Sejak meninggalkan kediaman orang tuanya, Citra kembali ke kontrakannya. Rumah bertipe sembilan puluh itu tergolong cukup untuk kalangan menengah, tetapi sangat tidak bisa dibandingkan dengan rumah orang tuanya ataupun Barrack yang memiliki rumah besar dan halaman luas. Selama ini Citra tak pernah mengeluh, bahkan ia nyaman tinggal di rumah yang ukurannya tidak besar, karena lebih mudah untuk merawatnya.
Namun, musibah yang dialami Arsya kali ini sepertinya akan sangat berdampak pada ekonominya. Apalagi setelah mendengar kabar naiknya status Arsya dari tersangka menjadi terdakwa.
Citra menengok rekening khusus dana darurat mereka yang terpisah dari tabungan untuk membeli rumah. Sayang, jumlah dana darurat yang mereka miliki sepertinya masih kurang untuk mengawal kasus Arsya. Pada akhirnya Citra harus memutar otak supaya tidak menyentuh tabungan mereka.
“Maaf ya, Bu, kami ngerepoti Ibu sama Bapak,” ujar Citra sambil menuntun Tiaraa disisi kanan, dan sebuah koper besar di tangan kiri.
“Ibu malah seneng kalau kalian disini, jadi nambah temen,” seloroh Rini seraya memeluk cucu semata wayangnya.
“Masukin aja barang-barang kamu ke kamar kalian, terus istirahat! Pasti capek,” pinta Yudhis.
“Iya, Pak,” sahut Citra.
“Oh ya, kapan barang-barang kalian diangkutin?” tanya Rini.
“Paling lambat akhir minggu ini, Bu,” jawab si menantu dengan senyum lembutnya.
Untuk menghemat pengeluaran, Citra akhirnya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrakan mereka yang akan berakhir dua minggu lagi. Dana yang rencananya digunakan untuk perpanjang lebih ia prioritaskan untuk menolong sang suami. Lagipula, tinggal serumah dengan mertua untuk sementara sama sekali tidak membebani Citra. Kedua mertuanya itu tak pernah membuatnya tidak nyaman, bahkan sangat menyayanginya.
“Assalamualaikum,” sapa seorang gadis dari luar, tepat saat Citra akan beranjak ke kamar.
“Waalaikum salam,” jawab semuanya bersamaan.
“Tante Nad-nad!” seru Tiara seraya berlari kecil memeluk tantenya tersebut.
“Baru pulang, Nad?” sapa Citra basa-basi.
“Iya, Mbak,” jawab adik ipar Citra yang sebenarnya seusia dengannya. Namanya Nadia. “Ini kok,” kalimat gadis berhijab itu terdengar bingung melihat beberapa koper di rumahnya.
“Mulai hari ini Mbak sama ponakanmu tinggal disini, kontrakannya gak diperpanjang dulu sementara,” Yudhis yang menjawab dan hanya dibalas oh saja oleh putri bungsunya.
“Kamu kelihatan lesu banget, Nduk. Sakit?” tanya Rini.
“Enggak, Bu, cuma kecapekan aja. Aku ke kamar dulu, ya! Tiara, Tante istirahat, ya. Kita mainnya nanti aja,” pamit gadis itu.
“Iya, Tante. Tiara juga capek banget abis diajakin kemas-kemas sama Mama,” adu anak itu yang dibalas dengan senyuman tanpa nyawa semua orang.
Kondisi yang masih buruk membuat semangat semuanya menjadi terjun bebas. Apalagi dengan banyaknya gunjingan yang semakin terdengar nyaring setiap harinya, membuat energi mereka semakin terkuras. Citra bahkan sampai izin pada guru TK Tiara untuk tidak masuk sekolah sampai keadaan kondusif, demi melindungi mental putrinya. Hanya berjaga-jaga saja kalau ada orang tua murid atau bahkan teman-teman Tiara yang tidak bisa menyaring ucapannya.
=====
Sesuai dengan jadwal, sidang pertama untuk kasus Arsya digelar hari ini. Pria itu didampingi oleh kedua pengacara. Sampai detik ini, mereka masih belum juga menemukan sela untuk membantah dengan kuat tuduhan yang dilayangkan pada Arsya.
Kaos oranye bernomor tujuh ratus lima belas yang dikenakan Arsya tampak seperti sebuah mimpi buruk bagi keluarga yang ikut datang ke persidangan. Rini dan Citra bahkan sampai berkaca-kaca melihat buruknya kondisi Arsya saat ini.
“Mas,” lirih Citra yang terus memandang lekat sang suami.
Tubuh dosen itu lebih kurus. Pipinya tirus dan matanya cekung. Rambutnya lebih panjang dari biasanya hingga memamerkan bentuk bergelombangnya. Warna coklat gelap pada surai itu semakin terlihat jelas, sangat berbeda saat ukurannya masih pendek. Rahang Arsya ditumbuhi jambang liar yang mungkin tak terfikir untuk dicukur.
Suasana ruang sidang ini sangat ramai. Banyak sekali wartawan yang datang meliput. Wajar saja, kasus pembunuhan berantai ini sebelumnya sangat menggegerkan ibukota hingga menjadi momok bagi para wanita, mengingat korban-korban yang berjatuhan adalah wanita.
Para wartawan itu tak hanya siap memberitakan isi sidang hari ini, tetapi juga siap mengabadikan gambar serta mencecar pertanyaan keluarga Arsya. Menurut warga net, para wartawan ini sedang mengawal didapatkannya keadilan dari para korban yang telah berpulang. Mereka mana peduli pada sudut pandang Arsya.
Selain wartawan, keluarga serta kerabat korban juga ikut datang menyaksikan. Tatapan mereka sejak awal sudah sangat menghakimi keluarga Arsya. Maka tak heran jika mereka seperti tengah dikucilkan oleh masyarakat saat ini. Arsya melihat semuanya dari kursi terdakwa dan tak bisa dipungkiri jika hatinya sangat teriris saat ini.
“Hadirin dimohon berdiri!”
Suara itu menggema, disusul dengan berdirnya semua orang, termasuk Arsya dan juga sang pengacara. Hakim kepala serta dua hakim anggota memasuki ruang sidang. Setelah ketiganya menempati kursi yang ada dipodium, barulah semua peserta sidang duduk kembali.
Pembukaan acara sidang berlangsung lancar yang sebenarnya tak terlalu diperhatikan oleh Arsya. Kepalanya berkecamuk saat ini. Tuduhan salah sasaran ini memaksa kewarasannya untuk tetap bertahan normal, tetapi sangat sulit.
“Terdakwa atas nama Dr. Arsyanendra Adhyaksa, S.H, M.H didakwa atas tuduhan pelecehan seksuall serta pembunuhann berencana terhadap lima orang korban,” ujar Jaksa Aldi mengawali pembacaan dakwaannya.
Jaksa muda itu terus membacakan detail dakwaan, lengkap dengan bukti-bukti yang telah dihimpun. Proses peembunuhan juga diterangkan dengan jelas tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Isakan tangis terdengar dari keluarga korban saat nama kerabat mereka disebutkan dan cara pembunuhaan keji itu dibacakan. Tak jarang kutukan serta umpatan terlontar untuk Arsya yang senantiasa menundukkan pandangannya.
Diamnya dosen itu membuat keluarga korban semakin menahan kekesalan. Mereka menganggap Arsya tak memiliki empati dan kejamm. Padahal, tanpa mereka lihat Arsya sedang menahan emosinya kuat-kuat. Sesekali Viola sang pengacara bahkan memberikan tisu pada pria itu untuk membasuh air matanya.
“Setann bajingann kamu!” seru seorang pria jari menunjuk pada Arsya.
“Seharusnya yang mati kamu!”
“Kembalikan anakku!”
Teriakan-teriakan disela pembacaan dakwaan itu terpaksa membuat hakim memerintahkan penjaga untuk mengamankan orang-orang yang membuat keributan. Mereka memberontak enggan keluar dan masih terus mencecar serta memaki Arsya. Petugas keamanan menyeret orang-orang itu keluar dan melarang mereka kembali masuk ke ruang sidang.
“Astaghfirullah. Ya Allah, kami mohon ampun. Selamatkan anak kami, ya Allah,” doa Rini tanpa putus sedikit pun.
Wanita tua itu terus dipeluk oleh Citra serta Nadia yang juga ikut menangis sedih. Saat ini, hanya keluarga inilah yang mereka miliki untuk saling menguatkan. Keluarga Citra sama sekali tidak muncul untuk memberikan dukungan. Mana mungkin mereka mau datang? Reputasi keluarga tentu akan tercoreng kalau sampai mereka muncul ditengah-tengah sidang.
Pembacaan dakwaan yang diwarnai ricuh keluarga korban itu usai setelah lebih dari satu jam. Semua orang diizinkan keluar, termasuk Arsya yang didampingi oleh petugas sipir. Keluarganya beringsut ke pembatas dan tak mempedulikan orang lain. Mereka sempat saling bertatapan meskipun tidak diizinkan untuk berbincang.
“Maaf,” ujar Arsya dengan gerak bibirnya sebelum diseret semakin menjauh.
“Arsya kuat, Le! Kamu pasti dapat keadilan,” teriak Rini memberikan semangat.
Sayangnya, teriakan itu memancing emosi keluarga korban. Beberapa ibu-ibu yang wajahnya sembab oleh tangisan selama sidang menghampiri keluarga Arsya. Mereka tampak marah dan bersungut-sungut.
“Gak tahu malu!”
“Gak bisa didik anak!”
“Kalian sama bejatnya!”
“Dimana nurani kalian sebagai sesama perempuan?”
“Keluarga penjahat!”
Cercaan itu baru berhenti saat petugas kemanan melerai. Keluarga Arsya pun meninggalkan ruang sidang dengan kawalan. Bagaimanapun, mereka ikut menjadi bulan-bulanan. Terlebih berita yang diliput wartawan itu menjadi konsumsi publik secara luas. Privasi keluarga ini benar-benar telah direnggut oleh media.
=====