Aula istana raja tampak sepi. Hanya sang raja, Eyn Rasyid, dan seorang penjaga di pintu dalam ruangan. Ia berdiri di dekat balkon, memandang halaman samping yang terhampar luas. Usai mengucap salam, Eyn Mayra masuk dan menghampiri kakak sulungnya. “Yang Mulia?” “Aku sengaja memanggilmu, bukan tanpa sebab. Jawablah pertanyaanku, Eyn Mayra.” Tidak biasanya Eyn Rasyid gelisah seperti ini. Apakah ada hubungannya dengan Dante? Eyn Mayra membatin. “Tentu, Yang Mulia.” Eyn Rasyid menghela napas sesaat, meyakinkan dirinya bahwa ia cukup pantas menanyakan hal ini pada adiknya. “Sudahkah kau mengatakan pada Dante, tentang sebuah kesepakatan kecil bahwa dia harus tinggal di Eyn setelah menikahimu?” “Belum, tapi dia tahu hal itu akan terjadi.” “Sanggupkah dia? Dante adalah kesatria perang baik d

