BAB 23 MENCARI KRISTAL JIWA

2226 Kata
Kapten Skivanov berkacak pinggang, dua mata lebarnya menyipit, alis tebalnya turun menjepit kulit dahinya dan mulutnya miring tak seimbang. Tampak sekali bila ia kurang senang. Tanpa berkata sepatah kata, ia sengaja menunggu sang Space DJ berjalan ke arahnya setelah mengerem langkah menuju pintu keluar Saturn Gallant. “Aku sudah bayar tiketnya.” ujar Dante mengingatkan. “Hanya ini satu-satunya cara agar aku diizinkan Dewan Bumi untuk berkeliaran di daerah mereka.” “Bukan itu masalahnya. Pekerjaanmu masih banyak. Kata Shiva, kau punya rencana mempersenjatai Saturn secara masif. Kapan?” Nada menuntut khas bawaan seorang pemimpin pada bawahan yang kali ini terdengar akrab daripada sebelumnya. Sudah tidak ada penghalang di antara mereka. Sejak menang perang melawan Roughart, hubungan keduanya membaik dan cenderung bicara terus terang tanpa saling bersinggungan. “Dasar pengadu!” kutuk Dante lirih, sedikit menyesalkan kelakuan Shiva membongkar rencananya. Untuk sementara, Shiva dipakai menggantikan program AI EDOS yang masih dalam perbaikan sistem. Sedangkan program AI Eva, masih dalam genggamannya. Ia menyimpan baik-baik chip Eva yang berhasil ia rebut dari Torrax sebelum alien itu tewas, lalu memusnahkan segala aktivitas gelap programnya, tentu saja, tanpa sepengetahuan Kapten. Otomatis, hanya Shiva yang diketahui mendominasi kegiatan seluruh awak dan warga Saturn Gallant yang telah aktif mengisi seluruh fasilitas setelah tiga tahun berselang. “Ah, ya, tentu, aku ingat itu.” sambungnya lagi. “Tugasmu di klub? Manajer dan Space DJ Legacy?” “Kuusahakan cepat, tapi mencari kristal jiwa yang masuk ke dalam tubuh seseorang di penjuru bumi bukanlah perkara mudah. Kurasa, Central bisa memahami itu.” Kapten Skivanov berpikir sebentar. “Kedengarannya serius. Pastikan saja otakmu masih normal ketika kau datang atau kami terpaksa mengeluarkannya dari kepalamu.” “Hah, lucu. Capt., mereka mau berangkat. Tolong …. ” Dante sudah tak sabar. Pesawat penumpang yang membawa warga Saturn maupun penduduk bumi yang hendak ke bumi, sebentar lagi menutup pintu palka. “Pergilah. Jangan kecewakan semua orang di sana yang mengharapkanmu. Aku tidak ingin Space DJ Saturn Gallant kembali menjadi pecundang di bawah sana. Hajar mereka yang ingin menyakitimu, itu saja pesanku.” “Terima kasih, Kapten. Sesudah ini semua berakhir, aku janji, mega proyek Dual Exchanger akan segera kulakukan. Selamat tinggal!” Kapten Skivanov memasang senyum sinis ketika Dante memamerkan tiket berbayarnya ke bumi. Tak berapa lama, pintu palka tertutup, pesawat yang membawa Dante melepaskan aviobridge, bergerak menjauhi bandara. Gerbang Saturn terbuka, menebarkan puluhan pesawat dengan berbagai tujuan. Belum termasuk pesawat militer dan robot antariksa yang hingga kini masih sibuk menyempurnakan struktur tubuh Saturn yang ‘terluka’ akibat perang. “Halo, Capt.?” Ray menghubunginya lewat jalur gelang komunikasi. “Yup?” “Hanya memastikan Dante sudah masuk pesawatnya. DJ pengganti siap bertugas malam ini, tidak akan ada masalah kecuali penggemar yang kecewa.” “Itu biasa.” “Benar.” “Hei, Ray.” “Ya, Kapten?” “Setelah tiga tahun aku belum pernah mengucapkan ini padamu, tapi kurasa belum terlambat. Terima kasih karena rela terjun kembali ke masa lalu yang sangat ingin kau lupakan hanya demi Saturn.” kata Kapten Skivanov, menghilangkan batas kekakuan sikapnya. “Bukan masalah besar. Aku senang melakukannya. Demikian pula Cain dan Throne.” “Bagus, sebagai hadiahnya, kau boleh mengajukan proposal pembaruan fasilitas klub. Mintalah apapun yang kau mau.” “Kedengarannya luar biasa, Capt., terima kasih. Kucoba mendiskusikannya dengan kru. Oke, sampai nanti.” “Sampai nanti.” Situasi yang membaik kurang begitu terasa bagi Dante. Bagaimanapun, separuh jiwanya terasa hilang, hatinya tak secerah senyum di depan semua orang. Saat menyepi sendiri, hanya bayangan Eyn Mayra yang mampu mengajaknya larut dalam lamunan. Pikirannya bagai benang kusut yang tak tentu arah. Selama tiga tahun, ia membiarkan diri berkubang dalam kesepian yang dalam, tanpa mengajak bicara siapapun tentang masalahnya, isi hatinya. Sebagai Space DJ, lebih mudah baginya membuang gelisah melalui musik dan kebahagiaan para pengunjung klub, namun itu tidaklah cukup. Setelah pesta selesai, sosok Eyn Mayra terkenang. Ia bahkan tak tahu bila Eyn Mayra merindukan kehadirannya. Tak ada kontak, atau saling sapa menggunakan telepati yang jelas sangat mudah dilakukan Eyn Mayra, atau minta bantuan roh pedang Zeal sebagai perantara mereka berdua. Tapi bila melakukannya, itu berarti Carlo Dante tidak berkomitmen menunaikan janji. Janji kepada para Eyn lainnya untuk menjauhi Eyn Mayra. Sekarang, lain cerita. Dante harus membuktikan pada mereka bahwa ia dan Eyn Mayra memang layak bersama. Ternyata wanita itu begitu mencintai dan membutuhkan perlindungannya. Menghadapi Al Hadiid? Laki-laki itu memang sulit. Entah apa yang membuatnya sangat membenci Dante bahkan secara terang-terangan di depan saudara-saudaranya. Bukankah semua sudah jelas? Apalagi yang tidak bisa ia terima? Masa lalu Dante? Baiklah jika itu alasannya, tak ada yang bisa mengubah kenyataan yang sudah terjadi, pikir Dante. Jadi, ia memutuskan untuk mengalah, meskipun tangannya mengepal tak sabar. Bertarung yang kedua kali dengan Al Hadiid bukan pilihan bagus. Panglima muda Eyn itu adalah satu-satunya adik kesayangan Eyn Mayra, tinggal bersamanya. Satu-satunya kesamaan Dante dan Al Hadiid hanya pedang dan teknik bertarung. Mungkin suatu saat pertarungan berikutnya akan terjadi. Semoga tidak. Tiada seorang pun menjamin bahwa sebilah pedang takkan berlumur darah. Dalam pesawat penumpang, Dante sibuk memikirkan hari-harinya ke depan. Zeal mungkin bisa memberinya petunjuk tentang keberadaan kristal jiwa, namun menautkan hatinya dengan Eyn Mayra adalah satu hal yang berbeda. Haruskah kawin lari saja? Tidak! Itu sifat pengecut. Alex dan Ruby tidak pernah mendidiknya menjadi seorang pengecut. Semua harus berada di jalan yang benar, mampu dipertanggungjawabkan. Tak terasa, terdengar peringatan, pesawat mulai masuk atmosfer bumi. Dante menutup kaca tabung untuk melindungi dirinya, begitu pula penumpang yang lain. Tabung yang berfungsi juga sebagai kapsul penyelamat seandainya terjadi keadaan darurat. Tingkat radiasi yang terkumpul dalam jumlah besar mengharuskan pesawat apapun yang hendak menembus atmosfer bumi, harus memasang perlindungan ganda. Pertama, lapisan logam yang menutup badan pesawat secara otomatis, dilanjutkan lapisan pelindung yang tersusun dari butiran-butiran debu khusus yang sanggup menetralkan tingkat radiasi berlebih ke badan pesawat. Tentu saja, suasana menjadi gelap. Kegiatan yang menyita tenaga alat transportasi tersebut sangat dilarang. Oleh karena itu, selama menunggu, Dante memilih mengistirahatkan otaknya sejenak. Dalam mimpi, ia melihat sosok samar seorang gadis. “Eyn Mayra?” panggilnya. Bila benar itu dia, mengapa bayangannya tampak berbeda? Seolah dia masih sangat belia. Yang dipanggilnya bukannya menampakkan diri, tetapi malah menjauh. Bersembunyi di balik pohon oak yang sangat langka. Di sekitar mereka diselimuti kabut hitam yang merambah kegelapan di tempat menyeramkan itu. Sosok gadis misterius itu tak bersuara,bahkan lari menghindarinya. Ketika Dante memutuskan mengejarnya, cahaya lampu pesawat merebak setelah kaca tabung terbuka dengan sendirinya, menyebabkan kesadarannya pulih. “Selamat datang di bumi. Dalam dua puluh menit, kita akan mendarat. Mohon bersiap.” Suara flight attendant langsung ditaati semua penumpang yang sudah hafal apa yang harus dilakukan. Dante bangkit dan mengambil ransel baru pemberian Kapten Skivanov. Ransel istimewa sebab sebanyak dan seberat apapun benda di dalamnya, benda tersebut mampu memanipulasi bebannya sehingga pasti terasa ringan. Salah satu temuan aneh yang mustahil dimiliki sembarang orang, atau Kapten sendiri yang punya ide untuk membuatnya. Bedanya, kali ini tidak ada Dual Exchanger di dalamnya. Yang jelas, kali ini sisi lembut sang kapten mulai muncul. Hampir dengan semua staf ia perlakukan baik dan penuh perhatian meskipun sikap tegas dan berwibawa tetap melengkapi karismanya. Pada saat penumpang lain sabar menunggu instruksi pendaratan, Dante yang tidak berencana tertangkap kamera sistem keamanan Dewan Bumi lebih memilih terjun dari ketinggian yang ia rencanakan dengan caranya sendiri. Memang, ia telah mengantongi izin, namun membiarkan Dewan Bumi mengetahui jejak perjalanannya bukanlah ide bagus, mengingat antara hubungan Dante dan persatuan penguasa negara-negara di dunia itu memiliki sejarah panjang dan kelam. Dewan Bumi tidak mungkin berani mengeluh pada Central karena cara masuk Dante melalui tiket dan dokumen resmi, hanya pendaratannya yang berbeda dan itu sama sekali tidak melanggar hukum bumi maupun antariksa. Tanpa diketahui siapapun, gerakan halus Dante mengantarnya ke depan sebuah pintu palka yang aman bila dibuka tak lebih dari tiga puluh detik secara otomatis. Itu berarti waktu Dante sangat tipis. Ia sangat hafal dengan situasi dimana ia akan menghadapi lonjakan aerodinamika, sebab lain dengan pesawat udara biasa, pesawat antariksa memiliki kecepatan yang mampu membuatnya celaka bila terjun tergesa-gesa tanpa perhitungan yang cermat. Tiga puluh detik, hanya palka pertama, belum termasuk pintu logam pada bagian luar yang masih tertutup setelah pesawat melewati atmosfer dan untuk melewati itu semua, Dante tidak pernah berpikir dua kali. Sekarang, atau tidak sama sekali. Dua pintu palka terbuka setelah Dante memasukkan kode otomatisnya. “Terima kasih, Eva. Sekarang giliranku.” “Kurang dari lima belas detik, usahakan cepat.” “Aku tahu.” Eva, program virtual berkecerdasan buatan yang telah diprogram ulang oleh Dante, menggantikan peran Shiva selama di bumi. Ia akan menyediakan segala akses dan informasi apapun yang dibutuhkan Carlo Dante. Setelah Dante terjun dan menukik cukup keras, pintu pun menutup otomatis. “Tentukan lokasi pendaratan. Di sana, tak seorang pun akan curiga.” tunjuk Dante, pada peta virtual di depannya. “Bukit Ravendale. Dekat dari situ ada basis militer. Lanjutkan?” “Hanya basis kecil, tak mengapa. Semakin dekat dengan perpanjangan tangan Dewan Bumi, kita semakin aman. Waktu?” “Dua puluh detik.” “Oke, lanjutkan!” “Siap!” Dante menekan sesuatu di pergelangan tangannya yang berfungsi membuka parasut yang telah dipasang sedemikian rupa untuk memudahkannya mendarat serta mengaktifkan mode siluman agar parasutnya tak terlihat ataupun terdeteksi oleh radar setempat. Pada jarak yang aman, ia pun melepaskan parasut, dan kakinya kembali menginjak tanah bumi setelah sekian lama. Memastikan ransel dan perbekalannya lengkap, Dante meneruskan perjalanan. Ini Ravendale, sebuah area buka lahan di Arkansas City, Amerika Serikat. Penduduknya yang tak banyak berpotensi menyulitkan Dante untuk berbaur di keramaian. Sengaja dipilihnya daerah yang belum matang supaya menyamarkan pergerakannya. Kini, tergantung bagaimana ia menjauh dari pengawasan mata-mata Dewan Bumi, termasuk drone yang mungkin tersebar dimana-mana. Pencariannya harus berarti. Tepat dugaannya. Sebuah drone melintas beberapa meter di atas kepalanya. Bukan milik militer, ia tahu dari ciri-ciri modelnya. “Santapan. Jika kau mau, aku bisa membajak sistem navigasinya. ‘Burung’ kecil itu bisa menunjukkan kita situasi di depan,” usul Eva, menampakkan wujud virtualnya. “Hm, tidak. Memang, cukup menggiurkan tapi termasuk pelanggaran berat. Bisa saja benda itu milik peternak sipil di sekitar sini. Kita harus main aman.” “Sebentar lagi senja. Bermalam di tempat seperti ini tidak disarankan.” “Tunggu, kau dengar itu?” Suara kepak sayap kelompok burung, beberapa menit kemudian, deru roda kendaraan 4x4 menggilas tanah yang diselimuti daun-daun, makin jelas terdengar. Tanpa disuruh, Eva pun menghilang. Mendapati Dante berdiri sendirian, pengemudinya mendongak ke samping, mengamati Dante sedetail mungkin dari kepala hingga kaki. “Halo, Kawan!” Pria berkumis dan bertopi pet itu menyapanya, namun seorang teman di sebelahnya tidak bereaksi sama. “Drone kami menggila, benda sial itu terbang otomatis hingga dayanya habis. Kau melihatnya?” Dante mengamati pria berwajah dingin di samping sopir, di tangannya menggenggam alat pengendali. “Hm, ya, aku lihat. Ke arah sana.” tunjuknya, sementara dua pria yang berpenampilan seperti peternak tersebut agak kecewa mendengarnya. “Tapi, aku bisa membuatnya kembali ke pelukan kalian jika aku boleh menumpang. Hanya sampai jalan raya.” Wajah mereka berubah cerah. “Benarkah? Karena di depan sana adalah wilayah Nancy dan siapa tahu, cuaca akan memburuk? Ya, tentu, kami setuju tawaranmu.” Mereka turun dari mobil, menyerahkan alat pengendali kepada Dante yang langsung membongkarnya dengan alat multifungsi dari dalam ranselnya. “Wah, terampil sekali. Kami beruntung.” puji si sopir. “Membawa alat itu kemana-mana?” Pria bermuka dingin angkat bicara. “Aku seorang mekanik, tentu harus membawa sesuatu yang merupakan keahlianku.” Dalam waktu singkat, kerusakan itu pun dapat diatasi. Dante menutupnya kembali dan menggunakannya untuk memanggil drone yang sedang tersesat. Lima belas detik. Tiga puluh detik. Dengungan mesin drone terdengar hingga akhirnya mendarat selamat di depan kaki mereka berdua yang tampak bahagia. Dante memeriksanya sebentar. “Sirkuitnya sedikit terbakar. Model lama?” tanyanya. “Seperti yang kau lihat. Benda itu sampah militer, di buang begitu saja di depan pagar peternakan. Sepupuku ini yang memungutnya. Masih berfungsi tapi suka menggila.” “Oh.” “Menurutmu?” “Sebaiknya kau letakkan di gudang, benda ini tak aman karena begitu aktif, militer langsung bisa memata-matai kegiatan kalian. Memastikan tidak ada yang macam-macam. Kalian tahu maksudku, bukan? Kecuali bila kalian tidak keberatan dengan risiko itu, bagiku, yah, tak masalah. Anggap saja mainan.” jelas Dante sambil menyerahkan drone tersebut. “Sekarang, giliran kalian. Antar aku hingga ke jalan raya.” Di dalam mobil, si sopir memberanikan diri bertanya pada orang asing yang duduk di kursi belakang. “Siapa namamu? Mengapa kau bisa berada di tengah bukit? Bekerja untuk militer?” “Tidak. Aku mencari kekasihku.” Dari spion, alis si sopir naik turun tanda mengerti situasi yang dihadapi Dante. “Bertengkar? Kuberi saran, bila dia merepotkanmu, tinggalkan. Bila kau yang bermasalah, maka cari dia walau ke ujung dunia sekalipun. Jangan sampai cinta sejatimu benar-benar hilang.” Melihat Dante terdiam, ia lanjut bicara, “Gadis daerah sini? Katakan saja namanya. Aku kenal semua orang.” “Bukan, tapi akan kupertimbangkan saranmu. Terima kasih.” Setelah menolak bantuan warga sipil tersebut, percakapan pun terhenti. Sampai di rute jalan raya, Dante menutup pintu mobil dan mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke peternakan. Ia menuruti saran Eva untuk berjalan kaki mengingat semua warga Arkansas City pasti memiliki fasilitas yang dapat diakses Dewan Bumi. Apalagi jika mereka sampai melaporkan kedatangannya sebagai orang tak dikenal. Untuk itu, selama kurang dari dua jam ke depan, ia harus menemukan petunjuk jelas tentang keberadaan kristal jiwa Eyn Mayra. Secepatnya.                                                             ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN