Menganggap Arsya sebagai tamu, Cakra membawa teman lamanya itu ke kafe kantor yang ada di lobi. Cakra bahkan berinisiatif membelikan Arsya minuman meskipun sempat ditolak oleh Arsya. Kini, keduanya tengah duduk saling berhadapan di salah satu bangku. Mereka saling melemparkan pandangan tak percaya sekaligus kagum. “Kapan kamu pindah kesini, Kra?” tanya Arsya berbasa-basi. Entah sengaja atau tidak, tetapi ia seperti sedikit melupakan tujuan utamanya datang ke kantor ini. “Udah lama, Sya! Dari lulus SMP diajakin Bulek pindah kesini,” jelas Cakra. “Karena ‘kan waktu itu aku cuma tinggal punya Bulek aja setelah orang tuaku dua-duanya gak ada.” Arsya terkesiap dan mengucapkan belasungkawanya yang dibalas santai oleh Cakra. Komunikasi yang lama terputus membuat mereka tidak mengetahui kabar m

