Keluar dari istana, Dante berjalan lurus menelusuri halaman yang sangat luas. Tengah malam yang mencekam sebab kematian seorang dayang cepat tersebar sehingga para Eyn memperketat penjagaan seluruh kompleks istana. Suasana yang berlawanan dengan temaram cahaya bulan. Seharusnya saat seperti ini begitu indah dan menyejukkan, ciri khas istana Eyn yang selalu berkilau keemasan tiap kali mendapat terang cahaya matahari kala siang.
Terus melangkah, Dante merasakan atmosfer yang berbeda. Ia memasuki era yang sangat dikenalnya. Lagi-lagi, roh pedang Zeal mengajaknya kembali ke masa lalu, tepatnya ketika usianya delapan tahun dan Alex-Ruby masih hidup. Pemandangan malam kota Roma kurang lebih sama dengan suasana istana Eyn saat ini. Tenang, namun mencekam.
“Sebentar lagi Eyn Mayra tiba. Kau akan paham mengapa Yang Mulia selalu mengaitkan dirimu dengan masa lalunya.” Suara Zeal terdengar di telinga.
Benar. Sebuah mobil hitam membelah jalanan diiringi beberapa mobil pengawal. Tiba di depan hotel termewah di kota, rombongan itu berhenti. Para pengawal mengelilingi mobil paling depan, memastikan pejabat penting di dalamnya dapat keluar dengan selamat. Seorang raja muda penuh sabar dan hati-hati menunggu adik perempuannya keluar dari mobil lalu menggandengnya. Sebelum meninggalkan mobil, anak perempuan tujuh tahun itu sempat menoleh pada Dante yang mengawasi dari kejauhan dengan tatapan penuh arti.
“Eyn Mayra memiliki kemampuan melihat siapapun yang berasal dari masa depan. Saat ini, dia sedang melihatmu, hanya belum tahu siapa dirimu.” ungkap Zeal, hanya dengan begini ia akan mengingatkan Dante akan sebagian kecil kenangan masa lalunya.
Dante terus mengawasi Eyn Mayra kecil hingga menghilang di balik dinding hotel. “Biar kutebak, aku tidak boleh mencampuri kejadian apapun yang akan terjadi?”
“Ya. Sebentar lagi pertunjukannya akan dimulai.”
Sebagian pengawal rombongan Eyn yang belum sempat meninggalkan area tiba-tiba diserang sekelompok remaja tak dikenal. Gerakan mereka sangat cepat dan terang-terangan. Dalam hitungan detik, semua pengawal itu, bahkan petugas keamanan hotel akhirnya tewas. Sepasang suami istri berpakaian serba hitam dan mengenakan penutup wajah khas Lethal-X bersiap meninggalkan sebuah van yang diparkir di lorong jalan tak jauh dari hotel sambil mengingatkan Dante yang masih bocah.
“Ingat, Dante! Jangan keluyuran kemana-mana! Tetap tinggal di dalam van, mengerti?” tegas Alex sembari mengacak-acak rambut hitam lurus milik Dante.
“Kurasa dia mengerti. Ini hanya butuh waktu sebentar, Sayang.” Ruby mencium kening Dante penuh kasih. “Apa dia sakit?”
“Dante memang biasa seperti itu bila ikut kita melakukan misi, tapi ini lebih baik daripada dia sendirian di sarang. Ayo, cepat, waktu kita hanya sedikit. Raja dari negeri seberang itu harus mati malam ini.”
Tembak-tembakan dan pembunuhan tak urung terjadi. Hampir semua orang tak bersalah termasuk para tamu hotel lain yang ditemui anggota Lethal-X menemui ajal. Peristiwa itu dikenang sebagai ‘malam hotel berdarah’ yang menampar wajah Presiden Italia saat itu. Secara politis, Roughart ingin menunjukkan tajinya dengan menyematkan nama buruk Italia di depan dunia internasional. Cukup dengan membunuh seorang tamu kehormatan dan kebetulan, Eyn Rasyid adalah sasarannya.
Dante kecil keluar dari mobil. Tangan kirinya memegang sebungkus makanan ringan rasa keju yang sudah habis separuh, mulutnya tak berhenti mengunyah. Berpikir sebentar, kemudian memutuskan masuk ke dalam hotel tak ubahnya seperti anak kecil biasa. Tiba di lobi, pemandangan korban kekejian Lethal-X sama sekali tak menyurutkan niat Dante. Hal itu sudah biasa baginya.
Di tangga, dua mayat, sepasang kakek nenek tergeletak bersimbah darah. Melangkah ke lantai berikutnya, jejak kebrutalan para anggota Lethal-X yang sudah dicuci otak makin tampak. Darah menggenangi mayat korban, jelas sekali bahwa mereka tak sempat berteriak apalagi minta bantuan. Roughart pasti memerintahkan agar tak seorang pun penghuni hotel yang dibiarkan hidup. Aksi pembersihan massal yang dilakukan sekelompok generasi muda Roma sendiri yang berhasil dijadikan senjata mematikan paling efektif.
Di lantai dua, keributan masih terjadi. Teriakan pelepasan nyawa seseorang menjadi acuan Dante bahwa aksi itu belum berakhir. Mengapa lama sekali? Tiba-tiba seorang remaja perempuan anggota Lethal-X keluar dari lift, lalu berhenti di tempat Dante berdiri. Sebilah belati terangkat hendak menikam leher Dante, namun terhenti setelah Dante menunjukkan penanda inti Zord di pergelangan tangannya. “Hentikan! Diamlah di sini!”
Remaja perempuan itu menurut. Ia hanya berdiri, matanya dengan pandangan kosong terus mengekor ke arah Dante melangkah. “Ke mana kau akan pergi?” tanyanya.
Dante menoleh, balik bertanya, “ Di mana Alex dan Ruby? Mengapa lama sekali?”
“Lantai paling atas. Target memiliki kekuatan khusus. Kita tidak bisa membunuhnya begitu saja.”
Selepas memperoleh petunjuk, Dante naik lift menuju lantai teratas. Di dalam lift, ia ditemani mayat seorang petugas hotel yang tersayat urat lehernya. Setelah sampai, ia menemukan keanehan. Beberapa anggota Lethal-X telah tewas. Apa yang terjadi? Siapa sebenarnya tamu Roma kali ini? Dante yang penasaran memutuskan terus berjalan, hingga telinganya menangkap isak tangis seorang anak perempuan yang hampir seusianya, bersembunyi di balik pot bunga berukuran besar. Di sampingnya, seorang pengawal setia telah meregang nyawa saat berusaha melindunginya.
“Namaku Dante. Carlo Dante. Ayo, ikutlah denganku. Kutunjukkan tempat aman.” Ia mengulurkan tangan, namun gadis cilik itu belum percaya padanya.
“Kakakku akan menjemputku, aku harus tetap di sini.” tolaknya, teringat pesan Eyn Rasyid untuk tetap bersama pengawal Eyn yang menjaganya, yang kini telah tewas.
“Tampaknya pertarungan mereka belum berakhir, tempat ini tidak aman. Sebentar lagi Roughart akan mengirim lebih banyak pembunuh seperti mereka. Ayolah, sebelum kita kehabisan waktu.”
Gadis cilik itu pun menurut. Ia menyambut uluran tangan Dante lalu mengikutinya menuju sebuah ruangan kecil tempat menyimpan alat-alat kebersihan.
“Dengar, jangan pernah keluar sebelum situasi aman. Bila kau dengar suara burung tercekik, itu tandanya gerombolan sadis itu akan pergi. Tunggulah petugas keamanan atau kakakmu menemukanmu. Jangan pernah keluar sendiri walaupun kau pikir sudah aman, mengerti?” pesan Dante. “Ambillah ini,” diulurkannya makanan ringan yang sejak tadi dipegangnya. “Masih ada separuh, makanlah bila kau lapar sambil menunggu tim penolong datang. “Aku harus keluar sekarang.”
Sebelum keluar, tangan gadis itu menahan tangannya. “Aku takut. Akankah kita bertemu lagi?”
“Bila aku menemanimu, mereka akan curiga. Jangan khawatir, Tuhan selalu bersamamu, melindungimu. Berdoalah. Itu yang selalu dikatakan Alex dan Ruby. Oh ya, siapa namamu?”
Gadis bergaun marun tersebut tersenyum padanya seraya berkata, “Eyn Mayra, itu namaku.”
Dante membalas dengan senyuman yang sama. “Senang bertemu denganmu, Eyn Mayra. Tenanglah, ini takkan lama.”
Mereka berpisah dan Eyn Mayra hanya bisa mengamati melalui kaca di pintu. Dante melangkah menuju lift dan bertemu dengan orang tua angkatnya yang bergegas meninggalkan area lantai atas sambil menyambar tubuh Dante.
“Apa yang kau lakukan, Dante?! Sudah kubilang supaya tetap tinggal di van!” hardik sang ayah. “Mereka bukan manusia. Roughart tidak mengatakan apa-apa tentang Raja Rasyid. Banyak anggota kita yang mati tanpa sempat melawan. Ruby, arahkan yang selamat ke lokasi penjemputan, sekarang! Aku akan mengembalikan Dante ke dalam van. Setelah mereka pergi, menyusullah!”
Ruby mengangguk. “Baik, jaga dirimu!”
Saat itu juga Dante mengeluarkan suara aneh, mirip burung tercekik seperti pesannya, cukup keras, membuat Alex keheranan.
“Jangan aneh-aneh, Bocah! Kita sedang dalam masalah!”
Dalam waktu singkat, Alex berhasil masuk ke dalam van, dan tak lama kemudian, menyusullah Ruby. Napasnya tersengal-sengal. “Sulit kubayangkan kemarahan Roughart, seharusnya ini menjadi misi yang sangat mudah. Anak-anak itu sudah siap setelah sekian lama kita melatih mereka.” ucapnya penuh sesal. “Aku … tidak ingin Dante bernasib sama seperti mereka. Mana Sayangku?” Ruby meraih tubuh Dante lalu menciumi wajah dan tangannya. Ia sangat bersyukur. “Kita harus menyiapkan karakter Dante sedari sekarang, sebelum terlambat. Dia harus bisa menolong dirinya sendiri.”
“Sudah kumulai sejak pertama aku melatihnya, tak perlu cemas. Dante, kau baru saja menyelamatkan seseorang ‘kan? Suara anehmu tadi, adalah prosedur standar yang pernah kuajarkan padamu.” tanya Alex lembut tanpa terkesan menginterogasi.
Dante ganti menatap Ruby, lalu mengangguk. “Dia hanya seorang gadis kecil. Aku takut kalian akan membunuhnya atau menggunakannya untuk dijadikan sandera.”
Ruby menyibakkan rambut yang menutup dahi putra angkatnya itu, memastikan tak ada luka gores dan sebagainya. “Dante, jika kakak gadis kecil itu memiliki kekuatan luar biasa, adiknya pasti sama. Lain kali, jangan ikut campur misi. Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan.”
Dante mengangguk.
“Setidaknya kita tahu bahwa Dante berbeda dari kawan-kawannya yang lain. Kita belum kehilangan dia. Sebaiknya kita pergi dari sini. Mobil polisi sudah banyak berdatangan.” Alex mengambil rute melingkar sehingga tak terlihat polisi. Pasangan itu sangat bersyukur telah berhasil melewatkan satu malam menegangkan walaupun tidak akan melegakan Roughart. Yang tidak mereka sadari adalah Dante telah menjadi inang bagi kekuatan kegelapan yang dimasukkan Roughart secara diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Di dalam hotel, terjadi evakuasi para jenazah. Mobil ambulans tak henti meraung-raung mengangkut beberapa korban luka yang berhasil selamat. Para polisi yang ingin minta keterangan dari Raja Eyn Rasyid dihalangi oleh para pengawal Eyn yang baru datang, termasuk seorang panglima perang senior.
“Kami akan meninggalkan Roma malam ini, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Bila ada yang tahu informasi tentang mereka, sudah semestinya menjadi tugas kalian, kepolisian Roma.” tegas panglima perang senior tersebut sebelum masuk ke helikopter terakhir yang mengangkut rombongan Eyn.
Eyn Rasyid yang belum genap beberapa bulan dilantik menjadi raja menggantikan ayahnya yang wafat, memeluk Eyn Mayra di dalam helikopter. Ia sempat mengira telah kehilangan adik perempuan yang sangat disayanginya. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendiri lagi.” Perhatiannya tertuju pada sebungkus makanan ringan yang digenggam Eyn Mayra sangat erat. “Eyn Mayra, apa itu? Siapa yang memberimu?”
Eyn Mayra menjauhkan benda itu dari tangan Eyn Rasyid yang berusaha mengambilnya. “Milikku. Seorang anak laki-laki memberinya untukku.”
“Anak laki-laki? Siapa namanya?”
“Carlo Dante. Dia yang menolongku agar tak terlihat oleh musuh. Apakah kita bisa bertemu dengannya suatu hari nanti?”
Eyn Rasyid merenung, hampir mustahil percaya bahwa ada seorang anak berjalan dengan tenang di area hotel yang telah berserakan mayat. Kemudian menolong adiknya tanpa ketakutan sedikitpun? Siapa dia sebenarnya?
Seiring berlalunya waktu, Eyn Rasyid tak pernah mengungkitnya lagi atau sekadar mengingat tentang sosok Carlo Dante, tetapi ada satu saudaranya yang justru memikirkannya. Dialah Eyn Huza.
Sejak peristiwa tragis tersebut, ia terus mendampingi Eyn Mayra. Memastikan kepribadiannya sebagai putri mahkota tidak berubah. Memang semua tampak aman-aman saja, kecuali satu hal. Hari demi hari Eyn Mayra seolah bermain dengan khayalannya sendiri. Ia menganggap Carlo Dante sebagai sosok pelindungnya dan selalu bertanya kapankah hari itu datang. Hari saat ia menatap mata elang anak laki-laki yang telah menolongnya, untuk kedua kali.
“Mengapa kau sangat ingin bertemu dengannya?” tanya Eyn Huza yang memperhatikan adiknya menulis sebuah nama di tanah berpasir.
Carlo Dante.
Eyn Mayra enam belas tahun tak menjawab apapun, namun kedua pipinya bersemu. “Harapan. Nama itu memberiku harapan baru.”
“Memangnya kau sakit, terluka? Semua harapanmu ada di Eyn. Carlo Dante entah ada di mana, dia tidak akan datang.” goda Eyn Huza yang berharap gadis itu akan putus asa dan melupakan semua.
“Dan?” Eyn Mayra menoleh, wajah perinya terlihat cantik, ibarat bunga yang baru mekar pagi hari.
“Dan?” Eyn Huza balik bertanya. Ia jelas takkan mengizinkan sembarang orang menyentuh adiknya, meskipun pernah menyelamatkannya.
“Berterimakasih padanya. Aku belum mengucapkan kata itu padanya.”
“Oh.”
“Juga memberinya kekuatan Zeal.”
Barulah mata Eyn Huza membeliak, “APAA?!”
“Itu pantas untuknya. Carlo Dante akan menjadi kesatria Eyn yang sesungguhnya.”
Eyn Huza mendengarnya bak petir di siang hari, mana mungkin Eyn Mayra sembarangan menyerahkan sumber kekuatan pelindungnya? Tanpa Zeal, Eyn Mayra bukanlah siapa-siapa. Ia takkan bisa melindungi diri sendiri dari mara bahaya yang sewaktu-waktu mengincar istana Eyn. Keputusan Eyn Mayra bukanlah isapan jempol semata. Ia memang menyiapkan Zeal untuk kehadiran Dante sejak lama.
Dante tertegun menyaksikan potongan demi potongan peristiwa masa lalu itu.
Suara Zeal menyadarkan lamunannya, “Sudahkah kau percaya, Space DJ?”
****