Langit bergemuruh. Awan hitam bergulung di atas kerajaan Eyn. Petir mulai menampakkan taringnya mencoba menghujam bumi. Menggelegar, menakutkan siapa saja yang mencoba memandang keluar dari jendela rumahnya, termasuk Eyn Mayra.
Badai ketiga. Namun kali ini membawa pertanda. Wanita berkemampuan istimewa seperti Eyn Mayra jelas merasakannya. Dari balik jendela besar aula, ia merenung, ingin rasanya bicara dengan seseorang sekadar mengungkap cemas di batinnya, tapi kemungkinan itu telah tiada. Pria yang seharusnya memberi harapan itu untuknya telah pergi dan menutup hati untuk selamanya. Sudah tiga tahun sejak kepergian Dante, belum ada kabar apapun sampai padanya. Mengingat nama itu, relung hatinya terasa sakit dan butiran benda bening selalu mengalir di pipinya.
Seorang putri yang sendiri. Tampak kuat namun sesungguhnya rapuh. Teringat terakhir kali ia meninggalkan Dante dalam keadaan hampa. Salahnya, mengapa begitu mudah kecewa? Bukankah Dante yang seharusnya paling sedih, kecewa bahkan marah? Andai saat itu ia menguatkan jiwa Dante, mungkin bukan begini akhir kisah cintanya.
Kau terlalu berharga? Hidup akan kembali normal?
“Dante, ada apa denganmu?! Seharusnya kau datang, seharusnya kau di sini!”
Hanya hening malam yang menyaksikan dukanya, kala Eyn Mayra hanya bisa terduduk sambil menangis setelah meratapi nasibnya. Tangannya melekat pada kaca jendela yang dingin, berharap Dante mendengar tangisan dan doanya, akan tetapi … jarak keduanya terlalu jauh. Selain itu, apakah dia masih memikirkannya? Mengingatnya? Bayang-bayang kehilangan pria itu membuatnya semakin tersiksa. Benarkah seorang putri tidak pantas bahagia?
Hanya sisa kenangan ketika mereka masih bersama. Sebentar saja, tapi cukup menghibur di sela derai tangisnya. Masih lekat bagaimana mata elang Dante menatapnya hingga merasuk begitu dalam di hatinya dan jantungnya selalu berdebar kencang tiap kali pria itu berusaha mendekatinya. Kenangan yang terkubur begitu dalam, sangat menyakitkan!
Tengah larut dalam kekacauan batinnya, tiba-tiba telinganya mendengar jeritan di luar istananya. Disekanya air mata lantas bergegas menuju ke sumber suara, suara milik seorang dayang setianya. Yura.
“Yura!”
Disusurinya kebun belakang istana, hingga tiba di sebuah pohon besar yang gelap, dilihatnya tubuh seseorang tergeletak di sana.
“Yura!” panggil Eyn Mayra sambil berteriak, mendekati dan membalikkan tubuh wanita itu yang tidak lagi bernyawa. “YURAA!! Apa yang terjadi padamu?!” Eyn Mayra memeluk jasad Yura dan menangisinya dalam gelap.
“Andai tak memberontak, dia tak perlu berakhir mengenaskan.”
“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!” Eyn Mayra terkejut, mengawasi bayangan hitam yang mulai menampakkan wujudnya. “Kau!” teriaknya murka, mengenali siapa musuhnya. “Beraninya kau menyusup masuk ke kerajaanku, Xorcius!”
Xorcius, si penyihir jahat berilmu hitam, hanya tertawa melihat kemarahan Eyn Mayra. “Kematian dayangmu adalah kesalahanmu, Yang Mulia, Bagaimana mungkin kau serahkan roh pedang penjaga pada manusia biasa yang tak bisa apa-apa? Saat itu aku sedang berusaha masuk istana tapi wanita bodoh ini melihat bayanganku, jadi, kenapa tidak sekalian kumakan jiwanya? Selanjutnya bersiaplah, sudah lama aku ingin mengakhiri hidup salah satu Eyn. Satu persatu, kalian semua akan musnah!”
Eyn Mayra menangkal serangan Xorcius dengan lapisan pelindung namun sihir makhluk itu terlalu kuat, sedangkan ia tak lagi memiliki Zeal sebagai penjaganya.
“HAHAHAHA!! Kau milikku, Eyn Mayraaa!” Xorcius menebar asap hitam beracun yang akhirnya berhasil membungkam kesadaran putri Eyn itu sedikit demi sedikit hingga hanya sempat menyebut satu nama.
“Dante …,” lirih suara Eyn Mayra memanggil pria yang dikasihinya pada detik terakhir sebelum napasnya terhenti dan tergeletak di samping jenazah dayangnya.
Pada saat yang sama, Dante yang sedang bekerja di atas panggung DJ Soundbuzzter Club terpaksa mengacaukan pertunjukannya sendiri. Musiknya terhenti, gesekan tangan di atas turntable desk carut marut, membuat para pengunjung dan clubbers saling menanyakan penyebabnya. Beruntung, beberapa DJ pengganti selalu siap di balik panggung untuk menyambung pertunjukan meskipun akan mengubah atmosfer musik yang telah berjalan. Sebagian kecil penggemar bahkan memutuskan pulang.
“Ada apa?” tanya Ray sigap, langsung menyeruak di antara para stafnya yang mengelilingi Carlo Dante di ruang istirahat.
“Dia jatuh terduduk begitu saja setelah kehilangan keseimbangan, dari tadi terus memegangi bagian ulu hati. Haruskah kita …. ” jelas Cain, dia-lah yang memapah Dante menjauh dari panggung.
“Tidak, tak usah ke klinik, mereka tidak akan bisa menghilangkan nyerinya.” cegah Dante sebelum Ray menyetujui usul Cain. Tangannya belum lepas mencengkeram bagian itu.
“Apa maksudmu?” Ray teringat, “Hei, kalian, keluarlah! Kembalilah bekerja!” Ia mengusir para stafnya.
“Tak apa-apa, Ray. Mereka hanya khawatir padaku.”
“Ya, tapi oksigen di ruangan ini jadi terbatas jika terlalu banyak orang. Sudahlah, ada apa? Cain, tolong tutup pintu. Ikutlah keluar ruangan supaya yang lain tidak curiga. Kurasa Dante akan baik-baik saja.” pinta Ray pada Cain yang langsung mengangguk menurutinya. Sesudah pintu ditutup, Ray kembali memusatkan perhatian pada Space DJ kebanggaan Saturn Gallant tersebut. “Adakah yang bisa kubantu? Kau tak pernah begini sebelumnya.” Wajahnya mulai cemas.
“Aku harus ke istana Eyn. Eyn Mayra membutuhkanku.”
Mata Ray membulat, ingin menanyakan masalahnya namun ditahannya. Ia tahu bahwa bahwa ada batasan tertentu pada urusan Dante yang bukan ranahnya untuk bertanya. “Aku akan meminta Kapten Skivanov menyiapkan pesawat …. ”
“Tidak usah. Katakan saja padanya aku ada urusan. Jika tidak kuatasi, aku bisa mati. Berarti ini masalah Saturn Gallant juga.”
“Baik, aku mengerti. Lalu, bagaimana caranya kau ke sana?”
“Jangan berkedip, Ray. Ini jarang terjadi.”
Dalam waktu singkat, Dante telah berpindah tempat, tubuhnya lenyap. Ray melotot, berkali-kali mengusap mata tapi Dante tetap tak ada di depannya. Memahami bahwa bangsa Eyn memiliki kemampuan khusus yang ditularkan pada Dante, ia pun percaya pada apa yang dilihatnya. “Hhh, Dante, jaga dirimu.” gumamnya, sebuah pesan yang tak terdengar.
Tiba di balairung istana dalam balutan cahaya perak, Zeal mengubah penampilan Space DJ itu dengan busana zirah ksatria yang membuat Dante semakin gagah dan tampan. Hanya ada Eyn bersaudara dan beberapa pejabat penting dan pengawal istana yang ada dalam ruangan nan besar itu. Yang terlihat aneh adalah suasana berkabung yang menyelimuti wajah mereka.
Dante menyadari penyebabnya. Di tengah ruangan terdapat sebuah pembaringan dan satu peti jenazah. Menguatkan hatinya, ia berjalan mendekat, dan mendapati jenazah seorang dayang dalam peti perunggu. Melanjutkan langkah hingga sampai pada pembaringan Eyn Mayra. Gadis yang sekarang menjelma menjadi wanita dewasa itu seperti sedang tidur, tapi … mengapa tak bernapas?
“Setelah tiga tahun, pemandangan ini yang kalian tunjukkan padaku? Sampai kapan kalian meragukan Eyn Mayra? Eyn bersaudara tidak lengkap tanpanya. Bukankah kalian telah sanggup melindunginya?!” bentak Dante marah karena janji para Eyn luput ditepati. Emosinya nyaris membludak, bahkan Al Hadiid tak lagi menentangnya. Dante mendekati Eyn Mayra, dipeluknya wajah wanita yang seharusnya menjadi miliknya, kekasih seumur hidup. “Kau tahu aku mencintaimu,” ucapnya getir dengan mata basah. Sesaat, ia merasakan sesuatu. Denyut jantung. “Dia, masih hidup?” tanyanya, berpaling ke arah Eyn Huza. Dilihatnya Eyn Huza mengangguk.
“Hanya kesatria pilihan Zeal yang mampu mendengar detak kehidupan Eyn Mayra. Kami ingin mendengarnya langsung darimu.” kata Eyn Rasyid dari singgasananya. “Masing-masing dari kami siap berkorban demi rakyat, tapi tidak di tangan Xorcius.”
“Xorcius?”
“Seorang penyihir ilmu hitam. Ia berhasil meningkatkan kekuatannya dan menembus pertahanan istana Eyn Mayra. Dayang itu tidak bisa kembali, tapi Eyn Mayra masih punya harapan bila kita mendapatkan jiwa murninya dari tangan Xorcius.” lanjut Eyn Rasyid.
“Tidak mudah melacak keberadaan Xorcius. Al Hadiid sudah tak sabar ingin menghabisinya tapi sia-sia.” Eyn Huza menuruni tangga, berdiri di depan Dante. “Eyn Mayra hanya memanggil pelindungnya, satu-satunya orang yang pertama diingatnya. Dia memanggilmu. Hanya kau yang tahu di mana Xorcius bersembunyi dan membawa jiwa murni Eyn Mayra.” Kemudian Eyn Huza mengangguk pada hadirin di ruangan itu, meminta mereka meninggalkan balairung kecuali kedua saudaranya. “Sesungguhnya, aku tahu bahwa kau dan Eyn Mayra telah terhubung sejak kecil. Terhubung oleh ikatan batin sejak kalian bertemu pertama kali. Hingga detik ini, aku baru memercayainya. Maafkan aku, Dante. Ternyata, sikap kami justru membahayakan Eyn Mayra.”
“Terhubung sejak kecil?”
“Waktu itu usianya tujuh tahun. Eyn Rasyid menghadiri undangan kenegaraan di kota tempatmu tinggal namun terjadi insiden. Kau-lah yang menyelamatkan Eyn Mayra pada saat kami lengah menjaganya. Sejak saat itu, dia membuat janji untuk melindungimu kelak. Bukan balas budi, tapi semacam … perasaan yang tak bisa kupahami. Eyn Mayra masih begitu muda, mana mungkin dia tahu soal cinta? Tapi, percaya atau tidak, itulah yang terjadi. Hari demi hari, ia sibuk menulis namamu di tanah dengan jarinya sendiri. Hingga malam ini, aku masih mendengar tangisnya namun tak pernah kusangka Xorcius akan menutupi semuanya sehingga tak satupun dari kami mendengar teriakannya! Maafkan kami, Dante.” sesal Eyn Huza, menyudahi penjelasannya.
“Sampai kapan Eyn Mayra sanggup bertahan?”
“Hanya sampai fajar, lewat dari itu, Xorcius akan menghisap jiwa murninya, sama dengan yang dia lakukan pada Yura, dayang yang tewas. Penyihir itu menginginkan sesuatu, jika tidak, dia akan membawa raga Eyn Mayra bersamanya. Ada sesuatu dari kita yang membuatnya tertarik dan berharap datang sendiri padanya.”
Al Hadiid menatap tajam pada Dante, turun menuju pembaringan kakaknya, menuding pria itu seraya berkata, “Inti Zord! Sudah pasti dia mendengar tentang Dante dan mengincar benda laknat itu! Bukankah bau busuknya disukai lalat seperti Xorcius?”
“Al Hadiid!” Eyn Huza berusaha menengahi. “Bukan ini yang diinginkan Eyn Mayra.” Digenggamnya lengan keras dan berotot adik bungsunya itu.
“Seharusnya kita mencegah Eyn Mayra sejak dulu. Karena impian kosongnya, dia terjebak dalam penderitaan. Setelah ini berakhir, Zeal harus meninggalkan Dante dan memenuhi tugasnya menjaga Eyn Mayra! Kita tidak pernah membutuhkan Dante, aku tidak sudi minta maaf padanya!”
Eyn Rasyid berdiri dari singgasana, hanya sang raja yang mampu meredam emosi harimau gurun yang kerap meninggi. “Masalah akan semakin rumit bila kita selalu puas dengan pendirian masing-masing. Sudah kuputuskan untuk mendukung keinginan Eyn Mayra apapun risikonya. Eyn Huza, tugas dan hatimu tak boleh setengah-setengah, sebab kau pilar kedua yang menyangga keutuhan kerajaan ini.”
Eyn Huza mengangguk, menyanggupi titah raja. “Baik, Yang Mulia.”
“Al Hadiid, kakakmu sangat paham akibatnya bila memilih Dante sebagai pemegang roh pedang. Bukan karena balas budi atau cinta, melainkan dia mampu melihat kemampuan Dante seutuhnya. Sudah kita buktikan sendiri, Dante mampu bertahan dari sakitnya menerima Zeal dalam raganya. Dalam hal ini, Dante pasti merasa dirugikan sebab kita mencampuri hidupnya. Dante tidak untung apapun karena pada dasarnya, Zeal adalah penjaga istana kita. Cinta Eyn Mayra juga menambah deritanya. Selama tiga tahun, rela berpisah hanya untuk menuruti keegoisan kita melarang hubungan mereka. Eyn Mayra juga meratapi nasibnya, apalagi? Oh ya, inti Zord? Tergantung bagaimana kau menilainya. Akankah menjadi kekuatan, atau penghalang? Manakah yang akan kau lihat, Al Hadiid? Sebagai seorang panglima, seharusnya kau mampu menata dirimu. Dan kau, Dante, berhentilah menghela diri. Lakukanlah yang terbaik untuk semua orang.”
Al Hadiid tak melepas tatapan elangnya, demikian pula Dante. Kebenciannya tak berkurang, justru menganggap Dante sebagai tembok besar yang menghalangi dirinya dengan ketiga saudaranya. “Raja telah memberimu mandat, tunggu apalagi? Temukan dan selamatkan Eyn Mayra, sebab jika kau gagal, akulah orang pertama yang akan membuat perhitungan denganmu. Buktikan kau tidak sedang menyandang identitas palsu, Tuan Space DJ!” Lepas mengancam penuh angkara, ia pun meninggalkan balairung dengan perasaan kecewa. Apa sesungguhnya daya pikat seorang Carlo Dante sehingga memenangkan hati semua orang? Tak lebih dari sekadar lelucon belaka! Demikian pikirnya.
“Mungkin Al Hadiid benar, tapi terlepas dari pendapatnya tentangku, Eyn Mayra tetap menjadi tanggung jawabku. Aku sudah tak percaya para Eyn mampu menjaganya.” Dante telah mengambil keputusan tanpa berniat menghina mereka, lantas berbalik pergi. “Tolong jaga raga Eyn Mayra, aku akan segera kembali,” pesannya.
****