08 - Gagal

1129 Kata
Aku berada di sebuah padang rumput yang sangat luas, udara berembus membentuk terpaan angin yang sangat menyegarkan, keadaan sekitar tampak tenang. Saat ini aku sedang duduk di atas sesuatu yang halus, lembut, empuk, hangat dan berbulu. Aku tak duduk di atas makhluk hidup, entah benda macam apa ini, tapi rasanya sangat nyaman. Saat ini aku mengenakan sesuatu seperti armor yang terbuat dari kaca berwarna merah gelap, aneh. Ini mirip kaca, bukan baja atau semacamnya. Mungkin saja terbuat dari kristal atau semacamnya, lalu aku melihat ketika rambutku yang digerai berkibar tertiup angin, rambut berwarna merah gelap yang tampak cantik. Tepat di depanku, seorang anak berambut merah tengah berlatih, mungkin aku sedang memperhatikannya, melihat perkembangan yang dimiliki si anak. Aku bisa mengatakan jika dia adalah pemuda, karena tampaknya ia memiliki usia yang tak terlalu jauh lebih muda dariku. Dia tampak sangat bersemangat dan berseri dalam wajah tampannya, pria kecil ini memiliki ketampanan yang masih mentah. Sepertinya ia akan tumbuh menjadi pria yang akan dikagumi dan digilai banyak kaum perempuan. Beberapa tahun ke depan, maka itu akan segera terjadi, bukan hanya perkiraan dan angan saja. "Aeralius." Pemuda itu berucap, merapalkan mantra sihir sambil tangan kanannya terulur ke arah depannya, di mana beberapa meter di hadapannya terdapat sebongkah batu yang ukurannya cukup besar. Setelah mantra dirapalkan, tekanan angin segera tercipta dari tangan putih berkeringat itu, tekanan tersebut melesat menuju batu kukuh di sana. Rerumputan bergoyang saat tekanan angin itu melesat. Tekanan angin lurus melesat menuju ke arah batu tersebut. Namun ketika beberapa meter lagi akan mengenai batu, ingin itu berbelok arah. Begitu juga dengan serangan kedua dan seterusnya, tak ada yang mengenai sasaran. Batu masih berdiri di tempat tanpa tergores sama sekali. Pemuda itu tampak terkejut dan tak tahu apa yang terjadi, dia terlihat merasa heran kenapa bisa hal seperti ini bisa terjadi. Maka beberapa kali lagi dia mengulang mencoba menyerang sebongkah batu tersebut. Satu menit kemudian, dia langsung berhenti karena merasa kelelahan. Wajahnya terlihat agak pucat, napasnya terengah-engah dan tubuh mengeluarkan banyak keringat. Tampaknya menggunakan kekuatan itu membuat dia lelah, tenaganya terkuras dan semua energinya terisap. Aneh rasanya, aku bisa merasakan apa yang dirasakan dan kemungkinan apa yang ada di dalam benaknya. Aku tak perlu melihat wajahnya, semua gelagat dan ungkapannya dapat kurasakan dengan baik. Padahal jika dihitung, dia tak lebih dari sepuluh kali melepaskan kekuatan angin untuk menyerang sebongkah batu besar tersebut. Aku menggeleng kecewa karena menyaksikan kegagalan yang terus berulang dialami oleh pria muda itu. "Kenapa bisa jadi begini?" Dia mengeluh sambil terengah-engah, merasa sangat kecewa saat tatapan matanya tertuju pada kedua tangan yang penuh keringat itu. "Delverand! Apa yang kau lakukan? Kau ingin menunjukkan ketololanmu di hadapanku? Jika itu tujuanmu, kau hanya buang-buang waktuku!" Segera saja aku membentaknya dengan suara yang tegas dan menekan, benar-benar suara yang sama sekali tak mampu kukeluarkan selama usiaku, hanya sajaーentah bagaimana caranya—sekarang aku mampu mengeluarkan suara itu. Ternyata seperti ini rasanya memarahi orang lain. Pria muda itu tertunduk sedih, kemudian memandangku saat dia menjawab perkataanku. "Maaf, tapi sebelumnya aku benar-benar mampu mengenai batunya, aku mendorong itu walau sedikit, tapi kenapa sekarang ...." Pemuda itu melakukan pembelaan dengan ekspresi wajah yang bingung sekaligus takut karena mendapat amukan dariku. Uh, aku benar-benar tak menyangka jika aku dapat berteriak seperti ini dan mampu membuat seseorang ketakutan terhadapku. "Oh ya? Lalu mana buktinya?" tanyaku dengan kesal. "Kakak, aku tak akan berbohong padamu. Meski aku memiliki seribu keberanian untuk melakukannya, aku tetap tak akan mampu." Dia tampak berusaha meyakinkanku. Aku menggeleng dan tak mau memarahinya lebih dari itu. "Berhenti membual dan lanjutkan latihannya, jangan membuatku malu dengan kegagalan yang kau alami. Jangan sampai kau tertinggal oleh penyihir lain hanya karena ini." "Baik, akan kulakukan." Tapi sepertinya hari ini sudah cukup, aku yakin dia sudah kehabisan tenaga dan kekuatannya setelah melepaskan beberapa angin barusan. Maka aku mengangguk dan beranjak dari dudukku. Kualihkan tatapanku pada bongkahan batu tersebut, kemudian aku mengarahkan tangan kananku ke arah sana, aku bergumam dengan bahasa aneh. Seketika saja batu besar itu hancur berantakan menjadi serpihan kerikil. Tepat di balik bekas di mana bantu berdiri sebelumnya, ada sosok gadis yang duduk sambil tersenyum polos memandang ke arah kami. Pemuda yang ada di sampingku tampak terkejut saat melihat gadis itu. "Kau yang melakukannya?" tanyaku, tampaknya dia yang melakukan keisengan pada pemuda ini, dia yang menjadi penyebab mengapa setiap serangan pemuda ini selalu meleset. "Upss ... ketahuan." Itulah jawaban dari pertanyaanku, dia tersenyum polos seolah tak memiliki kesalahan apa pun. "Kakak! Ternyata kau yang melakukannya. Pantas saja aku selalu gagal!” Pemuda ini tampak kesal dan frustrasi. "Maaf, sengaja." Entah kenapa aku merasa tak asing dengan sensasi dan suasana seperti ini, seolah semua ini alami dan sudah biasa kualami. "Sangat kekanakan, sampai kapan kau akan selalu seperti ini?" tanyaku pada gadis itu. Aku benar-benar mengenalnya, entah oleh pemilik tubuh ini. "Aku hanya bercanda." "Kau menyebalkan, kak!" Si pemuda itu membentak. Tak lama seseorang datang menuju ke arah kami, ia tampak sangat kelelahan dan pastinya dia berlari dengan secepatnya untuk sampai ke sini. "Rhiollianna, Xhellvana. Apa yang sedang kalian lakukan di sini?" Ia memandang ke arahku dan ke arah gadis yang sebelumnya melakukan kejahilan, salah tapi melirik ke arah gadis itu dulu lalu ke arahku. Oke, kenapa dia memanggilku Xhellvana? Itu bukanlah namaku, tapi sepertinya tubuh dan pikiran itu mengiyakan jika itu adalah namaku. Ah ini memusingkan. "Apa ada yang terjadi?" tanyaku dengan tegas. Tubuh ini seperti merasakan adanya yang tak beres dan ada hal yang salah telah terjadi. "Itu, sekelompok makhluk hitam menyerang, mereka masih di daerah hutan." Ia segera memberi informasi dengan serius, jelas ini bukan candaan dan bualan saja. "Makhluk hitam?" tanyaku dengan agak bingung dan mengerutkan kening. "Fey?" tanya Rhiollianna. Gadis itu segera menggeleng sebagai jawaban. "Itu seperti monster, tak ada fey yang berwarna hitam dan memiliki bentuk sangat mengerikan." Ia tampak agak ketakutan saat mengatakan semuanya. “Sepertinya ada hal buruk yang terjadi. Xhellvana, ayo kita periksa.” Rhiollianna tampak memasang ekspresi serius. Aku segera mengangguk menanggapinya. “Ya. Jangan sampai ....” Aku tak sempat melanjutkan perkataanku tatkala aku melihat ada sesuatu yang melesat ke arah kami, sesuatu itu cukup besar. Aku mengarahkan tangan ke arah sesuatu itu, kemudian mulutku mengatakan kata yang susah untuk diingat. Sedetik kemudian, benda itu tiba-tiba berhenti di udara, tentu saja itu adalah efek dari kekuatanku yang sebelumnya aktif oleh kata aneh yang kuucapkan. Aku mengatakan kata aneh lagi, hal itu membuat benda yang sebelumnya kuhentikan perlahan mendekat hingga jaraknya beberapa meter tepat di hadapan kami semua. Barulah kami mengenali apa yang melesat itu, itu adalah sosok tubuh yang terluka parah, tampaknya ia mengalami serangan kuat yang membuat dia terlempar sangat jauh. Aku dan yang lainnya jelas sangat terkejut dengan itu, kami semua mengenali wajah itu, bukan hanya aku di dalam bentuk diriku di dunia ini, aku sendiri mengenali siapa sosok itu, dia ... dia adalah .... ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN