TUNANGAN DEVAN

1533 Kata
"Jadi gitu ceritanya... " Anggun baru saja menceritakan kisahnya hingga dia bisa mengenal Mamanya Devan. Jisa dan Amel hanya mangut mangut sambil ber_oh ria saja. Ternyata Anggun dan Luna hanya pernah bertemu sekali, ditambah hari ini menjadi dua kali. Dan perkenalan mereka pun dadakan karena saat itu Anggun sendiri tidak mengetahui jika Devan akan mengajaknya ke rumah sakit dan jadilah dia berkenalan dengan Luna. "Ooh, jadi gitu.... " Tanya Jisa lagi yang di balas anggukan kepala oleh Anggun. "Tapi sumpah ya, nyokapnya si Devan tu cantiks banget 'deh Gun. Nggak heran gue Devan juga cakep. Orang emaknya aja bibit tunggal! " "Setuju gue. Gue juga saat pertama kali liat Devan di rumah Anggun, rahim gue langsung anget njir! Pengen banget punya anak cangkokan dari dia. " Penuturan Amel sontak membuat Anggun langsung menepuk bibir sahabatnya itu. "Tuh mulut tolong dikondisikan!" Kesalnya karena mulut bar bar temannya itu terkadang asal ceplas ceplos sembarangan. "Lo pikir taneman pake di cangkok? " Tambahnya lagi mencibir yang hanya di tanggapi gedikan bahu oleh Amel. "Gue juga waktu liat Devan di club malam itu langsung terpana Mel. Yang tadinya mau ngomel malah jadi lemah karena liat tatapan matanya yang tajam. Aduuuh.... rasanya gue mau mimisan! " Timpal Jisa juga menyetujui. Mereka tidak menampik perihal ketampanan Devan yang memang bisa membuat gadis mana saja jadi lemah iman. Termasuk mereka berdua. "Lebay deh lo berdua! " Ujar Anggun tak suka. Mungkin disini dirinya masih menjadi salah satu gadis yang sangat jengkel dengan Devan. Jangankan melihat wajahnya, mendengar namanya saja Anggun serasa berada di tengah padang pasir gurun sahara. GERAAAAAH....!!! "Ya mau gimana lagi. Cewek lain juga pasti sama kaya gue Gun. Devan tuh cakep paripurna, cewek mana yang nggak ngeces kalo liat dia. " Amel kembali berceletuk. "Ada,gue! Gue biasa aja tuh liat dia. " Protes Anggun tak suka dengan pernyataan Amel tadi. Bibir Jisa langsung menukik kebawah seraya mencibir. "Jangan galak galak lo sama dia. Benci sama cinta beda tipis loh. Yang ada ntar lo naksir sama dia tau rasa?! " Sarkasnya kemudian. Masih merasa heran,kok bisa bisanya Anggun benci dengan Devan yang jelas jelas pacarkable bagi gadis manapun. Kalo bisa, Jisa juga maulah pasti dengan Devan. "Tau nih, kita sumpahin lo naksir berat sampe bucin parah sama Devan! " Amel mengutuk Anggun, dan di angguki oleh Jisa. Mereka sangat berharap jika Anggun bisa berjodoh dengan Devan. Kan lumayan, bisa liat wajah ganteng Devan tiap hari. Hihihi.... Anggun langsung mendelik seraya mencebik. "Amit amit! " Ujarnya lalu kembali menyedot ice coffe latte miliknya. "Udah ah, mending kita balik yuk! Nyokap gue udah ngechat mulu nih dari tadi. Gue belum bilang soalnya mau jalan jalan bareng lo berdua. " Ujar Anggun. Tadi Ririn sempat mengiriminya pesan, memberi perintah agar Anggun segera pulang agar tidak melewatkan makan malam bersama. "Iya udah yuk. Gue juga udah capek banget nih. " _________________________________ Seminggu sudah Anggun menjalani hari harinya tanpa Devan. Dan hal itu membuat Anggun tenang. Ketiga temannya itu juga sudah tidak lagi membahas tentang lelaki dingin itu karena Anggun sendiri yang melarang mereka untuk membahasnya. Seperti hari ini contohnya, dia tengah berada di dalam ruang kerjanya. Sibuk mendesain gambar di atas kertas putih. Jari jemari lentiknya begitu lihai menggambar.Tapi di tengah tengah kesibukannya itu, tiba tiba seseorang mengetuk pintu ruangannya. "Masuk! " Titah Anggun tanpa mengalihkan tatapannya pada kertas di depannya. "Mbak Anggun, ada yang mau ketemu sama mbak. " Ujar salah satu karyawan butiknya itu. "Siapa? " Tanya Anggun kini menoleh. "Nggak tau mbak. " "Kamu udah bilang kalo aku lagi sibuk. " "Udah Mbak, tapi orangnya tetep kekeuh mau ketemu sama mbak Anggun. " "Oke, aku turun sebentar lagi. " "Siap mbak. " Balas karyawan itu sebelum berlalu dari sana. Tak berapa lama, Anggun pun segera turun. Dia bertanya oada karyawannya siapa tamu yang ingin bertemu dengannya. Karyawan itu pun menunjuk kearah sofa dimana orang yang sedang mencarinya itu tengah duduk dengan kaki yang disilangkan. Anggun memicingkan matanya sejenak, dia merasa tidak asing dengan wajah itu. Tanpa menunggu lama, Anggun kemudian segera menghampiri orang tersebut. "Lo! Ngapain lagi lo kesini? " Semburnya to the poin seraya berkacak pinggang. Laki laki itu mendongak karena posisi Anggun yang masih berdiri. Dia meletakkan katalog yang ada di tangannya. "Apa begini sikap dari seorang boss pada pelanggannya? " Ujarnya menyindir. Anggun mengangkat kedua alisnya. "Pelanggan? " Ulangnya. Lelaki itu mengangguk. "Ya, aku ini pelanggan kamu loh. " "Jadi lo kesini mau pesen baju, gitu? " "Lebih tepatnya jas. " Balasnya mengoreksi ucapan Anggun. "Aku butuh jas untuk acara tunangan. " Lanjutnya lagi. "Acara tunangan? " Anggun bertanya lalu memilih duduk bersebrangan dengan laki laki itu. Menurutnya kurang sopan jika berbicara dengan pelanggan dengan posisi berdiri seperti saat ini. "Hmm... " "Jadi lo mau tunangan? " Tanya Anggun memastikan. Sontak, lelaki di depan Anggun itu mengerutkan keningnya, merasa heran dengan reaksi Anggun tadi yang menurutnya terlalu berlebihan. "Kenapa? Kok muka kamu kaget gitu? Apa kamu kecewa karena aku akan bertunangan? " Cibir nya kemudian. Sontak Anggun langsung membelalakkan matanya. "Hah? Kecewa ? Gue? " Jari telunjuknya menunjuk diri nya sendiri. "Emangnya kenapa gue harus kecewa? Gue cuma kaget aja. Ternyata cowok dingin bin galak plus menyebalkan macem kek lo ini ada yang naksir juga 'ya? Tuh cewek pasti hebat banget deh. " Cibir Anggun, tak terima dengan tuduhan Devan tadi. Devan tersenyum miring seraya melihat tangan di d**a. "Oh ya? Berarti menurut kamu, cewek yang bisa menikahi aku itu adalah seorang yang hebat? " "Iya." Jawab Anggun seraya mengangguk. "Kenapa? " Tanya Devan penasaran. Jika menurut Anggun gadis yang akan dia nikahi adalah orang hebat, maka dirinya pasti sesuatu yang spesial, bukan? "Karena cewek itu pasti punya stok sabar yang unlimited. Ngadepin cowok macem lo ini 'kan sangat teramat menyiksa. " Jawab Anggun tanpa dosa. Dan tentu saja penuturannya tadi membuat Devan kesal. Ternyata Devan salah kaprah. "Cih, nggak salah kamu ngomong begitu padaku? " Balas Devan. "Bukankah kamu sendiri ya____" Anggun segera mengibaskan tangannya. Tak mau berlama lama berurusan dengan Devan lagi karena seperti biasa, lelaki itu pasti akan membahas kelakuan buruknya. Anggun sudah bisa menebak itu. "Udahlah, nggak usah basa basi. Sekarang gue tanya, lo mau tema nya apa? " "Garden." "Oke,sekarang lo geu ukur dulu. Sini! " Anggun berdiri dan mengambil alat ukurnya. Devan pun menurut dan bangkit dari duduknya. Anggun mulai mengukur badan Devan. Tapi saat melingkarkan meteran pada pinggang Devan, Anggun sempat tertegun sejenak. Wangi parfum maskulin yang dipakai Devan terhirup oleh Anggun. Anggun mendongak, karena badan Devan yang lebih tinggi darinya. Pandangan mereka sempat bertemu,membuat Anggun tiba tiba salah tingkah. Mata tajam Devan seperti ingin menghunus, jantungnya serasa sedang berdisko tak karuan. "Ya Tuhan, kenapa gue jadi deg degan gini ya liat mata tajamnya nih si es balok? Apa sekarang kutukan Amel sama Erfi sedang bekerja? Sialan emang tuh anak dua, sembarangan aja main kutuk kutuk gue. Inget Gun inget, dia itu bentar lagi mau nikah. Lo nggak boleh jatuh cinta sama calon laki orang! Jangan mau jadi pelakor! " Batin Anggun. "U-udah. " Anggun berucap terbata. "Lo tinggal tunggu satu bulan lagi. " "Apa tidak bisa lebih cepat? " Anggun memutar bola matanya malas. "Lo pikir jahit untuk acara pernikahan semudah nge jahit baju arisan untuk emak emak apa? Selain jas untuk lo, gue juga harus jahit gaun buat mempelai wanitanya. " "Oh iya,ngomong ngomong cewek lo mana? Gue belum liat dia dari tadi? Gue juga kan harus ngukur badan dia dulu, dan tanya tanya model gaun yang dia mau. " Tanya Anggun. Karena sedari tadi dia belum melihat pasangan Devan sama sekali. Dia kan juga perlu menanyakan beberapa hal pada calon tunangan Devan itu. "Dev, sorry aku telat! " Suara seseorang yang tiba tiba menghampiri Devan membuat Anggun dan Devan menoleh serempak. "Oh, ayo cepat kemari! " Panggil Devan serayamengibaskan tangannya agar wanita tadi segera mendekat. "Kamu harus di ukur lebih dulu. " Tambah Devan lagi. Wanita cantik dengan dress hijau itupun menurut. Dia menghampiri Anggun yang masih membawa alat ukur di tangannya. "Oh mari mbak, aku ukur dulu. " Ujar Anggun ramah. "Sayang, sini! Kamu juga harus di ukur juga. " Wanita itu justru memanggil lelaki lain yang juga masih berdiri tak jauh dari tempatnya. Anggun mengerjap bodoh, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang dilakukan wanita itu. "Eh, ini apa maksudnya? Kok nih cewek manggil cowok lain pake sebutan 'sayang'? Apa kabar sama si Devan? Jangan bilang kalo nih cewek mau tunangan sama dua cowok sekaligus? " Batin Anggun. "Mbak, mau pilih model gaun yang gimana? Boleh liat liat dulu. Nanti selanjutnya baru aku ukur badannya. " Ujar Anggun memberi saran. Tidak mungkin 'kan dia sembarang mendesain baju untuk acara tunangan pelanggan nya? "Oke, aku mau keliling liat liat dulu. " Ujar wanita itu. Wanita itupun mengajak laki laki yang dia panggil dengan sebutan 'sayang' tadi untuk berkeliling melihat lihat gaun yang ada di butik Anggun sebagai referensi untuk acara tunangannya nanti. Wanita itu bahkan menggandeng tangan lelaki itu dengan mesra, dan hal itupun tak luput dari pandangan Anggun. "Devan! " Panggil Anggun pelan, Devan pun menoleh kearahnya. Anggun tersenyum dengan sinis seraya melipat tangan didada. . "Cewek lo bener bener hebat yah. Di saat orang orang mau poligami, tapi dia justru poliandri. " Ujar Anggun mencibir. Puas sekali rasanya, akhirnya sekarang dia bisa mengatai Devan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN