BAB 26 A PRINCE FROM NOWHERE

1908 Kata
Mica memandang ke sekelilingnya. Nihil, orang yang dicarinya tak kunjung tertangkap jangkauan netranya. Hanya ada beberapa pelari, pasangan muda-mudi, anak-anak dan orang tua mereka serta manula. Disusurinya setapak dan hampir seluruh fasilitas taman, namun usahanya menemui jalan buntu. Semua gara-gara lalai memasang beker lantaran bukan rahasia lagi kalau Mica susah bangun. Kesempatan satu-satunya kini hilang begitu saja. Ia harus merelakan sang pangeran antah-berantah telah pergi meninggalkannya. “Huft! Bagus! Kau merusak segalanya, Mica.” sesalnya, lalu berjalan gontai menuju bangku panjang dan duduk di sana, nyaris menangis. Matanya sembab, tapi apa daya? Dirinya bukan siapa-siapa, mana berhak meminta orang lain tinggal untuk saling mengenal dan tetap bersamanya? Cepat atau lambat, pria itu akan tetap pergi. Tempat itu sepi, daun-daun kering musim gugur memenuhi jalan sepanjang taman. Kebetulan, tak satu pun pengguna taman yang berminat masuk ke area itu selain dirinya yang akhirnya leluasa merenung dan menyalahkan diri sendiri. Mendadak, teriakan seorang wanita dari sudut taman yang agak jauh mengejutkannya, “Hei, pencuri! Dia mencuri tasku! Tolong!” Tampak seorang pemuda tanggung lari setelah berhasil merebut benda berharga wanita itu dan seseorang mengejarnya. Mica yang melihat kejadian itu berusaha tak panik, namun gelisah juga saat pencopet itu menuju ke arahnya! Benar saja. Pencopet tersebut menikung untuk menangkap mangsanya. Ia butuh seseorang sebagai jaminan agar pengejarnya membiarkannya kabur. Lagi-lagi dalam cengkeraman bahaya, leher Mica sudah di bawah ancaman sebilah belati. “Menangkapku, dia mati!” ancamnya. Bukannya takut, Mica malah berubah cerah ketika mengenal pria yang mengejar pencopet itu. “Dante!” teriaknya bahagia. “Apanya yang ‘Dante’?!” Tanpa pikir panjang, Dante melompat, melakukan salto terbalik hingga posisi wajahnya tepat di atas Mica. Detik itu seolah melambat. Sekilas, Mica mencium aroma tubuh lelaki itu yang tersibak oleh angin karena gerakan yang ditimbulkannya. Meski sesaat, hal itu melegakannya. Berlaku sebaliknya, remaja kriminal itu kaget, akibatnya lengah, tak menyadari tangan Dante sudah mencapai pergelangan tangan dan menyingkirkan belatinya. Menyeretnya agar menjauh dari Mica dan menghadiahinya beberapa pukulan hingga mulutnya berdarah. “Dante, hentikan! Jangan bunuh dia!” Pencopet itu terbelalak mendengar kata ‘bunuh’, bertanya dalam hati apakah sedang berurusan dengan orang yang salah? Gadis itu mengenal pria ini dan bisa jadi, nyawanya akan benar-benar berakhir! “Tolong, jangan bunuh aku, Bung! I-ini, ambil tas ini kembali.” Tangannya gemetar menyodorkan seraya memohon, tepat sebelum Dante menyakitinya lagi. “Benar, pergilah! Mungkin lain kali, bila aku melihatmu menyakiti orang lain lagi.” Dante mengendurkan uratnya lalu menghempas tubuh pemuda itu supaya menjauh, kemudian menoleh ke arah Mica yang berdiri serba salah setelah ketahuan sedang menatapnya. “K-kau ‘sakit’! Semudah itu menghajar dan membunuh seseorang? Kau psikopat atau apa?” “Psikopat, pembunuh, sebut saja. Aku gabungan keduanya. Dengar, kembalikan tas ini pada wanita di sana sebelum tempat ini ramai, lalu kembalilah ke sini, aku ingin bicara.” Mica menurut. Tak lama kemudian, ia kembali. “Kau bilang, ada sesuatu yang kau inginkan dariku? Nyawaku selamat dua kali. Sebagai balas budi, katakan saja apa maumu.” Bola mata biru safir milik Mica berpadu dengan tatapan elang Carlo Dante, nyaris goyah namun gadis itu meneguhkan hati walau detak jantung kian cepat, tak karuan iramanya. Di depan Dante, rasanya bagai boneka yang pasrah dimainkan dengan cara apapun jua. Bodoh sekali memang. Mungkinkah, ia telah jatuh cinta? Hanya dalam waktu semalam? Benar-benar bodoh! Gerutunya. Bagaimana jika pria itu menginginkan …. Kalut, pikirannya dibumbui macam-macam halusinasi keburukan. “Kau selamat tiga kali. Yang pertama karena kristal jiwa milik Eyn Mayra. Berkat kristal itu, kau sembuh dari sakit parah hanya dalam hitungan menit, tapi efeknya … keadaan Eyn Mayra semakin parah bahkan kehilangan nyawa.” Raut wajah Dante berubah cemas. Mica mulai bisa mengatur diri, tapi bukan batinnya. Ketakutannya akan suatu halangan besar ternyata menjadi kenyataan. “Siapa Eyn Mayra? Kekasihmu?” Dante mengangguk. “Tolong kembalikan, dia sangat menderita.” Seketika harapannya buyar. Meski demikian, ia menguatkan kaki supaya tetap menapak di tanah. Menahan rasa kecewa supaya tidak keluar sebagai air mata, biarpun mulai pedih. “Hm, aku memang merasakan sesuatu masuk ke dalam tubuhku malam itu, jadi, ya, aku percaya padamu. Tapi apakah aku akan kembali sakit? Sebab aku takut, takut jika harus menjalani keadaan yang sama. Andai kau bisa, keluarkan kristal itu dan habisi aku, Mungkin lebih baik mati daripada terpasung lagi di atas tempat tidur rumah sakit dalam keadaan sekarat.” “Tidak seburuk itu. Aku yakin Eyn Huza mampu mengeluarkannya dari dalam tubuhmu tanpa menyakitimu. Jadi, kau ikut?” Dante mengulurkan tangan dan Mica menyambutnya tanpa ragu. “Bawa aku pada Eyn Mayra.” “Sekarang, Zeal. Kita pulang.” Cahaya Zeal menyelimuti mereka berdua, hingga dalam waktu singkat, teleportasi mengantar mereka ke depan tubuh Eyn Mayra yang terbaring di atas tempat tidurnya yang besar dan mewah. Kebetulan, hanya ada Eyn Huza di sana, di balairung istana raja. Hanya di tempat itu para Eyn lebih mudah menjaganya. “Kau datang tepat waktu. Lihat, kulitnya memucat. Apakah dia … ?” sambut Eyn Huza sekaligus bertanya, mengetahui bahwa gadis muda yang dibawa Dante hanya terfokus pada Eyn Mayra, bukan pada kemegahan istana. “Ya, kau bisa langsung mulai ‘kan? Tak perlu upacara aneh dan mengundang orang-orang?” Eyn Huza tersenyum, tentu wajar Dante menyangka tradisi Eyn penuh dengan hawa mistis. Padahal tidak demikian. “Nona, tahanlah napasmu sebentar, untuk menekan rasa nyeri. Tenang, hanya sebentar.” Cahaya ungu dalam kristal jiwa muncul pelan-pelan dari raga Mica, segera setelah ia menuruti kata-kata Eyn Huza. Sedikit nyeri dan begitu lepas, ada hentakan kecil sehingga memaksa Mica bernapas lagi hingga teratur seperti semula. “Terima kasih.” Tangan Eyn Huza mengarahkan kristal jiwa agar masuk ke dalam tubuh Eyn Mayra, dan selanjutnya, tentu membuat hati Dante gembira. Kulit Eyn Mayra berubah cerah dan menghangat, denyut nadi kehidupannya pun kembali. Sepasang kelopak matanya terbuka dan bibir bersemu merah itu tersenyum ketika mendapati Dante berdiri tepat di sampingnya. “Aku tahu, kau mendengarku.” ucapnya lirih, sangat jelas bahwa tenaganya masih lemah. “Jadi, rasa sakit malam itu …. ” Eyn Mayra mengangguk, perhatiannya lantas tertuju pada gadis muda tak jauh darinya. “Terima kasih. Aku senang, kristal jiwaku memilihmu. Kami mendapat saudari baru. Benar begitu ‘kan, Eyn Huza?” “Benar, mulai sekarang, kau memiliki hak istimewa untuk tinggal di sini kapanpun kau suka. Pintu istana Eyn terbuka lebar untukmu, Mica.” “K-kau tahu namaku?” “Tidak sulit bagi bangsa Eyn untuk sekadar tahu siapa namamu. Oleh sebab itu, mereka tak perlu berkenalan dengan siapapun.” terang Dante, cukup membuat Mica paham bahwa dunia bangsa Eyn sangat berbeda dengan dunia manusia biasa. Eyn Huza hampir tergelak. “Tidak sepenuhnya benar, nanti kau tahu sendiri. Dante, Eyn Mayra memberitahuku lewat telepati bahwa dia ingin bicara berdua denganmu. Mica bisa ikut denganku.” Mendengar itu, Mica tak bisa menolak. Keduanya adalah sepasang kekasih, mana mungkin dirinya yang bukan siapa-siapa menghalangi keinginan Eyn Mayra yang sudah sedemikian rindu? Tapi, apa yang akan mereka lakukan? Sekadar ciuman, atau, perbuatan yang lebih ekstrem? Pelepasan syahwat di atas ranjang? Apakah mereka sudah menikah? Dan Eyn Mayra mencium Dante begitu mesra, pria itu pun membalasnya. Tangan Eyn Mayra membelai rambut hitam kekasihnya, sementara tangan yang lain memeluk erat leher Dante seolah enggan berpisah. Di sela-sela ‘kesibukan’-nya, Eyn Mayra sempat menatap Mica dan  mengumbar senyum licik penuh kemenangan padanya, mengisyaratkan kalimat hina, “Pergilah, Anak Kecil! Dante milikku selamanya!” Tiba-tiba kibasan tangan Eyn Huza menyadarkannya. Ternyata pemandangan itu hanyalah lamunan kosongnya, hembusan kecemburuan yang menyesatkan. “Ayo, sebentar lagi kamarmu siap. Malam ini sebagai tamu kehormatan, kau harus menginap.” Senyum menawan Eyn berambut putih panjang itu tak cukup meluluhkan suasana hati Mica. Untuk saat ini, biarlah, walaupun sejujurnya, suara pintu besar yang ditutup di belakangnya menyesakkan batin gadis biasa itu, terus membayangkan bahwa pujaan hatinya sedang bermesra. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Eyn Mayra membisu, sinar matanya meredup karena membenci sesuatu. Sisi gelap yang masih dilakukan Dante hingga sekarang, demi sebuah prinsip yang dianggapnya benar. “Demi kristal jiwaku, kau membunuh?” tanyanya. Dante berusaha bersikap biasa saja. Ditangguhkannya keinginan untuk memeluk tubuh wanita tercintanya. Mungkin, harus ada ‘perang’ kecil-kecilan sebelum kesempatan itu datang? Ia pun menjawab, “Hanya satu. Jika tidak kulakukan, Mica bisa terbunuh yang tentu akan berakibat buruk pada kristal jiwamu. Bila kau memprotes tindakanku, beri aku solusinya. Dalam situasi itu apa yang harus kulakukan? Memohon pada penjahat tengik itu agar menjauhi kami berdua? Yang benar saja!” dalih Dante sinis. Tentu, ia hanya berpura. Dengan senang hati melayani seberapa jauh permainan Eyn Mayra. “Dan remaja laki-laki di taman. Usianya jauh lebih muda darimu dan salah langkah sedikit saja, dia bisa menjadi korban kedua. Apa yang kau pikirkan? Mereka tak punya kekuatan setara denganmu. Tidakkah jiwa kesatriamu memikirkan solusi lain yang lebih bijaksana?” Alis Dante naik. Kemarahan Eyn Mayra justru menerbitkan hasratnya. Sungguh situasi yang sangat berbahaya. Haruskah ia meningkatkan level emosinya guna menekan insting liar dalam kepala, turun ke bagian lain di tubuhnya? Otaknya memang selalu kacau tiap kali berhadapan dengan Eyn Mayra yang sedang bicara. Berkali-kali ia menarik napas dalam-dalam. “Tentu, Yang Mulia. Lain kali, jika aku menghadapi situasi yang sama, kucoba melakukan tindakan yang lebih … diplomatis? Kooperatif? Berusaha menyadarkan mereka tentang arti kasih sayang dan perdamaian, bahwa melindungi orang-orang yang lemah adalah sebuah kewajiban. Hm, apalagi? Oh ya, kampanye kecil-kecilan. Siapa tahu dengan begitu aku ditunjuk menjadi walikota di sana, lalu gubernur, bahkan … presiden? Yang terburuk … Dewan Bumi? Kau tidak tahu bahwa untuk ke bumi aku memakai cara konvensional? Membeli tiket pesawat yang kemudian kukibarkan di depan hidung Kapten Skivanov? Bukan menggunakan teleportasi karena jika ketahuan, risikonya akan jauh lebih besar. Aku tidak berencana bertemu penjahat pemerkosa dan membunuhnya. Semua terjadi begitu saja. Hal itu karena …,” Dante mengusap wajahnya, teringat sesuatu yang membuatnya berujung pada penyesalan. “Karena inti Zord? Aku belum bisa mengendalikannya. Nafsu membunuh akan terus ada bila aku dikuasai amarah. Ya, Tuhan, apa yang kulakukan?” Tangan halus Eyn Mayra meraba rahangnya, menenangkannya. “Aku hanya takut kalau inti Zord benar-benar menguasaimu tanpa kau sadari. Itu saja.” “Lalu sekarang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Dante setengah menuntut. “Apa maksudmu?” “Bukankah aku sudah mengakui kesalahanku sesuai keinginanmu? Kemarilah, Sayang!” Eyn Mayra melupakan lemah raganya, kedua tengannya sibuk menahan tubuh Dante yang ingin mendekat padanya. Sesekali memukuli pelan sembari tertawa, menolak tawaran godaan sebelum waktunya. “Dante, hentikan! Kau tidak boleh menyentuhku sebelum menikah!” “Apa? Menikah?” Eyn Mayra menghembus napas pelan. “Tidak ada yang tersisa dari seorang wanita kecuali kehormatannya. Atau kau mencintaiku dengan cara menyentuhku lebih dulu? Itukah pilihanmu? Menghormatiku atau merendahkanku?” Garis bibir Dante membentuk senyuman. “Sejak dulu aku mencintai dan menghormatimu, Eyn Mayra. Ayo menikah, agar kau tahu bagaimana caraku mencintai sekaligus menghormatimu.” Dua pasang mata mereka saling menatap. Kali ini, Eyn Mayra harus menyerah, tak kuasa memandang sorot mata Dante lebih lama. “Aku ingin kau melatih hati dan pikiranmu. Saturn Gallant masih membutuhkanmu. Dante, aku ingin kau melamarku setelah kau benar-benar siap. Siap dalam arti yang sesungguhnya. Yakin dengan sepenuh hati bahwa hati dan jiwamu hanya tertambat padaku meskipun kita sama-sama tahu bahwa benang merah itu sudah ada sejak dulu.” Dante tertegun, apalagi maksud Eyn Mayra? Bukankah dia juga menginginkannya? Tanpa bertanya, ia tahu, sekali lagi untuk kesekian kali, tugasnya mencari tahu penyebab hampa hati Eyn Mayra yang belum sembuh dan membuka hati untuknya untuk selamanya.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN