Ketika aku sudah berada di kamar, aku segera meraih ponsel yang masih menghasilkan getaran dan bunyi nyaring itu, segera kunyalakan lalu melihat layarnya, di sana kulihat ada panggilan masuk. Nomor yang tertera dalam layar adalah Liza.
Liza? Untuk apa dia memanggilku pada jam segini?
Kuangkat panggilannya untuk mengetahui jawaban dari pertanyaanku yang sebelumnya. Mungkin saja ada sesuatu yang mendadak terjadi.
Segera saja kudehemkan tenggorokanku, aku menenangkan diri, menghilangkan jejak isak tangis dari sisa tangisanku akibat si burung hantu salju yang terluka. Aku juga coba melupakan ketakutan dan kengerian yang kudapat karena tanpa sadar sudah berhasil menyembuhkannya.
Aku tak mungkin membuat Liza bertanya-tanya dan merasa bingung, akan sangat sulit bagiku untuk menjelaskannya.
"Hai, Liz. Ada apa?" sapaku senormal mungkin, perasaan ngeri dan takut sebelumnya segera saja luntur dari pikiran dan benakku. Sesaat tak ada balasan darinya, mungkin saja dia menyiapkan percakapan atau mungkin juga bingung ingin mengatakan apa dan memulai dari mana.
"Ummm ..., aku ganggu ya?" Ia balik bertanya, sepertinya agak ragu untuk berbicara karena memang ini masih pagi. Jika saja aku tak bangun lebih awal, maka ini memang bisa dikatakan jika ia mengganggu tidurku.
"Sebenarnya aku baru saja bangun." Aku menjawab dengan ramah. Kudengar dia menghela napas lega, mungkin dia akan merasa tak nyaman jika menggangguku, padahal tidak, aku tak akan terganggu sama sekali olehnya.
"Sepagi ini?! Tumben sekali, biasanya juga kamu bangun kesiangan." Ia sedikit meledek saat mengatakan itu. Sepertinya dia segera sadar dengan apa yang kukatakan sebelumnya karena tiba-tiba dia berseru dengan kaget, aku tahu seperti apa ekspresinya seperti apa, meski hanya dari mendengar nada bicaranya, terbayang jelas dalam kepalaku seperti apa, wajahnya sekarang.
"Oh, trims." Aku membalas dengan ketus, ia segera meledak dengan tawa karena alasanku seperti itu.
"Hahaha, kamu marah ya?" tanyanya di sela tawa.
"Menurutmu?" Aku balik bertanya padanya dengan nada yang sebal. Ia tahu aku pastilah sebal dengan ejekan itu, sebenarnya tidak juga, aku hanya menggodanya saja.
"Maaf deh, maaf. Cuma bercanda." Aku hanya memberi dengusan sebagai balasannya. Sesaat tak ada yang bicara di antara kami, lalu kemudian aku ingat tentang kenapa dia memanggilku pada jam segini.
"Jadi, kenapa kau menghubungiku sepagi ini? Jarang-jarang kamu melakukan panggilan saat pagi." Aku tahu dia tak serius mengejekku, maka aku segera mengalihkan topik itu dan membahas hal utama, yaitu alasan kenapa dia menghubungiku, karena biasanya Liza hanya menghubungi ponselku saat pagi ketika aku belum juga bangun tidur, ketika ada kegiatan pagi.
Beberapa detik berlalu ketika pertanyaanku dibiarkan mengambang begitu saja dikarenakan ia tak segera menjawab, beberapa detik lamanya Liza bungkam, hingga aku mengira jika dia sampai ketiduran.
“Oke, lanjutkan saja tidurmu. Kita bisa bicarakan ini nanti.” Aku memutuskan untuk menutup panggilan.
“Aku masih di sini, jangan tutup dulu!” Dia buru-buru berseru, mencegahku untuk memutus panggilan. Baiklah, sepertinya dia bukan ketiduran, tapi bingung dan memikirkan sesuatu atau tepatnya mempertimbangkan sesuatu.
“Oke, sudah siap bercerita?”
“Tidak, aku tak yakin tapi ... kurasa aku harus membagi ini denganmu.”
“Oke, mari kita dengar apa yang kau punya,” kataku. Dia berdehem dan sepertinya menyiapkan diri untuk cerita, huh dasar Liza.
"Aku baru saja mengalami mimpi buruk yang sama sekali tak masuk akal dan benar-benar konyol." Ia menjawab dengan nada yang agak kurang yakin, sepertinya dia tak yakin akan hal ini, apakah topik ini layak dibahas denganku atau tidak. Seperti itulah menurutku jika dinilai dari nada bicaranya yang agak kurang yakin, tapi entahlah.
"Oh benarkah? Seperti apa mimpimu itu?" Aku bertanya dengan penasaran, memancingnya untuk bercerita.
"Kau pasti akan menertawakannya." Ia tak segera menjawab dan menurutku ini bertele-tele.
"Aku akan tertawa jika ada hal lucu sampai menggelitikku, mimpi buruk dan konyol mungkin bukan salah satunya." Segera saja kusangkal perkataannya, aku juga sengaja menggunakan nada bicara yang tak sabar.
"Em itu, aku hanya memimpikannya menjadi penyihir, itu saja." Oh, oke. Dia memang tak berniat untuk menceritakan seluruh mimpinya, dan apa-apaan itu? Alibi macam apa itu? Apa dia tak punya cerita bohong lain untuk menipuku? Aku jadi penyihir? Yang benar saja?
"Astaga, mimpi macam apa itu." Aku membalas dengan nada yang terkejut, setidaknya seperti itulah niatku.
"Sudah kubilang itu konyol." Ia membalas.
"Omong-omong aku juga baru saja bermimpi." Aku memutuskan untuk membalasnya, balas mengerjai tentunya.
"Mimpi apa?" Ia segera penasaran dengan apa yang ingin kukatakan, oke kau kena. Aku tak segera menjawab pertanyaannya.
“Hei ayolah aku menunggu.” Dia menagih cerita, tentu saja aku tak membalas, sebagai gantinya aku pura-pura mendengkur.
“Oh ya sudah. Sampai besok.” Dia membalas dengan ketus.
“Tunggu, aku bercanda. Lagi pula ini sudah besok, kau tak lihat sekarang jam berapa? Sudah lewat jam dua dini hari.”
“Aku tahu. Jadi, kau mau cerita atau tidak?”
“Aku akan,” balasku dengan sedikit senyum, meski jelas dia tak akan melihatnya, tapi apa salahnya tersenyum?
“Oke, kalau begitu kudengarkan,” katanya. Maka kumulai saja cerita dengan pembukaannya adalah deheman.
"Aku bermimpi indah, berada di sebuah istana besar yang megah, sama seperti istana langit dengan serba keindahannya, aku melihat seorang pangeran tampan. Di sana juga ada dirimu.” Kumulai cerita karanganku.
“Oh, oh. Dan bagaimana aku? Apa aku tampak seperti putri cantik? Atau aku memiliki sayap seperti malaikat? Gaun seperti apa yang kukenakan? Make-up yang kupakai tidak norak kan? Bagaimana dengan pasanganku? Apa aku bersama cowok tampan?” Dia tampak antusias dengan semua itu, bahkan sampai mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus.
“Stop, stop. Bagaimana bisa ini membuatmu sangat antusias? Aku bahkan tak bisa menjawab pertanyaan serangan beruntun itu.”
“Ahahahaha maaf, aku terbawa suasana. Jadi bagaimana kisahnya? Pasti sangat indah dan romantis bukan? Aku pasti tampil seksi dan menawan dengan gaun putih kan?”
“Oh, sebenarnya kau tak seindah dan sesempurna itu. Karena sebenarnya di dalam mimpiku, kau meninggal." Aku menjawab dengan datar seolah apa yang kukatakan itu bukan sesuatu yang besar dan hanya hal sepele saja, bukan sesuatu yang penting.
"Amit-amit!” Ia berteriak sampai aku harus menjauhkan ponselku dari telinga. “Astaga kau menyeramkan, kau tahu? Lagi pula mimpi gila macam apa itu?!" Ia berseru keras dengan ketakutan yang sama sekali tak disembunyikan. Tentu saja aku langsung menahan tawa dengan reaksi itu, meski telingaku agak terganggu dengan teriakannya tadi.
Aku kembali menempelkan ponsel ke telingaku lagi lalu coba menenangkannya. "Tenanglah, Liz. Itu hanya mimpi kok." Aku berusaha menenangkannya, tak kusangka jika reaksinya benar-benar berlebihan seperti ini.