PASTI UNTUK DEVAN

1454 Kata
Anggun bernyanyi sambil sesekali bersiul. Setelah mengantar Amel tadi ke toko online milik temannya itu. Sekarang dia akan berangkat ke butik miliknya. Anggun sangat riang pagi ini. Sesampai di parkiran butiknya, Anggun segera turun dari mobil masih dengan bibir berkomat kamit bernyanyi.Memasuki butik dengan senyum yang tersungging di bibir manisnya. Semua karyawan butik bahkan terlihat bingung dengan bossnya itu. Karena semenjak putus dengan Dion, Anggun cenderung lebih sering cemberut. Apa dia sudah mendapatkan pengganti mantannya yang b******k itu? Pikir karyawan yang lain. Anggun memasuki ruang kerjanya dan memulai aktifitasnya seperti biasa. "Semangat Gun, semoga hari ini menjadi awal yang baik. " Monolognya pada diri sendiri seraya mengangkat tangannya yang terkepal ke udara. Memberi semangat untuk dirinya sendiri. Setelah berkutat dengan pekerjaannya, Anggun melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Lantas dia melepas pekerjaannya dan menggeliat untuk merenggangkan otot tubuhnya yang terasa lelah karena kesibukannya. Anggun menghela nafas panjang, hari ini terasa cukup melelahkan. Dia butuh hiburan sekarang. Oh, Anggun punya ide. Sebaiknya dia pergi jalan jalan saja, ke mall mungkin bisa jadi salah satu alternatifnya. Lalu tanpa pikir panjang, Anggun langsung meraih ponselnya yang tergeletak diatas meja kerjanya dan mencari kontak teman temannya. "Ada apa? " Suara yang terdengar langsung dari sebrang sana ketika sambungan itu terhubung. "Ngemall yuk! " Ajak Anggun to the point. "Oke, gue beres beres dulu bentar. Kita ketemu di mall aja. " "Oke, gue telpon yang lain dulu. " "Sipp... " Sambungan telpon terputus. Setelah memutuskan sambungan dengan Amel. Anggun kembali mencari kontak Erfi dan Jisa. Selanjutnya menghubungi mereka berdua. Namun saat menghubungi nomor Erfi, nomornya justru sibuk. Membuat Anggun berdecak kesal. Dan terakhir, panggilan yang ketiga dengan Jisa pun terhubung. "Hallo my queen..., ada apa? " "Ngemall yuk! Gue juga udah ajak Amel tadi. Erfi nomornya sibuk, sok banget deh tu anak tumben tumbenan juga. " "Sekarang? " "Nggak! Besok, nunggu lebaran monyet dulu. Ya sekarang lah Juminten..... !!" "Gaslah... " "Oke, kita ketemu di mall ntar. Jangan lemot lo! " "Iya iya... " Fiks, karena kedua sahabatnya sudah menyanggupi. So, saatnya Anggun berangkat! Dia segera merampas kunci mobil juga tas jinjingnya dan berlalu dari sana. Anggun sudah memasuki kawasan mall. Mereka sudah berjanji untuk bertemu di salah satu food court di mall itu yang biasa menjadi tempat makan mereka. Anggun mengedarkan pandangannya ke meja yang rata rata sudah terisi oleh pelanggan lain. Hingga matanya menangkap kedua sosok temannya yang sedang melambaikan tangan kepadanya. "Anggun! " Panggil Jisa dan Amel. Anggun segera berjalan menghampiri kedua temannya itu yang sudah lebih dulu duduk di sana. "Kalian udah lama? " Tanya Anggun seraya menggeser kursi lalu duduk. "Nggak kok, gue baru aja sampe. " Balas Jisa. "Lo Mel? " Anggun beralih pada Amel. "Sama, gue juga baru aja sampe. " "Ya udah, kita pesen makan dulu. Gue laper! " Ujarnya jujur karena dirinya tadi melewatkan makan siangnya. "Oke... " Mereka bertiga memesan makanan masing masing. Karena setelah ini mereka mungkin akan berjalan jalan sehingga membutuhkan banyak tenaga. Jisa menyeka bibirnya setelah makanan dipiringnya habis. "Kita kemana nih sekarang? " Tanyanya kemudian. "Gimana kalo nonton? " Celetuk Amel memberi ide. Anggun menggeleng seraya menyedot jus jeruknya. "Nggak, gue lagi nggak minat nonton. " Jawabnya menolak. "Terus kemana dong? " Tanya Amel bingung. "Shopping dulu lah. Gue mau cari sesuatu soalnya. " "Okelah.. " Mereka bertiga berjalan jalan mengitari mall, sampai akhirnya Anggun mengajak kedua temannya masuk ke salah satu toko pakaian disana. Amel dan Jisa sibuk memilih milih pakaian, begitu juga dengan Anggun. Hingga akhirnya Anggun menemukan barang yang dia cari. Sebuah dasi berwarna navy dengan motif garis putih horizontal. Anggun memanggil karyawan toko itu dan meminta untuk di ambilkan dari dalam etalase. Sang karyawanpun menurut. Anggun melihat dasi itu, menimang nimang jika ini hadiah yang dia rasa cocok untuk Pratama. "Ini tolong di__" "Permisi, coba tolong ambilkan yang ini mbak! " Suara dari arah samping Anggun. Membuat Anggun harus menoleh karena kalimatnya dengan karyawan tadi harus disela oleh pelanggan itu. "Tante? " Wanita yang disapa tante tadi langsung menoleh dengan cepat kearah Anggun. Wanita itu memicingkan matanya, sambil mengingat ingat wajah Anggun. "Eh, i-ni Anggun kan ya? Nggak salah kan tante panggil namanya? " Ujarnya kemudian. Anggun tersenyum ramah. "Iya, ini Anggun tante. " "Aduh cantik, tante nggak nyangka bisa ketemu sama kamu disini. " Ujar wanita itu seraya memegang pipi Anggun. Anggun salah tingkah dan jadi kikuk sendiri. Wanita ini begitu ramah dan juga lembut padanya. "I-iya, Anggun juga nggak nyangka ketemu sama tante disini. " Balas Anggun terbata karena gugup. Wanita paruh baya berparas cantik itu pun melirik dasi yang berada di tangan Anggun. "Kamu lagi cari apa? " Tanyanya kemudian. "Ini, Anggun lagi cari dasi. " Anggun menunjuk dasi yang masih dia pegang. "Udah ketemu? " Anggun mengangguk. "Udah kok. Tinggal dibungkus aja. " "Pasti buat Devan ya? " Tebak Luna menggoda. Tentu saja ucapan Luna membuat Anggun terbelalak. Sejak kapan dia membeli hadiah untuk Devan. Jangankan hadiah, bertemu saja dia sangat tidak berharap. "Hah?! I-itu..anu.. " Anggun tergagap, bingung harus menjawab apa. "Kamu kok tau banget warna kesukaan Devan? Pasti dia seneng banget kalo kamu kasi hadiah itu. " Tambah Luna lagi. "Hh, gitu ya? " Anggun menyengir seraya menggaruk pelipisnya. Sepertinya Luna salah paham. Tapi dia merasa tidak enak jika mengatakan dasi itu bukanlah untuk Devan. "Udah ketemu barang yang lo cari Gun? " Tiba tiba Amel dan Erfi menghampirinya. "Oh, iya udah. " "Siapa? " Tanya Luna. "Mmm, ini temen temen Anggun tante. " "Kenalan dulu lah tan. " Ujar Amel langsung nyerobot tanpa sungkan dan langsung mengulurkan jabatan tangannya. Amel penasaran karena melihat Anggun yang mengobrol dengan Luna. Jadi dia memutuskan untuk berkenalan saja dengan Luna. Tau sendiri 'kan jika Amel orang yang kepo. "Aku Amel. " Luna membalas jabatan tangan Amel. "Nama tante Luna,Mamanya Devan. " Balas Luna ramah. "Kalo aku Jisa tante. " Jisa pun tak mau kalah, dia juga ikut menyalami Luna untuk berkenalan. "Luna." Amel dan Jisa melirik Anggun sebentar. "Jadi tante Mamanya Devan ya? " Celetuk Jisa. Bibirnya terasa gatal untuk bertanya. "Iya, kalian kenal Devan juga? " "Kenal kok kenal tante. Apalagi Anggun dia t___ " Anggun segera memberi pelototan mata pada Jisa yang hendak menerobos dan memulai sesi gibahnya. Membuat Jisa mengatup kan rahangnya seketika. "Hehehe..,maksud aku tu. Kita kenal sedikit kok sama anak tante. " Jisa mengubah kalimatnya. Takut jika Anggun akan mengomelinya nanti. "Tante udah kenal lama sama Angg__" Amel hendak menimpali. Namun mulutnya sudah dibungkam oleh telapak tangan Anggun lebih dulu. "Mm.., maaf tante.. Anggun sama temen temen lagi buru buru. Jadi mau ke kasir buat bayar. " "Oh iya cantik. Tante juga lagi buru buru nih. Kapan kapan kita ngobrol ngobrol lagi deh. " "Iya tante. Anggun permisi dulu. " Anggun segera menyeret kedua temannya itu untuk segera beranjak dari sana. Dia tidak ingin keduanya semakin membuat masalah dengan cerita cerita yang mereka lebih lebihkan mengenai hubungannya dan Devan. Haiih...., kenapa harus Devan lagi sih? Perasaan orang sekitarnya sekarang selalu saja menghubungkan hubungkan dirinya dengan Devan. Anggun baru saja selesai membayar di kasir. "Ayo...! " Ajak Anggun pada kedua temannya yang masih berdiri menunggunya. "Ngakunya nggak suka?! Tapi buktinya diem diem udah kenalan sama nyokapnya? " Sindir Amel seraya melipat tangan di d**a. Dia tidak menyangka, ternyata Anggun diam diam sudah berkenalan juga dengan Luna. Itu artinya dia dan Devan sudah sangat dekat, bukan? "Tau tuh, udah sedeket itu 'tapi nggak pernah cerita sama kita. Temen apaan 'coba?! " Timpal Jisa menambahkan. Lo berdua lagi nyindir gue? " Sentak Anggun galak. "Menurut lo? " Seru Amel dan Jisa serempak. Mereka berdua sangat kesal dengan Anggun yang tidak mau terbuka tentang kedekatannya dengan Devan. Karena selama ini di dalam 'black angle' tidak ada rahasia apapun jika mengenai pasangan. Mereka selalu terbuka satu sama lain. Namun hari ini, Anggun tertangkap basah tengah berbohong pada mereka. "Gue tau apa yang sedang lo berdua pikirin! Tapi apa yang kalian liat barusan tadi itu nggak sama dengan kenyataan. " Anggun berujar menjelaskan. "Makanya cerita Gun cerita....!! Lo mau kita berdua penasaran setengah mampus?! " Seru Amel judes. Karena tidak biasanya Anggun selalu terbuka pada mereka. "Oke, kita cari tempat dulu lah. Gue haus! " Amel berdecak sebal. "Banyak tingkah lo mah, mau cerita aja ribet banget deh. Tadi laper, sekarang haus! Ntar apalagi? Mau boker??! " Anggun terkekeh, kedua temannya itu justru terlihat lucu jika mereka tengah merajuk. "Udah, jangan ngambek lo berdua. Gue serius, abis ini gue cerita ke lo berdua. Masa iya, gue cerita sambil jalan gini. Nggak asik banget kan? " Ujarnya seraya merangkul leher Jisa dan Amel. Jisa mengangguk menyetujui. Ucapan Anggun ada benarnya juga. Mereka harus cari tempat untuk mengobrol agar lebih leluasa. "Ya udah, kita duduk di coffe shop. Gue juga pengen minum matcha nih. " Balasnya. "Hayuuuk.....! "
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN