Hampir sepuluh menit sudah ia memandangi wajah lelaki yang masih terlelap dengan begitu pulas di sampingnya. Tapi seakan ia tak pernah bosan untuk terus memandangi wajah itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, dan kini lelaki itu masih belum juga bangun dari tidurnya. Fania mengusap sisi kepala Farel. Jemarinya bergerak menyingkirkan anak rambut yang dengan jahatnya menghalangi tampannya wajah Farel. Jari-jari lentiknya berganti menyusuri pipi dan rahang Farel. Sudut bibir Fania tertarik membentuk senyum simpul. "Kamu pasti kelelahan..." "Apa kamu maafin aku?" Fania berbalik membelakangi Farel. "Jangan banyak bicara, aku ngantuk." Selesai mengatakannya, Fania langsung beranjak naik ke kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut hingga sebatas leher. Mau tak mau Farel ikut berbaring.

