PACAR???

1298 Kata
" Lo! " Pekik Anggun terkejut mendapati Devan tengah duduk di sofa ruang tamunya. "Ngapain lo bertamu kerumah gue pagi pagi? Jangan bilang lo mau ngajakin gue ribut? Atau mau ngambil jas lo yang kemarin? Oke, tungguin gue ambilin bentar. " Cecar Anggun mengomel tanpa memberi waktu pada Devan untuk menjawab. Dia hendak melangkah untuk mengambil jas milik Devan yang memang sudah di cuci dan disetrika oleh mbok Imah subuh tadi. "Apa begini cara kamu menyambut orang bertamu? " Balas Devan menyindir membuat Anggun mengurungkan langkahnya lalu berbalik. Amel yang menyaksikan perdebatan Anggun dan Devan menjadi kikuk dan bingung sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? "Itu...anu, temen gue ini kalo pagi pagi dan belum sarapan dan minum obat emang gini. Jadi harap maklum aja. " Celetuk Amel mencoba mencairkan suasana yang terasa tegang. Anggun langsung melotot pada Amel. "Apaan lo? Lo mau ngatain gue gila karena lupa minum obat penenang? Iya? " Salak Anggun kesal. Bisa bisanya Amel mengatainya di depan Devan. Bagaimana jika Devan percaya dan menganggap dirinya benar benar gila. Huh, Amel belum tau saja betapa menjengkelkan nya Devan. "Bukan gila Gun, tapi darah tinggi. Makanya nanti sarapannya pake jus mentimun aja ya. " Balas Amel tanpa dosa dan justru menyarankan Anggun untuk meminum jus yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya yang sama sekali tidak mempunyai riwayat penyakit darah tinggi. "Lo ngatain gue lagi,gue usir lo! " Ancam Anggun mulai geram. Kedua anak manusia ini jika disatukan mungkin bisa membuat orang yang sekarat menjadi benar benar kehabisan nyawa karena tingkah mereka. " Tuh kan gue sampe lupa. Tunggu bentar gue ambilin jas lo. " Lanjut Anggun ketika mengingat tadi dia hendak ke kamarnya untuk mengambil jas Devan. "Aku kesini bukan untuk mengambil jas ku. " Celetuk Devan lagi. Anggun mengernyit bingung. "Kalo bukan mau ngambil jas lo, terus mau ngapain lagi? " Tanyanya menyelidik, sepertinya dia melupakan jika barangnya tertinggal di mobil Devan semalam. "Aku hanya ingin mengembalikan hapemu saja. " Devan mengeluarkan ponsel Anggun dari saku jas yang dikenakannya "Ini!" Menyodorkan nya langsung pada Anggun. Anggun langsung mendekat dan mengambil hapenya dari tangan Devan. "Aaah hape gue.... " Pekiknya girang seraya memeluk hapenya layaknya anak kecil yang baru saja diberi hadiah. Dia benar benar tidak mengira jika Devan bertamu pagi pagi hanya untuk sekedar mengembalikan hapenya. "Maaf kemarin tidak sengaja terbawa olehku. " Tambah Devan. Anggun menggeser kasar pinggul Amel lalu duduk disebelah sahabatnya itu. "Mmm... kali ini gue maafin. " Balas Anggun terpaksa. "Lalu....? " Ujar Devan mengharap Anggun akan mengucapkan sesuatu yang biasa di lakukan seseorang jika sudah di tolong. "Apalagi? " Tanya Anggun bingung dengan dahi berkerut. Amel yang lebih peka dan mengerti makna yang tersirat dari ucapan Devan tadi lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Anggun. "Bilang makasih, bego! " Bisik Amel geram karena Anggun tidak peka. Anggun mangut mangut. "Oh... ya. Terimakasih ya tuan Devan. " Balas Anggun terpaksa. " Apa dia harus selalu diingatkan hanya untuk mengucapkan dua kata itu? " Batin Devan. "Sama sama.... " Balas Devan. "Ini non minumnya. " Mbok Imah datang membawa nampan yang berisikan tiga cangkir teh hangat dan stoples cookies. "Taruh situ aja mbok. " Ujar Anggun menunjuk meja dengan dagunya. Mbok Imah pun menyuguhkannya diatas meja. "Makasi ya mbok. " Balas Anggun setelah mbok Imah selesai dengan tugasnya. "Diminum dulu tehnya, nanti kalo kelamaan takutnya dingin. " Ujar Amel sambil tersenyum pada Devan sok akrab. Karena baginya, teman Anggun ya temannya juga walaupun mereka belum berkenalan. "Dingin kaya sifat dia... " Beo Anggun menyindir sebelum menyesap tehnya. Masa bodo jika Devan mendengarnya atau tidak. Namun Amel langsung menyikut Anggun. Menasehati agar Anggun bisa mengontrol mulutnya yang selalu berkata pedas itu di depan Devan. Kan sayang, jika Devan jadi ilfeel jika tau sifat Anggun yang sesungguhnya. Amel hanya belum tau saja jika Devan tau lebih jauh sifat bahkan kebiasaan buruk Anggun sekalipun. Amel curi curi pandang pada Devan. Dia terpesona, Devan jika di perhatikan tak kalah tampan dari idolanya. Dia tak menyangka jika lelaki tampan di depannya itu ternyata adalah salah satu teman Anggun. Kenapa Anggun tidak pernah cerita sebelumnya? Dan berbagai pertanyaan pun hinggap dikepalanya saat ini. Siapa sebenarnya Devan? Dan kenapa bisa ponsel Anggun bisa ada padanya? Kenapa Anggun tak pernah cerita padanya? Amel akan segera mencerca Anggun dengan segudang pertanyaan yang bersarang di kepalanya itu nantinya, dia harus mengorek semua informasi yang tidak diketahuinya. Jiwa wartawan Amel meronta ronta. "Non, sarapannya udah mbok siapain diatas meja. Non Anggun mau sarapan sekarang? " "Nanti aja deh mbok. " Tolak Anggun sopan. "Ya udah, mbok tinggal dulu kalo gitu. " Mbok Imah pun segera berlalu pergi. Devan meletakkan cangkir setelah menyesap tehnya. " Sabaiknya aku pulang. Dan kamu lebih baik sarapan saja. " Ujar Devan karena merasa tak enak jika Anggun harus melewatkan sarapannya gara gara kehadirannya. "Eh, kok cepet ba___" Anggun langsung membekap mulut Amel yang hendak mengajukan berkomentar. "Oh Oke, lo hati hati di jalan. " Balas Anggun dengan tangan masih membekap mulut Amel. Dia tidak ingin Amel jadi banyak omong dan membuat Devan tinggal lebih lama disini. Dia sudah malas berurusan dengan es balok itu. Devan mengangguk, dia hendak bangkit dari sofa. Namun suara salam dari seseorang membuat mereka fokus pada suara itu. "Asaalamualaikum..... Anggun..... Mama pulang....! " Seru Ririn_Mamanya Anggun seraya melangkah masuk melenggak lenggok layaknya model catwalk. "Mama... " Anggun bangkit dan langsung berhambur memeluk Mamanya. "Uh...anak Mama yang cantik.... Pasti baru bangun ya? " Ririn mengelus surai panjang Anggun. Dia sudah hafal dengan kebiasaan Anggun yang masih sering bangun kesiangan. "Iya Ma.. " Balas Anggun kemudian mengurai pelukannya dengan Ririn. "Eh, ada Amel juga ternyata. " Ujar Ririn ketika menyadari keberadaan Amel yang juga tengah duduk disana. Amel tersenyum kemudian ikut beranjak. "Pagi tante.... " Balas Amel lalu mencium tangan Ririn. Semua teman teman Anggun sangat akrab dengan Ririn, sehingga mereka tidak merasa sungkan jika berkunjung kerumah Anggun terlebih dengan Ririn. " Pagi juga sayang. " "Eh, ini siapa? " Ririn bertanya ketika pandangannya beralih pada Devan yang terabaikan karena drama kangen kangenannya dengan Anggun tadi. Sedangkan Devan mengeluarkan senyum tipisnya yang mebuat siapa saja bisa mimisan saat Ririn menatapnya. Ririn langsung menghampiri Devan dan duduk di sisi sofa yang kosong sebelah Devan. "Aduuuh.... ganteng banget....!! Pasti cowok baru kamu ya Gun? " Ririn berseru heboh, ucapannya membuat Amel tersedak. Sedangkan Anggun dan Devan hanya membelalak terkejut. "Buk___" Anggun ingin berkomentar, namun Ririn tak menghiraukannya. "Hay ganteng, pagi pagi udah bertamu. Pasti kamu sana Anggun baru jadian 'kan? " Mulai lagi kan? Apa mungkin sifat bar bar Anggun ini turunan dari Ririn? Devan menjadi kikuk sendiri. Namun dia merasa tidak enak jika buru buru mengatakan jika dirinya hanya sebatas teman dengan Anggun. Eh, tapi apa bisa juga dia mengaku jika mereka berteman? Mereka kan baru saja kenal beberapa malam. Bahkan mereka juga belum berkenalan. Tapi kan setidaknya mereka sudah mengetahui nama masing masing? Ah, anggap sajalah mereka berteman. "Eh, kenalan dulu dong. " Ririn menyodorkan tangannya. "Nama tante Ririn. " Ucapnya. "Saya Devan tante. " Balas Devan seraya menyambut jabatan tangan Ririn. "Uuuh....namanya sekeren orangnya. " Ririn merasa senang. Dia yakin jika Devan adalah pacar baru Anggun. Karena Anggun jarang sekali kedatangan tamu laki laki jika itu bukan tambatan hatinya. Dan melihat kehadiran Devan di sampingnya saat ini membuatnya gembira. "Anggun, kamu pinter banget cari pacar. " Puji Ririn sambil terus memperhatikan wajah tampan Devan. Anggun sudah memijit pelipisnya, jika sudah begini dia tidak punya kesempatan lagi untuk menyangkal. Karena dia tau cita cita terbesar Mamanya adalah memiliki menantu yang tampan nan berwibawa seperti Devan. Uh... Anggun sangat kesal sekali. Kenapa Mamanya harus pulang disaat ada Devan sih? Jika begini Anggun pasti akan malu sendiri pada Devan. Sedangkan Amel yang sibuk memakan cookies hanya bisa terkikik pelan melihat Devan yang sudah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan wajah kebingungan. Ririn dan Anggun jika disatukan memang seperti ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN