Suasana kantor siang itu terasa lebih ramai dari biasanya. Lorong menuju pantry dipenuhi bisik-bisik kecil yang mencuat dari sudut-sudut meja. Nama Victoria terlontar berkali-kali, begitu pula nama Alex Valendra yang diucapkan dengan nada penasaran sekaligus sensasional. Gosip di Kantor itu tidak akan pernah berhenti. Mereka akan terus mengoper, memberi bumbu hingga jauh dari fakta. Mereka tidak akan puas hanya dengan sebuah klarifikasi apapun. Karena bagi penggosip, apa yang terlihat sekali itulah yang dipercayai padahal nyatanya kadang tak seperti apa yang mereka lihat. “Serius tadi pagi aku lihat dia turun dari mobil direktur,” bisik seorang staf HR sambil menuang kopi. “Kau yakin itu direktur? Jangan-jangan cuma mirip,” timpal rekannya. “Mirip apanya, itu jelas-jelas mobilnya. Pl

