BAB 25 WHO ARE YOU?

1602 Kata
“Mica! Ke mana malam-malam begini?!” “Klub! Dua jam saja, aku janji!” Tak lagi menghiraukan teriakan ibu asuhnya itu, Mica menghambur masuk ke taksi pesanannya. “Cepat!” perintahnya terburu pada sopir logam di depannya. Taksi pun melaju kencang. Sementara Nina hanya geleng-geleng kepala namun tetap berharap gadis itu aman dan mampu menjaga diri. “Tuhan, lindungilah dia,” ucapnya, kemudian kembali masuk tanpa mengunci pintu. Mica memang nekat! Keinginannya melihat semua sendi kehidupan termasuk dunia malam tak tertahankan. Rasanya seperti membuka semua pengalaman yang tertunda bertahun-tahun lamanya karena penyakitnya. Begitu terbebas, laksana burung, ia benar-benar ingin terbang! Memiliki banyak kawan adalah langkah pertamanya. Sayang, gadis lugu itu terlalu naïf, menganggap semua orang itu baik bahkan dalam gulita langit yang mempermudah para serigala keluar dari sarangnya. Ia terus memperhatikan gemerlap kota setelah meninggalkan daerah urban. Tampak bayangan keindahan yang semula hanya ada dalam angan-angan. Dengan langkah pasti, berjalan percaya diri setelah turun dari taksi, menuju pintu masuk klub yang dilihatnya di iklan pagi tadi. “Tanda pengenal? Kami lebih suka chip tanam.” tuntut salah satu dari dua orang bodyguard klub. Tanpa gentar, Mica menyingsingkan lengan jaket kulitnya, hingga mereka dapat mendeteksi identitas gadis itu melalui sebuah chip yang ditanam di dalam pergelangan tangannya. “Oke, masuklah!” Di dalam gedung, ia harus menyusuri lorong remang-remang sebelum menghadap pintu klub yang sesungguhnya. Lagi-lagi dua penjaga memeriksanya. Jantungnya belum kembali normal akibat sempat menyaksikan beberapa pasang muda-mudi berbuat tak senonoh di sepanjang lorong yang cukup panjang tadi. Inikah yang ditakutkan Nina? Batinnya, tapi mungkin agak terlambat menyadarinya, Pintu masuk dibuka, mustahil keluar lagi. Setidaknya ia harus melewati ratusan orang yang berkerumun sambil melakukan apa saja di lantai dansa. Dalam sekejap, kepalanya pening, tidak terbiasa mendengar dentum musik yang mengiringi pesta kelam tempat itu. Tidak tahu harus ke mana, apalagi mencari pintu keluar seperti bayangannya, memudahkan seseorang yang mengincarnya dari kejauhan, mulai datang mendekat. “Halo, hai! Mau kutemani, Cantik?” Bingung, takut, Mica tak kuasa melepas genggaman tangan seorang pria. “Lepaskan! A-aku mau pergi!” elaknya sekuat tenaga menarik tangannya yang justru kesakitan. “Kau baru datang, buat apa buru-buru? Burung yang tersesat sepertimu memang seharusnya tetap tinggal di sangkar ‘kan?” “Apa maksudmu?” “Caramu berpakaian. Kau pikir ini tempat apa? Mal? Yang benar saja! Dengar, karena telanjur di sini, bagaimana kalau kita bersenang-senang?” “Tidak! Lepaskan aku, atau aku akan teriak!” Ancaman Mica malah membuat laki-laki asing itu terbahak tanpa sekali pun lengah membelenggu tangan lemah gadis itu. “TAK ADA YANG PEDULI PADAMU!! Bahkan jika aku berteriak: AKAN KUPERKOSA GADIS INI!! Lihat, tidak seorang pun peduli. Sekarang, ikut aku dan pasti kutunjukkan pintu keluar.” Merasa menang, demikian mudah menarik Mica menjauh dari kerumunan. Mica menangis. Terlambat menyesal, ia meraung menyebut nama Tuhan dan Nina, menarik lengan orang-orang di sekitarnya untuk minta bantuan namun sia-sia. Mereka malah mentertawainya, seolah tahu penderitaannya tapi menganggapnya hiburan semata. “Nikmatilah, Sayang, kau takkan menyesalinya!” ujar seorang wanita ber-make up tebal dan berpakaian minim ketika tahu keadaannya. “Kumohon … TOLONG!!” Tenggorokannya sakit, sedangkan ia semakin dekat dengan ruangan yang akan digunakan laki-laki m*esum itu untuk merenggut kesuciannya. Di depan, dari arah yang berlawanan, Mica melihat sosok pria yang sama seperti yang dilihatnya di museum. Pria yang memakai overcoat hitam. “Tolong aku!” pintanya memelas, menangis putus asa. Dalam hitungan detik, pria misterius itu merebut lengannya dari si m*esum, mendorongnya pelan agar menjauh dari posisinya menghajar habis orang yang akan memperkosanya. Kejadian itu begitu cepat sehingga Mika cuma terpana menyaksikan cara sang penolongnya membalaskan kesakitannya. Ia menutup mulutnya sendiri yang hampir berteriak, lantai sudah bersimbah darah. Berdiri terpana tatkala pria itu mengulurkan tangannya. “Ayo!” ajaknya. Mica tahu, ia harus percaya. Tidak ada pilihan lain untuk keluar dari tempat terkutuk ini selain mengikuti langkah penolongnya. “Ha-haruskah kau membunuhnya? Aku tak mau terlibat dengan polisi! Semua orang melihatku bersamanya! Kalau aku dipenjara …. ” Mica baru sadar setelah sampai di area parkir. Di bawah lampu penerang jalan, wajah pria itu terlihat jelas. Tampan. Detik itu juga, Mica terpana. “Hanya darah. Dipel sebentar saja hilang. Orang itu bukan siapa-siapa, tidak ada saksi, tidak ada yang akan menangisi, mengusut kematiannya, atau membalaskan dendamnya. Tanganku sudah biasa kulumuri dengan darah, jadi, apa bedanya? Tapi, kau? Hhh, masih berlagak bego!” sindirnya sembarangan. “A-apa?” “Ayo, kuantar pulang. Naik!” Ternyata sebuah motor racing futuristik berwarna hitam pekat telah menanti pemiliknya di sana. Pria tersebut menyodorkan helm pada Mica yang masih terbengong-bengong. “Pakailah, perjalanan kita ke panti asuhan cukup jauh. Jangan sampai ada parasit hinggap di matamu.” Mica menerima benda itu. “Bagaimana denganmu?” tanyanya lirih, belum juga memakainya. “Berapa kali aku harus memintamu?” Sambil naik lebih dulu ke atas tunggangannya dengan mesin menderu. Tanpa mengucap sepatah kata, Mica menurut saking ketakutan ketika raut pria di depannya itu mulai berubah. Tentu kebesaran pada awalnya, akan tetapi langsung pas setelah helm itu mengecil otomatis, menyesuaikan ukurannya dengan kepala Mica. “Boleh kutahu, siapa namamu?” Ia telah duduk di belakang pria itu sekarang, kedua tangannya memeluk pinggang penolongnya. “Carlo Dante. Panggil saja Dante.” Motor itu pun melesat setelah Dante mengenakan kacamata hitam yang melebar menutupi separuh wajahnya dan memberi petunjuk arah. Hingar bingar malam cepat mereka tinggalkan, seiring jarak mereka yang kian jauh dari pusat kota, menuju ke tempat tinggal Mica. Angin memang berembus kencang, namun jantung Mica lebih kencang lagi. Entah bagaimana naluri wanitanya mengatakan bahwa pria ini berbeda. Mungkinkah dia orangnya? Plak! Ingin rasanya menampar diri sendiri sebab lancang berpikir terlalu jauh. Sungguh naïf membayangkan seandainya dia bukan milik siapa-siapa. Andai pun demikian, apa hubungannya? Setelah ia turun di depan gerbang besi panti asuhan, saat itu pula ia akan kehilangan sosok penolongnya. Seorang pahlawan tak dikenal bernama Carlo Dante. Bukankah itu impian semua gadis di dunia? Bertemu pangeran tampan misterius yang sanggup melindungi dirinya? Atau, lebih baik dilupakan? “Kita sudah sampai.” Tak ada pergerakan. Rupanya gadis itu terlalu sibuk larut dalam angan-angan sehingga tanpa sadar masih memeluk pinggang dan mendekap punggung Dante yang terasa hangat, menyelamatkannya dari hawa dingin malam itu. “Yo, Mica, turunlah, atau kuminta Nina memindahkan tubuhmu?” Mendengar suara itu, kali ini Mica tersadar. “Maaf. Karena angin, kurasa.” jelasnya serba salah. Sedikit kecewa menyelinap di relung hatinya karena sebentar lagi harus berpisah dengan lelaki yang berhasil menyita perhatiannya dalam waktu singkat. Tubuhnya menjauh dari Dante, kemudian melepas dan menyerahkan helm kepada pemiliknya. “Terima kasih, andai bisa kubalas budi baikmu.” “Ha ha, budi baik? Itu aksi penyelamatan! Untuk itu aku harus menyingkirkan seorang maniak seks yang nyaris menghilangkan masa depanmu. Dasar gadis bodoh! Ide jelek macam apa yang membuatmu ingin menginjakkan kaki ke tempat macam itu? Beruntung kau tak dibunuh setelah dia selesai menodaimu!” Dante terus mengomel seperti laiknya seorang kakak kepada adiknya. “Aku benar-benar … entahlah, aku baru sembuh dari sakit dan hal pertama yang kunginkan hanyalah memiliki seorang teman, tapi … bukan pemerkosa seperti tadi. Maaf merepotkanmu. Lagi pula, hei, dari mana kau tahu tentang Nina? Aku juga ingat bahwa tadi pagi kau duduk membelakangiku di museum. Atau, kau menguntitku? Tidak mungkin pertemuan kita hanya kebetulan!” sanggah Mica mulai mengurai keanehan yang dialaminya satu persatu. Rambut panjang gadis itu mulai tertiup hembusan angin yang semakin dingin dan membuatnya sedikit menggigil. Melihat itu, Dante tak tega membiarkan Mica terlalu lama di luar. Menatapnya sebentar guna menetapkan kepercayaan, lalu berkata, “Temui aku di taman. Besok, pukul delapan. Ada sesuatu yang harus kuminta darimu. Sekarang, masuk dan istirahatlah!” Belum rela melepas Dante pergi, Mica berusaha menahannya. “Hm, aku yakin kau bukan orang sini. Ada tempat bermalam?” selidiknya begitu baik. “A-aku bisa bilang Nina.” Dante tersenyum sambil memasang helm di kepalanya. “Tidak, aku mau jalan-jalan sebentar, lalu kembali ke hotel.” “Ho-hotel?” Mata gadis itu membulat. “Ya, memang kenapa? Tidak semua hotel ‘kotor’. Kau pikir aku akan menyewa wanita pemuas nafsu semalam dan membawanya ke sana? Rendah sekali jalan pikiranmu.” Dante menepis prasangka buruk Mica dengan muka lugunya. “Satu lagi, saldo di kartuku habis. Mungkin, aku tak bisa bayar taksi untuk ke taman besok.” Tiba-tiba terlintas ide nakal ini di benaknya. Kebohongan kecil agar dapat semotor berdua lagi dengannya, jika memang Dante ingin bicara lagi dengannya. “Oke, kujemput tepat jam delapan. Sampai besok!” Dalam hitungan detik, sosok Dante telang menghilang ditelan kegelapan malam. Gampang ditebak, menit berikutnya di dalam kamarnya yang sempit, Mica terus berkhayal sambil memeluk batal. Mana mungkin sanggup memejamkan mata jika wajah Dante dan aksi maskulinnya terus terbayang di pelupuk mata? Malam ini sungguh menakutkan sekaligus mengasyikkan! Sesuatu dalam hormonnya lantas tiba-tiba naik, membawanya terbang ke awan angan. Apakah ini normal? Mengapa sedemikian dahsyat pengaruh kehadiran Dante dalam hidupnya. Mica memang telah lama ‘tertidur’ dalam derita penyakitnya, sehingga pengalaman seperti ini jelas berefek cukup dalam pada dirinya. Meskipun kata-kata Dante tak sepenuhnya mengenakkan, namun Mica menyukainya. Tiada satu katapun yang menyinggung perasaannya. Justru kekhawatiran Dante cepat mengakrabkan mereka berdua. Mica sudah tak sabar. Pertama kali dalam hidupnya menanti seseorang yang membuatnya penasaran,  siapa dia? Apa yang dia inginkan dariku? Mengapa seserius itu? Pukul tiga pagi, ia baru bisa tidur, tetapi menjerit keras ketika terbangun dan menatap pedih jarum jam beker kuno-nya yang menunjuk angka sembilan. Baru sadar terlupa menyetel jam sesuai kebiasaan. “TIDAAKK!!” jeritnya sambil meremas rambutnya yang berantakan. Inilah mimpi buruk yang sebenarnya. Selesai berdandan kasual, ia pun berlari keluar gerbang, dan benar saja. Dante tak lagi di sana. Ia pergi? Atau, mungkinkah … ?   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN