BAB 8 TERBELENGGU RASA

2059 Kata
Dante menuruni tangga, berputar menuju koridor yang lain, tahu pasti ke mana harus mencari gadis misterius yang tadi meninggalkannya di tengah pesta. Baginya, masalah ini harus selesai malam ini juga, atau akan terus membayanginya seumur hidupnya. Hanya satu tempat di mana seseorang bisa memandang bintang-bintang, jika yang dimaksud Eyn Mayra adalah Sky Dome. Di fasilitas itu, pengunjung dapat menikmati pemandangan malam seperti di bumi, atau dari manapun yang mereka inginkan. Dan kebetulan, tempat ini masih tutup sehingga leluasa bagi Dante untuk bicara dengan putri kerajaan Eyn itu, tentu saja dengan menggunakan kartu akses tanpa batas yang diberikan oleh Kapten Ivan Skivanov. Di dalam kubah, ia tak melihat siapapun, kecuali …. “Kau bertanya, ke mana aku membawamu pergi malam itu?” Eyn Mayra tersenyum sambil menatap bintang melalui kaca kubah. Lanjutnya, “Sekarang kau tahu. Bahkan aku tak perlu memberitahumu.” ucapnya lirih. “Dan, kira-kira … apa yang kita lakukan saat itu? Benarkah aku hanya menemanimu, duduk menatap bintang seperti patung? Apa menariknya? Kau tinggal bilang dan aku akan datang.” Dante mendekat, berdiri di belakang Eyn Mayra sehingga bisa diciumnya aroma tubuh wanita itu. “Tidak, bukan ini yang kuinginkan.” tolak Eyn Mayra halus. Ia berniat mundur namun tubuh Dante menghalanginya. “Kau tidak bisa pergi, sebelum menjelaskan padaku tentang dirimu dan keinginanmu. Terus terang, kehadiranmu … menggangguku.” Eyn Mayra semakin salah tingkah. Ia memang merindukan saat-saat seperti ini setelah sekian lama mengekang perasaannya, tetapi ia masih mengira Dante hanya mengujinya. Ia tak mau Dante menganggapnya rendah. “Tidak, dengarkan aku. Kau, terlahir untuk berkorban demi dunia, Tuan Dante.” Jari telunjuknya menekan halus ke d**a pemuda yang sudah demikian dekat dengannya itu. “Untuk itulah aku datang, memperingatkanmu. Menyerahkan sebagian kekuatanku yang menjadi bagian dari takdirmu.” “Menyerahkan apa? Kekuatanmu?” Dante tertawa. “Aku tidak membutuhkan apapun darimu. Apapun yang sudah kau berikan padaku, hm, apa namanya?” “Roh pedang Zeal.” “Zeal ini … silakan cabut kembali. Ambillah! Aku berhasil bertahan hidup selama ini dan tidak pernah mengharap bantuan dari siapapun, termasuk darimu, putri kerajaan yang ‘bermain’ terlalu jauh. Kusarankan kau segera pulang, atau siap disantap oleh ‘buaya’ sepertiku. Kecuali jika kau memang menginginkannya, akan kuanggap itu sebagai pengecualian.” Untuk kesekian kali Eyn Mayra menghalangi pelukan Dante. “Kau pikir aku tak tahu muslihatmu? Dalam sejarah hidupmu, tak sekalipun kau mengkhianatiku. Tidak seorang pun wanita dalam hidupmu kecuali ibu angkatmu. Jadi mana mungkin aku percaya kata-katamu? Kau lelaki baik, Dante. Jangan buat aku tertawa dengan segala rayuan gagalmu.” Sejenak kemudian mereka hanya mematung, Eyn Mayra tak sanggup lagi membalas tatapan pemuda itu. Ia takut, bila kalimat tantangannya dijawab Dante dengan kegilaan, bagaimanapun Dante adalah pria biasa yang sanggup melakukan apa saja jika dibutakan hawa nafsu. Apabila sudah begitu, Dante otomatis gugur dari kewajibannya sebagai seorang kesatria yang diharapkannya. Dengan demikian sia-sialah perjalanan panjang menantikan kehadirannya. Dante tersadar dari lamunan bahwa gadis itu sedang menunggu, lalu memutuskan mundur beberapa langkah. “Begini akan membuatmu nyaman. Maaf, kau benar, aku hanya mengujimu. Aku menghormati semua wanita, jadi mana mungkin mempermainkanmu. Bagaimanapun aku harus tahu apa maksudmu. Kehadiranmu tidak mudah bagiku.” Eyn Mayra bernafas lega, sekaligus penasaran. “Tidak mudah?” tanyanya ingin tahu. “Ya, kau cantik, dan berbeda. Caramu bicara, seolah kau putus asa. Entahlah, rasanya kita memang pernah bertemu? Bagaimana kau tahu tentang ibu angkatku? Sampai sekarang aku belum berhasil mengingatmu, tapi yang jelas, sesuatu membelenggu hatiku.” Eyn Mayra menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang tersipu. “Memang butuh waktu, tapi kau akan tahu. Tak perlu mencemaskan hal itu. Saat ini, aku hanya ingin duduk di sini … bersamamu.” ungkapnya setengah bimbang. Dante mengulurkan tangan, disambut Eyn Mayra dengan senyuman. “Tak apa duduk di lantai dingin ini, Yang Mulia?” Andai Dante tahu betapa hangat dunianya bila sedang bersamanya. Walau perasaan itu belum terungkap, biarlah waktu yang akan menjawab. Selama apapun, takkan letih ia menunggu.   ****   “Jadi, bagaimana kencanmu?” tanya seseorang berjaket tebal, bertopi khas militer guna menutupi wajahnya, menghentikan langkah Dante untuk pulang. Dante sangat mengenali suara tersebut dan teringat sesuatu. “Kapten, Anda datang! Bagaimana bisa aku melupakan janji untuk mentraktirmu minum? Ayo, kuperkenalkan pada kru. Aku bisa pulang nanti.” “Tidak, waktuku tak banyak.” Pria itu menghela nafas. “Kini aku tahu mengapa kau sering melamun. Memang bukan urusanku tapi jika hal itu mengganggu tugasmu …. ”             “Yah, tak perlu sungkan menasihatiku, Capt. Aku tahu apa yang harus kulakukan, apalagi soal wanita.”             Kapten Skivanov menarik pundak Dante agar tidak membelakanginya. “Dengar, kau tak tahu siapa gadis yang bersamamu. Jangan pernah berhubungan dengannya lagi. Dunia kita dan dunianya sangat jauh berbeda!”             “Maksudmu, duniamu? Kapten, aku pernah masuk ke dunia manapun. Lagi pula setelah kau menyadap gelang komunikasiku, kurasa tak ada yang perlu kukhawatirkan. Selamat malam!”             “Dia salah seorang dari Eyn Bersaudara! Tinggal di sebuah kerajaan yang sengaja dihapus letaknya dari peta bumi dan tak seorang pun yang pernah ke sana. Hidup mereka penuh dengan kekuatan aneh yang sulit diterima akal sehat! Seharusnya kau lebih waspada, bukan terpesona oleh wajah cantiknya. Apapun yang dikatakan sang putri, semuanya dusta!” Kalimat Kapten Ivan Skivanov mencegah langkah Dante.             “Menarik,” ujar Dante tanpa menoleh sedikitpun. “Mungkin sudah saatnya kau berhenti memercayai apapun yang dikatakan Dewan Bumi. Jika kalian tidak menyukainya, mungkin aku akan bersikap sebaliknya.”             “Selesaikan saja sistem persenjataan Saturn Gallant sesuai kesepakatan kita. Ingat, jika ada yang menghambat kerjamu, itu juga menjadi urusanku.”             Dante menjauh. Sampai kapan Kapten Skivanov mengancamnya? Setelah purwarupa itu selesai, akankah ada tugas lain yang akan dibebankan ke pundaknya? Rasanya begitu. Ia adalah aset. Seseorang yang dianggap aset merupakan b***k, terus diperas hingga mati. Menyedihkan, namun ia sudah bertekad. Selama Saturn Gallant masih bisa menjadi rumahnya dan menjadi diri sendiri, ia akan berusaha tak mengeluhkan apapun.             Sampai di ‘rumah’, Shiva langsung mengabarkan status ionos dalam Dual Exchanger. “Kondisinya stabil. Dengan kata lain, tugasmu selesai secara tidak resmi. Andai Kapten Skivanov mengetahui ini …. “             “Dia pasti murka. Dipermainkan dua kali. Siapapun takkan terima, aku maklum.” kata Dante sembari meletakkan tas punggungnya ke atas tempat tidur. “Mulai besok, Dual Exchanger akan sering kubawa. Derajat panasnya harus netral dalam ruangan dan situasi yang berbeda. Senjata rakitan memang merepotkan!”             “Bersihkan dirimu, Space DJ. Aku mendeteksi peningkatan hormon yang tak biasa dan itu memengaruhi aroma badanmu.”             “Disebut feromon, Shiva. Aku bertemu dengannya. Kami … bicara, empat mata.” jelas Dante, masuk ke kamar mandi, sementara Shiva terus berceloteh menasihatinya. Dante tertawa dalam kucuran air, “Aku pasti berhati-hati, tapi, bersamanya … rasanya aku justru butuh pengendalian diri. Sesuatu dalam dirinya, membuat hatiku teduh, sekaligus … hampa.”             “Kau … jatuh cinta?”             Mendengar itu, Dante mengangkat kepala, memutuskan menyelesaikan mandinya lebih cepat. Ketika pintu kamar mandi terbuka, Shiva menatapnya penuh arti, menuntut sebuah jawaban. Diambilnya handuk kecil lalu mengeringkan rambutnya yang basah. “Bila aku menemukan seseorang, apa pendapatmu?”             “Tidak ada. Aku hanya mengalkulasi  risiko yang mungkin terjadi bila kau bersamanya. Itu saja.”             “Kau khawatir aku akan menonaktifkanmu? Jika iya, maka hal itu tidak beralasan. Kita sudah bersama sejak lama. Aku tidak akan menggantimu dengan program yang lain. Hm, Shiva?”             “Ya?”             “Menurutmu, akankah risikonya terlalu besar? Mengapa semua orang mencemaskan kehadiran Eyn Mayra?”             “Menurutmu? Kau baru tahu bila pergi ke sana dan mengenal keluarganya. Banyak alasan mengapa Dewan Bumi mencatat hal-hal buruk tentang mereka.”             “Ke sana?”             “Kerajaan Eyn. Mungkin itulah yang terlihat dalam mimpimu.”             Dante selesai mengenakan kaos dan celana longgar putih. Sama sekali tak berminat melanjutkan percakapannya. “Aku mau tidur. Akan kubiarkan dia menemuiku dalam mimpi kali ini.”                 Dan, tak ada yang terjadi. Dante berharap terlalu banyak.             Hari-harinya di lab senjata mungkin mampu membunuh kegelisahan itu, namun hanya sementara. Selanjutnya, ia harus berjuang keras melupakan Eyn Mayra. Di klub, ia berharap sosok itu tiba, tapi selama beberapa hari tak ada yang terjadi.             “Lihat, dia masuk ke Saturn sebagai tamu kehormatan, mendampingi kakaknya, Eyn Rasyid, menghadiri konferensi.” kata Shawn sambil memperlihatkan sebuah berita di layar televisi di ruang pertemuan klub yang sepi. Berbaring di sofa panjang, Mr. Bartender itu menyedot habis segelas jus-nya.             “Pantas!” gumam Dante.             “Jadwalnya padat. Itu sebabnya dia tak datang lagi. Menurutku, lupakan saja dia. Kau tak ada harapan dengannya. Orang-orang seperti kita …. ”             “Dia akan pulang hari ini.”             “Lantas? Kau mau mencegahnya pergi? Atau ikut dia ke Eyn? Yang benar saja! Tak satupun dari dua pilihan itu yang menguntungkanmu. Kau akan terlihat seperti orang bodoh.”             “Benar, tapi tak ada salahnya terlihat bodoh demi cinta.”             “APA?!” Shawn terbelalak. “Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang dirinya. Hindari masalah, Space DJ! Hidupmu baru dimulai di sini.”             “Memang baru mulai, Shawn, dan aku menyukainya.”             “Hah, terserah! Jangan bilang aku belum memperingatkanmu, Anak Muda!”             Pintu tertutup.             Shawn meneruskan kembali hidup santainya selama klub masih tutup. Ia memang menghabiskan sebagian besar waktunya di sana, demikian pula beberapa rekan yang lain seperti Cain Throne. Tak lama, menarik selimutnya dan tertidur di sana.             “Hei, Shawn!” Dante setengah berteriak, mengagetkan Shawn yang nyaris tertidur.             “Uft, apalagi?!”             “Katakan pada Ray, aku mengganti jadwal.”             “Yah, pergilah. Gunakan waktumu.” Shawn menaikkan selimut hingga ke wajah, tanda tak mau lagi diganggu.             Menelusuri koridor tempat tinggal para politisi memang butuh percaya diri tinggi. Area di Saturn Gallant yang paling bergengsi itu juga ditujukan untuk para tamu kehormatan yang datang. Beberapa rombongan lewat namun tak terlihat Eyn Mayra di antara mereka. Di mana dia?Sudahkah meninggalkan Saturn? Dante terus berspekulasi dalam hati.             Sejurus mata memandang, tampaklah dia. Berbusana sangat tertutup, hanya menampakkan bagian mata. Dikelilingi para pengawal, tampak terburu-buru menuju ke suatu tempat. Saat melewati Dante, sepasang mata indah itu menatapnya penuh arti, seolah memberi isyarat, “Aku ingin bertemu.”             Masih ada waktu.             Satu-satunya tempat bertemu, waktu yang sama, hari yang berbeda. Perempuan itu menatap bintang, hanya pemandangan itu yang ia suka di Sky Dome. Kali ini ia duduk di lantai dengan busana yang ia pakai tadi siang, lengkap dengan nikabnya, dan ia tahu Dante telah berada cukup dekat. Aroma yang tertiup angin memberitahu indra penciumnya.             “Kau … akan pulang? Kita bahkan belum membahas apapun. Kau bilang tentang takdir. Takdir apa yang harus kupenuhi? Mengapa kau peduli padaku, juga takdirku? Siapa kau hingga ingin mencampuri masa depanku? Eyn Mayra, tataplah aku.” bisik Dante lembut. Ada suatu batas dalam dirinya untuk menjaga kesucian gadis itu.             “Aku akan menikah.” jawab Eyn Mayra dengan nada serak, tentulah ia habis menangis.             “Apa?”             “Konferensi itu mempertemukan kakakku dengan seorang koleganya, mereka memiliki putra mahkota. Eyn Rasyid setuju menikahkan kami berdua tanpa mempertimbangkan keputusanku.”             Dante terdiam. Untuk sesaat ia kehabisan akal, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia pantas membantu Eyn Mayra? Dengan apa ia melakukannya, sementara kakak Eyn Mayra adalah seorang raja? “Dan kau … menerimanya?”             Eyn Mayra menoleh, jelas sekali matanya sembap oleh air mata. “Tidakkah kau memahaminya? Wanita dalam mimpimu adalah diriku ketika dewasa, dia juga memberitahuku agar menemuimu malam itu. Dia mengatakan bahwa kita ditakdirkan untuk bersatu. Pernikahan itu tidak boleh terjadi! Dante, aku takut! Kepada siapa aku harus menyandarkan diriku? Bagaimana caranya meyakinkan kakakku?” Wajahnya tenggelam di antara dua lututnya. Eyn Mayra menanggung suatu beban yang belum dimengerti orang lain, bahkan dirinya sendiri. Sebuah tanggung jawab yang besar.             “Maksudmu, kita … mana boleh kau punya firasat seperti itu. Tidak! Meskipun kau tidak menyukai calon suamimu, bukan berarti aku pantas untukmu. Kau tetap akan menikah, tapi dengan pangeran lain, raja yang lain. Lihatlah aku, sadarkah kau siapa aku? Seorang pecundang. Hh, wanita dalam mimpi kita itu pasti salah. Dengar, bila kau bahagia, tak perlulah mendengarkan apa katanya. Mimpi tetap mimpi. Hidup adalah hidup. Keduanya dua hal yang berbeda.”             “Meskipun, aku telah menunggumu?”             “Masalahnya, aku tak pernah bisa mengingatmu. Bagian tentangmu hilang dari ingatanku. Haruskah kau memaksakan diri? Eyn Mayra, masa depan kerajaan Eyn ada di tangan seorang raja, dan kau akan menikah dengannya.”             “Dante?”             “Aku di sini.”             “Kau juga pernah hadir dalam mimpiku. Kaulah … raja itu.” ucap Eyn Mayra lirih.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN