Alina menatap Mahesa beberapa detik, seolah mencoba memastikan ia tidak salah dengar. “Maaf?” suaranya pelan namun tegas. Mahesa tidak berkedip. “Kau akan tinggal di rumah ini sampai bayi itu lahir.” Ruangan terasa semakin dingin. Alina menoleh kepada Gibran. “Ini lelucon, kan?” Gibran tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Soraya menyilangkan tangan di depan d**a, menikmati setiap detik ketegangan itu. “Ini bukan penjara,” katanya lembut. “Anggap saja… perlindungan.” Alina menatapnya tajam. “Aku tidak meminta perlindungan.” Mahesa melangkah satu langkah lebih dekat. “Kau tidak perlu memintanya.” Alina mengangkat dagunya. “Aku juga tidak akan menerimanya.” Soraya tertawa kecil. “Kau pikir kau punya pilihan?” Alina tidak menjawab. Ia hanya menatap Mahesa lurus-lurus

