Mobil melaju dalam keheningan yang terasa aneh, bukan canggung, bukan juga nyaman. Hanya hening yang dipenuhi sesuatu yang tidak dikatakan. Victoria sesekali melirik Alex. Pria itu berbeda dari kemarin. Tidak lagi tegang, tidak lagi panas penuh amarah. Wajahnya segar, bahkan sedikit relax, yang membuat Victoria semakin bertanya-tanya kenapa dia menjemputnya sepagi ini tanpa pemberitahuan padahal semalam sebelum berpisah, Victoria ingat sempat berseteru dengan Alex. Setelah beberapa menit tanpa percakapan, Victoria mengeluarkan sesuatu yang sejak tadi terbungkus tisu di tangannya. “Aku bawa sandwich. Mau?” tanyanya ringan, sekadar memecah suasana. Alex tidak langsung mengambil. Dia menoleh sebentar, alisnya terangkat sedikit. “Kau yang buat?” tanyanya. “Iya,” jawab Victoria. Alex me

