Rumah utama keluarga Valendra malam itu terasa seperti ruang sidang. Lampu kristal besar menggantung megah di ruang tengah, memantulkan cahaya dingin ke lantai marmer yang mengilap. Semua anggota keluarga inti hadir, paman, bibi, sepupu, jajaran direksi yang masih memiliki garis darah. Suasana tegang, nyaris tanpa basa-basi. Alex berdiri di tengah ruangan, jasnya rapi, wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diadili. Di ujung ruangan, kepala keluarga Valendra duduk dengan wibawa yang tak perlu dipertanyakan. Usianya tak lagi muda, tapi sorot matanya masih tajam dan penuh kendali. “Penjelasanmu,” ucapnya singkat. Alex mengangkat wajah. “Itu masalah pribadi.” “Masalah pribadi yang mengguncang saham perusahaan,” potong salah satu pamannya. “Kau bertengkar di kantor.

