09 - Healing

1040 Kata
Crash ... Tiba-tiba saja aku terbangun dari tidurku saat mendengar suara kaca yang pecah, suara itu bersumber dari ruang tengah dan aku yakin kaca itu adalah jendela yang pecah oleh sesuatu. “Astaga, apa itu?” Segera saja aku beranjak dari ranjang dan mengenakan sandal, ingin rasanya buru-buru menuju ruang tengah untuk mencari tahu apa yang menyebabkan kaca jendelaku pecah, jika hanya batu atau semacamnya, tak apa. Aku takut yang memecahkan kaca adalah manusia yang berniat jahat padaku dan aku tak mau sampai itu terjadi. Kuraih kacamataku dan menaruhnya di depan mata, segera saja aku beranjak dari tempat tidur. Aku berlari menuju ruang tengah. Oh, yang benar saja, ini masih pagi dan langit masih gelap, kekacauan apa yang menyerang dan mengawali hariku? Segera saja kunyalakan lampu ruang tengah dan kuedarkan pandangan ke sekeliling, aku memasang posisi siaga, sialnya saat ini aku malah tak menyiapkan s*****a apa-apa untuk sesuatu yang mungkin saja berbahaya. Aku menyisir ruangan itu kemudian langsung mendapati pelaku yang menyebabkan kaca pecah, suara yang membuatku terbangun dari tidur. Itu berada tepat di dekat jendela ruangan tengah. Itu adalah si burung hantu salju yang sering bertengger di tempat yang disiapkan untuknya. Dan astaga, kulihat keadaan burung hantu putih ini benar-benar gawat, keadaannya penuh darah, bulu-bulu putihnya dipenuhi cairan kental berwarna merah gelap. Pecahan kaca jendela berserakan di sekitarnya. Sepertinya aku tak sengaja menutup pintu jendela, padahal biasanya aku membiarkan jendela terbuka agar dia dapat masuk keluar dengan bebas. Sepertinya dia terbang dengan kecepatan penuh dan langsung menabrak kaca jendela dengan amat kuat, terbukti dari keadaannya yang memiliki banyak luka, aku terperanjat kaget dengan apa yang kusaksikan. "Astaga, apa yang terjadi padamu." Aku segera menuju ke arahnya. Memungutnya tanpa peduli dengan darah yang berceceran yang mengotorinya. Pada tanganku darah mengalir dari menetes ke lantai, kulihat jika ia memiliki banyak luka, terasa pula detak jantungnya berdegup sangat cepat. Sepertinya ini bukan hanya sekadar menabrak kaca jendela saja, telah terjadi sesuatu padanya. "Apa yang sebenarnya sudah kau alami? Uh, kau terluka cukup parah. Apa burung-burung lain melakukan ini padamu?” Aku mendesah prihatin padanya. Darah terus saja keluar dari lukanya, kurasakan jika lukanya benar-benar parah dan kemungkinan besarnya ia akan segera meninggal. Oh astaga, aku tak mau itu terjadi. "Aku harus segera membawamu ke dokter hewan." Segera saja aku mengambil keputusan tersebut. Tanpa dapat kutahan, tiba-tiba saja air mataku jatuh berlinangan tatkala melihat binatang itu sekarat. Entah mengapa ada pada bagian diriku di dalam sana yang merasakan jika aku telah hidup lama bersama dengan binatang ini. Ketika aku akan melangkah, tiba-tiba aku sadar sesuatu. Lokasi dokter hewan terlalu jauh dari sini, bahkan sangat kecil kemungkinan akan adanya kendaraan yang lewat yang bisa membawaku ke sana. Jalan kaki jelas tak mungkin, itu sangat jauh dan mungkin ia sudah kehilangan nyawa ketika aku baru beberapa ratus meter keluar rumah. Jujur saja, berlari bukan sesuatu yang bisa kulakukan, fisikku sangat lemah. "Aku harus segera menyembuhkannya, tak akan ada waktu untuk membawanya ke dokter." Aku segera panik, tapi aku juga tak tahu harus berbuat apa. Oh, andaikan saja aku memiliki kekuatan yang dimiliki oleh diriku yang ada di dalam mimpiku. Andaikan saja semua itu nyata dan benar-benar kumiliki dalam tubuhku. Aku sangat kalut dan tak punya solusi lain untuk menghadapi situasi ini, aku tak mau dia meninggal, aku tak mau ada yang kehilangan nyawa. Saat inilah aku benar-benar merasa jika diriku sangat lemah dan tak berdaya. "Sembuhlah." Entah apa yang kupikirkan, aku sebenarnya tahu semua itu tak ada gunanya, tapi aku tak tahu kenapa aku memikirkan kalimat itu. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini aku hanya ingin menyembuhkan burung hantu itu, maka aku mengatakannya lagi. "Sembuhlah ... kumohon ...." Aku mendesah dengan penuh permohonan dan permintaan, aku merasa putus asa dengan ini. Padahal jika dipikir, ini hanyalah seekor burung hantu, tak akan terlalu mengubah banyak perubahan pada hidupku jika ia mati. Tapi tak seperti itu, perasaanku mengatakan jika ini tak hanya sekadar nyawa makhluk kecil saja, lebih dari itu. Dalam keputusasaanku, hal ajaib tiba-tiba saja terjadi. Burung hantu yang sebelumnya sekarat dan hampir kehilangan nyawa, tubuh yang menggelepar, hanya mampu bernapas dan bergerak kesakitan itu, kini tampak sehat. Burung hantu salju penuh darah itu berguling turun dari tanganku dan berdiri dengan kedua kakinya, ia mengepak sayap basahnya. Aku merasa heran dan bingung dengan kejadian ini, aku senang sekaligus merasa ngeri dengan kejadian itu, tentu saja aku ngeri pada diri sendiri yang menjadi pelaku yang menyebabkan binatang itu sehat lagi. Rasa putus asa dan kesedihanku hilang, digantikan dengan berbagai perasaan takut dan ngeri karena semua ini terlalu mendadak, hal ini juga menjadi bukti yang nyata dan tak dapat diganggu gugat lagi, semua kejadian sore tadi benar-benar nyata dan aku mengalami p*********n dari makhluk aneh berbentuk manusia dengan wajah dan sedikit penampilan berbeda, mereka disebut sebagai fey. Kuseka air mataku setelah aku melepas kacamata. Mungkin aku dapat menolak dan memungkiri apa-apa saja yang telah terjadi dan kualami selama ini, karena kurangnya bukti dan penjelasan yang masuk akal mengenai semua itu, aku hanya akan menganggap semua sebagai halusinasi saja. Tapi yang saat ini terjadi adalah sungguhan, ini bukan ilusi optik dari penglihatan mataku, semua nyata. Aku menyembuhkan burung hantu tersebut dengan kekuatanku sendiri. Burung yang tampak sehat itu adalah buktinya. "Apa ... apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa aku dapat melakukan semua ini?" "Aku hanya mencoba saja, tapi kenapa malah terjadi sungguhan?" Ini sangat mengerikan, burung hantu itu tiba-tiba saja terbang ke tempat bertenggernya, binatang itu bergelagat normal seolah keadaannya biasa saja, tampak jika si burung mematuki bagian bulunya, mengibaskan sayap-sayapnya dan tak lama mulai terlelap. "Sepertinya aku sudah mulai gila, mana mungkin aku dapat menyembuhkan seekor binatang yang sekarat hanya dengan satu kata saja?" Aku benar-benar tak mau mengakui apa yang baru saja terjadi, apa saja yang baru saja dapat kulakukan. Ketika memikirkan hal tersebut, tiba-tiba saja ponselku berdering, ponsel yang kusimpan di dalam kamar itu mengeluarkan suara dering yang sampai ke ruang tengah. Oh, ya ampun, membuatku kaget saja. Siapa orang yang terlalu kurang kerjaan memanggilku pada saat pagi buta seperti ini? Apakah tak ada jam di rumahnya atau dia terlalu kurang kerjaan? Aku segera tersadar dari imajinasiku akibat suara dering ponselku, karena itulah aku langsung beranjak dari posisiku lalu berjalan menuju ke arah kamarku berada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN