BAB 24 MICA

2355 Kata
Kota itu cukup modern meskipun masih memegang kebiasaan lama. Banyak kota di dunia ‘berjalan’ tertatih mengikuti laju perkembangan zaman, namun rupanya Arkansas City mampu bertahan, di samping jantung kehidupan peternakannya yang masih berdenyut di luar sana. Dan ya, untuk menghindari semua orang memang tidak mungkin. Untuk itu, Dante harus bersikap wajar. “Perlukah kita mulai mencari dari kota ini?” Suara Eva mengiringi tiap langkah perjalanan Dante, program AI satu ini memang berbeda. Cerewet dan serba ingin tahu. Beda dari program AI Shiva yang lebih kalem. Dante sengaja membiarkan keduanya sesuai kepribadian masing-masing asal tidak membahayakan misi. “Cari tahu data pasien rumah sakit. Siapa saja yang keluar lebih cepat dari perkiraan dokter, dialah yang akan kita selidiki.” “Itu mudah.” Dante menunggu. Ia sengaja mengenakan headphone agar dianggap wajar dan tak seorangpun mencurigainya, lalu mendekati sebuah kios roti. Sengaja dipilihnya tempat yang tak memakai layanan robot untuk menghindari pengawasan Dewan Bumi. Pemilik kios melayani dengan baik tanpa bertanya apapun selain pesanan. Dengan roti di genggaman, Dante mengisi perut untuk beberapa jam atau hingga esok hari, memilih menikmatinya di kursi pengunjung yang tersedia di luar toko sambil mengamati suasana kota semi modern ini. “Hanya ada dua nama, tapi rasanya tidak mungkin.” kata Eva. “Oh ya? Mengapa?” Dante menyelingi makan malam dengan bekal air mineralnya, memahami bagaimana geliat kota ini memamerkan keindahannya pada malam hari. Kaca gedung-gedung tinggi menampilkan pertunjukannya sendiri-sendiri. Ada yang berupa iklan, berita, atau pertunjukan seni. Semuanya diatur agar tidak saling bertabrakan satu sama lain. Warga kota dibuat betah dengan kemajuan teknologi tata kota. “Yang satu terlalu tua, lainnya bayi usia sepuluh bulan.” jawab Eva tak yakin. “Entah Zeal atau Eyn Mayra memberiku petunjuk lewat mimpi. Aku yakin, kristal jiwa Eyn Mayra ada padanya.” “Satu-satunya cara adalah meretas data Dewan Bumi untuk mencari mantan pasien seperti yang kau maksud tadi, di seluruh dunia.” saran Eva. “Shiva bisa melakukan itu. Kau? Apakah kau … ?” Dante setengah memancing agar Eva tertantang melakukan pekerjaannya. “Shiva bisa melakukannya karena microchip-nya didukung sel otak di kepalamu, Dante. Sel otak mendapat pengaruh dari inti Zord, tentulah tugas itu mudah untuknya.” “Jadi, apa maumu?” “Aku ingin berada di tempat yang sama, bukan cuma di lenganmu seperti sekarang ini,” protesnya. “Pilihanmu hanya lengan, da*da, atau paha. Haruskah kutaruh microchip-mu di bagian tubuh lain yang lebih hina? Terus terang, kau melupakan biaya operasinya. Juga keterbelakangan mental yang harus kulalui karena badanku ini dihuni tiga parasit : Zeal, Shiva dan dirimu. Apalagi yang membuatmu tidak puas?” “Hm, baiklah. Akan kucoba memakluminya.” “Mensyukurinya.” Dante meralat. “Beri aku waktu. Satu jam.” “Lima belas menit, tidak lebih. Shiva mampu melakukannya dalam tiga puluh menit. Aku ingin lebih cepat karena dulu kau diciptakan langsung di kapal Dark Zord. Secara logika, kinerjamu jauh lebih baik.” tantang Dante, meyakinkan Eva. “Tentu. Jelas, aku jauh lebih baik.” “Buktikanlah.” Meretas data sedemikian banyak dalam waktu singkat, apalagi milik Dewan Bumi dan tanpa ketahuan memang hanya bisa dilakukan oleh program AI buatan alien. Oleh karena itu, Dante sengaja ‘mengajak’ Eva turun ke bumi. Sejauh ini, semua lancar sesuai rencana. “Ketemu! Dalam kurun dua minggu, ada sepuluh orang di enam negara yang mampu pulih dari penyakitnya dalam waktu singkat.” lapor Shiva, sebelas menit kemudian. “Persempit. Dua hari.” “Maka hanya ada satu nama, dan dia tinggal sangat jauh dari sini.” “Siapa? Di mana?” “Mica, delapan belas tahun. Sarajevo, Bosnia Herzegovina.”                                                                                                ****   Tiga belas jam kemudian. Kota Sarajevo, Bosnia Herzegovina. Pemandangan kota tua masih seperti biasa. Musim gugur memenuhi jalanan dengan daun-daun kering yang berserakan. Kata sebagian orang, kota itu penuh dengan lukisan sejarah perang yang menorehkan luka. Sisanya? Tanpa harapan sama sekali. Warganya memilih pergi meninggalkan tempat kelahirannya itu demi mencicipi gurihnya teknologi tinggi. Hal itu menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat dan banyak tempat masih dalam rupa aslinya. Hanya mereka yang bersikap acuh, tetap tinggal di sana apa adanya. Siang itu, seorang pengasuh di sebuah panti asuhan berjalan menyusuri lorong, turun melalui tangga, lalu masuk ke salah satu deretan kamar di lantai bawah. Pintu ia buka, nampaklah seorang gadis berambut lurus panjang berusia delapan belas tahun yang tengah merenung sendirian. Namanya Mica. Pengasuh tersebut tersenyum melihatnya. “Mica, minum obatmu. Jangan lupa temui Dokter Byron sore ini. Bu Kepala tidak mau mendengar macam-macam alasan lagi. Dengar tidak?” bujuknya lemah lembut sembari menyibak rambut yang menutupi wajah lugu gadis itu. Mica mengangguk, cukup melegakan hati wanita setengah baya yang sudah merawatnya sejak kecil tersebut. “Kami sangat bersyukur, engkau akhirnya lepas dari semua selang rumah sakit. Kukira, kami akan kehilanganmu.” Peluk pengasuh bernama Nina itu sekali lagi. “Entahlah, rasanya … hidupku masih sama saja, hanya lebih lega. Tubuhku sangat normal.” komentar Mica dengan wajah dingin. Sikapnya biasa saja meskipun baru selamat dari maut. Selama beberapa minggu terkapar di rumah sakit menunggu detik-detik kematian akibat penyakit kronis yang dideritanya sejak kanak-kanak dan makin memburuk, seharusnya menerbitkan hasrat menikmati keindahan dunia yang terhalang sekian lama. Lain halnya bagi Mica. Kesembuhan raganya masih menyisakan hampa di hatinya. “Itu karena kau kesepian. Tunggulah sampai benar-benar pulih, lalu bergabunglah dengan komunitas remaja di sekitar sini. Lakukan apa saja yang kau suka. Oh, Sayang, kapan aku bisa melihat senyummu lagi?” Nina berpikir sejenak, teringat sesuatu. “Oh iya, bukankah sudah saatnya kau pindah ke kamar yang lebih besar? Kucoba bicara dengan Bu Kepala.” Mica mencegah Nina bangkit dari sisinya dengan menarik lengannya manja. “Tidak, Nina. Aku senang di sini. Kamar ini adalah hidupku. Bu Kepala bilang, aku boleh di sini sampai kapanpun.” “Ya, tentu saja boleh, tapi … ya, Tuhan! Kamar ini tak sesuai dengan standar usiamu. Apakah kau berencana menikah, melahirkan dan tinggal di sini selamanya?” Mica tergelak, ia tahu, Nina sedang melucu di balik sepasang mata keibuannya yang melotot pura-pura marah. “Tentu tidak, jangan salah paham maksudku.” “Lalu?” “Aku hanya suka kamar ini, itu saja. Paling tidak, kau benar, tunggu aku hingga menikah.” Wajah Nina berubah cerah. “Ah, kita bicara tentang pernikahan sekarang? Apakah itu yang kau pikirkan? Sesuatu yang membuatmu sedih belakangan ini?” Nina mencoba menginterogasi lebih dalam, mumpung hati dan pikiran Mica sedang terbuka padanya. Gadis itu memang dikenal pendiam dan tertutup. “Baru ingin atau sudah punya pacar?” lanjutnya lagi. Namun yang ditanyanya hanya bersikap tenang seperti biasa, tidak bersemangat apalagi salah tingkah dengan topik pembicaraan mereka sekarang. “Baru ingin, sebenarnya aku tak tahu … apakah aku ini cukup menarik untuk seorang pria? Karena kau tahu, pria tidak suka gadis yang terlalu konservatif. Ada kecemasan di hatiku kalau orang sepertiku sangat membosankan. Semua gadis di kota sangat pintar berdandan, tapi aku …. ” “Dengarkan nasihatku, Nona Mica. Kau hanya harus jatuh cinta pada orang yang tepat. Pria yang lebih mencintaimu daripada dirinya sendiri. Seseorang yang pasti datang saat kau butuh daripada mereka yang hanya dalam impian. Jika kau menemukan pria itu, kau bisa bahagia. Percayalah!” “Seseorang yang melihatku apa adanya?” “Itu juga termasuk, tapi, bicara tentang ‘apa adanya’ itu tak mudah. Banyak orang mengucapkannya sejak awal berkomitmen namun akhirnya kandas sebab komitmen tersebut tak lebih dari sekadar teori. ‘Apa adanya’ berarti harus saling menerima hingga kapanpun, apapun yang terjadi, dan itu berat.” “Seperti kau dan suamimu?” Nina terkenang, tentu yang dimaksud Mica adalah suami pertamanya yang telah meninggal dunia. Tak terasa, matanya mulai basah. “Maaf, aku tak bermaksud …. ” “Ya, Mica. Seperti aku dan Sebastian. Kami tak saling menuntut macam-macam komitmen tapi kami sangat bahagia, hingga penyakit yang disembunyikannya merenggut nyawanya. Dia tidak mau membuatku sedih, dan hal itu membuatku merasa bersalah, mengapa luput memperhatikannya.” Sejenak merenung, perhatian Nina kembali pada gadis di pelukannya. “Semua sudah terjadi. Sekarang, aku hanya ingin melanjutkan hidupku, terutama dirimu, Nona Muda. Impianku adalah wajahmu bersinar bahagia di pelaminan bersama seorang pria yang akan menjaga, mencintaimu sepenuh hati.” “Hm, kalau begitu, setelah Dokter Byron menyatakan kesehatanku bagus, aku akan mulai menikmati hidup.” tekad Mica bulat, tampak terinspirasi oleh kisah cinta Nina yang mengharukan. “Ya, tentu saja. Bukankah kau ingin pergi ke mal? Pergilah jalan-jalan, aku akan menambah uang tabunganmu di bank. Gunakan itu. Hanya dengan cara itu aku tidak dicap pilih kasih oleh anak-anak lain, mengerti?” Mica menatap Nina haru. Seseorang yang begitu perhatian padanya sejak ia tak mengenal sosok seorang ibu, Nina-lah yang tulus menggantikan peran itu. “Mana obatnya?” Dalam waktu singkat, empat butir pil telah masuk ke tenggorokannya dibantu air minum yang disodorkan Nina. “Sebenarnya aku tak perlu minum obat lagi. Semua pil ini adalah vitamin, akal-akalan dokter untuk melegakan kalian semua.” tandas Mica yakin. “Baguslah kalau begitu, berarti Dokter Byron tahu apa yang harus dilakukannya. Nah, bersenang-senanglah dan jadilah dirimu sendiri. Sampai nanti!” Jadilah diri sendiri. Itulah nasihat yang paling ia butuhkan saat ini. Mica sadar dan tak menampik kenyataan bahwa sangat sulit baginya tertarik dan menarik lawan jenis. Mungkin disebabkan sifatnya yang kelewat cuek pada setiap pemuda usianya. Namun kali ini, ia tak ingin sendiri. Membunuh rasa sepi adalah sebuah misi yang harus tuntas, tentu saja, dengan orang yang tepat. Tetapi, siapa? Mica menghabiskan waktu bersama anak-anak yatim piatu lain di panti asuhan hingga hari menjelang petang dan Bu Mayfred, atau yang biasa disebut Bu Kepala, mengutus seseorang untuk memanggilnya. Dokter Byron telah datang. Dokter senior itu memeriksa Mica sebentar, menanyakan beberapa hal yang semuanya dijawab ‘tidak’. Menoleh ke arah Bu Mayfred sebentar seraya sekali menganggukkan kepala, lalu kembali duduk di seberang kursi pimpinan yayasan panti asuhan itu. “Aneh, tapi seperti yang kita lihat bersama, situasi Mica adalah mukjizat. Patut kita syukuri. Yah, mulai sekarang, kau bisa beraktivitas seperti biasa, Mica. Bahkan tak perlu mengonsumsi obat-obatan lagi.” Mulai mengemasi peralatannya. “Jadi, tidak ada pantangan lagi? Aku telah benar-benar sembuh?” ulang Mica nyaris tak percaya. Sebenarnya ia tahu keadaan tubuhnya, namun pernyataan medis dari seorang dokter profesional tentu akan meyakinkan semua orang, terutama Bu Mayfred yang juga mencemaskannya. “Benarkah Mica telah sembuh total? Anda yakin? Atau dia harus menjalani pemeriksaan ulang?” Bu Mayfred sampai berdiri untuk menegaskan pertanyaannya. “Tidak perlu, Bu. Hasil lab terakhir sangat bagus. Mica diberi kesempatan hidup kedua dari Tuhan, itu saja. Jarang terjadi kasus serupa namun ini luar biasa. Belum ada yang sembuh total dalam waktu sesingkat Mica mengingat kita semua nyaris pasrah menghadapinya. Lakukan apa yang berharga dalam hidup ini, Nak. Tak ada pantangan. Inilah kesempatanmu. Bu Kepala, saya pamit. Selamat tinggal.” “Terima kasih, Dokter.” Setelah dokter tersebut meninggalkan ruangan, Bu Mayfred memeluk Mica bahagia. “Selamat! Kami sungguh tidak ingin kehilanganmu.” “Kata Nina aku boleh jalan-jalan.” “Tentu, kenapa tidak? Hal yang luar biasa layak dirayakan. Kau ingin ke mana?” “Hm, maksudku, hanya jalan-jalan biasa. Ke mal, taman, museum, tempat-tempat seperti itu, sendirian. Sudah lama sejak aku sakit, hanya bepergian yang kupikirkan. Mungkin dengan begitu, aku lebih dekat dengan Tuhan.” “Baiklah, tak ada yang menghalangimu.” Dan Bu Kepala memenuhi janjinya dengan mengabulkan keinginan Mica. Esok hari, pagi-pagi sekali gadis itu seperti tengah bersiap menyambut ‘pesta’-nya sendiri. Rambut lurus panjang kecoklatan dibiarkan terurai, sebuah topi hangat terbuat dari wol disematkan di atas kepala, berjaga bila kondisi cuaca berubah di luar sana. Mengenakan celana jeans belel yang masih muat setelah cukup lama menghuni lemari kayunya, Mica mulai bergerak keluar menuju pintu keluar. Beberapa anak menyapanya. Sungguh, hari yang indah! Dalam perjalanannya menggunakan sebuah taksi, Mica bertanya dalam hati, benarkah keajaiban ini bukan mimpi? Apa tujuan Tuhan menghidupkannya kembali dalam tubuh yang dinyatakan tak mampu lagi menyangga detak kehidupannya? Masih terasa bagaimana kurang dari 72 jam lalu perjuangannya antara hidup dan mati. Selang-selang penyampung napas dan darah meluluhkan hati siapapun yang melihat keadaannya yang memprihatinkan, berkali-kali anfal. Komplikasi yang dideritanya makin parah dan semua orang yang menunggunya hanya bisa berdoa. Hingga malam itu, saat yang lain terlelap, serangan terakhir membuat tubuhnya meregang, garis kehidupan pun datar. Kemudian … keajaiban itu terjadi. Garis kehidupannya kembali, mengikuti detak jantung yang berangsur normal setelah sesuatu merasuk ke dalam tubuhnya. Sesuatu yang hangat, apapun itu, Mica merasakannya dan tak ingin berbagi cerita dengan siapapun. Ia takut dianggap aneh. Paginya, Dokter Byron dan perawat yang menangani kasusnya cuma bisa tertegun menatapnya yang asyik menonton televisi seolah tak pernah terjadi apa-apa. “Aku boleh pulang?” tanya gadis itu santai. Selamat tinggal kursi roda, masker oksigen dan sumbangan darah, juga semua selang mengerikan! Mica nyaris melompat ketika melihat Nina datang menjemput setelah diberitahu pihak rumah sakit. Langsung memeluk wanita itu yang tanpa terasa menjatuhkan tas jinjing di tangannya. Belum kebahagiaan lain begitu tiba di panti asuhan. Kehadirannya ibarat selebritis. “Sudah sampai tujuan, Nona Mica. National Gallery?” Sopir taksi berwujud robot bertanya sopan, mengingatkan Mica yang sejak tadi melamun. “Ya, ini kartunya.” Selesai membayar dengan akses hologram, pintu kendaraan itu terbuka otomatis dan Mica bergegas menuju tempat pertama yang hendak dituju. Museum seni, bagian dari obsesi masa kecil yang ingin ia wujudkan suatu saat nanti. Oleh karena itu, ia betah berlama-lama. Tiap detail lukisan dan karya seni peninggalan masa lalu selalu menarik perhatiannya tanpa menyadari seseorang telah mengintai dirinya sejak meninggalkan panti asuhan. “Maaf, siapa kurator di sini?” tanya Mica kepada seorang staf museum. “Pak Zaheer. Ada yang bisa saya bantu?” “Hm, tidak. Terima kasih.” Ragu menanyakan syarat bekerja di tempat itu, sementara ia belum lulus sekolah. Sepeninggal staf tersebut, Mica duduk di bangku panjang yang terletak di tengah aula utama, duduk membaca brosur museum sementara pria tadi pun duduk tak jauh darinya. Mica sempat menoleh pada sosok asing yang mengenakan over coat warna gelap itu, namun setelah melihat ke arah jam dinding, ingatannya tertuju pada beberapa tempat lagi yang harus dikunjungi, namun urung setelah sesuatu menarik perhatiannya. Iklan pertunjukan DJ yang terpampang di layar virtual besar sebuah gedung. “Hm, malam ini,” gumamnya sendiri.                                                                                                  ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN