BAB 32 MUSUH PARA NINJA

1764 Kata
Penyusup kali ini bukan orang-orang sembarangan. Sekitar tiga puluh orang keluar dari persembunyian, mengenakan pakaian serba hitam. Gerakan mereka ringan, namun menghanyutkan seperti air, tenang bagai udara, nyaris tanpa suara. Senjata tembak mereka berperedam, juga dibekali senjata tajam dan peralatan lainnya agar mampu bergerak dalam kondisi gelap gulita. Misi mereka hanya satu: mengambil alih Saturn Gallant dengan melengserkan Kapten Skivanov dari kursi kekuasaannya, malam ini juga. Mereka saling berkomunikasi dengan kode isyarat. Masing-masing bergerak cepat dan penuh perhitungan. Orang di bagian depan bertugas mengamankan area, memastikan aman untuk dilewati. Ketika sampai di area militer, salah satu di antara mereka menegur rekan-rekannya yang paling dekat dengannya dengan bahasa isyarat, “Ini terlalu mudah.” Di dalam area militer tersebut, mereka menyebar ke segala ruangan, siap menghabisi siapa saja yang lewat. Waktu mereka singkat, memanfaatkan lemahnya jaringan induk kapal antariksa ini di bawah pengaruh program Eva, hingga muncul kecurigaan di antara mereka. “Mengapa tidak muncul seorang pun? Area militer seharusnya dijaga ketat oleh stafnya.” “Kita lihat di anjungan. Kapten Skivanov pasti ada di sana.” “Sebaiknya kita berpencar. Jangan sampai luput memeriksa ruang kerjanya.” “Baik!” Tim kecil pasukan ninja berpisah dalam tiga kelompok. Masing-masing orang menyisir ruangan atau koridor yang mencurigakan. Menurut perhitungan, mustahil sang kapten dapat melarikan diri dari alat pemindai yang mampu mendeteksi pergerakannya. Tim pertama, koridor zona terluar, menangkap gerakan Kapten Skivanov di salah satu ruangan kemudian melumpuhkan kunci pintunya. Delapan orang masuk, sedangkan yang lain tetap berjaga di luar. Tidak akan sulit menghabisi pemimpin Saturn Gallant tersebut sebab ia adalah sasaran yang telah terkunci. Salah satu ninja mengarahkan senjata dan tembakan pun terlepas otomatis tepat mengenai jantung pria itu. Sejenak yakin korban mereka telah tewas, hingga seseorang di antara mereka berkata, “Oke, dia roboh!” Namun terkejut bukan main ketika menyadari bahwa merekalah sasaran sesungguhnya! Dalam gelap, night vision model canggih mereka tak berfungsi. Mendadak satu persatu anggota tewas berjatuhan menemui ajal dengan cara yang halus dan cepat, bahkan tanpa terdengar letusan senjata, kecuali letusan dari senjata seorang ninja terakhir di ruangan itu yang ditembakkan secara serampangan karena putus asa menyaksikan kematian teman-temannya. Suara tembakan tersebut mengundang perhatian dua ninja penjaga pintu, tetapi lagi-lagi, mengalami nasib serupa tanpa sempat melapor pada dua tim lainnya. Hanya suara jatuhnya logam dan tubuh tak bernyawa yang menandai kemenangan penyerangnya. Tim kedua, sebagian sekitar lima orang, membobol pintu ruang kerja Kapten Skivanov. Pergerakan tunggal tertangkap sensor night vision canggih di senjata mereka, meyakinkan bahwa Kapten Skivanov berada di ruang kerjanya, tak jauh dari ruang kendali utama. Sama seperti yang terjadi pada tim pertama, kelima ninja ini hanya terpana ketika tembakan senyap mengenai sasaran kosong! “Apa yang terjadi?” “Tim di bawah tidak merespon! AARRGGHH!!” Satu persatu tumbang menemui ajal, bahkan sebelum sempat menyadari ada musuh lain yang datang. Si algojo misterius menatap nanar pada seorang ninja yang terkapar dan bertanya padanya dengan tubuh gemetar, “Siapa k-kau?!” “Space DJ.” Suaranya mengiringi tembakan terakhir di tempat itu. Tuntas menyingkirkan para ninja di ruangan kapten, sosok itu pun keluar. Langkah kakinya melewati lima mayat ninja lainnya di sekitar koridor yang ia bereskan lebih dulu. Semuanya tewas dengan kondisi mengenaskan tanpa perlawanan yang berarti. Berikutnya, ruang kendali utama. Seharusnya, sesuai rencana, Kapten Skivanov yang asli berada di sana, menunggu kedatangan para ninja di tempat duduk kebesarannya. Benar saja, tanpa penjagaan seorang pun stafnya, tim ninja yang terakhir sampai di anjungan lebih cepat. Kali ini, night vision di senjata mereka mendeteksi sosoknya yang nyata dan segera bereaksi, namun padam tak jadi melancarkan tembakan ketika seseorang tiba-tiba bicara. “Rasanya kurang seru jika kalian langsung menghabisi Kapten begitu saja. Kami wajib menjamu kalian sebagai ‘tamu’ Saturn Gallant, jadi mengapa kita tidak bersenang-senang?” Carlo Dante muncul dan menyalakan penerangan di ruang kendali. “Shiva, nyalakan.” “K-kau yang menghabisi rekan-rekan kami!” seru seorang ninja. “Bagaimana bisa?! Kami sengaja menginjeksi virus ke sistem Shiva agar menularkannya kepada Eva! Seharusnya Eva yang mengambil alih sistem jaringan induk sekarang.” “Masalahnya, kalian tidak tahu bagaimana cara kerja program Shiva. Aku tahu karena aku sendiri yang membuatnya. Kapten, kita mulai pestanya, atau biar aku saja?” Di balik kursi kemudi, rupanya sang kapten tengah asyik menghirup kopi panasnya. “Lakukan saja! Nikmati waktumu.” ucapnya begitu santai. “Kalian dengar? Ayo, kita mulai.” ajak Dante, sepasang bola matanya berkilat, bergerak bergantian dari kanan ke kiri, tak sabar memulai ‘pesta’-nya sendiri. Mereka menghunus pedang sebab menembak Space DJ dari jarak sedekat itu akan beresiko membunuh teman sendiri sedangkan mereka masih harus menuntaskan misi. Jadilah yang terdengar di telinga Kapten Skivanov adalah dentingan suara logam. Ia teringat sesuatu, lalu berseru, “Seingatku, aku tidak pernah memfasilitasimu pedang!” Terus sibuk mengatasi serangan lawan, Dante cukup menjawab, “Ya, ini … aku meminjamnya dari Eyn Huza. HEAA!” Kembali menangkis tebasan mematikan. Seorang ninja yang tidak sabar beralih ke kursi tempat Kapten duduk, langsung menusuk kursi kendali yang cukup besar tersebut dari belakang hingga tembus ke depan, tapi ia tertipu. Ia justru kehilangan kewaspadaan dan tak sempat menyelamatkan diri saat Kapten Skivanov mengarahkan senjata berperedam, menyudahi hidupnya. Sesudah itu, Kapten Skivanov tak terburu-buru. Ia memperlebar jarak supaya Dante konsentrasi penuh pada pertarungannya. Para ninja yang berjumlah enam orang melawan Carlo Dante memang sekilas terlihat tidak seimbang, namun sebagai mantan anggota Lethal-X yang dididik langsung oleh si alien kejam Roughart, ditambah inti Zord, menjadikan gerakan Space DJ tersebut susah ditebak. Kekuatan setiap sudut serang menambah daya hantamnya, sehingga setiap kali terkena, pastilah berdampak fatal. Cukup lama beradu fisik dan senjata, terlihat jelas siapa saja yang sudah mulai goyah keseimbangan tubuhnya. Dante tak perlu menghabisi empat ninja yang tersisa dan telah terkapar akibat pukulan gagang pedangnya. Ia sengaja membiarkan mereka hidup, kemudian dengan sangat hati-hati, menyarungkan pedang Eyn Huza kembali. “Mereka … sedikit hadiah untuk Central,” tunjuknya ke arah empat ninja yang masih bernapas. “Kuharap dia senang.” “Terima kasih. Tunggu, tidakkah kau pikir aneh?” Kapten Skivanov menyerahkan segelas kopi lagi ke tangan Dante yang langsung meminumnya. “Orang-orang ini, pastilah bekerja demi uang, tapi belum pernah kudengar jika mereka berkelompok. Bayangkan, andai jumlah mereka lebih banyak dan mampu menyamar sebagai turis atau warga baru, kemungkinan menghabisi kita saat tidur, tentu lebih besar.” “Jawabannya sederhana. Kau dan Central terlalu meremehkan orang-orang seperti mereka. Mengira sudah membereskan pelakunya, padahal dia hanya boneka. Oh ya, sebaiknya tidurkan saraf mereka, Capt., gunakan gas, injeksi, atau apalah. Para ninja punya kebiasaan buruk, rela bunuh diri jika tertangkap. Omong-omong, terima kasih kopinya.” Dante sudah sampai pintu ketika Kapten Skivanov kembali bersuara. “Dan Eva, bagaimana dia? Butuh waktu lama lagi untuk memulihkan sistem jaringan karena dia akan terus memantau gerakan kita.” Dante tersenyum. “Saat seluruh listrik Saturn Gallant menyala, pertunjukan yang sebenarnya baru dimulai. Tenang, kita sudah mendapat dukungan dari semua orang. Hubungkan saja aku dengan perusahaan pencipta EDOS, tepat setelah tiba di fasilitas Mercury. Kita tidak bisa melakukannya di sini.” “Baik, sekarang pergilah. Hubungi aku bila kau sudah siap.” Berikutnya, setelah listrik menyala dan kembali mengaktifkan Eva, semua tampak normal baginya. Warga Saturn Gallant beraktivitas seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda kepanikan bahwa program AI jahat seperti dirinya akan menyadap semua komunikasi dan informasi lalu mengacaukan segalanya. “Ada apa sebenarnya? Apakah ini bagian dari rencanamu lagi, Carlo Dante?” tanyanya pada diri sendiri, berniat menyelidiki sendiri penyebabnya. Ia pun segera masuk ke dalam sistem jaringan induk yang berhasil dikuasainya. Semuanya pada tingkat wajar, tidak ada Shiva, atau pun virus sistem untuk melumpuhkannya. Saat itu, ia cukup senang. Akhirnya, setelah sekian lama, tanpa ancaman Roughart dan bangsa Zord, ia berhasil mengambil alih kapal induk luar angkasa sebesar Saturn Gallant. Mungkin, untuk selamanya? Dan tanpa perlawanan. Setelah beberapa hari, barulah ia menemui kejanggalan. Setiap warga Saturn, termasuk pemimpin tertinggi mereka, Kapten Ivan Skivanov, tidak saling bercakap-cakap ataupun mengakses sesuatu seperti biasanya. Listrik hanya difungsikan untuk penerangan dan peralatan rumah tangga biasa. Mereka tidak menggunakan alat komunikasi apapun apalagi komputer, baik yang berwujud fisik maupun virtual. Kecurigaan awal semakin terasa. Eva semakin kesulitan berbuat seenaknya. Kalaupun bisa, warga Saturn Gallant seolah tak peduli padanya. Hal ini semakin meresahkan. “Bisakah kau jelaskan, mengapa tiada seorang pun yang menggunakan sistem jaringan? Kalian saling diam, itu artinya ada rencana di balik ini semua, dan aku tidak menyukainya!” protesnya pada Kapten Skivanov di anjungan bersama para stafnya. “Aku tahu, kau bisa memanipulasi segalanya dengan akses penuh yang sekarang kau miliki, tapi untuk apa? Kau tetap membutuhkan warga Saturn Gallant agar bekerja untukmu dan kami tidak sudi melakukannya. Biarlah kapal induk ini mengambang seperti ini saja tanpa melakukan apa-apa, menunggu … bantuan.” “Apa maksudmu?” “Central tidak pernah mengizinkan program AI lain selain EDOS beroperasi sebagai jaringan induk di Saturn Gallant, bahkan peran Shiva bersifat sementara.” “Lantas?” “Peranmu tidak lagi dibutuhkan, segera, setelah EDOS sempurna.” Eva tertawa meremehkan. “Kapten, semua sistem program EDOS masih standar. Aku? Roughart menciptakanku untuk berevolusi, sama halnya seperti manusia. Lagi pula, kapan kalian punya celah untuk melemahkan programku?” Eva menatap tajam seraya berkata, “Bermimpilah!” “Ini kau sebut mimpi?” Suara itu tentu sangat dikenalnya. “Dante?” “Masuklah ke dalam sistem matriks!” Eva berubah geram. Tanpa berpikir dua kali, ia menjawab tantangan suara tersebut saking dikuasai emosi. “Kau … Dante? Dalam wujud AI? Yang benar saja! Kau sudah mendonorkan otakmu?” “Bukan, aku EDOS dengan rupa Dante sebagai sampel. Aku akan mengambil kembali tempatku. Bersiaplah!” Dua program AI itu berhadapan untuk saling menjatuhkan. Satu hal yang tidak diketahui Eva adalah Dante tidak mengendalikan EDOS di manapun juga di Saturn Gallant sesuai rencananya semula, melainkan di istana Eyn Huza. Ia bekerja mati-matian menaklukkan Eva menggunakan perangkat yang sudah disiapkan sejak jauh hari, sementara Eyn Huza tetap sibuk dengan kegiatannya. Ketika lewat, barulah Eyn Huza menyempatkan diri mengamati ‘kegilaan’ seorang Carlo Dante dalam hal teknologi, di ambang pintu kamar tamu yang dibiarkan terbuka. “Otaknya bisa terbakar,” gumam seseorang di belakang telinganya. “Yah, karena chip itu dan caranya mengendalikan EDOS.” Eyn Huza menoleh terkejut, menyadari siapa yang bicara. “Eyn Mayra! Bukankah sudah kubilang untuk menghindari Dante sementara waktu? Dia tidak boleh melihatmu!” tegasnya, lebih galak daripada biasanya, berusaha mengusir adiknya. “Aku cuma menonton.” Sekian detik berselang, Eyn Huza terpaksa membiarkan Eyn Mayra tetap berada di belakangnya. “Ya, Tuhan, mengapa dia selalu terlihat tampan?” bisik Eyn Mayra lagi yang langsung membuat Eyn Huza memutar bola matanya. “Eyn Mayraaa!”   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN