"Hah?! Apa maks___" Devan hendak bersuara. Namun tiba tiba wanita yang Anggun anggap sebagai calon tunangan Devan tadi memanggil Anggun.
"Mbak.. "
Anggun lantas menoleh.
"Ya? "
Wanita itu menghampiri Anggun seraya membawa dua gaun berwarna putih.
"Saya mau modelnya seperti ini, tapi bagian pinggangnya diberi aksen yang seperti gaun ini. " Terang wanita tadi menjelaskan.
Anggun mengangguk paham.
"Oke, gaunnya akan siap dalam satu bulan kedepan. "
"Tapi ngomong ngomong, calon tunangan saya belum di ukur mbak. " Celetuk wanita tadi.
Anggun mirik Devan sesaat.
"Udah kok tadi, cuma yang satunya lagi yang belum. "
Wanita itu mengangkat kedua alisnya.
"Satunya lagi? Emang saya punya calon tunangan berapa? " Tanyanya bingung.
"Loh, bukannya Devan itu calon tunangan mbak juga? "
Penuturan Anggun tadi jelas membuat Devan tertawa.
"Hahaha...., apa kamu gila! Jadi kamu kira kalo aku akan menikah dengan sepupuku sendiri? " Ujarnya mencibir.
Anggun terbelalak, jadi wanita di depannya ini bukan calon tunangan Devan.
"Sepupu? Jadi mbak ini sepupu Devan? " Tanya Anggun memastikan. Wanita itupun menjawab dengan anggukan kepala.
Anggun nyengir, dirinya sangat malu sekali.
"Aduh, maaf ya mbak. Aku salah paham tadi. Lagian Devan juga nggak ngomong kalo yang akan tunangan itu adalah sepupunya. " Ujar Anggun yang sudah merasa dongkol setengah mampus.
Wanita itu terkekeh, Anggun sangat lucu. Bagaimana dia bisa berfikir jika dia akan tunangan dengan dua lelaki sekaligus?
"Iya, nggak apa apa. " Jawabnya kemudian masih dengan kekehannya.
Anggun mengerjap, merasa kikuk sendiri dengan kebodohannya tadi.
"Ya udah kalo gitu, calon tunangannya aku ukur dulu. " Ujarnya kemudian mencoba mengalihkan topik. Sedangkan Devan masih berusaha menahan tawanya, dan pemandangan itu tak luput dari pantauan Anggun.
Ckk..., kesal sekali rasanya. Niat untuk mengatai lelaki itu, tapi sekarang dia sendiri yang jadi malu. Devan sial*n!!
Ini semua gara gara dia. Seandainya saja dia mengatakan yang sebenarnya sejak tadi, Anggun pasti tidak akan menanggung malu seperti sekarang.
"Dasar Devan bre**sek! Kenapa dia nggak ngomong kalo yang akan tunangan ternyata sepupunya, bukan dia? Kan gue jadi malu sendiri. Gue juga kenapa bisa se_bego itu 'sih mikirnya? " Anggun merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa dia bisa berpikir sebodoh itu sih? Seharusnya dia juga kan bisa menebak, kalo Devan itu memang sebenarnya masih jomblo. Mana ada, wanita yang mau jadi pacarnya?
Anggun sudah selesai mengukur badan lelaki tadi. Dia meletakkan alat ukurnya di atas meja. Sekarang mereka berempat kembali duduk di sofa untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Ngomong ngomong, ini acara pernikahannya kapan ya mbak 'kalo boleh tau? " Tanya Anggun.
Wanita cantik itu melirik ke arah pasangannya yang duduk bersebelahan dengannya.
"Kita akan menikah kurang lebih satu bulan lagi mbak. Jadi, gaunnya bisa jadi sebelum acara 'kan ya? " Tanyanya memastikan. Takut takut jika gaun yang mereka pesan ternyata tidak dapat selesai tepat waktu.
"Pasti dong, kami akan berusaha agar semua siap sebelum acara. " Balas Anggun yakin. Karena butiknya selalu memprioritaskan kepuasan para pelanggannya.
"Baiklah. Kalo begitu, kami pamit dulu ya mbak. Masih banyak hal yang harus kami persiapkan untuk acara kami. " Pamit wanita itu.
"Iya, terimakasih atas kunjungannya ya mbak. Dan hati-hati di jalan. " Balas Anggun ramah.
"Iya, saya permisi dulu. " Wanita dan lelaki itupun bangkit dari duduknya.
"Dev, kamu sendiri ngga___"
"Kamu duluan saja. Aku masih ada perlu dengan dia. " Potong Devan cepat seraya menunjuk Anggun dengan dagunya. Wanita tadi hanya mengangguk saja tanpa mau bertanya lebih banyak.
Anggun mengantar wanita tadi sampai diluar. Saat kembali, Devan masih duduk anteng seraya memainkan ponsel.
"Lo mau ngapain lagi masih disini? " Tanya Anggun galak seperti biasa. Devan memang salalu bisa membuat emosinya bergejolak.
Devan memasukkan ponselnya kedalam sakit, bersidekap seraya menyilangkan kakinya dengan angkuh.
"Hanya ingin menanyakan sesuatu. " Balasnya singkat.
Anggun mengangkat kedua alisnya.
"Sesuatu apa? " Tanyanya.
"Apa seminggu yang lalu kamu bertemu dengan Mamaku? "
Anggun mengangguk.
"Iya, gue ketemu sama nyokap lo di mall. Kenapa? " Jawab Anggun jujur.
"Mama bilang kalo kamu beli____"
Belum juga Devan melanjutkan ucapannya, Anggun sudah bersuara lebih dulu.
"Eits....!!" Anggun mengangkat jari telunjuk nya kedepan.
"Lo mau ngomong kalo nyokap lo ketemu sama gue saat gue beli hadiah untuk lo. Iya? " Tebak Anggun.
"Apa benar begitu? "
"Ye jelas nggaklah! " Sanggah Anggun cepat cepat.
"Nyokap lo tu salah paham. Sebenernya gue beli dasi itu buat bokap gue. Tapi kebetulan warna yang gue pilih itu warna favorit elo, makanya dia ngira kalo gue beli buat lo. " Tambah Anggun. Dia tidak ingin Devan salah paham seperti Luna. Lagian, utuknaoandianharus membelikan Devan hadiah. Dia kan bukannsiapansiapanya Devan? Kalo musuh, mungkin!
"Jadi begitu. " Devan mengut mangut seraya memegang dagunya.
"Hmmm... " Balas Anggun malas.
"Tapi bagus juga 'sih kalo kamu tidak mengatakan yang sebenarnya. " Lanjut Devan membuat Anggun mengerutkan keningnya.
"Maksud lo apa? "
"Sudahlah, lupakan. " Devan malas membahas itu. Cukup dia saja yang taun alasan mengapa dirinya berbicara seperti itu. Karena jika diteruskan yang ada nanti dia justru berdebat dengan Anggun. Dia sangat malas akan hal itu. Berdebat dengan Anggun bisa membuat kepalanya pusing. Lantas, Devan beringsut dari duduknya.
"Aku pergi dulu. " Pamitnya kemudian.
Anggun tersenyum sinis seraya melipat tangannya di d**a.
"Cih, pergi aja sana! Gue juga nggak mau liat lo lama lama disini. " Usirnya seraya mencibir. Dia dan Devan layaknya tikus dan kucing. Setiap bertemu pasti selalu ribut. Beberapa karyawan di butik bahkan melihat mereka sejak tadi.
Devan sudah berjalan pergi, namun baru beberapa langkah dia kembali berbalik. Membuat Anggun heran.
"Kok lo balik lagi? Ada yang ketinggalan? " Tanya Anggun.
"Apa kamu mau menemaniku untuk makan siang? "
Anggun terhenyak sesaat.
"Eh, dia nggak lagi kesambet jin tomang 'kan ya? Kok tiba tiba ngajakin gue makan siang? " Batin Anggun. Sebab tidak ada hujan, tidak ada angin, Devan tiba tiba mengajak dirinya makan siang. Suatu hal yang langka,bukan?
"Kenapa kamu malah bengong? " Sentak Devan karena belum juga mendapat jawaban dari Anggun.
Anggun mengalihkan wajahnya kearah lain.
"Gue, nngak bisa. Kerjaan gue masih numpuk. " Alibinya mencoba menolak.
"Mbak Anggun pergi aja mbak! Nanti semua biar jadi urusan kita. " Celetuk salah satu karyawan Anggun tiba tiba. Karena tanpa Anggun dan Devan sadari, para karyawan di butik sejak tadi tengah menguping dan berbisik bisik saat melihat Devan dan Anggun mengobrol. Mereka baru pertama kali melihat butik mereka kedatangan pelanggan setampan Devan. Apalagi saat mendengar Devan yang ingin bertemu langsung dengan Anggun. Mereka menyimpulkan bahwa Devan memiliki kedekatan dengan boss mereka. Wajah cantik Anggun, dan wajah tampan Devan membuat mereka mendukung hubungan Anggun dan Devan.
"Nih anak anak sejak kapan pada nangkring disini? Dan kenapa juga malah ikutan berpendapat 'sih? " Batin Anggun karena terkejut melihat karyawannya itu yang tiba tiba muncul.
Anggun gelagapan. Jika sudah begini,sepertinya dia tidak punya alasan lagi untuk menolak ajakan Devan. Karyawannya benar benar lucknut! Masa boss sendiri mereka yang atur?
"O-oke deh. Tapi lo tunggu bentar. Gue ambil tas gue dulu di atas. " Anggun akhirnya memilih untuk mengikuti ajakan Devan saja. Lumayan juga sih, dia juga lapar dan butuh makan siang. Tidak ada salahnya juga kan, dia menerima ajakan lelaki itu.