"Ini gue mau dibawa kemana woy....??!Devan! " Tanya Anggun ngegas namun tak di gubris Devan sedikitpun. Devan justru semakin mengebut, Anggun sampe menutup matanya karena takut. Apa Devan benar benar marah padanya sekarang?
Anggun melirik Devan, lelaki yang dia beri julukan es balok itu menunjukkan wajah datar dan aura yang benar benar dingin.
"Gue masih muda, please jangan bunuh gue dulu. Lo nggak kasian sama gue apa? " Anggun memohon dan memelas seraya mengatup kan kedua tangannya. Dia mulai takut sekarang. Dia baru tau jika ternyata Devan adalah seorang psy___
"Eh, kok berenti disini? " Anggun tersentak ketika Devan berhenti di depan sebuah rumah sakit ternama di kota itu.
Devan turun dari mobilnya tergoloh gopoh. Setelahnya memutari dan membuka pintu penumpang.
"Cepat turun! " Ujarnya ketus.
Anggun lega, karena sepertinya dia salah paham lagi pada Devan. Untunglah, setidaknya Devan tidak memiliki jiwa psikopat seperti yang dia pikirkan tadi.
"Kita mau ngapain kesini? " Tanya Anggun seraya membuka seat beltnya.
"Jangan banyak tanya! Ayo cepat! " Sentak Devan galak.
Anggun bergegas keluar dari mobil. Dan ketika hendak melangkah, Devan sudah lebih dulu menarik pergelangan tangannya, membuat Anggun terkejut.
"Eh..... "
Devan menyeret Anggun dengan langkah lebarnya. Dan Anggun hanya bisa mengikuti kemana Devan menyeret tubuhnya.
"Devan, bisa lepasin tangan gue nggak sih? " Anggun meronta, mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Devan.
"Devan, kamu belum jawab kita mau ngapain kesini? " Anggun masih penasaran, dia baru saja lega karena Devan tidak jadi membunuhnya. Tapi sekarang perasaannya kembali tidak enak karena Devan mengajaknya ke rumah sakit. Apa jangan jangan Devan akan menjual organnya? Oh TIDAAAK....
Anggun semakin berontak karena pikiran negatif yang ada dikepalanya. Namun dia tidak bisa lepas karena kekuatan Devan jauh lebih besar darinya.
"Sudahlah, ikut saja. Setelah ini aku akan mengantarmu ke butik. " Balas Devan.
Apa katanya tadi? Setelah ini dia akan mengantar Anggun ke butik? Berarti Anggun tidak akan di bunuh kan, ya? Atau Anggun memang berpikir terlalu jauh?
Devan melepaskan cekalan tangannya ketika mereka berada di depan ruang inap VVIP di rumah sakit itu.
"Tunggu disini sebentar dan jangan kemana mana! " Titah Devan pada Anggun. Setelahnya Devan langsung bergegas masuk kedalam.
Anggun bernafas lega. Ternyata dugaannya salah lagi. Buktinya Devan masuk ke dalam ruang inap. Ah, mungkin Devan akan membesuk seseorang.
Anggun menghentakkan kakinya kesal, dia sudah duduk menunggu selama lima belas menit diluar. Namun Devan belum juga keluar dari dalam ruangan itu.
Kenapa Devan selalu bertindak sesukanya sih? Dan sekarang dia harus menunggu lelaki itu disini yang entah sampai kapan. Satu kata buat Devan...
MENYEBALKAN!!!
"Devan b******k! Ngapain dia nyuruh gue nungguin dia disini coba? Gue juga kan harus ke butik? " Anggun menatap jam di pergelangan tangannya. Dia sudah sangat terlambat ke butik. Jika tau begini, seharusnya dari tadi dia pergi saja. Dia kan bisa naik taksi? Anggun merutuki kebodohannya.
"Huh... Sebel sebel sebel..... " Anggun menggerutu sendiri. Bahkan beberapa orang yang melintas melihat kearahnya. Mungkin mereka mengira jika Anggun gila.
Cukup sudah, kesabaran Anggun sudah habis. Lantas, Anggun beranjak dari duduknya. Dia sudah memutuskan untuk naik taksi saja setelah ini. Namun suara handle pintu yang dibuka, membuat Anggun mengurungkan niatnya.
"Kalo begitu Devan pergi dulu ya. " Samar samar Anggun mendengar suara Devan tengah mengobrol dengan seseorang di dalam.
Pintu ruangan itu terbuka, membuat Anggun menoleh dengan cepat.
"Kok lama bang___" Anggun menggantung kalimatnya yang hendak mengomel ketika Devan keluar bersama seorang wanita.
Wanita itu menoleh sambil mengerutkan dahi ketika melihat keberadaan Anggun.
"Ini siapa Dev? " Tanya wanita itu menunjuk Anggun.
"Oh, ini temen Devan Ma. "
"Mama? Jadi ini Mamanya si es balok ini? Mamanya cantik banget, pantes aja si es balok juga gans banget. Ya elah, gue ngomong apa sih? " Anggun membatin, tertegun dengan sosok wanita yang Devan sebut Mama itu. Tubuhnya tinggi, kulit putih dan body nya yang terbilang aduhai untuk ukuran wanita yang mungkin seumuran dengannya, membuat Anggun tak percaya jika wanita itu memiliki anak yang sudah sebesar Devan. Terlihat masih sangat muda.
"Kenalin dulu dong sama Mama. " Pinta wanita itu.
"Kenalin, ini Mama aku. " Devan mengenalkan Mamanya pada Anggun.
"Anggun,tante... " Anggun mengulurkan jabatan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Saya Luna, Mamanya Devan. " Balas Luna.
Luna tertegun melihat sosok Anggun.
"Anggun cantik banget...., kok nggak ikut masuk kedalem sama Devan? "
Anggun melirik Devan sebentar, kemudian memanyunkan bibirnya.
"Devan nya nggak ngajak tante. Tadi aja sebelum kesini Anggun di ancem mau di buang kejurang sama dia. " Anggun mengadu seraya menunjuk Devan.
Luna terkekeh sambil menggeleng pelan. Ternyata Devan masih belum berubah. Sifatnya yang dingin dan sering mengancam ternyata berlaku untuk gadis cantik seperti Anggun. Devan keterlaluan!
"Aduh aduuuh..... Devan kok jahat banget? Masa anak cantik begini mau di buang ke jurang? "
"Tau tuh, anaknya memang jahat tante. " Sindir Anggun seraya menjulurkan lidahnya pada Devan. Dia puas karena sudah mengadukan sifat Devan pada Luna.
Devan melotot tajam, bisa bisanya Anggun mengadu pada Mamanya.
"Jangan bicara lagi. Sudahlah, lebih baik aku antar kamu ke butik sekarang! "
"Dari tadi kek? " Beo Anggun pelan.
"Kok cepet banget sih? Padahal kan tante masih mau ngobrol sama Anggun,Dev? "
"Lain kali aja deh Ma. Devan juga udah telat ke kantor nih. "
Devan bilang apa tadi? Lain kali? Ih, jangan sampai....
Anggun berharap tidak ada lain kali lagi jika itu menyangkut Devan.
"Ya udah kalo gitu, kamu hati hati ya. "
"Iya."
"Anggun pamit ya tante. " Anggun menyalami Luna.
"Iya, hati hati ya cantik. " Balas Luna ramah.
Devan dan Anggun sudah berjalan keluar.
"Nyokap lo cantik banget. " Ujar Anggun disela sela langkah mereka.
"Pasti donk. Kamu liat sendiri kalo aku juga sangat tampan. " Balas Devan sombong.
"Dih, muji diri sendiri. " Sindir Anggun seraya mencebik.
"Nyesel gue muji tadi. " Cicitnya pelan.
Mereka berdua sudah berada di parkiran. Devan masuk ke mobilnya di susul Anggun.
"Aku akan mengantarmu ke butik. " Ujar Devan seraya menyalakan mobilnya.
"Iya harus lah. Gue udah capek nungguin lo dari tadi. " Balas Anggun ketus.
"Bisa tidak, kalo bicara dengan aku itu sopan sedikit!? " Ujar Devan tidak suka dengan sikap Anggun yang selalu ceplas ceplos.
"Kayanya sih nggak bisa. " Balas Anggun santai.
"Kenapa tidak bisa? " Tanya Devan.
"Mau tau aja apa mau tau banget.....?? " Anggun justru membalasnya nyeleneh dan di balas pelototan mata oleh Devan.
"Iya karena lo nyebelin! " Balas Anggun judes.
"Bukankah seharusnya yang nyebelin itu kamu? "
"Mana ada cewek secantik dan murah senyum kaya gue gini lo bilang nyebelin? Emangnya gue lo!? Yang bisanya bersikap dingin dan datar, suka bertindak semaunya, sering ngatain orang! Paket lengkap banget deh pokoknya sifat buruk lo. "
"Jadi menurutmu sifat burukku terlalu banyak? "
"Tuh tau! "
"Lalu bagaimana denganmu? Apa menurutmu sifat bar bar yang sudah mendarah daging itu bukanlah suatu sifat buruk? " Balas Devan menyindir.
Anggun lantas mendelik.
"Si-siapa bilang gue bar bar? Gue nggak bar bar kok. Gue itu tipe cewek yang tegas dan nggak suka menye menye, bukan bar bar! " Bantah Anggun tak terima dengan tuduhan Devan yang menyebutnya dengan cewek bar bar.
"Oh ya? "
"Iya lah! " Salak Anggun tegas.
Devan tersenyum miring.
"Apa seorang gadis yang tegas akan mencium lelaki yang tidak dikenali nya hanya gara gara ingin memanasi mantan pacarnya? " Devan menekankan kata 'mantan' pada kalimatnya seakan menyindir Anggun yang dia tebak belum bisa move on dari Dion_ mantan pacar Anggun.
Anggun lantas membelalak, tak suka nama mantannya disebut sebut. Dia heran, darimana Devan bisa tau kalo Anggun sebenarnya mencium dirinya malam itu hanya karena inggin memanasi Dion?
Sial!
"Jangan inget masalah malam itu lagi kenapa sih? Perasaan lo selalu ngebahas itu deh? Nggak bosen apa? " Anggun mencebik seraya melipat tangan didada.
" Lagian, gue juga kan' udah minta maaf sama lo? Baperan banget sih! "
"Baperan? Kamu ngatain aku baperan? " Cibir Devan tak terima.
"Apa kamu tau, kalo sesuatu yang kamu lakuin itu adalah hal yang menjijikkan? Apa yang akan terjadi jika seandainya lelaki itu bukan aku? Bisa saja kan, orang akan memanfaatkan kesempatan itu dan justru membahayakan dirimu? "
"Dan bagaimanapun kamu mengelak, orang pasti akan berfikir jika kamu adalah seorang w************n! "
Anggun menunduk, melihat jari jarinya yang meremas rok yang dia kenakan.
"Iya iya, gue ngaku salah. Maafin gue. " Ujarnya lirih penuh sesal. Dia benar benar tidak bisa menyangkal jika ucapan Devan kali ini memang benar.
Devan menghela nafas panjang.
"Aku harap kamu jangan melakukan kesalahan yang sama lagi. " Ujar Devan seraya fokus menyetir.
Anggun menoleh cepat, senyumnya berkembang.
"Ciyeee.... Kok lo jadi perhatian sama gue. Jangan jangan naksir sama gue ya....? " Tuduh Anggun menunjuk Devan. Sengaja untuk merubah topik agar Devan tak membahas masalah malam itu lagi.
"Jangan mimpi! " Sarkas Devan.
"Sudah sampai, cepat turun! " Titah Devan ketika mobilnya sudah berada di depan butik Anggun.
Anggun bernafas lega. Akhirnya bisa sampai tujuan. Dia benar benar sudah malas jika terus bersama Devan.
"Makasi ya Devan. " Ujar Anggun tersenyum paksa.
"Hmmm.... " Jawab si es balok dingin.