Bagian 05

1260 Kata
Nasib Arsya belum juga membaik. Ia masih mendekam dibalik jeruji bersama dengan para tahanan lain yang lebih lama menjadi penghuni hotel prodeo tersebut. Tak jarang dari mereka yang memiliki tampang mengerikan, tetapi ada juga yang biasa-biasa saja. Bahkan ada sebagian kecil yang terlihat polos, tetapi komandan Deva terus mengingatkan Arsya agar tidak mendekati mereka, karena bisa saja yang tenang dan terlihat baik justru menjadi penjahat yang paling mengerikan. Mungkin itu juga pandangan orang-orang saat ini pada Arsya. Ia terlihat baik, santun, dan tenang, tetapi dituduh melakukan kejahatan keji. “Heh, siapa nama lo?” tanya pria gondrong dan bertato yang satu sel dengan Arsya. Sejak ditahan ditempat yang sama, pria itu terus menunjukkan tatapan lekatnya pada Arsya. Ingin mendekati, tetapi Arsya kerap kali didampingi oleh Deva dan juga cukup akrab dengan sipir yang menjaga. Tahanan lain pun memiliki dua dugaan kuat. Pertama Arsya menjilat para penegak hukum tersebut agar diberikan kenyamanan selama disini. Kemungkinan kedua adalah Arsya merupakan tahanan yang sudah kerap bolak-balik dipenjara, sehingga sudah akrab dengan para penjaga. Mereka tidak akan tahu kalau Arsya akrab dengan para penegak hukum karena pekerjaannya berhubungan dengan orang-orang ini. Baru hari ini mereka mencoba berbicara dengan Arsya, setelah yakin petugas yang biasa menjaganya kini tak ada lagi disekitar mereka. “Arsya, Bang,” jawab dosen itu berusaha bersikap baik, agar ia tidak menjadi bulan-bulanan. Bagaimanapun, ia sudah paham dengan kondisi didalam sel seperti ini. Sistem kasta secara tak tertulis tercipta begitu saja. Mereka yang kuatlah yang akan menang. Sementara yang lemah hanya memiliki dua pilihan, menjadi anak buah yang terkuat atau menjadi bahan olokan. “Kenapa lo bisa masuk kesini?” tanya pria gondrong itu tadi. “Saya korban salah tuduh, Bang,” jawab Arsya jujur. Lima orang tahanan yang sudah lebih lama menghuni sel itu tergelak. Mereka mengejek dan menganggap Arsya hanya sedang melucu. Tak ada yang menganggap serius. “Wah, sama kayak si Abu kalau gitu,” ujar pria gondrong sambil menunjuk temannya yang sedang rebahan membaca komik. “Dia juga dituduh maling kotak amal di masjid, padahal dia maling goyangan bini orang di toilet masjid.” Selorohan itu kembali mengundang tawa semua orang. Sementara yang dibicarakan hanya melirik sekilas, sama sekali tidak terganggu oleh candaan tersebut. “Beda lagi sama si Arang ini. Dia dituduh ngebunuh bininya, padahal dia juga mutilasi selingkuhan bininya,” lanjut si Gondrong. “Rasain, mampus tuh pada,” umpat pria yang dijuluki Arang tersebut. Mungkin karena warna kulitnya yang gelap, jadi ia disebut seperti itu. “Astaghfirullah.” Arsya terus mengucap istighfar dalam hatinya. “Kalau lo, dituduh apa?” tanya si Gondrong. Sepertinya dia jagoan di sel ini. “Bukan apa-apa, Bang,” jawab Arsya sambil menggeleng. Si gondrong tidak puas. Ia mendekati Arsya lalu merangkul erat bahu dosen itu. Cengkeramannya sempat membuat Arsya meringis nyeri karena terlalu kuat. “Gak usah merendah! Semua yang ada di sel ini kejahatannya berat-berat. Cuma si Abu aja kayaknya yang salah masuk,” ujar Gondrong ringan. “Berapa yang udah lo bunuh?” “Sekali lagi Arsya menggeleng, “Gak ada, Bang!” Gondrong berdecak tidak suka. “Gak usah malu, ngaku aja sama Bang Gondrong kalau lo gak mau jadi kita jadiin mainan!” desak pria bertindik. “Gak apa-apa lagi, Ndik! Mumpung mainan kita baru aja bebas, siapa tahu ini Jangkung bisa jadi gantinya,” seloroh si botak. Sepertinya Arsya baru saja mendapatkan julukannya. Jika dibandingkan yang lain, ia memang yang paling tinggi, tidak heran jika dipanggil Jangkung. Namun, fisiknya yang terlihat bersih dan jarang terkena sinar matahari ini membuat orang-orang menganggapnya lemah dan lembek. Bagaimana bisa terkena sinar matahari kalau setiap hari Arsya selalu bekerja dari ruangan yang berpendingin udara? “Lo mau jadi mainan kita?” tanya Gondrong. “Enggak lah, Bang,” sahut Arsya cepat. “Jadi, berapa yang udah lo bunuh?” tanya Gondrong menuntut. “Kata penyidik lima,” jawab Arsya pada akhirnya. Sorakan keras segera menggema. Entah sebuah kekaguman atau ejekan, yang pasti sama-sama tidak ada yang enak didengar oleh telinga. “Mantep juga lo letoy gini bisa ngebunuh lima,” seloroh Arang. “Itu ‘kan kata penyidik. Kalau kata lo berapa? Katanya tadi salah tuduh?” cecar Abu. “Gak tahu, Bang. Gak pernah ngitung,” jawab Arsya sekenanya. Tentu saja ia tidak pernah menghitungnya, karena memang tidak melakukannya. Sorakan keras sekali lagi terdengar, sampai-sampai tetangga sel mereka ikut penasaran. Namun, belum waktunya mereka keluar bercengkerama, sehingga hanya sel ini saja yang bisa ‘mengagumi’ perbuatan Arsya. “Pake’ apa lo bunuhnya?” tanya Tindik penasaran. Matanya yang berbinar antusias cukup mampu membuat Arsya bergidik. Dosen itu merasa menjadi domba ditengah-tengah para pemangsa. Terpaksa, ia pun harus menggunakan topeng serigala untuk bisa bertahan ditempat ini. Untung saja ia cukup mengikuti perkembangan kasus yang dituduhkan padanya, sehingga ia tidak perlu mengarang cerita, meskipun bukan ia sendiri yang melakukannya. “Ditusuklah, biar cepet selesai,” jawab Arsya singkat. “Berapa tusukan?” tanya Arang penasaran. “Gue butuh lima belas tusukan sampek bini gue modar.” Arsya kesulitan menelan air ludahnya. Bisa-bisanya Arang begitu santai membicarakan kejahatannya sendiri. Tempat ini benar-benar neraka. “Pake’ emosi sih, Bang. Coba langsung ke jantungnya! Sekali, langsung roboh,” ujar Arsya yang dalam hati mengumpati dirinya sendiri. “Jangan sampek ikutan gila, Sya! Sadar, Sya! Tobat, Sya!” racaunya dalam hati terus mengingatkan. Tepukan tangan terdengar dari Gondrong dan Tindik, sementara Arang, Abu, dan Botak terperangah. Mereka tampak terkesima dan ini semakin buruk untuk kejiwaan Arsya. “Mantep nih caranya! Pinter lo, Kung!” kagum si Tindik. “Lo harus ajarin kita buat nyari titik vital!” Astaga. Seandainya saja bisa, Arsya ingin segera kabur dari kawanan manusia tak bermoral ini. Mimpi apa dia malam itu bisa sampai terdampar di tempat seperti neraka ini. Arsya sungguh harus benar-benar bertaubat dan banyak berdoa supaya bisa segera lolos dari tuduhan salah sasaran ini. “Nomor 751, ada kunjungan!” seru sipir dari depan sel, menginterupsi kegilaan para tahanan. Arsya yang merasa nomornya dipanggil pun segera beranjak. Helaan lega serta ucapan syukur ia gumamkan. Setidaknya saat ini ia bisa lepas dari obrolan tak berfaedah tersebut. ===== Di ruang kunjungan sudah ada Viola, pengacara Arsya bersama dengan seorang pria yang tidak Arsya kenal. Ketiganya kemudian bersalaman lalu duduk diposisi masing-masing yang dibatasi oleh meja. Sipir menjaga dari sudut ruangan tanpa berkata-kata. “Perkenalkan saya Soni, Pak Arsya. Bu Citra meminta saya untuk membantu Bu Viola untuk mengawal kasus Bapak,” ujar pria yang ternyata juga adalah pengacara tersebut. “Oh, terima kasih, Pak,” balas Arsya tulus. Ia tidak menyangka bahwa sang istri yang tidak bisa dihubungi oleh orang tuanya beberapa hari ini ternyata mengirimkan pengacara lain untuknya. Mungkin terkesan berlebihan, tetapi ia memang sangat memerlukannya. Satu harapannya, semoga bayaran pengaca-pengacara ini tidak sampai menguras kantong mereka. Apalagi saat ini sumber pemasukan keluarga Arsya hanya tinggal dari usaha butik sang istri. Itupun belum terlalu besar. Viola kemudian mengulurkan sebuah amplop pada mantan dosennya tersebut. Arsya tampak ragu, tetapi ia menerimanya lalu segera membuka segel amplop berlogo kejaksaan tersebut. “Kasus akan segera naik ke meja hijau, Pak. Itu adalah surat panggilannya,” papar Viola dengan berat. Bahu Arsya luruh. Ia telah resmi menjadi terdakwa sekarang, sebuah status yang tak pernah terbayangkan akan ia sandang. “Minggu depan,” gumam Arsya setelah membaca surat yang formatnya sudah ia hafal diluar kepala tersebut. “Mari kita runtut lagi masalah ini, siapa tahu ada yang terlewat. Sekecil apa pun kemungkinan, harus kita pertimbangkan baik-baik,” saran Soni. “Benar, Pak! Saya juga merasa banyak kejanggalan dalam tuduhan ini,” tambah Viola. “Baiklah! Kita mulai darimana lagi?” =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN