penyayang, lembut, dan sangat menghargai perempuan. Terbukti selama perjalanan kisah mereka, tak sekali pun Arsya mengucapkan kata kasar apalagi bermain tangan. Arsya bahkan sangat menujanya. Selain itu, sang suami juga sangat santun dan rajin beribadah. Jadi, mana mungkin Arsya tega melakukan tindakan amoral sampai menghilangkan nyawa orang seperti yang dituduhkan? Sebelum Arsya sendiri mengakui kejahatan tersebut dan memberikan alasan yang logis, Citra berniat untuk tetap bertahan disisi sang suami.
---o0o---
Gedung ini penuh dengan para ahli hukum. Mereka adalah para pegawai yang dibayar oleh negara untuk menegakkan keadilan. Meski pada kenyataannya, banyak juga individu atau oknum yang ambisius dan memanfaatkan jabatannya tersebut. Dimanapun tempatnya, orang-orang seperti itu pasti ada.
Disalah satu ruangan dengan plakat bertuliskan ketua divisi terdapat dua orang yang tengah berbincang. Satu yang lebih tua tengah membuka-buka berkas yang ada dihadapannya dan membaca dengan teliti. Satu lainnya duduk dibalik meja dengan posisi siap. Mereka adalah jaksa ketua divisi yang bernama Danar dan anggotanya yang bernama Aldi.
“Apa masih ada yang kurang, Pak?” tanya Aldi was-was saat melihat raut keraguan dari ketuanya.
“Tidak ada, tapi kok rasanya kayak ada yang mengganjal gitu, ya?” sahut Danar sekali lagi membalik kertasnya, kembali ke halaman sebelumnya.
“Mengganjal bagaimana, Pak?” Aldi semakin penasaran.
“Semua bukti sudah lengkap dan kuat, tapi alibi tersangka sama sekali tidak ada. Ini gak kayak tersangka kena amnesia parsial, tapi kerasa begitu, Pak Aldi,” ungkap Danar ragu. “Kalau menurut Pak Aldi bagaimana?”
“Menurut saya, selama bukti sudah kuat, kasus bisa dinaikkan ke persidangan dan tersangka bisa menjadi terdakwa,” jawab Aldi tegas.
“Alibi diperlukan juga untuk memperkuat atau membantah tuduhan. Tidak ada alibi sama saja artinya dengan mengakui,” timpal Danar sambil mengangguk beberapa kali.
“Benar, Pak,” sahut Aldi. “Tapi saya yakin kalau tersangka ini memang pelakunya. Semua bukti mengarah padanya, saksi juga mengakui pernah melihat korban bersama tersangka, dan lagi bukti DNA itu sangat kuat, Pak.”
Danar terus fokus pada berkas yang harus ditanda tanganinya tersebut. Meskipun membenarkan ucapan jaksa dibawah naungannya tersebut, tetapi keraguan itu terus mengganjal hatinya.
“Pelaku ini sangat tidak manusiawi, Pak. Kejahatannya juga sangat rapi. Jadi, saya rasa dakwaan pembunuhan berencana dan tuntutan penjara seumur hidup sangat tepat untuknya.”
Jaksa senior itu menghela napasnya panjang, lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot.
“Anda yakin tersangka adalah pelaku utama tanpa ada kaki tangan? Sementara kita tahu pasti kalau eksekusi pembunuhannya sangat rapi, tanpa jejak. DNA itu ada disana juga sepertinya tak disengaja,” tanya Danar memastikan.
“Tersangka adalah residivis, Pak. Kejahatannya berulang dan rapinya eksekusi juga hasil dari latihan. Lagipula, tidak ada bukti yang menunjukkan pembunuhan itu dilakukan berkelompok,” jelas Aldi.
“Baiklah, kalau begitu,” Danar membuat keputusan. “Saya tanda tangani surat ini. Buktikan keyakinan kita benar dan hukum pelaku seberat-beratnya!”
“Siap, Pak!” seru Aldi semringah dan berbinar saat Danar menggoreskan tintanya membentuk goresan tanda tangan diatas kertas.
“Selamat bekerja!” ucap Danar seraya mengembalikan dokumen yang menyatakan persetujuannya pada kasus Arsya untuk naik ke persidangan.
Penandatanganan itu juga berarti bahwa status Arsya telah berganti dari tersangka menjadi terdakwa. Hanya tinggal menunggu jadwal persidangan saja dan semua mata akan semakin memandang penuh penghakiman pada dosen kriminologi itu.
=====