BAB 5 PERTEMUAN PERTAMA

1869 Kata
Waktu menunjukkan pukul delapan malam dan Dante masih terlelap. Semua indranya luluh lantak tanpa daya, dan bukan kemauannya jika ia tidur selama itu. Setelah semua yang dialami, tidur nyenyak adalah satu-satunya hadiah yang patut ia dapatkan saat ini. Oleh karena itu, Shiva tak membangunkannya meski tahu bahwa malam ini ada jadwal naik panggung. Malam yang begitu mencekam. Tempat macam apa ini? Dante tahu, ia berada di bumi namun di belahan mana? Hanya ada padang pasir yang terbentang luas hingga nun jauh di sana, lebih tepatnya salah satu sisi sebuah gunung yang masih mendapat terang cahaya bulan. Sementara ia berdiri tak jauh dari pucuk daratan yang tertinggi. Kebingungan antara mimpi atau nyata, Dante hanya memandang sekelilingnya dan baru menoleh ke belakang setelah suara seorang wanita mengejutkannya. “Akhirnya aku menemukanmu.” Sinar bulan memperjelas raut ayu wanita itu. Sejenak Dante terkesima dibuatnya namun cepat tersadar. “Siapa kau? Apakah … ini mimpi?” Dia tersenyum, melangkah mendekatinya seraya berkata, “Menurutmu? Apakah kita membutuhkan mimpi agar bisa bersama?” Dante mundur beberapa langkah, tangannya ke depan mengingatkan lawan bicaranya agar menghentikan langkah. Banyak wanita yang merayunya selama ini, tetapi dia … begitu berbeda. Yang diucapkannya tidaklah terdengar seperti rayuan di telinganya. Dante yakin dia juga bukan perayu, tidak pernah sengaja untuk mempermainkan dirinya. Keanggunan sosoknya hanya dimiliki mereka yang bermartabat dan punya kedudukan tinggi, tapi … siapa? Mengapa dia merasa telah menemukan dirinya? Pernahkah bertemu dan mengenalnya? Berjuang mengingat bagian dari masa lalu, tetap tak ditemukannya sosok wanita itu pernah ada dalam hidupnya. Tatapan wanita itu teduh, jauh dari mereka yang mengerling nakal atau mengisyaratkan nafsu. Sikapnya berwibawa, terlihat dari caranya berdiri dengan tubuh terbalut gaun panjang dan kerudung di kepala yang juga tertiup angin. Baru kali ini Dante merasa canggung di depan wanita, namun harus cepat menguasai diri. Ia takkan membiarkan siapapun mengintimidasi dirinya. “Maaf mengecewakanmu tapi aku gagal mengingatmu. Mungkin sebaiknya kita lupakan pertemuan ini dan mulai beralihlah pada pria lain yang lebih pantas untukmu.” Reaksi yang ditunjukkan wanita itu di luar dugaan Dante. Tak tersirat sedikitpun rasa kecewa di wajahnya. Sebaliknya, ia justru tersenyum. Senyum paling indah di mata Dante, mampu memudarkan kegelisahan bahwa kehadirannya bukanlah ancaman. “Pria lain? Andai aku bisa melakukannya. Percayalah, itu sulit sekali.” ucapnya sambil tertawa kecil. “Apa maksudmu? De-dengar, aku tidak peduli. Lupakan aku pernah bertanya atau apapun di antara kita. Semua itu tidak nyata. Bahkan aku tidak tahu sedang berada di mana. Tempat ini, dirimu, semuanya tidaklah nyata. Entah apa yang kau lakukan padaku tapi aku takkan terpengaruh. Kusarankan agar kau mengeluarkan aku dari dunia mimpi ini sehingga kita bisa kembali ke kehidupan masing-masing.” Barulah rona itu berubah, seperti tertutup mendung, kesedihan perlahan menggantikan kebahagiaan yang terpancar dari wajah cantik berkulit terang itu. Aura pun meredup. “Aku tidak ingin menyakitimu, tapi itu demi kebaikan. Sekarang, jika tak keberatan, tolong kembalikan aku ke duniaku. Aku tahu ini mimpi tapi rasanya susah bangun jika bukan kau yang membantuku. Benar ‘kan?” Untuk beberapa saat, akhirnya terucap sesuatu dari sepasang bibir indah di depannya. “Pada saatnya nanti akan kita buktikan, Carlo Dante, bahwa takdirmu bukan sekadar mimpi. Anggapan tentang dirimu tak serendah seperti yang mereka katakan. Satu lagi, tempat ini nyata. Kelak kau akan menjadi bagian dari kami. Kami yang menunggumu setelah sekian lama.” “BANGUN, DANTE! Show satu jam lagi!” Wajah Ray naik pitam dan berteriak-teriak melalui layar hologramnya setelah aksesnya diizinkan Shiva. “Kau akan kehilangan bonus ditambah denda yang kuambil dari gajimu jika telat semenit saja!” Layar itu pun menghilang setelah Shiva mematikannya. Sosoknya muncul di depan Dante seraya melipat kedua lengan di d**a, mengamati Dante yang baru bangun dari alam bawah sadarnya. “Kau membiarkannya masuk?” Dante mengusap kepala dan sedikit memiijit tengkuk lehernya yang terasa pegal. “Terpaksa. Bahkan aku yang menginformasikan padanya bahwa kau masih tidur. Dia mengira aku adalah sistem EDOS lalu langsung menghubungi balik langsung dari kantornya.” “Berapa lama aku tidur? Sampai lupa kapan terakhir tidur senyenyak ini,” gumam Dante tanpa mengingat apapun, termasuk mimpi aneh yang baru dialaminya. “Enam jam, seperti mati. Sudah kucoba berbagai cara tapi tak cukup ampuh membangunkanmu, seperti ada yang memblokir sistem sarafmu.” “Itu cuma kantuk berat, aku tidak apa-apa. Hm, apakah mereka sudah mengirim outfit untuk malam ini?” “Ya, tinggal pakai.” Shiva memberi perintah sistem untuk membuka rak berbentuk tabung, menunjukkan salah satu kostum yang akan dikenakan Dante. “Suka?” “Kau sendiri yang mengajukan rancangannya pada tim klub?” “Ya. Lebih tepatnya mereka sendiri yang berusaha mengakses ruangan ini melalui sistem EDOS, menyelidiki kebiasaan berbusanamu.” “Wow, mereka sampai melakukan itu?” “Seperti yang kau lihat. Tampaknya Soundbuzzter Club akan kembali ‘panas’ malam ini.” Dante memandang sebentar outfit di depannya lalu berkata, “Siapkan Hardcore. Ayo, Shiva, jangan kecewakan mereka.” Kolaborasi kali ini menampilkan dua DJ dan Space DJ Carlo Dante serta MC yang akan melengkapi ‘nyawa’ pertunjukan. Musik menderu dan satu jam pertama sudah menjadi momen terbaik walaupun belum puncaknya. Jemari Dante sangat lihai di atas board DJ set, membongkar beat-beat lama ciptaannya yang diberi judul Hardcore, dipadu irama lain yang selaras, mengubah atmosfer yang semakin menghangat dengan tempo cepat saat sudah dalam pertengahan waktu pertunjukan. “Anak itu lebih keren tampil dengan DJ set virtual, tapi dia selalu menolak dengan alasan menghindari kesalahan input nada.” komentar Ray seraya mengamati penampilan Dante dari jauh, tepatnya dari bar tempat di mana Shawn bekerja. “Tidak semua pantas dilakukan dengan virtual, Bos. Aku yakin, Dante sangat paham dengan pilihannya, kecuali bila dia siap.” “Dia menjuarai kompetisi di Space DJ Legacy menggunakan DJ set virtual, Shawn. Mana mungkin dia tidak siap? Dia hanya tidak suka. Sama seperti hubungannya dengan pihak militer. Bagaimanapun, aku hanya tidak ingin dia terluka.” Shawn tersenyum, merasa aneh dengan kata-kata manajernya yang terkesan mengkhawatirkan keadaan Dante. “Dalam kasus Dante, bukan dia yang akan celaka. Kau tidak perlu mencemaskannya.” Ray terdiam. Masih lekat dalam ingatannya tentang peringatan Dante agar tidak ikut campur urusannya dengan Kapten Skivanov. “Yeah, kau benar. Aku yang akan celaka.” Diminumnya segelas kecil cooling mint. “Dan itu membuatku stres! Sekeras apapun aku mencoba menutup mata, semakin cemas aku dibuatnya. Pertunjukan sudah semakin bagus, aku tidak bisa membiarkan Skivanov menekannya walaupun Dante bersikap profesional.” “Jadi, semua hanya karena pertunjukan?” “Ya, tentu saja! Klub ini melibatkan banyak orang yang bekerja di dalamnya, juga membahagiakan banyak orang. Kau tidak lihat bagaimana para pengunjung menikmati musik sebagai satu-satunya hiburan lalu siap bekerja esok hari? Dante mewujudkan kebahagiaan itu dan tidak akan kubiarkan kapten itu merusaknya.” “Bicara tentang kebahagiaan …. “ Shawn menunjuk dengan isyarat kepala supaya Ray mengikuti arah matanya. Semua mata memandang ke arah wanita yang bergaun panjang biru safir sangat memesona. Kecantikannya dari ujung rambut hingga kaki menyita perhatian, penampilan yang tak mungkin ditemui di tengah-tengah warga Saturn Gallant, terutama Soundbuzzter Club. Kehadirannya bagai seorang putri yang masuk ke sebuah kedai makan rakyat jelata. Seorang diri seperti mencari seseorang, namun ia cepat menemukan sosok yang dicari. “Ada yang bisa saya bantu, Yang Mulia … ?” sapa Ray sangat sopan. “Eyn Mayra.” jawab sang tamu dengan senyum yang langsung membuat Ray terbius karenanya. “Anda membutuhkan sesuatu, atau … mencari seseorang?” tanya Ray lagi. Seorang tamu kehormatan datang dan ia tak ingin melepas momen dengan cara melayaninya sendiri. “Terima kasih, tapi saya sudah melihatnya.” Mata Eyn Mayra beralih pada sosok lain di sana. Seseorang yang tengah sibuk di balik panggung DJ, siapa lagi kalau bukan …. “Carlo Dante? Anda mencarinya?” Tebakan Ray tentu benar setelah mengikuti arah tatapan wanita itu. “Sudah sekian lama.” jawab Eyn Mayra. Tentu saja Ray gagal paham. “Ah iya, sahabat lama? Sayangnya Dante baru turun satu setengah jam lagi. Anda yakin tidak bersedia menunggunya di kantor?” Eyn Mayra menggeleng, tanda penolakan halus. “Tak seorang pun yang mengganggu saya di sini. Lagi pula, saya juga ingin menikmati pertunjukannya.” Ray langsung sigap menyiapkan satu kursi tinggi di sebelah meja bar. “Buat dia nyaman, Shawn. Katakan padaku kalau dia butuh sesuatu,” pesannya pada sang Mr. Bartender. “Baik.” Selama hampir satu setengah jam Shawn memperhatikan sikap tamunya yang tetap duduk tenang sambil sesekali menggerakkan bahu, ikut menikmati musik garapan Space DJ Carlo Dante. Kemudian teringat sesuatu sebelum Dante menyelesaikan musik penutup. “Biasanya Dante akan langsung turun, menyambar ransel lalu pergi lewat pintu belakang. Walaupun ada staf yang memberitahunya, mungkin dia takkan peduli. Waktunya sangat berharga untuk … sesuatu.” “Dia akan datang, jangan khawatir. Tidak perlu minta bantuan siapapun untuk memberitahunya.” Seolah ada hawa aneh di sekitar Shawn. Wanita itu hanya tersenyum namun meskipun dari jauh, Shawn sempat melihat Dante menyadari sesuatu. Kehadiran Eyn Mayra seperti magnet baginya. Space DJ itu menyerahkan kelanjutan musik penutup pada dua DJ pendampingnya kemudian langsung turun begitu saja meninggalkan panggungnya. “What the … ?!” ucap Shawn terpana menyadari keanehan itu. Sang Space DJ seperti terhipnotis. Dante menyibak kerumunan clubbers tanpa terganggu siapapun. Tangan-tangan yang berusaha meraihnya tidak menghentikan langkahnya mendekati area bar. Tatapannya hanya tertuju pada Eyn Mayra dan demikian pula sebaliknya. “Dante? Apa yang sedang terjadi?” Pertanyaan Shawn tak terdengar oleh Dante. Space DJ itu hanya memandang Eyn Mayra dan terus lekat padanya. “Hai, selamat malam. Saya sudah tersedia untuk Anda. Kita pergi sekarang?” Laksana Don Juan, Dante meraih tangan lalu pinggang ramping wanita itu, membuatnya beranjak dari kursi. Eyn Mayra tersenyum pada Shawn sebelum meninggalkannya. “Sudah tersedia?” Shawn masih terbengong, mustahil Dante menjadi tiba-tiba serendah itu pada seorang wanita. Walau terkejut, tidak ada yang bisa ia lakukan. Tak lama, keduanya sudah menghilang menuju pintu keluar. “Apa yang terjadi?” Ray menyeruak di antara arus pengunjung yang mulai meninggalkan klub setelah pertunjukan malam itu selesai, bertanya pada Shawn yang juga kebingungan. “Entahlah, Bos. Wanita tadi menculiknya. Dante menurut begitu saja seolah tak sadar apa yang dilakukannya.” “Situasi semakin rumit, Shawn. Firasatku buruk tentang ini. Kuharap tak terjadi apapun pada Dante.” kata Ray pasrah. “Pertama, Kapten Skivanov, lalu wanita ini. Dari mana dia datang?” “Pintu masuk, Bos.” jawab Shawn sekenanya tanpa bermaksud bercanda. “Sudahlah, kita tanya bila Dante kembali. Kupikir, wanita itu sama sekali tak berniat buruk padanya.” jelasnya sambil mulai menyingkirkan beberapa gelas untuk proses steril. “Dari mana kau tahu?” “Wanita itu sengaja menunggunya hingga selama itu untuk menyelesaikan musiknya, namun takut kehilangan kesempatan untuk sekadar bicara. Kupahami gerak-geriknya semua biasa saja, kecuali caranya berbusana. Mungkin semua gadis harus melakukan hal yang sama untuk mengajak Dante ngobrol empat mata. Menghipnotisnya.” “Hipnotis?” “Aku kurang yakin, Ray. Dante mendekatinya seperti magnet, ada getar yang berbeda tapi aku tidak yakin apa yang terjadi, seolah Dante sudah pernah mengenalnya.” Ray duduk. Pikirannya bertambah kacau. Andai ada yang bisa ia lakukan namun hukum di Saturn justru akan mengikatnya jika ia melanggar privasi orang lain karena sampai detik ini wanita tersebut belum terbukti bersalah. “Kita akan dengar sendiri dari mulutnya besok. Tolong, segelas fragrant rose.”   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN