Anggun keluar dari dalam kamar mandi setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk berendam dan memanjakan tubuhnya. Setidaknya, dengan begitu dia bisa lebih semangat pagi ini. Selanjutnya, Anggun berjalan ke arah walk in closet, mencari pakaian yang akan dia gunakan lagi ini. Cuaca hari ini sangat cerah, begitu juga dengan suasana hatinya. Lantas,dia memilih dress polos dengan warna lemon.
Setelah memakai pakaian nya, Anggun melangkah ke meja riasnya. Duduk di depan cermin dan mulai mengaplikasikan beberapa skin care pada wajahnya. Setelah lima menit,Anggun akhirnya selesai dengan make up nya, menutup kotak blush on_nya seraya meneliti penampilannya di cermin.
"Gue bingung, ini Tuhan yang terlalu loyal sama gue. Atau gue yang terlalu rakus saat pembagian jatah kecantikan. Soalnya muka gue itu nggak ada celanya! " Monolognya masih dengan tingkat kepercayaan diri di atas rata rata nya. Anggun tersenyum puas seperti biasa melihat tampilan cantik dirinya. Memang benar apa yang dia katakan, wajah cantik, body aduhai, dan jangan lupa dengan status sosial nya yang terbilang orang berada. Membuat siapa saja yang melihat Anggun mungkin akan langsung terpana. Walau sifatnya sedikit bar bar sih.
Setelah puas memuji dirinya, Anggun berdiri dan merampas salah satu tas jinjing dengan brand ternama miliknya. Kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
Anggun berjalan turun, hari ini dia akan sarapan bersama kedua orang tuanya. Suatu hal yang jarang bisa dia temukan. Dan Anggun bersyukur akan hal itu pagi ini.
"Uh....anaknya Papa udah cantik. " Ujar Pratama ketika melihat Anggun berjalan kemeja makan.
"Pagi Pa, pagi Ma... " Sapa Anggun seraya mencium Mama dan juga Papanya bergantian.
"Pagi juga sayang... " Balas kedua orang tua Anggun.
"Ayo sarapan dulu! Mama udah masakin nasi goreng sosis kesukaan kamu loh. " Ujar Ririn yang baru saja selesai menghidangkan makanan ke meja makan.
Anggun segera mengambil duduk.
"Iya, kayanya enak nih! " Serunya seraya memandang nasi goreng buatan Ririn dengan penuh nafsu.
"Oh, pasti donk! Masakannya siapa dulu? "
Anggun tak mempedulikan ucapan Ririn. Dia sudah tidak sabar mencicipi makanan kesukaannya itu karena jarang jarang mereka bisa makan bersama. Anggun menyendok nasi ke piringnya karena perutnya sudah keroncongan, mengingat kemarin dia juga melewatkan makan malamnya.
"Makanya, lain kali kamu harus ajak Devan kesini supaya bisa nyicipin masakan Mama. " Mulai lagi kan, Anggun yang hendak menyuap nasinya langsung melirik Ririn dengan sinis.
"Ma, masih pagi. Bisa nggak, jangan ngerusak mood Anggun. " Sentaknya.
Ririn mengerucut kan bibirnya, kenalan sih anak gadisnya itu akhir akhir ini jadi bersikap galak padanya.
"Galak banget deh. Jadi cewek nggak boleh galak galak! Nanti nggak ada cowok yang berani deketin! Emangnya kamu mau jadi mosot? " Ririn mencibir dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Anggun sontak bergidik ngeri dan merinding.
"Amit amit! Masa iya, Anggun yang super duper cantik gini jadi cewek mosot? "
"Udah...., jangan ribut depan makanan. Sarapannya dimakan dulu! " Sela Pratama.
"Mama tuh Pa. " Adu Anggun seraya menunjuk Ririn dengan dagunya.
"Assalamualaikum epribadeh..... " Suara yang Anggun menyapa, membuat Anggun dan kedua orang tuanya menoleh serempak keasal suara itu.
"Walaikum salam.... " Jawab ketiganya.
"Amel, ayo nak gabung sarapan. " Ajak Ririn pada Amel yang tanpa di suruh pun sudah mengambil duduk seperti biasa.
"Okelah, gas.... " Jawab Amel tanpa malu malu.
"Ngapain lo pagi pagi ke rumah gue? Udah bangkrut lo sampe numpang sarapan disini? " Semprot Anggun galak.
"Anggun, nggak boleh gitu sayang. " Tegur Ririn. Dia tau jika Anggun memang tidak bermaksud menyinggung Amel, ucapannya hanya sebatas becandaan. Tapi bagaimanapun juga, itu bukanlah hal yang sopan.
"Hehe...., gue ceritanya ntar aja ya Gun. Mau sarapan dulu. " Balas Amel seraya cengengesan dan mulai menyendok nasi goreng buatan Ririn ke piring.
"Emang dasar nggak tau malu lo ya. " Cibir Anggun.
Mereka berempat sudah selesai dengan sarapan mereka. Ririn tengah membereskan piring bekas makan mereka. Sedangkan Pratama, langsung bergegas ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Kini Amel dan Anggun tengah duduk di kursi dengan meja bundar yang berada di taman kecil dekat dengan kolam renang. Mereka akan melanjutkan obrolan mereka disana. Di suguhkan dengan dua cangkir teh hangat dan tak lupa juga dengan setoples kue kering.
"Lo mau tanya apa? Buruan deh, gue mau ke butik nih soalnya! " Ujar Anggun to the point seraya mengecap tehnya.
"Apa nggak kepagian kalo lo berangkat sekarang? " Balas Amel.
"Jangan banyak cocot! Lo mau tanya apa? " Ulang Anggun posisinya bertopang dagu, siap siap untuk di introgasi Amel.
Amel meletakkan cangkir teh yang baru saja dia minum isinya ke atas meja sebelum berujar.
"Oh itu. Kata Jisa sama Erfi, kemarin malem lo diseret pulang sama cowok. Katanya cowoknya ganteng banget, rapi, wangi duit gitu? Devan bukan sih 'yang mereka maksud? " Cecar Amel langsung. Mencoba menebak nebak, karena akhir akhir ini cowok yang dekat dengan Anggun dan meiliki kriteria yang disebutkan oleh kedua temannya nya hanya Devan.
"Hmmm... " Balas Anggun malas. Tidak Ririn, sekarang justru Amel yang mulai lagi membahas Devan.
"Jadi bener Devan? " Tanya Amel memastikan.
"Iya.. " Balas Anggun ketus.
"Kenapa lo di seret pulang sama dia? "
Anggun berdecak, menyandarkan punggung pada sandaran kursi.
"Udahlah, gue males cerita. Yang jelas, gue nggak mau lo sebut nama dia lagi. Empet gue dengernya! "
Amel mencebik seraya mendengus kesal.
"Tapi kan gue penasaran Gun. Lo sedeket itu sama Devan tapi kok nggak mau cerita cerita sama gue dan yang lain sih? " Tanyanya kesal, namun Anggun hanya menanggapi dengan menggedikkan bahu saja.
"Malem itu gue mau tanya soal dia. Eh, lo malah main cabut aja. "
"Ini semua gara gara lo Jubedah! " Sentaknya kemudian dan kembali ke posisi duduk tegaknya.
"Loh, kok gara gara gue? " Protes Amel tidak mengerti. Kenapa Anggun membawa bawa namanya. Memang, apa sangkut pautnya dengan dia?
"Iya gara gara lo. Lo inget nggak, kejadian dimana lo kasih gue saran supaya gue cium cowok di club waktu itu? "
"Jangan bilang kalo cowok itu De__" Tebak Amel cepat. Dan Anggun terpaksa membenarkannya dengan anggukan kepala.
Tentu saja hal itu membuat Amel langsung membelalakkan matanya tak percaya seraya memegang kepalanya.
"OH MY GOD...., jadi selama ini hubungan lo sama Devan berlanjut gara gara ciuman malam itu? " Tanya Amel mulai heboh.
"Sialan emang lo! Kesel banget gue kalo inget kejadian itu. "
"Hahaha.... Sumpah, nggak nyangka banget gue. Berarti bagus dong ya 'kalo gitu. "
"Bagus darimananya? "
"Iya bagus. Karena menurut gue, Devan orangnya ganteng paripurna, coolnya dapet meskipun rada dingin sih. Tipe gue banget itu.. "
"Kenapa nggak lo pepet aja kalo lo suka? "
"Ih...mana boleh! Kan gue udah punya babang Adit tersayang. " Ujarnya seraya memegang kedua pipinya dan tersenyum, membayangkan pangeran yang belum juga bisa dia gapai.
"Huh, tapi perasaan lo nggak ada perkembangan deh sama tuh cowok? " Cibir Anggun.
"Tunggu tanggal mainnya Gun. Gue yakin seratus persen, Adit pasti bakalan luluh sama gue. " Balas Amel sombong lalu kembali menyesap tehnya.
Anggun mengibaskan sebelah tangannya sambil mencebik meremehkan.
"Halah, dari dulu juga lo ngomongnya gitu. Tapi sampe sekarang nggak ada kemajuan 'tuh gue liat. "
"Sabar ajalah... " Balas Amel cuek.
"Sampe kapan? Sampe fir'aun bangkit lagi? Atau sampe kucing bertanduk? "
"Ya sampe kerja keras gue memberikan hasil. "
"Lo pasti sering beli sate ayam 'kan? " Tanya Anggun tiba tiba.
Amel mengangguk cepat.
"Iya sering, kenapa? "
"Biasanya tukang satenya ngomong apa kalo lo nangkring depan pembakarannya? "
Amel memegang dagunya seraya mengingat.
"Mmm... Paling abang satenya tanya 'berapa tusuk neng? '. Gitu! "
"Salah, yang bener tu ' mundur dikit, nanti takutnya perih'. Gitu.... !!" Ujar Anggun membenarkan.
"Terus, apa hubungannya abang tukang sate sama gue? " Tanya Amel sambil garuk kepala. Kenapa jadi membahas tukang sate sih?
"Ya, itu ibarat saran gue buat lo. Mending mundur ajalah daripada ujung ujungnya ntar hati lo jadi perih. "
"Hah? " Amel menganga seraya mengerjap bodoh.
"Hah heh hah heh! Lemot lo mah! " Cibir Anggun dan langsung bangkit dari kursi.
"Udahlah, gue mau berangkat ke butik dulu. Lo kalo mau disini temenin nyokap gue ghibah nggak apa apa. " Lanjutnya lagi sebelum melenggang pergi.
"Eh, gue juga mau berangkat ke toko Gun. Tapi gue nebeng sama lo ya. "
Anggun mengangkat kedua alisnya.
"Mobil lo kemana? " Tanya Anggun heran.
"Hehehe..., mobil gue kemarin mogok. Masih di benerin di bengkel. "
"Terus tadi lo kesini naik apa? "
"Naik taksi. "
"Se_kepo itu lo sama cerita kemarin malam sampe repot repot kesini naik taksi? "
"Iya, penasaran gue sama kronologi lo bisa kenal sama Devan. Sampe tu cowok berani nyeret lo dari club. "
"Tapi nggak apa apa. Se_nggaknya tadi gue udah dapet sarapan gratis di sini. Jadi lumayanlah, itung itung ganti ongkos taksi gue tadi kesini. "
"Dasar Jebedah! Doyannya yang gratisan mulu! " Semburnya lagi mencibir yang hanya di tanggapi cengiran dari Amel.