Bagian 07

1234 Kata
Menyaksikan meskipun tidak sepenuhnya cercaan demi cercaan yang diterima oleh keluarganya membuat Arsya semakin dihantui perasaan marah, putus asa, sekaligus penyesalan. Bahkan setelah beberapa minggu sejak ditangkap dan dijebloskan ke neraka berbentuk penjara ini ia masih tidak bisa menerima nasibnya. Siapa pun pasti akan merasa demikian saat mereka mendapatkan tuduhan yang dirasa tidak benar. Kembali ke rutan dan dikelilingi para penjahat di sel yang sama membuat Arsya terus memaksa kewarasannya tetap ada. Mereka kini telah mengetahui detail dakwaan yang sedang dialami oleh dosen itu melalui berita TV yang santer membecarakannya. Bukannya bergidik ngeri atau ikut mencaci, beberapa dari mereka malah menunjukkan kekaguman. Lebih parahnya malah minta diajari. Gila, orang-orang ini gila. “751, ada kunjungan,” sipir memanggil dari sisi luar jeruji besi. “Rame bener yang ngunjungin, Lo,” komentar Abu acuh tak acuh. “Jangan lupa kasih tahu gue berapa dealnya isi amplop sopan lo nanti, Kung! Biar gue bisa pake’ isi yang sama,” seloroh Tindik yang proses pengadilannya belum selesai. Sarkas itu secara langsung bisa dicerna semua orang. Ini disebabkan oleh maraknya publik figur yang dianggap sopan oleh hakim dan berakhir pada ringannya hukuman mereka. Arsya yang tidak tahu apa-apa itu hanya bangkit dan mengikuti setiap langkah sipir. Sebisa mungkin menjauhdari orang-orang tak bermoral tersebut. Selain itu, ia juga penasaran mengenaik siapa yang sedang berkunjung. Waktu menunjukkan hampir petang, bukan jadwal biasanya keluarga untuk membesuk. “Sya!” sapa seseorang yang telah menunggunya di ruang kunjungan. Si empunya nama tersenyum paksa dan segera menghampirii sosok yang tak lain adalah komandan Radeva tersebut. Keduanya saling melempar senyum canggung yang tak sampao telinga. “Kamu kelihatan kacau,” komentar pria berprofesi polisi tersebut. Saat ini ia sedang tidak bertugas, sehingga menanggalkan kalimat formalnya. Deva juga datang sebagai seorang teman, bukan aparat kepolisian. “Gak cuma kelihatan kacau,” ketus Arsya. “Memang kacau.” Radeva tersenyum getir. Benar, pertanyaannya saja yang salah. Jelas-jelas ia sendirilah yang mengawali kacaunya hidup Arsya sejak ditugaskan menjemput pria satu anak tersebut. “Titipan, dari istri kamu,” ujar Radeva kemudian dengan mata yang melirik pada sebuah rantang diatas meja. “Thanks,” balas Arsya lirih seraya membuka rantang tersebut. Bukan menu istimewa didalamnya, tetapi berhasil membuat Arsya sangat merindukan rumah. Hanya nasi putih dengan lauk terong balado serta telur dadar berisi irisan daun bawang. Menu rumahan sederhana yang seringkali menghangatkan suasana keluarga. Melihat itu semua, sekali lagi Arsya kesulitan menelan ludahnya dan sekali lagihatinya terasa perih. Namun, demi usaha sang istri, pria itu mulai melahap makanan itu sepenuh hati. “Kamu ke rumah, Dev?” tanya Arsya. “Ya, memastikan kondisi istri dan anak kamu. Tapi pas sampek sana,” “Ada apa?” tanya Arsya cepat dan terselip nada khawatir pada kalimatnya. “Citra udah pindah,” jawab Deva yang membuat mata Arsya membola. “Ke rumah orang tua kamu.” Arsya menghela napas lega. Setelah dipikir-pikir, wajar sang istri pindah kesana. Selain lebih aman dari gunjingan orang-orang, Arsya juga baru ingat kalau sewa kontrakan mereka akan segera selesai. Dalam lubuk hatinya, Arsya merasa bangga pada sang istri yang bisa bertindak cepat. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan Citra yang tidak memperpanjang kontrak rumah tanpa memberitahunya. Bagaimanapun, kondisi sedang tidak mendukung. “Syukurlah,” gumam Arsya melanjutkan makannya. Deva menatap iba pada temannya tersebut. Ia terus memperhatikan gerak-gerik dosen itu dengan pikiran yang menerawang. Sejujurnya ia masih berada pada fase percaya tidak percaya pada kasus yang menimpa temannya tersebut. Beberapa tahun mengenal Arsya rasanya tidak mungkin kalau pria itu mampu melakukan perbuatan keji seperti yang dituduhkan. Namun, bukti-bukti yang timnya temukan sebelum diserahkan pada kejaksaan membuatnya meragu. Sebagai sosok yang memimpin jalannya penyelidikan kasus ini, tak pernah sekali pun ia menduga Arsya akan menjadi terdakwa. Meskipun nyatanya ia juga kerap kali melihat bukti yang merujuk kearah sana. Hanya saja Deva selalu berpikiran positif. Ia baru berpasrah saat hasil tes DNA itu dirilis oleh laboratorium. Setelah semua dicocokkan, rekan-rekannya dan juga jaksa menyimpulkan bahwa Arsyalah pelaku utama pada kasus ini. Deva tidak menyangkal ataupun mendukung tuduhan tersebut. “Apa kamu masih belum punya alibi, Sya?” tanya Deva kemudian. Arsya menghentikan suapan yang sebenarnya sangat ia paksakan tersebut. Kepalanya terangkat dan menatap datar pada komandan polisi dihadapannya. “Alibiku masih sama, Dev. Kalau gak di kampus ya di rumah. Entah di rumahku sendiri, rumah bapak, atau rumah mertua. Selain tempat-tempat itu, aku jarang kemana-mana. Pergi-pergi pun selalu sama anak istri,” jawab Arsya panjang. “Coba ingat-ingat lagi, siapa tahu kamu ada yang lupa,” usul Deva. “Aku udah meruntut kejadian dari pembunuhan pertama bareng sama pengacara beeerkali-kali. Hasilnya tetap sama, aku gak inget pernah ketemu sebagian korban,” balas Arsya tegas. Namun sedetik kemudian, ia tertawa miris. “Gimana bisa inget kalau ketemu aja memang gak pernah? Bahkan kalau kepalaku dibedah pun gak bakalan ada memori tentang sebagian dari mereka.” “Lalu sebagian yang kamu kenal?” selidik Deva. “Almarhum guru lesnya Tiara, aku sangat amat jarang ketemu. Belum tentu sebulan sekali, karena jadwalnya dia ke rumah sama jadwalku ngajar di kampus selalu sama,” jelas Arsya. “Lalu yang pegawai perpajakan, bener dia temennya Nadia, adikku. Kami pernah ketemu waktu Nadia ngajak dia ke rumah bapak. Tapi itu dulu banget waktu mereka masih kuliah. Setelah lulus, mereka udah gak pernah ketemu lagi. Intensitas pertemuan saat itu pun paling cuma sekali dua kali dan hanya sekedar nyapa. Sama aja kayak guru lesnya Tiara.” “Tapi CCTV itu? Kamu kelihatan pernah ketemu mereka menjelang akhir hayatnya loh, Sya,” tanya Deva lagi. Arsya menghela napasnya panjang, “Itu yang aku gak tahu gimana ceritanya.” “Belum lagi DNA yang sama,” gumam Deva ikut frustrasi. Dosen itu tertawa getir, “Kenapa gak sekalian panggilin psikiater? Siapa tahu aku punya kepribadian lain yang aku sendiri gak tahu bisa tiba-tiba keluar.” “Jangan ngaco’, Sya!” dengus Deva. “Karena hanya itu kemungkinan paling mendekati yang bisa aku pikirin, Dev,” sahut Arsya. “Pertama aku pernah ketemu beberapa korban meskipun sangat amat jarang. Kedua CCTV yang kasih lihat aku keluar bahkan mesra sama korban. Lalu DNA yang cocok sama aku. Apalagi kalau bukan kepribadian lain? Aku juga gak punya sodara kembar yang sama persis,” Arsya menertawakan dirinya sendiri. “Kalau iya kamu punya kepribadian lain, harusnya orang tua, adik, sama istrimu tahu. Minimal mereka pasti pernah ketemu sekali sama kepribadianmu yang lain. Tapi enggak ‘kan?” tanya Deva yang sebenarnya juga ragu. “Kamu udah nanya gitu sama mereka? Coba tanyain! Siapa tahu memang aku punya sisi biadapp yang gak pernah terungkap,” pinta Arsya terdengar menantang. Deva meraup wajahnya sambil menghela napasnya kasar. “Kalau memang iya, berarti ada kemungkinan kamu nyerang temen satu selmu.” “Kayaknya itu gak mungkin. Mereka pria sementara korban yang berjatuhan semuanya perempuan-perempuan muda dan masih sangat produktif,” sanggah Arsya. “Pinter juga kepribadianku yang lain milih korban.” “Sya!” tegur Deva keras. Rasa frustrasi dalam dirinya membuat Arsya memunculkan dugaan-dugaan gila tersebut. Karena betapa pun ia menduga, tak ada sosok lain yang bisa disalahkan selain sosok tak terlihat dalam dirinya yang mungkin saja ada. Seperti pemikiran semua orang, Arsya pun tak bisa menyangkal bukti DNA yang sangat kuat tersebut. Kalaupun memang Arsya memiliki kepribadian ganda, ia harus bisa menemukannya. Hal pertama yang ia perlu cari tahu adalah trigger yang bisa membangkitkan sosok tersebut. Benar, Arsya harus menemukannya. Itu pun kalau ia memang memiliki kepribadian seperti yang ia pikirkan. =====
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN