BAB 7 SESUATU TENTANGMU

1744 Kata
Di ruang kerja Kapten Ivan Skivanov, pemuda itu hanya duduk menyilangkan sepasang kaki jenjangnya. Siku bertumpu pada lengan kursi dan tangannya menyangga salah satu sisi dahi, sementara pandangannya tertuju pada ujung sepatunya yang hitam mengkilat. Pikirannya masih tertambat pada sosok misterius wanita dalam mimpinya sehingga tak menyimak satupun kata-kata Kapten Ivan Skivanov. Ketika wajah sang kapten terangkat, ia langsung menyadari bahwa ucapannya selama tiga menit terakhir tidak ada gunanya. Ternyata Dante sedang larut dalam ‘dunia lain’ yang entah di mana. “Kalau kau sedang tidak ada di sini, sebaiknya kau pergi. Kita bisa bicara lain kali.” Tiada nada kecewa namun agak heran. Dante tipikal orang yang tak mengizinkan pikirannya melayang tak tentu arah. Mengapa tiba-tiba raut mukanya seperti anak kecil yang kehilangan mainan? Dahi Kapten Skivanov berkerut setelah selang beberapa detik kemudian Dante tak juga bereaksi. “Dante!” tegurnya lebih keras. Sepasang bola mata hitam kecoklatan itu baru terarah padanya. “Hm, ada yang kulewatkan?” tanya Dante tanpa rasa bersalah. “Ya, konsentrasimu. Aku bilang, pulanglah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Aku tidak mau bicara dengan patung.” tegas Kapten Skivanov sambil menggerakkan tangannya meminta sesuatu dari Dante. “Gelang komunikasimu.” Dante menghembuskan napas panjang sebelum melepas benda itu dari pergelangan tangan lalu menyerahkan pada pria yang duduk di seberang meja tak jauh dari dirinya. “Tidakkah kau peduli pada penataan ruang kerjamu? Tempat ini lebih buruk dari penjara.” komentarnya sinis tanpa bermaksud menyinggung. Kapten Skivanov hanya tersenyum dengan satu ujung bibirnya. “Tiba-tiba kau peduli soal itu? Kami para kapten hidup dengan sumpah dan hidup nyaman sepertimu bukan salah satunya. Lagi pula ruang kerja ini bukan untukku. Tempat ini dirancang khusus untuk melindungi pejabat, politisi, para tamu kehormatan atau utusan Dewan Bumi jika ada situasi darurat. Tiap lapisan dinding yang kaupikir adalah penjara, sesungguhnya benteng terkuat di Saturn Gallant.” terang kapten tanpa dusta. Ia sibuk melakukan sesuatu pada gelang komunikasi milik Carlo Dante. “Nah, sudah. Pakai lagi.” perintahnya. “Hidup ini kejam dan tak adil. Kau yang melindungi mereka, kau pula yang berkorban nyawa. Adakah yang tersisa darimu bila perang benar-benar terjadi? Biar kutebak, ehm … serpihan tubuh? Atau lencana kebanggaan yang melayang-layang di luar angkasa?” “Lucu sekali.” “Tidak ada yang lucu, Capt. Aku serius. Hidupku juga jauh dari kata nyaman, tapi setidaknya dengan musik aku bisa bertahan. Saat melihat orang-orang yang tak kukenal menikmati musikku dan melupakan sejenak masalah, aku merasa senang. Itu saja.” Selesai mengenakan gelang komunikasi, Dante kembali duduk santai, terlibat debat kecil yang mungkin bisa berguna melunakkan kekakuan sikap sang kapten. “Bagaimana bila kau habiskan beberapa menit menjelang tengah malam di klub? Kami para kru dengan senang hati menyambutmu. Datanglah dengan busana kasual, lupakan sejenak masalah senjata dan perang. Aku cuma minta beberapa menit, tak banyak. Bila bosan kau boleh pergi.” “Kau minta kapten kapal bersenang-senang? Dalam sejarah tidak ada yang melakukan itu. Tanggung jawabku sangat berat, lengah sedikit bisa fatal akibatnya. Contohnya kau berhasil mencuri ionos tanpa pernah kuduga sebelumnya. Apa rencanamu, Dante? Ionos sebesar itu mampu meledakkan tiga kapal induk sekaligus!” “Lalu kenapa ionos milikmu banyak sekali? Untunglah materi ionos termasuk paling stabil, hanya bereaksi jika dikombinasikan dengan pemicu yang tepat.” “Saturn Gallant memang dibuat untuk menyimpan ionos untuk sementara, karenanya beberapa tempat tertentu berdinding kokoh sehingga mampu menahan impak ledakan besar, dan tak lama lagi Central akan memindahkannya ke suatu tempat. Sebab itu aku membiarkanmu membawa salah satunya. Aku percaya, kau lebih baik dari sekadar pencuri. Namun, andai aku tahu kau berniat menyembunyikan sesuatu dariku, aku tidak akan ragu lagi pada keputusanku.” Datar, tapi sarat ancaman halus. Kapten Skivanov tak pernah main-main bila menyangkut tugas dan keselamatan kapal induk Saturn Gallant. “Ya, tentu. Kau boleh membunuhku kapan saja. Tapi malam nanti aku ingin kau datang di klub. Kutraktir minum, mengingat kau berbaik hati mempercayai tindakanku. Bagaimana?” Dante tak membiarkan keraguan terus menciptakan dinding penghalang di antara mereka. “Kita lihat saja nanti. Pastikan kau main bagus!” Keluar dari ruang kerja Kapten Ivan Skivanov, Carlo Dante merasa sangat lega. Pria itu sama sekali tak menanyakan perihal buyarnya konsentrasinya. Tiada seorang pun yang akan percaya apa yang telah terjadi padanya. Mereka akan menganggapnya gila! Bagaimana mungkin mimpi yang sama terus menghantui dirinya? Bahkan ternyata sosok wanita itu nyata dan mampu melakukan apapun padanya. Tidak boleh seorang pun menganggap dirinya lemah hanya karena kehadiran seorang wanita yang belum jelas identitasnya. Wanita bernama Eyn Mayra yang berhasil membuatnya cemas untuk sekadar menutup mata. Siapa dia sesungguhnya? “Shiva, masuklah ke data penduduk bumi. Aku tak peduli berapa lama kau mengaksesnya. Cari tahu siapa Eyn Mayra.” perintah Dante pada program virtualnya begitu memasuki kamar pribadinya. “Sekarang akses siap kapanpun kau membutuhkannya. Aku berhasil meretas sistem pusat data Dewan Bumi walau tidak bisa lama-lama setiap kali kita mengaksesnya. Tampaknya wanita itu sangat penting bagimu.” “Dia bertanggung jawab karena telah mengusik jam tidurku. Setiap kali terlelap, aku seperti masuk ke dalam dunianya. Dunia yang aneh. Tidak terjamah teknologi, namun punya sesuatu yang berbeda. Sebuah kekuatan …. ” Dante teringat. Mimpi terakhir membuatnya bangun dalam kelelahan yang luar biasa. Tak mampu mengingatnya secara jelas, hanya ada kehangatan yang merasuk ke dalam tubuhnya. Tak lama, Shiva sudah mengungkap jati diri Eyn Mayra. “Tidak terdata sebagai warga bumi, tapi ada dalam data warga istimewa Dewan Bumi. Tahukah kau apa artinya?” “Kalangan bangsawan? Atau … apa?” “Kerajaannya dianggap tidak ada dan tidak seorang pun manusia modern yang bebas keluar masuk. Dante, Eyn Mayra adalah seorang putri. Kau harus sadar sedang berurusan dengan siapa.” Dante membaca data lengkap Eyn Mayra yang tertera di layar virtual. Wajah cantik itu juga terpampang di sana. Tanpa sadar telapak tangan Dante menyentuh permukaan layar yang menampilkan wajah sang putri seraya berusaha mengingat. “Ya, Shiva. Kau benar, aku harus sadar sedang berurusan dengan siapa. Apa yang dia inginkan? Apa yang kau inginkan?” gumamnya, seolah ada Eyn Mayra di depannya. “Untuk menjawab itu, kau hanya harus tidur. Dia akan datang lagi.” “Tidak, aku ingin lebih dari itu. Jika dia pernah datang ke klub, maka dia pasti bisa melakukannya lagi.” “Lalu, apa rencanamu?” Berpikir sesaat, mematangkan rencananya. “Hm, akan kubawa Sang  Putri ke tengah pesta. Pastikan kau mengaktifkan mode kejut, lakukan itu bila aku mulai kehilangan kesadaran.” Malamnya, Carlo Dante bersiap. Jaket ber-stripe merah menyala dan sarung tangan hitam kembali melengkapi penampilannya. Ia hendak menuju panggung ketika tangan Ray mencegahnya. “Tunggu, Space DJ! Kau yakin tak ada yang mengganggumu malam ini? Jika terulang lagi bahkan lebih buruk, kau bisa kena sanksi Space DJ Legacy karena meninggalkan tugas.” tegur Ray serius. Ia harus memastikan anak buahnya itu tampil prima seperti keinginannya. “Tentu, aku siap.” jawab Dante singkat. Ray mempelajari kesungguhan di mata Dante dan ia pun yakin dengan keputusannya. “Baiklah, cepat naik!” Sampai di atas panggung kebesaran dan memakai headphone-nya, Space DJ Carlo Dante langsung berinteraksi dengan para clubbers. MC melengkapi pertunjukan itu, memberi semangat pada kerumunan penonton. “Space DJ Carlo Dante is in the house! Come and get the feeling inside. Here we go, first song for you, ATLENTICO!” Gemuruh Atlentico menyambar, membangkitkan perasaan siapapun yang semula suntuk, tak b*******h. Kolaborasi Dante dan MC memang kompak, dari semula beat pelan hingga dipercepat saat refrain, terbukti clubbers semakin aktif menggerakkan badan atau bahkan berjingkrak mengikuti irama. “Okay, guys! How’s your feeling tonight?! Now let’s GO UP AND DOWN!” Lagu kedua. Suasana semakin meriah dan larut dalam permainan tempo dan up beat yang cepat namun dapat dinikmati siapapun. Ada kalanya pada nada tertentu, Dante menggantinya dengan scratching lalu mengkombinasikan perlahan. Bagaimanapun lagu bertempo sedang dan sedikit pelan tetap dibutuhkan untuk mengimbangi pertunjukan. Bagian dari Space DJ skill yang tak semua DJ mampu melakukannya. Bahkan bila dituntut membuat nada baru, seorang Space DJ harus siap saat itu juga. Tengah sibuk, Dante merasakan udara mulai berubah. Semua gerakan melambat, tak lagi didengarnya suara musik maupun gegap gempita para clubbers di sana. Waktu seolah berhenti. Saraf kesadarannya mengendur dan … sebuah hentakan kejut yang berasal dari microchip di kepalanya menyadarkannya kembali, berusaha tetap stabil pada aktivitasnya saat ini. Ia tidak boleh lengah! Tentu saja, peristiwa itu bukan tanpa sebab. Eyn Mayra telah melakukan hal yang sama! Dia menunggu dalam balutan gaun hitam dengan sedikit perhiasan, berdiri tepat di samping meja bar seperti saat itu. Namun kali ini tak ada yang bisa mengajaknya bicara. Shawn dibuat seperti tak melihat kehadirannya! Beberapa menit upayanya ‘memanggil’ Dante melalui telepati tak membuahkan hasil. Berdiri keheranan, ia mengamati sosok Dante yang terus sibuk pada pekerjaannya di belakang empat desk DJ mixset. Ia tak bisa menunggu lagi. Ia harus pergi. Ketika membalikkan badan, Eyn Mayra terkejut. Jantungnya seakan terhenti lalu berdetak lebih cepat setelah menyadari siapa yang berdiri di belakangnya, menangkap bahunya. Dante! Mulutnya terkunci, ia tak sanggup bicara juga tak ingin berteriak. Tatapan mata dan senyum menawan pemuda itu membiusnya hingga menurut saja tatkala tangan Dante menggandengnya ke lantai dansa, bergabung dengan para clubbers di sana. “Tenang saja. Lagu ini untukmu,” bisik Dante di telinga Eyn Mayra. Musik yang semula bertempo cepat, perlahan mereda dan mengalirlah musik romantis bertempo sedang. Lirik yang dinyanyikan vokalis di dalamnya cukup membawa Eyn Mayra terlena dalam dunia Carlo Dante yang selama ini hanya ada dalam mimpinya. “Apa yang … ?” “Terjadi? Pertanyaan itu cukup membuatku gila beberapa hari ini. Kini giliranku, Tuan Putri. Akan kubuat dirimu merasakan gelisah yang sama. Bagaimana rasanya dipermainkan oleh seseorang tak dikenal namun membuatmu bergairah.” “Tapi, bukan maksudku …. ” Terlambat! Tangan Dante sudah melingkar di pinggang Eyn Mayra tanpa bisa ditolaknya, sementara tangan yang lain telah menguasai wajah dan lehernya. Dunia di sekitar mereka melambat dan tak seorang pun yang memperhatikan mereka seolah keduanya tak pernah berada di situ. Hal ini disebabkan kekuatan Eyn Mayra yang mampu menutupi keberadaannya dan Dante. Walau demikian, Eyn Mayra tak ingin menggunakan kekuatannya untuk menyakiti Dante. Saat keadaannya terdesak, bingung antara menerima gairah Dante yang siap menikmati bibirnya atau melarikan diri, ia memilih melepaskan diri, menghilang melalui teleportasi, meninggalkan Dante yang kini berdiri di tengah kerumunan clubbers yang belum menyadari kehadirannya. Dengan tenang, Dante memakai tudung kepala dari jaketnya, berjalan menuju pintu keluar. Sambil berjalan, ia menghubungi seseorang melalui gelang komunikasinya. “Terima kasih, Cain. Matikan sosok virtualku setelah semua selesai.”   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN