BAB 33 SIASAT TERSELUBUNG

1519 Kata
Kepergian Al Hadiid bukan tanpa alasan. Menurutnya, ini semua demi kebaikan masa depan kakak perempuannya agar selamat dari nasib sial bersama Carlo Dante. Bila berhasil, tidak mustahil hidup akan berjalan seimbang lagi seiring waktu. Eyn Mayra bisa bahagia dengan sosok pangeran atau raja yang dicintainya dan Carlo Dante? Peduli apa dengannya! Space DJ itu bisa memilih gadis manapun yang dia mau. Sedangkan Mica hanya percepatan misinya. Sebuah alat. Siasat terselubung Al Hadiid disimpannya rapat-rapat tatkala Eyn Rasyid memintanya mewakili dirinya menghadiri sebuah konferensi untuk beberapa hari. Mencari waktu luang untuk menemui Mica adalah langkah pertama. Berikutnya, membujuknya, meyakinkannya bahwa hubungan Dante dan Eyn Mayra berpotensi kandas. Namun, Mica bukan tipe gadis penggoda, pikirnya. Mungkin sebaiknya bila gadis tersebut tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Semua harus berjalan apa adanya agar tak seorang pun yang curiga. Kedua tangannya pun ‘bersih’ tanpa harus mencuci tangan. Menyimpulkan begitu, maka Al Hadiid tak tergesa. Setiap langkah harus tepat sasaran seperti keinginannya. Harus! Untuk itu, ia harus mengenal kepribadian Mica, termasuk watak, tingkah laku, dan kebiasaan gadis itu setiap hari, guna mempermudah rencananya. Seperti hari ini, minggu pagi yang cerah, Mica seharusnya mengunjungi museum. Satu-satunya tempat hiburan baginya daripada pusat belanja. Lagi pula, tidak ada yang perlu dibeli. Ia lebih suka penampilan yang itu-itu saja. Kosmetik? Seadanya. Beruntung wajah cantik nan polos gadis yang akan melepas masa remaja itu memiliki daya pikat, meskipun tanpa ia sadari. Ditambah sifatnya yang tertutup, lelaki manapun pasti kurang berminat menjalin hubungan dengannya walau hanya berteman. Sekelumit informasi tersebut didapatkan Al Hadiid dari beberapa anak buahnya yang telah mengamati Mica sejak gadis itu meninggalkan istana. Kini, ia tinggal menjalankan aksinya. “Tertarik? Menurutku, lukisan Levarra lebih bagus. Tidak mengandung unsur bayang-bayang seperti Lombardi. Bagiku agak sedikit … menakutkan.” Al Hadiid bicara lebih dulu di belakang Mica yang kemudian menoleh ke arahnya sebentar. “Oh, begitu? Tapi Lombardi cenderung jujur. Ia mengungkapkan sisi gelap kehidupan sehingga semua bayangan itu memang harus ada.” ujar Mica berkomentar. “Menarik. Berapa usiamu? Apresiasimu terhadap lukisan lumayan bagus. Tidak banyak gadis muda sepertimu yang paham soal lukisan. Ingin menjadi kurator suatu hari nanti? Bila benar demikian, aku mendukungmu.” “Ah, entahlah. Rasanya masih bingung melakukan sesuatu. Sekolahku tertunda lama, mana bisa kuliah dalam waktu dekat?” “Bekerja? Mungkin itu alternatif yang bagus. Sambil bekerja paruh waktu, kau bisa kuliah. Dan untuk mendaftar ke kampus manapun yang kau mau, aku bisa membantumu.” Mica langsung tertarik, tetapi pengalaman terakhir dengan pria asing di klub malam sangat menuntutnya untuk berhati-hati. Ia tidak mau terlena begitu saja lalu masuk perangkap seperti domba. “Benarkah? Lalu, apa imbalannya, Tuan … ?” “Al Hadiid. Imbalannya? Tentu kau digaji, apalagi? Kau bekerja, dibayar, bisa kuliah. Itu saja. Aku hanya berniat membantumu.” “Oh, kedengarannya bagus. Tapi kata Bu Mayfred, aku tidak bisa bekerja begitu saja tanpa rekomendasi seseorang yang kami kenal untuk bertanggung jawab bila terjadi sesuatu. Maklum, aku hanya tinggal di panti asuhan.” Mica berusaha mengelak, jelas sekali ia belum percaya pada kata-kata Al Hadiid. Sesegera mungkin membetulkan letak tali selempang tasnya, hendak buru-buru pergi. Ia tidak mau jatuh dalam iming-iming menyesatkan meskipun pria itu tampan dalam balutan jas formal berwarna gelap. Al Hadiid tidak kehabisan akal. Ketika gadis itu baru melangkah lima meter darinya, ia berkata, “Nama asliku Eyn Aziz. Eyn. Kau tahu artinya?” Mica yang semula menghindar, kembali memutar otaknya, kemudian menoleh, menatap tajam pada pria gagah di belakangnya. “Ya, aku tahu, memangnya kenapa?” “Aku adik Eyn Mayra.” “Oh.” “Saat itu aku tidak ikut makan malam, tetapi sempat melihatmu … berdua bersama Carlo Dante.” Kalimat ini sangat ampuh untuk mengembalikan gadis itu ke hadapannya. “Dengar, Tuan Al Hadiid, Eyn Aziz atau siapapun namamu, apapun niatmu, aku tidak tertarik. Terima kasih!” “Mengapa kau susah jujur pada diri sendiri? Kau menyukai calon suami kakakku. Siapapun mampu melihat binar itu di matamu saat kau menatapnya. Hanya Carlo Dante yang bodoh! Dia kurang peka pada gadis lain selain Eyn Mayra.” Seringai Al Hadiid terlukis di ujung bibirnya. Ketampanan timur tengah lelaki itu memang ditunjang postur tubuh tinggi tegap dan sikap wibawa yang matang, namun ucapannya yang menyudutkan Mica membuat gadis itu membuang jauh-jauh rasa kagumnya. “Kau … !” “Maaf, kalian tidak boleh bertengkar di sini. Tolong selesaikan di pengadilan saja.” tegur seorang petugas keamanan museum yang salah duga. “Kami bukan suami istri!” seru keduanya berbarengan tanpa sadar, tapi Mica yang paling sewot. “Kalau bukan, selesaikan di luar!” tegas petugas sambil mengacungkan pentungan bersengat listrik ke arah pintu keluar. Al Hadiid berjalan lebih dulu, langkahnya yang lebar cukup sulit diimbangi Mica yang ketinggalan di belakangnya. “Tunggu aku!” pinta Mica setengah berlari. “Baru kali ini aku diusir keluar gedung, semua karena kau terlalu histeris!” tuding Al Hadiid. “Dan kau terlalu sinis!” balas Mica tak mau kalah. “Jangan pernah menghina Dante di depanku! Dua kali dia menyelamatkan hidupku! Mungkin itu tak berguna bagimu, tapi sangat berarti untukku. Eyn Mayra juga berjasa luar biasa karena kristal jiwanya menyembuhkan penyakitku. Aku tidak akan mengkhianatinya dengan mencintai Carlo Dante, ingat itu!” Namun telunjuk Mica yang terarah di depan wajah Al Hadiid sangat mudah dimentahkan pria itu yang langsung menggenggam tangannya. “Apa yang kau lakukan?! Al Hadiid!” “Ikut aku! Biar kutunjukkan sesuatu.” Tanpa daya Mica menolaknya. Sampai di depan Hummer hitam metalik, pria itu menyuruhnya naik. Mica menghela napas, jika ini tentang Dante, maka baiklah, ia membatin. Saat Al Hadiid mulai menyetir, ia memberanikan diri bertanya, “Ke mana kau membawaku?” Sesuai dugaannya, tidak ada jawaban. Sepanjang perjalanan, keduanya terdiam. Tiba di persimpangan, Hummer Al Hadiid berbelok, ini adalah jalan pulang! “Hei, aku tidak memintamu mengantarku pulang, turunkan aku!” Reaksi keras Mica tak berefek apapun. Al Hadiid tetap tenang menyetir kendaraannya hingga tiba di depan panti asuhan. “Kau lihat bangunan tua itu?” tanyanya. “Tentu, itu panti asuhan tempatku tinggal sejak kecil. Kenapa? Kalau mau bergurau, bukan sekarang saatnya, Al Hadiid. Aku mau turun.” Mica sudah membuka sendiri pintu mobil ketika Al Hadiid mengungkap kenyataan yang mencengangkan. “Pihak panti asuhan terancam kalah di pengadilan. Jika kepemilikan tanah jatuh ke tangan pihak penuntut, kalian semua akan telantar. Semuanya, baik yang seusiamu maupun yang masih bayi sekalipun.” Barulah Mica tenang dan mau mendengarkan penjelasan Al Hadiid. Sebuah tawaran yang akan dimanfaatkan Al Hadiid untuk menuntun Mica pada Carlo Dante, sedikit demi sedikit. “Mereka, Bu Mayfred dan Nina tidak pernah mengatakan apapun padaku.” “Tentu tidak, apa pentingnya mereka menceritakan masalah yayasan kepadamu?” “Lalu apa tujuanmu mengungkap masalah ini?” “Sederhana. Lakukan perintahku, maka masalah sengketa panti asuhan akan selesai dalam hitungan detik. Dokumen tanah akan kusimpan sampai aku merasa tugasmu telah selesai. Bagaimana? Hanya ini satu-satunya cara agar keluarga besarmu tetap bisa tidur dalam ruangan hangat.” Mica melirik tangan dan lengan berotot yang masih berada di atas kemudi itu. Al Hadiid bisa melakukan apapun padanya termasuk menyakitinya, tetapi apakah seorang panglima perang Eyn akan tega melucuti kehormatannya? Mica berusaha menepis pikiran buruknya, namun sebaik apapun ia mencurigai Al Hadiid, tidak pernah disadari niat terselubung di balik senyuman yang menipu. “Apa yang harus kulakukan untukmu?” “Tiga hal. Pertama, bekerja paruh waktu di perusahaan yang sudah kutunjuk untuk menerimamu. Kedua, teruskan sekolah tingkat atas dan yang terakhir, tahun depan mulai mendaftar kuliah. Kulihat bidang sejarah adalah minatmu.” Mata Mica menyipit. “Sudah? Itu saja? Kedengarannya malah menguntungkanku?” “Alasanku sederhana, kau bersedia mengembalikan kristal jiwa kakakku. Tiga syarat itu belum apa-apa. Kapanpun aku memanggilmu, kau harus datang tanpa menanyakan kemana, kapan dan untuk apa. Anak buahku yang akan menjemputmu jika aku sedang sibuk.” Baru kali ini Mica masuk ke kamar dengan perasaan kesal dan bingung. Menyetujui kesepakatan dengan Al Hadiid berarti terikat padanya dalam segala hal. Menjatuhkan diri di kasur kemudian membenamkan kepala di bantal,  hanya itu yang bisa ia lakukan ketimbang berteriak. Tiba-tiba sesuatu terlintas di kepalanya. Ia harus bicara pada Nina! Nina sedang membagikan selimut bersih untuk anak-anak ketika Mica menggandeng lengannya. “Ya, Tuhan, Mica, ada apa?” Cukup terkejut dibuatnya. “Jawablah satu pertanyaanku.” “Mengapa mendadak sekali? Pentingkah?” “Apakah benar bahwa surat-surat tanah panti asuhan dipegang pengadilan?” Nina terpana, bagaimana mungkin gadis itu tahu kenyataan pahit yang sedang dialami yayasan? “Dari mana kau tahu, Mica?” “Berarti benar.” “Yayasan memiliki dokumen sah, namun status itu harus dibatalkan apabila terbukti sejarah pembuatannya mengalami penyimpangan. Kata Bu Mayfred, gedung ini dibeli dari hasil sengketa dua keluarga. Pihak penuntut adalah keluarga yang ingin tanahnya dikembalikan.” “Ya, Tuhan! Hasil sengketa?” “Saat itu ketua yayasan tidak tahu. Mungkin, pihak penuntut sengaja mengulur waktu untuk mendapatkannya kembali, yaitu saat saudara mereka telah meninggal dan harga tanah melonjak. Hanya itu yang kutahu. Mica, kita tidak bisa apa-apa. Mereka punya bukti dan saksi.” Mica menggigit ujung bibirnya sendiri, jadi tawaran Al Hadiid memang ada gunanya. Tapi menyerahkan hidupnya untuk menjadi abdi sang panglima? Ia benar-benar harus waspada! ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN