“Kemari.” Jari telunjuk Al Hadiid bergerak, isyarat supaya Mica segera mendekat. Sama sekali tidak turun dari sedan mewahnya di depan gerbang panti asuhan. Mica, bercelana jeans belel entah biru entah putih, t-shirt merah muda dipadu jaket senada dengan warna celananya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas jendela mobil Al Hadiid. “Hai, Orang Kaya, tumben bawa sopir? Hmm, entah perasaanku saja atau … minyak rambutmu yang terlalu harum? Berhati-hatilah, Majikan, banyak penggoda di luar sana.” sindir Mica yang selalu nyaman bicara di depan Al Hadiid sambil terang-terangan menghirup aroma maskulin pria itu. Lain halnya ketika berhadapan dengan Dante, tubuhnya mendadak kaku dan semua indranya mati rasa. “Aku akan pergi keluar kota.” jawab Al Hadiid melepas kacamata hitamnya. “Oh?” Al

