"Mah, jangan mulai deh. Devan itu bukan pa___" Sela Anggun yang mulai jengah dengan tingkah Ririn. Tapi lagi lagi dia tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Ririn sudah mengibaskan tangannya lebih dulu.
"Huss....Mama nggak suruh kamu buat berkomentar! Jadi kamu diem aja! " Salaknya tak peduli.
"Mmm..,sebenarnya apa yang di ucapkan Anggun tadi bener kok tante. Saya sama Anggun hanya teman biasa. " Akhirnya Devan bersuara meski ragu ragu. Membenarkan status hubungan antara dirinya dan Anggun yang sebenarnya.
Ririn tersenyum tipis.
"Oh,nggak apa apa. Jadi temen lama lama juga kan bisa demen. Udah, kalian nggak usah permasalahan itu. Tante yakin kamu sama Anggun pasti bentar lagi akan jadian. " Ujar Ririn malah semakin antusias mendukung Devan dan Anggun agar bisa menjadi sepasang kekasih.
"Wah, kayanya tante Ririn punya bakat jadi peramal yah? " Amel berceletuk.
"Diem lo! " Salak Anggun geram. Dia sudah gerah dengan Ririn, dan sekarang Amel malah ikut ikutan juga.
"Maaf tante, sepertinya saya harus pamit. "
"Eh, kok cepet banget? Gimana kalo Devan sarapan dulu disini? Mbok Imah pasti udah siapin sarapan. Ya, mau ya...? " Bujuk Ririn seraya menegang lengan Devan. Anggun hanya bisa mendesah pelan melihat kelakuan Mamanya yang pemaksa.
"Tante bener, sebaiknya lo sarapan aja dulu disini. " Amel ikut menimpali. Sedangkan Anggun sudah beranjak lebih dulu keruang makan, Anggun berjalan dengan kaki yang dihentak hentakkan dilantai karena melihat tingkah Ririn yang seakan akan menganak tirikannya. Jika biasanya ketika pulang Ririn akan memanjakan dan juga mengobrol lama dengannya, menanyakan hal apa saja yang dilakukan Anggun saat ditinggal Ririn bekerja diluar. Namun kali ini berbeda ketika Ririn bertemu Devan, dia lebih terlena dengan ketampanan Devan dan lupa pada anak semata wayangnya itu. Padahal Anggun dan Ririn 'kan baru saja bertemu setelah seminggu lebih. Anggun nelangsa dibuatnya...
Ririn, Amel dan Devan bergegas ke ruang makan setelah ada season pemaksaan dengan metode rayuan dari Ririn. Devan seperti kerbau dicucuk hidungnya ketika Ririn menawarkan untuk sarapan dulu disini. Bagaimana tidak, Devan tidak bisa menolak karena Ririn terus memaksanya. Anggun sudah mengambil posisi duduk lebih dulu. Dia menyendok nasinya kepiring, tak peduli dengan keberadaan yang lain. Bodo amatlah, dia sudah lapar. Ditambah sikap Ririn yang lebih mementingkan Devan sekarang membuat dia kesal.
Ririn menyendoki nasi kepiring untuk Devan, melayani Devan dengan senang hati. Membuat Anggun yang menyaksikan itu semakin dibuat jengkel.
Anggun menyantap makanannya dengan rakus, matanya terus memperhatikan kelakuan Mamanya yang terus melayani Devan layaknya anak kesayangan.
Anggun melahap makanannya dengan sendok yang dia hentakkan dengan keras di piring hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Semua yang berada di meja makan sontak melihat kearahnya.
"Anggun, makannya bisa pelan nggak sayang? "
"Tau tuh, dia makannya berisik banget kaya emak emak yang belum dikasi jatah belanja sama suaminya. " Amel menimpali lagi seraya mengunyah makanannya.
"Bodo! Anggun laper. " Balas Anggun yang sebenarnya tengah merajuk.
"Kalo makannya kaya gitu nanti Devan bisa ilfeel sama kamu? Gimana sih? " Bisik Ririn pelan.
"Ilfeel ya ilfeel aja. Nggak ada hubungannya sama Anggun Ma. " Jawab Anggun cuek.
"Tapi itu berhubungan sama Mama. "
"Maksud Mama? " Tanya Anggun bingung.
"Nanti Devan nggak bisa jadi mantu Mama Gun. Kan sayang? "
"Devan lagi Devan lagi. Kalo Mama suka sama dia. Kenapa nggak Mama minta dia buat jadi anak Mama aja sana! " Anggun mengeluarkan unek uneknya yang sejak tadi dia tahan. Dia pun bangkit dengan kursi yang dia dorong keras hingga berbunyi.
"Anggun udah kenyang, mau keatas dulu. "
"Eh, mau kemana? Itu sarapannya belum habis loh. Anggun! " Panggil Ririn namun Anggun mengabaikannya. Dia melangkah cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Uh, sebel banget deh gue." Gerutunya sambil membanting pintu kamarnya dengan keras.
"Dasar Devan sialan! Bisa bisanya dia curi perhatian Mama sampe gue yang anaknya sendiri dilupain. " Kesalnya lagi mengingat sikap mamanya pada Devan tadi.
Setelah puas menggerutu, Anggun langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena setelah inindia harus berangkat ke butik.
Suara derap langkah dari heels yang Anggun kenakan saat menuruni anak tangga membuat Ririn dan Devan menoleh kearahnya.
"Uuuh...anak Mama udah cantik! " Puji Ririn melihat penampilan Anggun yang memang cantik. Rok dengan bahan rayon panjang yang dia padu padan kan dengan baju crop top berwarna putih polos dan outer panjang dengan warna senada bermotif polkadot. Rambut panjangnya tergerai indah, wangi parfumnya semakin kuat tercium ketika dia berjalan semakin mendekat. Devan sendiri tertegun sesaat melihat penampilan Anggun yang terbilang sopan kali ini. Tumben? Biasanya penampilannya selalu bar bar seperti orangnya.
"Amel mana Ma? " Tanya Anggun seraya membetulkan posisi jam tangannya.
"Amel udah pulang sayang. Katanya tadi tokonya lagi rame, jadi dia juga harus ikut turun tangan. " Ririn menjelaskan. Ya, Amel memiliki sebuah toko online. Dan disaat ramai, Amel akan ikut turun tangan langsung membantu para karyawannya.
"Oh gitu...." Anggun mangut mangut mengerti.
Pandangannya kembali terarah pada sosok yang selalu membuatnya kesal.
Dan lo! Kok masih disini? " Tanya Anggun pada Devan yang masih setia duduk di sofa bersama Ririn.
" Iya, Mama yang nggak ijinin Devan pulang. " Sela Ririn membela Devan.
"Kenapa? Jangan bilang Mama beneran mau adopsi Devan buat jadi sodaranya Anggun? " Ujar Anggun melipat tangan didada seraya mencebik. Apakah Ririn sudah tidak menyayangi dia lagi.
Ririn mengulas senyum, dia mengelus surai panjang Anggun.
"Kamu ngomong apa sih sayang? Mama minta Devan buat anter kamu berangkat ke butik. " Jelasnya agar Anggun tak salah paham.
"Ngapain pake dianter sama dia? Anggun bisa jalan sendiri kok. " Balas Anggun menolak.
"Pokoknya Mama nggak mau tau. Kamu berangkatnya sama Devan. TITIK! " Perintah Ririn valid no debat!
"Mama kok jadi maksa Anggun gini sih? " Anggun menghentakkan kakinya.
"Udahlah, jangan banyak tanya! Sekarang kamu berangkat aja gih sana! Nanti keburu siang! " Ririn mendorong bahu Anggun agar segera berangkat.
"Nak Devan, tante titip Anggun ya. Kalo dia bawel, cium aja. Pasti dia langsung kicep! " Ucap Ririn begitu frontal tanpa berpikir dulu.
Anggun terbelalak, sedangkan Devan hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"MAMA!! " Tegur Anggun. Tak percaya jika Ririn bisa mengucapkan kalimat se_absurd itu pada Devan. Mana ada, seorang ibu yang menyarankan agar orang lain mencium putrinya sendiri? Anggun benar benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Ririn. Demi upin ipin yang selalu saja jadi bocah, rasa rasanya Anggun ingin menggantung dirinya saja dipohon tomat yang berada di halaman rumah tetangganya sekarang.
"Ya udah, kalo gitu Devan pamit ya tante. " Devan memilih untuk segera pergi dari sini saja daripada mendengar ocehan Ririn yang sama sekali tidak berfaedah tak jauh berbeda dari Anggun.
"Iya, hati hati di jalan ya anak ganteng. " Ririn berdadah ria pada lelaki yang sudah dia cap menjadi calon menantunya itu.
"Dasar centil! Baru liat cogan dikit langsung lupa sama anaknya. " Cicit Anggun pelan namun masih bisa di dengar Devan. Apa sifat bar bar Anggun nurun dari Ririn? Huh... Mama sama anak kok tingkahnya sama. Devan benar benar tidak habis fikir.
"Anggun juga berangkat. Assalamu'alaikum.... " Anggun berpamitan lalu mencium tangan Ririn.
"Walaikum salam..... "
Anggun dan Devan sudah berada di dalam mobil. Anggun baru saja memasang seat beltnya dan duduk anteng seraya memainkan ponselnya.
" Hmmm...." Devan berdehem keras sesaat sebelum menjalankan mobilnya.
" Kenapa lo? Sakit tenggorokan? " Tanya Anggun meledek.
" Tumben sekali pakaian kamu sopan. Biasanya kalo tidak kekurangan bahan, ya sobekan nya sampe ke paha. " Cibir Devan.
"Oh, jadi lo pengen supaya gue pake pakaian yang minim biar bisa liatin paha gue? Iya? " Sindir Anggun galak. Di mata Devan dia pasti selalu salah. Di saat memakai pakaian sexi Anggun justru dihina dan dikatai cewek mirahan_lah, jalang_lah, wanita penghibir_lah. Dan sekarang dia memakai baju sopan tetap juga dicibir. Maha benar Devan dengan segala komentarnya yang bagaikan seorang hatters.
"Bukan begitu maksudku. " Devan jadi salah tingkah sendiri. Maksud dia memuji malah disalah artikan oleh Anggun. Sial... Devan memegang erat setirnya, dia jadi kembali teringat kejadian tadi malam dimana saat dirinya berhasrat hanya gara gara melihat paha mulus Anggun. Devan sungguh malu jika mengingat itu.
"Malah ngelamun? Buruan jalan! " Salak Anggun.
Devan tersentak dari lamunannya.
"Oh iya iya.... " Ujarnya gelagapan karena ketahuan tengah melamun. Tapi untung saja Anggun tak tau apa yang dia lamunkan.
Devan mulai menjalankan kereta besinya, menuju butik untuk mengantar Anggun lebih dulu. Butik dan perusahaan tempat Devan bekerja memang satu arah. Jadi tidak masalah_lah buat Devan.
Huh.... Kenapa dia jadi harus repot begini sih. Niatnya kan tadi dia hanya ingin mengembalikan ponsel Anggun saja. Tapi sekarang, dia harus mengantar gadis bar bar itu ke butik. Merepotkan sekali!
Di dalam mobil tidak ada percakapan antara mereka. Anggun tengah asyik dengan lagu yang di dengarnya dari hape yang tersambung melalui headset yang dia pasang di kedua telinganya. Kepalanya melenggak lenggok seiring alunan musik seraya bibirnya bernyanyi nyanyi pelan. Anggun tak mempedulikan Devan. Bodo amat, jika Devan menganggap suaranya fales. Yang jelas, Anggun sangat menikmati musik yang dia dengar.
Devan geleng geleng, cewek di sebelahnya ini memang benar benar unik. Hingga saat lampu merah di persimpangan jalan menyala dan bertepatan dengan ponsel Devan yang sengaja dia ke takkan di dashboard berdering. Devan segera mengangkat sambungan teleponnya.
"Hallo... "
"........ "
"Iya, Devan segera kesana sekarang. "
"........ "
Lampu di depan sana berwarna hijau, Devan kembali menjalankan mobilnya. Namun Anggun dibuat panik saat Devan melewati jalan yang harusnya mereka lewati jika akan ke butik Anggun.
"Eh... Kok jalannya lewat sini. Butik gue jalannya belok kearah sana. " Tunjuk Anggun pada jalanan yang sudah terlewati.
"Aku tau. " Jawab Devan tanpa menoleh karena fokus menyetir.
"Kalo tau kenapa lo malah lewat sini? "
"Aku ada keperluan mendadak dan harus buru buru. " Balas Devan, terlihat raut kepanikan di wajahnya.
"Terus gue mau lo kemanain? Jangan bilang elo mau buang gue ke jurang? "
"Ya, jika kamu terus mengoceh lagi aku benar benar akan membuangmu ke jurang " Devan melotot tajam pada Anggun.
Anggun menelan salivanya kelar. Mata Devan berkilat seperti elang membuat Anggun ketakutan.
"Serem...??? Mama Anggun takut....! " Cicit Anggun mulai bergidik ngeri.