BAB 27 KENYATAAN YANG TERSEMBUNYI

1802 Kata
Mica mendapati lelaki itu sendiri. Rasanya ada yang tak beres. Seharusnya dia bersama kekasihnya, bukan merenung sendiri menatap angkasa. Ketika makan malam satu meja bersama Eyn Rasyid dan Eyn Huza, tanpa kehadiran Eyn Mayra, Dante seperti tak berselera. Setiap topik percakapan terasa tak berarti. Suasana pun menjadi hambar walau bagi raja, semua baik-baik saja. Raja tetap meladeni dua tamunya dengan penuh hormat, terutama Mica yang telah mengembalikan kristal jiwa Eyn Mayra, juga menanyakan banyak hal. Namun, merasakan suram suasana hati Dante, mendorong keinginan Mica untuk lebih jauh bertanya secara pribadi. Aula telah sepi sehingga hanya mereka berdua di tempat itu. “Eyn Mayra … bagaimana dia? Bukankah ini saatnya kalian bersama?” Dante menoleh tanpa mengubah posisinya berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pembatas balkon. Pandangannya kembali pada arah semula. Entah apa yang menarik dari langit malam yang demikian gelap, hanya dihiasi beberapa kilau bintang. “Kau tahu Saturn Gallant?” Ia balik bertanya. Mica menyandarkan tubuh pada pembatas, menatap bergantian antara Dante dan bintang di atas sana. “Hm, sebuah planet, mungkin? Aku melewatkan banyak hal selama sakit, termasuk pendidikan, jadi … tak apa bila kau menyebutku bodoh untuk kesekian kali.” Jawabannya efektif memunculkan sebentuk senyum di bibir Dante. Senyum dan semua unsur ketampanan yang pasti memiliki daya pemikat semua wanita, namun dimiliki Eyn Mayra seorang. Baru ia tahu, sakit karena cemburu memang sanggup membutakan hati seseorang yang cintanya telah berkarat. “Ah, ya, aku lupa, maaf. Mica, aku menyebutmu ‘bodoh’ untuk suatu hal buruk yang kau lakukan, bukan sesuatu yang belum kau pahami. Hm, begini, Saturn Gallant adalah sebuah kapal induk luar angkasa. Aku tinggal di sana.” tunjuk Dante dengan telunjuknya. “Kau akan pergi? Kupikir kalian akan menikah. Kau dan Putri Eyn Mayra.” tuntut Mica polos, meski tahu yang diucapkan jelas bertentangan dengan segelintir harapan di hatinya. “Kisah cinta kami tidak seperti yang kau baca di buku cerita. Lumayan rumit. Kadang aku memahaminya, kadang tidak. Sebuah hubungan harus mengalir dengan sendirinya tanpa unsur paksaan. Dia ingin aku berpikir maka akan kulakukan. Butuh waktu tapi seorang pria sejati tidak akan mengeluh.” “Waktu? Berapa lama? Mengapa serumit itu? Menurutku, jika kalian saling mencintai, apalagi? Jika kau pergi, apa yang akan terjadi? M-maksudku, kapan kau kembali?” Pertanyaan terakhir ini jelas untuk diri Mica sendiri. Dante terpana. “Apa?” Mica bertambah kalut tatkala sorot mata elang itu lekat ke arahnya. Gadis manapun tentu bakal terbius dengan getaran kimiawi yang muncul akibat sikap Dante yang tak sadar dilakukannya. Secara fisik, Dante memang terlalu sempurna. Bagaimana mungkin Eyn Mayra mampu menunda kerinduannya? Diam-diam, Mica menyembunyikan rona tersipu di pipinya. “Tiba-tiba kau peduli? Bahkan Eyn Mayra tidak menanyakan kapan aku akan kembali.” jawab Dante, tentu membuat Mica sedikit bangga. Lanjutnya, “Kapan aku pulang? Entahlah. Di bumi, aku hanya bisa berada di wilayah Eyn. Lain tempat? Maka harus kucing-kucingan dengan Dewan Bumi. Selama bekerja di bawah naungan Central di luar angkasa, aku tidak bisa sembarangan bepergian ke segala tempat, termasuk mengunjungimu. Jadi, setelah ini, kau bisa melupakan pertemuan kita.” “Aku tidak bisa!” tolak Mica tiba-tiba. Dante tertegun, mengapa gadis itu berlebihan menanggapi kalimat terakhirnya? “Bukankah kau bisa melakukan teleportasi? Maksudku, kita sudah berteman, mengapa tidak bisa bertemu? A-aku …. ” Terdesak oleh perang batinnya sendiri, Mica memilih pergi, menghindari Dante kali ini. Dengan napas mendadak sesak dan tak kuasa membendung air mata, Mica pun berlari menuju kamar tempatnya menginap. Ia berharap tak perlu melihat kepergian Dante, begitu pula sebaliknya. Baginya, menatap punggung pria itu adalah sesuatu hal yang menyakitkan! Dante masih belum paham dengan apa yang terjadi ketika suara berat Al Hadiid mengejeknya dari balik pilar besar aula. “Gadis ‘kecil’ itu menyukaimu. Aku heran, mudah sekali kau pura-pura buta? Daripada Eyn Mayra, aku sangat mendukung bila kau bersama … siapa namanya? Mica? Menurutku kakakku telah salah menilaimu dan berusaha menghindarimu. Akhirnya Eyn Mayra sadar, sehebat apapun dirimu, kalian tidak mungkin bersatu.” Al Hadiid bertepuk tangan. Dante hanya tersenyum. Lagi-lagi sang harimau gurun menguji kesabarannya. “Tidak masalah. Malam ini juga aku akan kembali ke Saturn Gallant. Eyn Mayra sudah tahu bahwa aku tak perlu pamit padanya. Jadi, janganlah kau besar-besarkan masalah kami berdua.” Dante berbalik hendak meninggalkan adik Eyn Mayra itu, tetapi bukan Al Hadiid jika membiarkan Dante berlalu begitu saja tanpa membawa bara di hatinya. “Selesai satu masalah, timbul masalah baru. Luar biasa! Sulit kubayangkan perasaan Eyn Mayra jika dia tahu bahwa Mica menyukaimu. Jatuh cinta padamu.” Nada terakhir sengaja diucapkan sedemikian pelan dan rendah agar Space DJ itu menyimak baik-baik maksud kata-katanya. “Jangan khawatir. Akan kupastikan dia tahu apa yang terjadi malam ini. Dengan demikian, Eyn Mayra takkan memikirkanmu lagi.” “Memikirkanku?” Salah bicara. Al Hadiid terlalu banyak bicara hingga tanpa sadar mengungkapkan kebenaran, derita batin yang dialami Eyn Mayra selama tiga tahun ini. Ia cepat-cepat berusaha menutupinya, “Memikirkan bagaimana cara menjauh darimu. Bukankah dia yang lebih dulu mendekatimu, mengingatkan masa lalu kalian berdua bahwa jalinan itu ada? Kurasa dia hanya ingin bertanggung jawab tanpa menyakitimu.” Dante merasa tak perlu menoleh lagi. “Memikirkanku, huh, aku jelas tahu makna kata itu. Tidak perlu repot menyulut api, Al Hadiid. Karena ucapanmu tadi, aku justru semakin yakin dengan perasaan Eyn Mayra padaku. Sampai jumpa. Sampaikan salamku padanya dan katakan, aku akan datang untuknya.” Ia berjalan beberapa langkah dan roh pedang Zeal langsung membawanya pergi dalam cahaya teleportasi. Dalam sekejap, pria yang dicintai Eyn Mayra itu pun lenyap, kembali ke tempat di mana ia seharusnya berada. Kapal induk Saturn Gallant. Al Hadiid menyeringai. Ia memang membenci Carlo Dante namun usaha lelaki itu memperjuangkan cinta kakaknya memang tidak sebatas khayalan semu belaka. Mungkin, jika Mica sedikit berusaha …. Mendadak terbit akal liciknya untuk memisahkan mereka berdua. Taktik klasik yang licik namun selalu efektif membubarkan sebuah hubungan. Ya, tak ada salahnya mencoba, batinnya. Sementara itu, Eyn Huza yang mencemaskan Eyn Mayra menyempatkan diri menjenguk adik perempuannya tersebut. Ia sungguh tak menyangka bahwa Eyn Mayra akan melewatkan makan malam bersama Dante. Ada apa sesungguhnya? Selama ini dia terus menangis merindukan Dante, dan setelah mereka bertemu bahkan kristal jiwanya telah kembali, Eyn Mayra justru menjauh? Ini sangat aneh. “Dante sudah pergi. Kali ini, ada kemungkinan kalian tak bertemu lagi. Mengapa sikapmu begini? Eyn Rasyid menanyakan hal yang sama. Walau semua terserah padamu, bukankah kau yang memulai semua ini? Kami berharap tindakanmu lebih bijaksana. Ini tak adil untuk Dante. Dia menunggumu cukup lama.” Eyn Huza langsung ke inti pembicaraan saat mendapati adiknya sedang termenung meratap menghadap jendela. Eyn Mayra memaksakan senyumnya. Untuk ke sekian kali, wanita itu harus menunda kerinduannya. “Terlalu awal. Dante belum membuktikan siapa dirinya. Sebagian orang masih meragukan inti Zord dalam tubuhnya, hubungannya dengan Al Hadiid memburuk, ditambah lagi ia belum siap menyangga dua kepentingan yang berbeda. Kerajaan Eyn dan Saturn Gallant. Bila kami menikah, ia harus merelakan Saturn Gallant. Mustahil kupaksakan sesuatu yang telah lama menjadi bagian hidupnya. Memang benar, aku yang memulainya, namun … jika kita tak ingin ini berakhir, maka Dante sendiri yang harus memikirkan caranya.” “Boleh kusarankan sesuatu? Mungkin tak terlalu berguna, tapi setidaknya aku cukup lega jika kau mau mendengarnya, sehingga beban itu tidak menetap di hatimu selamanya.” Eyn Mayra mengangguk. “Tentu,” jawabnya, sembari menyeka sisa air matanya. Eyn Huza mendekat, memastikan sepasang mata di depannya itu mampu menerima kenyataan yang sangat hati-hati diucapkannya. “Sebaiknya, berhentilah bermain api. Ternyata kau belum mengenal siapa Dante sesungguhnya. Niat baikmu kelak menjadi anak panah yang mengarah padamu bila kau lepas tangan.” Mendengar itu, sejenak Eyn Mayra melupakan isaknya. “Apa maksudmu?” “Dante kecewa kami lalai menjagamu. Dari caranya bicara, dia bertekad mengambil alih penjagaanmu. Kau tidak takut? Aku dan Eyn Rasyid, terus terang, kami … gelisah. Kekasihmu itu sudah menyadari dua kekuatan dahsyat yang dimilikinya. Manfaatnya, caranya, bahkan sedikit lagi, tidaklah sulit baginya untuk mengamatimu langsung dari kamarnya di Saturn Gallant.” “Eyn Huza …,” Eyn Mayra mulai cemas. Bagian itu sungguh terlewat dari perhitungannya! Eyn Huza tak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia meneruskan ucapannya. “Saranku, hubungi dia sekali-kali. Hanya untuk menunjukkan bahwa keadaanmu baik-baik saja, jangan menghindar terlalu lama. Bila Dante sampai membangun tembok untukmu, bukan mustahil baginya untuk menguasai istana dan kerajaan Eyn hanya dalam waktu semalam. Pikirkan itu, Eyn Mayra.” Kata-kata Eyn Huza masuk akal. Detik itu juga, gundah menyelimuti relung jiwa Eyn Mayra. Masalah ini bisa berbuntut panjang jika ia meremehkan tindakan Dante. Dante seorang pejuang, itu artinya berpantang mencabut sebuah tekad yang terucap di bibir maupun yang terpaku di jiwanya. Ini akan sulit. Membayangkan pria itu setiap malam mengamatinya tidur, memata-matai aktivitasnya, atau bahkan menyelinap tanpa sepengetahuannya. Eyn Mayra hanya bisa menggigit ujung bibir. Tak kunjung memperoleh solusi, ia pun menyerah setelah berjam-jam merenung sendiri sepeninggal Eyn Huza. Memutuskan menyudahi kegalauan hari ini. Dalam damainya malam, Eyn Mayra meninggikan selimutnya. Mencoba mengistirahatkan pikirannya yang penat, kantuk pun mulai membawanya ke alam mimpi. Dan ketika baru saja hendak terlelap, tubuhnya bergetar tatkala sebuah rengkuhan hangat menguasainya penuh kelembutan. Aroma khas, bahu yang melindungi, dan suara yang sangat dikenalnya, Eyn Mayra segera sadar siapa yang memeluknya dari belakang. Matanya membulat. “Tenanglah, jangan bergerak.” pinta pria itu, orang yang sama dalam benaknya selama beberapa jam ini. “Dante?” “Malam ini, aku ingin tidur denganmu. Jika kau tak segera terlelap, aku yakin, Eyn Rasyid akan menikahkan kita besok pagi.” Eyn Mayra berjuang keras meredakan detak kencang di dadanya. “A-apa maksud semua ini? Dante, sadarkah apa yang kau lakukan?” Ia tak kuasa dan tak ingin melepas tangan Dante yang melingkarinya, sementara napas kekasihnya itu terdengar teratur di telinganya. “Aku membuat kesepakatan dengan Zeal. Roh pedangmu itu memang kuat, tapi bodoh. Haha. Dia masuk ke dalam pedang sehingga tidak mungkin melindungimu dari dekapanku malam ini.” “Kau gila! Eyn Huza benar, seharusnya aku waspada padamu. Bagaimana jika ketiga saudaraku tahu?” tanya Eyn Mayra berbisik. Dante tersenyum, mengeratkan pelukannya. “Biarlah seluruh Eyn tahu bahwa aku hanya mencintaimu, tidak merendahkanmu. Sekarang, jangan banyak tanya jika kau ingin ‘selamat’ hingga esok hari. Hm, tubuhmu harum sekali.” Tak lama, pemilik suara itu pun tertidur lebih dulu. Sedangkan Eyn Mayra? Meskipun lambat laun menerima kehadiran Dante, sulit baginya untuk memejamkan mata. Perasaan cinta laki-laki itu telah meluluhkannya. Ikatan batin di antara mereka semakin erat dan hanya sang waktu yang mampu menjawabnya. Tapi, mengapa begini? Eyn Mayra memang harus lebih berhati-hati. Keputusan sepihak telah membuatnya sadar bahwa dirinya hanya akan berakhir di atas ranjang. Semua dilakukan Dante hanya demi meyakinkan wanitanya bahwa semua akan baik-baik saja. Menahan kerinduan itu biasa, namun setia dan rasa percaya akan menguatkan segalanya. Mereka tidak perlu berpisah. Setelah kantuk mendera dan rasa aman itu datang, putri kerajaan Eyn tersebut larut dalam mimpi, terlindungi dalam dekapan kekasih hati.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN