Fajar.
Waktu Dante untuk menemukan jiwa murni Eyn Mayra yang berbentuk kristal ungu yang ditahan Xorcius. Terlambat, maka dipastikan Dante akan kehilangan Eyn Mayra selamanya. Dengan Zeal segalanya menjadi lebih mudah. Tidak sulit menemukan penyihir hitam kelaparan yang sudah saatnya meminta tumbal. Zeal membawa Dante ke dimensi hitam di mana Xorcius si penyihir bungkuk itu bersembunyi.
“Ternyata benar kata orang, wujud kesatriamu dialiri kekuatan kegelapan, sama sepertiku. Hmm, aku bahkan mudah mencium aromanya walaupun dari jarak yang cukup jauh. Inti Zord … aku menginginkannya. Berikan padaku, maka kukembalikan sesuatu yang berharga milik Eyn Mayra. Kristal ungu jiwa murni yang kuambil darinya.” Xorcius belum berani menampakkan diri. Sepertinya dia tahu persis, siapa lawan di depannya kini. Carlo Dante dengan Zeal saja sudah menakutkan, apalagi inti Zord?
“Lebih tepatnya kau ambil paksa. Berikan saja dan kuampuni nyawamu malam ini.” Dante sama sekali tak berniat bernegosiasi. Pada saat yang tepat, ia harus menghabisi makhluk yang menyebabkan Eyn Mayra menderita, antara hidup dan mati.
“Lihatlah ke sekitarmu, Carlo Dante! Akulah yang membuat aturan, bukan dirimu!” teriak Xorcius marah. Ditunjukkannya suasana mengerikan di sekitar mereka.
Tubuh Dante terangkat cukup tinggi ketika mendadak tanah yang dipijaknya berubah menjadi kolam besar penuh cairan hitam. Terdapat cukup banyak kerangka manusia yang anehnya mereka berenang kesakitan dan berusaha mencapai ke permukaan.
“Mereka mainanmu, Xorcius?”
“Cih, nasibmu akan sama seperti mereka jika menolak tawaranku. Kristal ini juga akan hancur jika kau memperlama kesepakatan kita.” ancam penyihir jahat itu. “Mereka adalah orang-orang yang melanggar perjanjian denganku. Tak mampu membayar, maka ditebus dengan jiwa murni. Raga mereka yang merana kujadikan satu dalam kolam hitam itu. Tentu saja, dalam bentuk yang berbeda. Rasanya menyenangkan melihat dan mendengar mereka berteriak dan menggeliat kesakitan di dalam sana. Kau tak ingin merasakannya ‘kan, Tuan Space DJ? Jalani saja kehidupanmu di antariksa dan lupakan inti Zord. Sesungguhnya, nyawa Eyn Mayra tak begitu berharga. Aku hanya menginginkan inti Zord yang menyatu dalam ragamu. Dengan mantraku, aku bisa mengambilnya dengan cepat dan mudah, lebih cepat daripada Roughart. Kau takkan merasakan apapun.”
“Jadi, kau pikir bisa mempermudah hidupku? Inti Zord memang menyusahkan. Setelah Roughart, sekarang kau? Kaupikir aku tak tahu bagaimana kau akan mengambilnya? Tanpa rasa sakit? Tidak mungkin! Setelah itu kau bakal menepati janji membebaskan jiwa murni Eyn Mayra? Tidak mungkin! Setelah inti Zord keluar dari tubuhku, maka masalah selesai dan aku bisa leluasa bersama Eyn Mayra? Tidak mungkin! Yang terjadi justru kau yang menjadi lebih kuat dan semua orang kerepotan menghadapimu. Itu bukan ide bagus. Yang terbaik adalah, kau serahkan jiwa murni Eyn Mayra, maka kuanggap peristiwa ini tak pernah terjadi. Bagaimana?” Dante waspada ketika Xorcius menampakkan diri. Jubah lusuh bertudung menutupi kepalanya yang terdapat benjolan di sana-sini juga berbau busuk, sementara kristal ungu yang berisi jiwa murni Eyn Mayra melayang di atas tangan kanannya.
“Lakukan saja apa yang kusuruh, Dante! Menurutku kau tak punya pilihan apalagi ganti memerintahku. Aku tidak pernah hidup dari belas kasihan. Sekarang, serahkan dirimu maka kukembalikan jiwa murni Eyn Mayra kembali masuk ke dalam raganya. Jika tidak, aku tinggal meremuknya.”
“Tunggu!” cegah Dante sebelum penyihir itu mulai mencengkeram kristal kehidupan Eyn Mayra. “Baiklah, bagaimana cara barter kesukaanmu? Kau lepaskan Eyn Mayra, atau … aku yang maju lebih dulu?!”
Xorcius kaget, tiba-tiba Dante sudah muncul di depannya, mencekik lehernya dan mengangkat tinggi-tinggi hingga kehabisan napas. “Kau tak tahu apa yang kau lakukan, Carlo Dante! Kau lupa, aku memiliki pasukan kegelapan!”
Zeal cepat menggerakkan tubuh Dante agar menjauh dari Xorcius, sebab serangan anak buah Xorcius bergerak tak kasat mata menuju ke arahnya. “Saatnya pedangku keluar dari ragamu, Dante. Mustahil menghadapi mereka semua tanpa senjata.”
“TIDAAKK! AARGGHH!!” Dante meronta. Zeal tak memberinya kesempatan untuk bernapas atau sekadar menyiapkan diri. Tengkuk lehernya terasa tertarik dan sakitnya masih sama seperti sebelumnya. Pedang pendek itu pun keluar dari punggung Dante dan Space DJ itu kini dikuasai Zeal sepenuhnya. Sepasang matanya berubah putih, rambutnya berkibar keperakan.
Semakin naik, tangan kanan Dante meraih gagangnya hingga pedang itu telah keluar sepenuhnya dan mantap dalam genggaman. Pedang yang semula pendek semakin membesar hingga melebihi bobot Dante, namun anehnya, Dante dalam pengaruh Zeal, mampu mengibaskannya seperti kapas ke arah semua makhluk kiriman Xorcius. Dalam waktu singkat, Xorcius kehabisan bala tentaranya yang berupa hewan-hewan aneh karena mati terpenggal. Akan tetapi, ia masih punya jiwa murni Eyn Mayra sebagai penyelamatnya.
“Aku belum kalah. Serahkan saja inti Zord-mu dan Eyn Mayra bisa selamat. Ini kesempatan terakhirmu.”
Sepasang mata Dante yang semula putih, kini kembali ke sediakala, tanda bahwa ia mendapatkan kesadarannya meskipun diliputi kekuatan Zeal. Perlahan, cahaya Zeal pun redup, pedang besar itu ia tancapkan di tanah. “Baiklah, demi Eyn Mayra, kuserahkan inti Zord padamu. Berikan kristal itu pada Zeal. Zeal, jangan halangi aku kali ini.”
“Tapi …. ”
“Tetaplah di luar tubuhku agar kau bisa mengambil jiwa murni itu. Xorcius, berikan kristal itu pada Zeal agar aku tahu kau tak ingkar janji. Lihat, aku akan berlutut. Kita akan membuat segalanya lebih mudah.” Dante benar-benar berlutut. Ia kembali pada wujud manusia, wujud terlemah yang menurut Xorcius tidak akan berarti apa-apa tanpa Zeal yang membentenginya.
Xorcius merasa aman.
“Ini, kukembalikan Eyn Mayra padamu!” Tangan Xorcius menggerakkan kristal ungu tersebut supaya terbang melayang menuju Zeal. Zeal menerimanya dengan hati-hati. “Sekarang, giliranmu. Matilah kau, Carlo Dante!!”
Ternyata itu cara keji Xorcius mendapatkan inti Zord, menghabisi Dante terlebih dahulu. Ia jelas berbohong dan melanggar kesepakatan untuk mengeluarkannya tanpa rasa sakit. Namun saat berada di atas Dante dengan pedang terhunus, ia terkejut. Dante yang duduk berlutut itu hanyalah ilusi. Sosoknya menghilang begitu saja, digantikan sosok lain di belakangnya yang begitu cepat menusukkan sebilah pedang ke jantungnya!
“Dante, kau … ?!” rintihnya pada detik-detik terakhir kematiannya.
“Kau yang melanggar janji lebih dulu, aku hanya membalasmu.” Dante mencabut pedangnya, darah Xorcius pun menyembur keluar dari badannya yang kurus.
Tangan Xorcius berusaha menggapai, masih sempat mengutuk sebelum kehilangan nyawa. “Maka carilah kekasihmu ke seluruh bumi! Kau takkan menemukannya hingga habis waktu kehidupannya di dunia ini!” Tangan itu bergetar, lalu diam layu, seiring lenyapnya kristal ungu dari perlindungan Zeal, terlempar sangat jauh entah di mana.
“EYN MAYRAA … !!” teriakan Dante sia-sia, mengutuk kelengahannya sendiri. Ketika berpaling, penyihir itu telah tewas, mana mungkin mengorek informasi darinya lagi. “Zeal, kita harus segera mencarinya! Sebelum Eyn Mayra …. ”
Tangan Zeal mencegah langkah Dante. “Kristal ungu itu adalah cahaya kehidupan Eyn Mayra. Jiwa murninya mencari tubuh. Bila sudah masuk dalam tubuh seseorang, Eyn Mayra masih sanggup bertahan. Bagaimanapun aku akan tetap mendampingimu menemukan kristal itu walau di ujung dunia sekalipun.”
Bagi Dante, ia harus cepat. Pertama, ia harus kembali ke istana Eyn, menemui Eyn Rasyid dan Eyn Huza. Sialnya, di sana, ada Al Hadiid juga yang telah menunggunya. Dari raut wajah mereka, sepertinya sudah tahu apa yang telah terjadi.
“Jiwa murni Eyn Mayra terlepas?” tanya Eyn Huza. Melihat Dante mengangguk dirundung kecewa, Eyn Huza mendekatinya. “Jangan menyalahkan dirimu, semua di luar kuasamu. Eyn Mayra masih punya harapan. Bila tubuhnya menghangat, berarti kristal ungu telah masuk ke dalam tubuh seseorang. Ia bisa selamat asal tidak dibiarkan suri sepanjang purnama nanti.”
“Sebaiknya kita berhenti percaya pada orang ini. Lihat, apa yang dia lakukan!” Emosi Al Hadiid masih meninggi. “Kalau kita hanya menunggu, kemungkinan besar hanya maut yang akan dia berikan pada Eyn Mayra.”
“Al Hadiid!” Dante tidak bisa menahan kesabaran lagi. Tuduhan demi tuduhan adik Eyn Mayra itu kian menusuk hatinya. “Kau boleh membunuhku jika sampai gagal menemukan jiwa murni Eyn Mayra. Sementara menungguku, duduk dan amatilah. Jangan sampai apapun yang kulakukan luput dari perhatianmu agar leluasa menyalahkanku. Ingat, kau sudah menjadi panglima perang muda. Ternyata masih banyak yang harus kau pelajari, terutama mengendalikan emosi. Kau tidak bisa menang dengan kemarahan.” Dante menoleh pada Eyn Rasyid, mengangguk dan membungkuk penuh hormat, “Yang Mulia, tidak akan kubiarkan Eyn Mayra menderita. Zeal telah menunjukkan semuanya.” Kemudian beralih pada Eyn Huza, “Kini aku percaya bahwa aku dan Eyn Mayra telah terikat oleh suatu benang merah atau … semacamnya.”
Eyn Huza tersenyum melihat ekspresi Dante yang kesulitan merangkai kata untuk pamit. Namun ia tetap memberi pria itu waktu untuk meneruskan kalimatnya.
“Aku hanya lupa bahwa peristiwa itu pernah terjadi, malam ketika aku dan Eyn Mayra pertama kali bertemu. Oleh karena itu, aku ingin … kalian para Eyn, sedikit bersabar padaku, terutama kau, Al Hadiid. Aku memang tak sempurna dan latar belakangku sangat hina. Ibarat orang yang melamar pekerjaan, sebelum memasuki pintu, ia sudah ditendang keluar. Sebelumnya, aku tak pernah mengemis kesempatan, akan tetapi … demi Eyn Mayra, semua pasti kulakukan. Omong kosong dengan harga diri jika itu bisa membuatnya tetap hidup.”
“Tentu, tiada alasan kami meragukanmu, setidaknya aku dan Eyn Huza memercayaimu. Ya ‘kan, Al Hadiid?” Eyn Rasyid tersenyum. Al Hadiid hanya membuang muka, belum sudi membalas tatapan Dante. “Lalu, apa yang kau inginkan jika Eyn Mayra kembali? Istana? Pangkat? Harta? Katakan saja.”
Kini giliran Dante yang tersenyum penuh arti, ucapnya, “Tidak perlu repot-repot, Yang Mulia. Hanya Eyn Mayra yang kuinginkan.”
Al Hadiid mengamati punggung Dante yang telah menghilang dari balik pintu, lantas mengungkapkan sesuatu yang menurutnya aneh. “Apakah Zeal membawanya ke masa lalu?”
Eyn Huza mengangguk. “Tentu. Roh pedang mampu melakukan lintas waktu, itu sebabnya dia cocok dengan Eyn Mayra yang mampu melihat sosok masa depan.”
“Apa?”
“Eyn Mayra berkata bahwa dirinya dari masa depan memintanya untuk terus percaya pada Dante dan membimbingnya untuk menjadi kesatria Eyn sejati. Ia juga pernah bermimpi, Dante akan menjadi raja kita.”
Al Hadiid tergelak, “Apa? Lelucon murahan itu …. ”
“Eyn Mayra tak biasa bergurau bila ada hubungannya dengan nasib kerajaan kita. Kita tetap harus mempertimbangkan kemungkinan itu,” kata Eyn Rasyid bijak. “Eyn Huza tidak bersedia menjadi raja penggantiku, kau lebih suka pengobatan. Al Hadiid, negeri ini butuh benteng terkuat yaitu dirimu. Sedangkan Eyn Mayra masih bisa menjadi ratu, bila tidak bersuami.”
“Kenyataan pahit bila akhirnya kita dipimpin oleh seorang manusia biasa,” Al Hadiid bersiap meninggalkan balairung. “Sangat disesalkan, mengingat begitu banyak pangeran, raja atau keturunan darah biru lainnya yang bermimpi bersanding dengan Eyn Mayra.”
“Bagaimana denganmu? Yakin dengan pendapatmu? Kaulah yang sering mendampingi Eyn Mayra sejak dia masih kecil.” Lagi-lagi, Eyn Rasyid hanya tersenyum tulus, ia sangat memahami karakter tiga adiknya yang berbeda-beda. Mencoba mencari jawaban pasti dari sikap Eyn Huza yang tampak mendukung Carlo Dante.
“Tentu, memang hanya Dante yang bisa. Bukan orang lain, apalagi kita. Al Hadiid masih sangat naïf. Mungkin pengalaman akan sedikit menenangkan meskipun butuh lebih banyak waktu. Dan tanpa sadar, Dante akan membantu Al Hadiid menemukan karakter terbaiknya.”
“Ya, kau benar.”
Silau cahaya fajar sebentar lagi menyingsing dari ufuk timur. Menyapa siapa saja yang ingin menyambutnya. Terkenang masa-masa kelam di pelupuk Eyn Huza kala sang raja, ayah mereka, wafat. Perang telah memperlebar jurang batas-batas kemanusiaan sehingga keluarga istana pun harus kehilangan sosok pemimpinnya.
Al Hadiid yang masih kanak-kanak terus bertanya di mana ayahnya, sementara Eyn Mayra terus sibuk dengan khayalan seolah raja masih berada di dekatnya. Sungguh masa-masa yang berat! Batin seorang kakak tentu merana menyaksikan perubahan sikap adik-adiknya melewati saat terberat. Bila sekarang Eyn Mayra telah menemukan pria-nya, apakah adil untuk menghalangi kebahagiaan yang telah lama pudar? Hanya bersama Dante, adik perempuannya itu menemukan bahagia walaupun belum sepenuhnya dan lambat laun Dante akan menggantikan perannya. Seperti itulah jalan kehidupan.
Carlo Dante.
Benarkah laki-laki itu bisa dipercaya?
Di istananya, Eyn Huza mengobrak-abrik peti kayu tempat menyimpan ‘harta karun’ Eyn Mayra semasa belia. Beberapa di antaranya adalah barang yang sengaja dipisahkan dari Eyn Mayra karena membuatnya sangat terobsesi. Benda kesayangan yang sebenarnya bukan mainan, hanya seonggok sampah plastik tak berharga. Bekas bungkus makanan ringan yang pernah diberikan Carlo Dante untuk menenangkan adiknya. Hanya dengan memegang benda itu, Eyn Huza merasakan kegetiran. Perasaan yang sama yang dirasakan Dante setiap harinya. Hingga pada kesakitan yang terdalam, ketika Roughart memasukkan inti Zord ke dalam tubuh bocah laki-laki malang itu.
Bocah yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang jatuh cinta pada adiknya. Eyn Huza merasakan jantungnya seperti diremuk, napasnya pendek tersengal, keluar keringat dingin hanya dengan merasakan kesakitan yang sama. Ia tahu, bagaimana rasanya sejenak menjadi seorang Carlo Dante.
Kelam dan penuh rasa sakit, apakah itu yang akan diberikan Dante pada Eyn Mayra? Atau sebaliknya? Mengapa nalurinya antara bimbang dan kecewa, sedih dan marah? Perasaan campur aduk yang selama beberapa menit nyaris membuatnya gila. Perlahan diletakkannya kembali bungkus plastik itu lalu dihancurkan dalam genggaman. Semoga, takkan terjadi apa-apa meskipun Eyn Huza telah mulai percaya. Demi adiknya.
****