BAB 22 | Jangan Pergi

2251 Kata

Fania menatap pergelangan tangannya. Ia terus mengusap hansaplast yang menutupi luka tipis di sana. Ia sudah mendengar kabar dari mamahnya, kalau Farel sempat berkunjung saat siang tadi. Rupanya, hal yang ia anggap mimpi bukanlah mimpi. Semuanya nyata, Farel memang ada di sampingnya saat itu. Gadis itu kembali terisak. Ia menepis bulir-bulir air mata yang membasahi pipinya. "Kenapa kamu malah nyempetin ke sini kalau lagi kerja? Jaraknya kan jauh, pasti macet, gimana kalau nanti kamu kecapean?" "Kalau kamu dateng ke sini, kamu pasti cuma punya waktu sedikit buat makan siang. Atau bahkan kamu nggak sempet makan karena harus kerja lagi." Tangisnya semakin menjadi. Ia jadi begitu sedih hanya untuk memikirkannya saja. "Kamu jahat. Kamu malah bikin aku makin kangen dan pengen peluk kamu..."

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN